Kamis, 28 Februari 2019

Gara-gara Stok Minyak AS, Harga 'Emas Hitam' Galau | PT Rifan Financindo

Gara-gara Stok Minyak AS, Harga 'Emas Hitam' Galau
PT Rifan Financindo - Pergerakan harga minyak mentah dunia pada perdagangan pagi ni, Kamis (28/2/2019) masih bervariasi dan cenderung terbatas.

Hingga pukul 09:15 WIB, harga minyak jenis Brent untuk patokan pasar Eropa dan Asia turun 0,2% ke posisi US$ 66,26/barel, setelah ditutup menguat 1,81% kemarin (27/2/2019).

Adapun harga minyak jenis lightsweet (WTI) untuk patokan pasar Amerika menguat terbatas sebesar 0,02% ke level US$ 56,95/barel, setelah melesat 2,59% pada penutupan perdagangan kemarin.

Selama sepekan, harga minyak alias emas hitam telah terpangkas 0,6% secara point-to-point, sedangkan sejak awal tahun, harga si emas hitam masih tercatat menguat sekitar 24%.

Naiknya harga minyak kemarin dimotori oleh data lembaga resmi pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA) yang kembali melaporkan penurunan inventori minyak Negeri Paman Sam untuk minggu yang berakhir pada 22 Februari.

Dalam laporannya, EIA menuliskan bahwa stok minyak mentah pada periode tersebut turun hingga 8,64 juta barel dibanding minggu sebelumnya, yang terjadi seiring dengan penurunan stok bensin sebesar 1,9 juta barel. Padahal konsensus pasar memprediksi stok minyak mentah masih akan naik 2,8 juta barel, dan bensin turun 1,6 juta barel.

Artinya, tingkat konsumsi masyarakat AS masih terbilang cukup baik, bahkan di atas ekspektasi pasar. Kala permintaan tetap tumbuh sehat, keseimbangan fundamental di pasar bisa terjaga. Kekhawatiran banjir pasokan tahun ini bisa dikurangi.


Namun demikian, produksi minyak mentah AS yang terus meningkat juga terus memberikan sentimen negatif. Pasalnya sejak awal tahun 2018, jumlahnya telah naik lebih dari 2 juta barel/hari.

Terlebih, Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa (26/2/2019) mengatakan harga minyak sudah terlalu mahal bagi dirinya.

"Harga minyak naik terlalu tinggi. OPEC, mohon rileks dan santai saja. Dunia tidak bisa menanggung kenaikan harga [minyak] - Terlalu riskan!" tulis Trump melalui akun Twitter pribadinya.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa AS masih akan terus meningkatkan produksi minyaknya untuk kembali menekan harga.

TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/tas)



Senin, 25 Februari 2019

Trump Tunda Kenaikan Bea Impor AS, Investor Tinggalkan Yen | Rifan Financindo

Trump Tunda Kenaikan Bea Impor AS, Investor Tinggalkan Yen
Foto: Yen (REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo)
Rifan Financindo - Mata uang Jepang yang juga merupakan aset safe haven, yen, melemah setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan memperpanjang tenggat waktu kenaikan bea impor terhadap China yang seharusnya dilakukan pada 1 Maret mendatang.

Dalam kicauannya di Twitter ia mengatakan kedua negara telah mencatatkan kemajuan yang substansial dalam perundingan dagang mereka.

Yen Jepang melemah 0,1% ke 110,77 yen terhadap dolar AS pada Senin (25/2/2019) pagi sementara kurs offshore yuan menguat 0,1% ke 6,6930 yuan terhadap dolar menyusul beredarnya kabar tersebut, dilansir dari Reuters.

Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko dan menjadi proksi bagi investasi China melompat 0,3% terhadap dolar ke posisi US$0,7149.

Di lain pihak, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap beberapa mata uang utama dunia sempat menguat tipis ke posisi 96,514 ketika twit Trump diunggah sebelum turun ke 96,4840 hingga pukul 7.04 WIB.

