
Harga minyak global menahan laju penurunan setelah Amerika Serikat dan Iran sama-sama menunjukkan nada yang lebih positif usai pembicaraan terkait program nuklir Teheran. Perubahan sentimen ini menurunkan premi risiko di pasar energi, seiring pelaku pasar menilai peluang deeskalasi meningkat dan risiko gangguan pasokan jangka pendek mulai mereda. Optimisme diplomatik tersebut membuat pasar lebih berhati-hati dalam menambah posisi beli, sehingga arah harga cenderung tertahan.
Di pasar, minyak acuan AS bergerak nyaris tidak berubah di atas USD 62 per barel, setelah ditutup melemah 0,9% pada perdagangan Selasa yang berlangsung usai libur panjang di Amerika. Sementara itu, minyak acuan global bertahan di atas USD 67 per barel meskipun juga mencatat pelemahan pada penutupan sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan keseimbangan sementara antara harapan penurunan ketegangan geopolitik dan kehati-hatian terhadap prospek pasokan yang masih dinamis.
Dari sisi diplomasi, Iran menyatakan telah mencapai “kesepakatan umum” dengan Washington terkait kerangka persyaratan menuju potensi perjanjian. Seorang pejabat dari Amerika Serikat juga mengonfirmasi bahwa negosiator Iran dijadwalkan kembali dalam dua pekan dengan proposal baru. Pernyataan ini mendorong pasar untuk menunggu rincian lebih lanjut sebelum menilai dampak riil terhadap pasokan minyak global, terutama terkait kemungkinan pelonggaran sanksi.
Sepanjang tahun ini, pergerakan harga minyak banyak didorong oleh faktor geopolitik—termasuk ketegangan dengan Iran—yang kerap menutupi peringatan bahwa pasar global berisiko mengalami surplus pasokan. Situasi domestik Iran, yang sempat memicu gelombang protes pada Januari, turut menambah kekhawatiran akan gangguan produksi dan jalur pasokan strategis, sehingga volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar.
Namun, tanda-tanda kemajuan diplomatik muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer. Iran mengumumkan penutupan sebagian Selat Hormuz selama beberapa jam untuk latihan militer, sementara Amerika dilaporkan mengirimkan kapal induk kedua ke kawasan tersebut. Di Asia, kontrak minyak AS untuk pengiriman Maret turun tipis 0,1% menjadi USD 62,25 per barel pada pukul 07.30 waktu Singapura, mencerminkan sikap pasar yang masih wait and see.
Pada penutupan sebelumnya, kontrak Brent untuk April turun 1,8% ke USD 67,42 per barel. Ke depan, perhatian pasar diperkirakan akan terfokus pada kelanjutan negosiasi dalam dua pekan mendatang serta dinamika keamanan di Selat Hormuz. Kedua faktor tersebut berpotensi membentuk ulang premi risiko dan menentukan arah harga minyak, apakah berlanjut melemah atau kembali menguat seiring perubahan