Trump berencana untuk menunda kenaikan bea impor terhadap berbagai produk China yang awalnya direncanakan pada 1 Maret mendatang karena kedua belah pihak semakin dekat dengan kata sepakat untuk mengakhiri perang dagangnya. Namun, ia tidak menyebutkan tenggat waktu baru untuk perundingan tersebut.

"Saya senang melaporkan bahwa AS telah membuat kemajuan berarti dalam pembicaraan dagang kami dengan China terkait beberapa isu struktural penting, termasuk perlindungan kekayaan intelektual, transfer teknologi, pertanian, jasa, mata uang dan banyak isu lainnya," tulis Trump di akun media sosial Twitter.

"Sebagai hasil dari pembicaraan yang sangat produktif ini, saya akan menunda kenaikan bea impor AS yang dijadwalkan pada 1 Maret. Dengan mengasumsikan kedua belah pihak membuat kemajuan tambahan, kami sedang merencanakan pertemuan tingkat tinggi bagi Presiden Xi dan saya di Mar-a-Lago untuk merampungkan perjanjian. Selamat berakhir pekan untuk AS & China!" tambahnya.

Jumat, 22 Februari 2019

Stok AS Capai Rekor Tertinggi, Harga Minyak Jatuh Lemas - PT Rifan Financindo

Stok AS Capai Rekor Tertinggi, Harga Minyak Jatuh Lemas
Foto: kotkoa / Freepik
PT Rifan Financindo - Harga minyak mentah pada pagi hari ini (22/2/2019) masih terus melemah. Hingga pukul 08:45 WIB, harga minyak jenis Brent kontrak April melemah sebesar 0,12% ke posisi US$ 66,99/barel, setelah sebelumnya turun 0,01% kemarin (21/2/2019).

Sementara harga minyak jenis lightsweet (WTI) kontrak April juga terkoreksi 0,07% ke level US$ 56,92/barel.

Selama sepekan harga minyak telah naik sekitar 1,57% secara point-to-point. Sedangkan sejak awal tahun, harga si emas hitam masih tercatat naik sekitar 24%.

Sedikit melemahnya harga minyak dipengaruhi oleh produksi minyak Amerika Serikat yang terus meningkat.

Kemarin, Energi Information Administration (EIA) mengatakan bahwa produksi minyak Negeri Paman Sam kembali menembus rekor baru yaitu sebesar 12 juta barel/hari, dari rekor sebelumnya yang dicatat pada 11,9 juta barel/hari.

Terlebih lagi, inventori minyak mentahnya juga naik 3,7 juta barel untuk minggu yang berakhir pada 15 Februari.

Pelaku pasar menjadi kembali dihantui banjir pasokan minyak di tahun ini. 

Namun setidaknya inisiatif OPEC untuk mengurangi pasokan minyaknya dapat meredam laju pelemahan harga minyak.

TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/taa)


Kamis, 21 Februari 2019

The Fed Galau, Harga Emas Turun Tipis - Rifanfinancindo

The Fed Galau, Harga Emas Turun Tipis
Foto: Karyawan menunjukkan emas batangan yang dijual di Butik Emas, Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (17/9/2018). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Rifan Financindo - Harga emas pagi hari ini (21/2) kembali terjerumus di zona merah. Hingga pukul 08:45 WIB, harga emas kontrak April di pasar COMEX turun 0,5% ke posisi US$ 1.341,2/troy ounce, setelah menguat 0,23% pada perdagangan kemarin (20/2).

Selama sepekan, harga emas sudah terkerek naik 2,08% secara point-to-point. Sedangkan sejak awal tahun, harga logam mulia ini tercatat menguat 4,67%.

Meski melemah, namun pergerakan harga emas masih terbatas.

Tafsiran atas notulensi rapat The Fed edisi Januari membuat investor masih galau untuk menentukan langkah.

Pasalnya The Fed kembali menegaskan akan lebih bersabar dalam mengeksekusi kenaikan suku bunga yang selanjutnya.

Namun juga ada pernyataan bank sentral yang siap mengubah stance saat derajat ketidakpastian ekonomi menurun.

Sikap The Fed yang masih tak jelas arahnya ini ikut membuat emas masih cenderung ditahan. Akan tetapi karena harganya yang sudah naik banyak sejak awal tahun, maka ruang untuk mengambil keuntungan juga terbuka lebar. 

TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/hps)


Rabu, 20 Februari 2019

Diskusi Dagang AS-China Dimulai, Bursa Jepang Dibuka Positif | Rifan Financindo


Diskusi Dagang AS-China Dimulai, Bursa Jepang Dibuka Positif
Foto: REUTERS/Yuya Shino
Rifan Financindo - Bursa Jepang dibuka menguat, Rabu (20/2/2019), didorong oleh penguatan Wall Street dan harapan perundingan dagang Amerika Serikat (AS) dan China akan berlangsung lancar.

Indeks acuan Nikkei 225 naik 0,28% dan indeks Topix bertambah 0,23% di awal perdagangan, AFP melaporkan. Nikkei telah mencatatkan reli selama dua hari beruntun.

Pembicaraan perdagangan antara AS dan China dimulai lagi di Washington, Selasa waktu setempat.

Pembicaraan ini adalah lanjutan dari negosiasi serupa yang diadakan di Beijing pekan lalu dan berakhir tanpa kesepakatan. Namun, kedua negara mengatakan telah mencapai kemajuan dalam beberapa isu kunci.

Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump lagi-lagi mengisyaratkan kemungkinan perpanjangan tenggat waktu perundingan dagang pada 1 Maret mendatang, dilansir dari Reuters.

Ia mengatakan pada hari Selasa bahwa negosiasi dagang dengan China berjalan lancar dan mengindikasikan dirinya terbuka untuk memperpanjang deadline demi menyelesaikan perundingan tersebut. (prm)

Jumat, 15 Februari 2019

Karena OPEC, Harga Minyak Melonjak 20% Sejak Awal Tahun | PT Rifan Financindo

Karena OPEC, Harga Minyak Melonjak 20% Sejak Awal Tahun
PT Rifan Financindo - Harga minyak mentah dunia pada perdagangan Jumat ini (15/2) masih melanjutkan penguatan.

Hingga pukul 08:30 WIB, harga minyak jenis Brent kontrak April naik sebesar 0,63% ke posisi US$ 64,98/barel, setelah kemarin juga menguat 1,51%.

Sementara harga minyak jenis lightsweet (WTI) kontrak Maret juga menguat sebesar 0,68% ke level US$ 54,78/barel, setelah ditutup naik 0,95% pada perdagangan kemarin.

Selama sepekan ini, harga minyak tercatat naik sekitar 4,28% secara point-to-point, sedangkan sejak awal tahun, harga emas hitam masih tercatat naik sekitar 20%.


Harga minyak masih terus didorong oleh pengurangan pasokan minyak dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya yang sudah mulai dilakukan sejak Januari lalu.

Sebelumnya, OPEC bersama Rusia dan sekutunya yang lain juga sepakat untuk mengurangi pasokan minyak sebanyak 1,2 juta barel/hari.

Teranyar, Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih mengatakan bahwa Negeri Padang Pasir tersebut akan mengurangi pasokan minyak lebih banyak dari jumlah yang telah disepakati.

Selain itu, meskipun masih jauh dari target, Rusia juga telah mengurangi produksi minyak sekitar 80.000-90.000 barel/hari.

Namun demikian, stok minyak mentah Amerika Serikat yang meningkat pada minggu lalu ke level tertingginya sejak November 2017 membuat pelaku pasar masih khawatir keseimbangan fundamental di pasar minyak dunia tahun ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/tas)


Kamis, 14 Februari 2019

Perjanjian Dagang AS-China Dinantikan, Ini Bocoran Isinya

Perjanjian Dagang AS-China Dinantikan, Ini Bocoran Isinya
Foto: Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping menghadiri jamuan makan malam setelah pertemuan pemimpin G20 di Buenos Aires, Argentina 1 Desember 2018. REUTERS / Kevin Lamarque
Rifanfinancindo - Tim perunding Amerika Serikat (AS) berupaya untuk memperkuat posisinya bila China melanggar janji-janji perdagangannya sebagaimana yang terjadi di masa lalu, The New York Times melaporkan.

Prioritas tertinggi bagi Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang Robert Lighthizer adalah menetapkan mekanisme pengenaan kenaikan bea impor otomatis terhadap produk China bila ekspornya ke AS terus meningkat, tulis surat kabar tersebut, Selasa (13/2/2019), dengan mengutip tiga orang yang mengetahui hal tersebut.

Kedua pejabat tinggi AS itu sedang berada di China untuk melakukan perundingan dagang dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He Kamis dan Jumat ini.


China memiliki sejarah panjang pelanggaran kesepakatan dagang.

Perjanjian Dagang AS-China Dinantikan, Ini Bocoran Isinya
Foto: Presiden AS Donald Trump, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, penasehat keamanan nasional Presiden AS Donald Trump John Bolton, menghadiri jamuan makan malam dengan Presiden China Xi Jinping setelah KTT para pemimpin G20 di Buenos Aires, Argentina 1 Desember 2018. REUTERS / Kevin Lamarque

Ketika China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di 2001, negara tersebut berjanji akan mengizinkan investor asing mengakses pasar perbankan dan telekomunikasinya. Faktanya, Negeri Tirai Bambu masih menutup pintu terhadap perusahaan asing masuk ke sektor itu hingga hari ini, dilansir dari CNBC International.

Delegasi AS ingin memastikan China akan mendapat hukuman bila mengulangi hal tersebut di masa depan.

Mekanisme seperti ini sebetulnya bukan hal yang baru. Cara serupa pernah diterapkan di 2001 ketika China bergabung dengan WTO dan mantan Presiden AS Barack Obama melakukannya di 2009 untuk mengenakan bea impor terhadap impor ban dari China ketika pasar AS terganggu.

Namun, China membalasnya dengan mengenakan bea masuk terhadap mobil dan produk unggas AS. Aturan itu kadaluwarsa di 2013.

Delegasi AS sekarang berupaya membuat China taat akan janjinya dan membuat kesepakatan terkait beberapa isu, seperti perlindungan kekayaan intelektual dan membatasi subsidi pemerintah.(prm)



Selasa, 12 Februari 2019

Bahas Damai Dagang, AS-China Sama-sama Semai Harapan - Rifan Financindo

Bahas Damai Dagang, AS-China Sama-sama Semai Harapan
Rifan Financindo - Amerika Serikat (AS) dan China sama-sama mengungkapkan harapannya bahwa perundingan dagang lanjutan antara kedua negara dapat meredakan ketegangan perang dagang.

Delegasi kedua negara kembali bertemu di Beijing dalam pertemuan tingkat wakil menteri, Senin (11/2/2019). Kedua negara diperkirakan membahas mengenai isu-isu terkait perlindungan hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi paksa yang disebut dilakukan China terhadap perusahaan AS yang berbisnis di negaranya.

AS dan China memiliki waktu hingga 1 Maret untuk mencapai kesepakatan sesuai dengan gencatan senjata 90 hari yang disepakati di Argentina awal Desember lalu. Bila masih buntu, AS akan menaikkan bea impor terhadap berbagai produk China menjadi 25% dari 10% saat ini.

Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump senang pembicaraan dagang berlanjut namun juga memperingatkan bahwa 1 Maret adalah benar-benar tenggat waktu terakhir untuk mencapai kesepakatan.

Bahas Damai Dagang, AS-China Sama-sama Semai Harapan
Foto: Presiden AS Donald Trump bertemu Wakil Perdana Menteri China Liu He (AP Photo/Susan Walsh)
Pertemuan tingkat wakil menteri di Beijing itu akan dilanjutkan dengan pertemuan tingkat tinggi setelah perundingan pekan lalu di Washington belum menelurkan perjanjian yang dinantikan itu.

"Pejabat junior sedang mengupayakan sesuatu saat ini yang akan mereka presentasikan kepada pejabat senior pekan ini," kata Hassett kepada Fox Business Network, dilansir dari Reuters.

"Dan, tentu saja, kami membahas semuanya, termasuk pencurian kekayaan intelektual dan transfer teknologi paksa dan seterusnya," tambahnya.

Ia juga mengatakan Gedung Putih sangat menantikan hasil apa yang disampaikan pejabat senior pekan ini.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying juga menyampaikan pernyataan bernada harapan.

"Kami, tentu saja, berharap untuk mendapatkan hasil yang baik, begitu juga masyarakat seluruh dunia," ujarnya dalam konferensi pers rutin, Senin.


Senin, 11 Februari 2019

Harga Emas Dunia Lanjut di Jalur Pendakian - PT Rifan Financindo

Harga Emas Dunia Lanjut di Jalur Pendakian
PT Rifan Financindo - Harga emas dunia melanjutkan tren kenaikan di perdagangan hari ini. Sejak awal tahun, harga sang logam mulia sudah melonjak lumayan tajam.

Pada Senin (11/2/2019) pukul 08:26 WIB, harga emas dunia naik 0,03%. Dalam sepekan terakhir, harga komoditas ini sudah naik 0,27%.

Sedangkan sejak awal tahun, harga emas melesat dengan penguatan 2,47%. Namun dibandingkan posisi setahun lalu, harga masih terkoreksi 0,57%.

Berikut perkembangan harga emas dunia:  

(aji/aji)


Kamis, 07 Februari 2019

Aduh, Rupiah Kini Terlemah di Asia... | Rifanfinancindo

Aduh, Rupiah Kini Terlemah di Asia... 
Rifanfinancindo - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di perdagangan pasar spot hari ini semakin menjadi. Minimnya sentimen positif membuat mata uang Tanah Air tidak bisa berbuat banyak. 

Pada Kamis (7/2/2019) pukul 09:02 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 13.975. Rupiah sudah melemah 0,42% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. 

Padahal kala pembukaan pasar, depresiasi rupiah tipis saja di 0,06%. Seiring perjalanan pasar, rupiah terus melemah seolah tanpa rem. 

Sesaat setelah pembukaan pasar, rupiah berada di urutan kedua terbawah klasemen mata uang Asia. Namun dengan pelemahan 0,42%, mau tidak mau posisi rupiah melorot menjadi juru kunci. 

Memang yuan China mencatatkan depresiasi lebih dalam. Namun pasar keuangan Negeri Tirai Bambu masih tutup memperingati Tahun Baru Imlek, sehingga kurs yuan masih mencerminkan posisi akhir pekan lalu. 

Berikut perkembangan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning pada pukul 09:04 WIB:

Mata UangKursPerubahan (%)
 USD/HKD 7.85-0.01
 USD/IDR 13,975.000.42
 USD/INR 71.620.11
 USD/JPY 109.78-0.16
 USD/KRW 1,122.770.20
 USD/MYR 4.09-0.07
 USD/PHP 52.330.08
 USD/SGD 1.360.01
 USD/THB 31.290.13
 USD/TWD 30.790.03
 USD/CNY 6.740.70



 
Dari dalam negeri, sentimen negatif buat rupiah adalah penantian investor terhadap data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang rencananya dirilis esok hari. Bank Indonesia (BI) memperkirakan NPI kuartal IV-2018 bisa surplus, tetapi defisit di transaksi berjalan (current account) masih cukup lebar di kisaran 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).  

Artinya, pasokan devisa yang berjangka panjang dari aktivitas ekspor-impor barang dan jasa masih seret. Padahal ini adalah fundamental penting yang menyokong rupiah, dibandingkan arus modal portofolio alias hot money yang bisa datang dan pergi sesuka hati. 

Dengan kondisi fundamental yang agak rentan, rupiah pun ikut rawan terdepresiasi. Investor tentu menjadi berpikir ulang untuk mengoleksi rupiah, karena nilainya berisiko turun pada kemudian hari. 

Selain itu, harus diakui bahwa penguatan rupiah beberapa waktu terakhir sedikit 'keterlaluan'. Rupiah menguat hingga 3% terhadap dolar AS sejak awal tahun. Di hadapan mata uang lain di dunia, rupiah juga menguat signifikan.

Ini membuat rupiah sangat mungkin terserang koreksi teknikal. Sebab investor yang sudah menang banyak tentu akan tergoda untuk mencairkan keuntungan. Rupiah pun rawan terkena ambil untung (profit taking).

Sementara dari faktor eksternal, dolar AS sendiri memang sedang menguat secara global. Pada pukul 09:13 WIB, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback terhadap enam mata uang utama dunia) menguat 0,03%. Dalam sepekan terakhir, indeks ini melesat 0,88%.

Menurut survei Reuters, ternyata dolar AS belum kehilangan pesonanya. Dalam jajak pendapat yang hasilnya dirilis 2 Februari lalu, investor justru menambah posisi jangka panjang mereka di mata uang Negeri Paman Sam. Artinya, pelaku pasar masih percaya terhadap dolar AS.

Pada pekan terakhir 2018, posisi jangka panjang di dolar AS mencapai US$ 32,48 miliar. Naik dibandingkan pekan sebelumnya yaitu US$ 29,72 miliar.

Sepertinya investor masih ragu terhadap prospek perekonomian di Asia, Eropa, dan wilayah lainnya. Potensi perlambatan ekonomi di China dan Zona Euro membuat pemilik modal masih berhasrat untuk memegang dolar AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)




Rabu, 06 Februari 2019

Awas, RI & Swiss Punya Senjata Baru Berantas Kejahatan Pajak | Rifan Financindo

Awas, RI & Swiss Punya Senjata Baru Berantas Kejahatan Pajak
Foto: Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) RI Yasonna Hamonangan Laoly menandatangani Perjanjian Mutual Legal Assistance (MLA) dengan Menteri Kehakiman Swiss Karin Keller-Sutter di Bernerhof Bern, Swiss, Senin (4/2/2019). (Foto: ist)
Rifan Financindo - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) RI Yasonna Hamonangan Laoly menandatangani Perjanjian Mutual Legal Assistance (MLA) dengan Menteri Kehakiman Swiss Karin Keller-Sutter di Bernerhof Bern, Swiss, Senin (4/2/2019).

Perjanjian yang terdiri dari 39 pasal ini antara lain mengatur bantuan hukum mengenai pelacakan, pembekuan, penyitaan hingga perampasan aset hasil tindak kejahatan. Kesepakatan itu juga dapat digunakan untuk memerangi kejahatan perpajakan.

Perjanjian ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk memastikan warga negara atau badan hukum Indonesia mematuhi peraturan perpajakan Indonesia dan tidak melakukan kejahatan penggelapan pajak atau kejahatan perpajakan lainnya", ungkap Yasonna, sebagaimana dikutip dari siaran pers Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern yang diterima CNBC Indonesia, Selasa.

Perjanjian tersebut menganut prinsip retroaktif yang memungkinkannya menjangkau tindak pidana yang telah dilakukan sebelum berlakunya perjanjian sepanjang putusan pengadilannya belum dilaksanakan.


Awas, RI & Swiss Punya Senjata Baru Berantas Kejahatan Pajak
Foto: Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) RI Yasonna Hamonangan Laoly menandatangani Perjanjian Mutual Legal Assistance (MLA) dengan Menteri Kehakiman Swiss Karin Keller-Sutter di Bernerhof Bern, Swiss, Senin (4/2/2019). (Foto: ist)



Duta Besar RI di Bern Muliaman D. Hadad yang ikut hadir dalam kesempatan itu mengatakan perjanjian MLA RI-Swiss tersebut merupakan capaian kerja sama bantuan timbal balik pidana yang luar biasa dan menggenapi kerja sama kedua negara di bidang ekonomi, sosial, dan budaya yang telah terjalin baik.

Perjanjian MLA RI-Swiss ini merupakan perjanjian MLA yang ke-10 yang telah ditandatangani oleh Indonesia setelah dengan ASEAN, Australia, Hong Kong, China, Korsel, India, Vietnam, UEA, dan Iran. 

Sebaliknya, ini adalah perjanjian MLA yang ke-14 bagi Swiss dengan negara non-Eropa.(prm)



Senin, 04 Februari 2019

Sambut Imlek, IHSG Dibuka Stagnan | PT Rifan Financindo

Foto: Rachman Haryanto 
PT Rifan Financindo - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka stagnan pada pembukaan perdagangan pagi ini. Menjelang hari libur tahun baru China atau Imlek besok, IHSG pagi ini hanya sanggup naik tipis 2,13 poin (0,03%) ke posisi 6.540.

Sementara nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pagi ini berada di level Rp 13.970.

Pada perdagangan pre opening, IHSG naik 2,13 poin (0,03%) ke level 6.540,77. Indeks LQ45 juga bertambah 0,53 poin (0,05%) ke 1.042,214.

Membuka perdagangan, Senin (4/2/2019), IHSG melanjutkan penguatan 9,95 poin (0,15%) ke level 6.548,592. Indeks LQ45 stagnan 0,18 poin (0,00%) tetap di level 1.041,887.

Pada pukul 09.05 waktu JHTS, IHSG naik 6,18 poin (0,09%) ke level 6.544,823. Sedangkan indeks LQ45 turun 0,22 (0,02%) ke level 1.041,305.

Bursa Amerika Serikat ditutup bercampur. Dow Jones ditutup 25,063.89 (+0.26%), NASDAQ ditutup7,263.87 (-0.25%), S&P 500 ditutup 2,706.53 (+0.09%).

Data pekerjaan US menunjukkan 304,000 pekerjaan baru muncul sepanjang Januari 2019 jauh di atas ekspektasi analis pada 170,000 pekerjaan baru. Namun, Investor memantau pertumbuhan gaji yang lebih kecil dari ekspektasi, sehingga investor mulai ada kecurigaan pada kondisi ekonomi US.

Bursa Asia masih cukup menguat siring dengan data pertumbuhan service sector yang masih menguat menunjukkan perlambatan China belum terjadi secara menyeluruh, namun investor masih tetap berhati-hati atas melambatnya ekonomi China.

Perdagangan bursa saham Asia mayoritas bergerak positif pagi ini. Berikut pergerakannya:

  • Indeks Nikkei 225 naik 0,41% ke 20.872,93
  • Indeks Hang Seng bertambah 0,16% ke 27.975,98
  • Indeks Komposit Shanghai libur
  • Indeks Strait Times menguat 0,2% ke 3.195,17



Jumat, 01 Februari 2019

Setelah 5 Hari Menguat, Harga Emas Akhirnya Terkoreksi | Rifanfinancindo

Setelah 5 Hari Menguat, Harga Emas Akhirnya Terkoreksi
Rifanfinancindo - Pagi hari ini (1/2/2019), harga emas dunia akhirnya melemah setelah menguat 5 hari berturut-turut.

Hingga pukul 08:45 WIB, harga emas kontrak April di pasar COMEX turun sebesar 0,1% ke posisi US$ 1.323/troy ounce, setelah sebelumnya ditutup menguat 0,74% kemarin (31/1/2019).

Secara mingguan harga emas menguat 1,99% secara point-to-point, sedangkan sejak awal tahun harga komoditas ini tercatat naik 3,32%


Selain karena harganya yang sudah terlampau tinggi, turunnya harga emas juga dipengaruhi oleh perkembangan yang positif dari damai dagang AS-China.

Menjelang akhir pertemuan antara perwakilan dagang kedua negara kemarin, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa aka nada pertemuan lanjutan dengan Presiden China, Xi Jinping untuk mengukuhkan kesepakatan. (taa/hps)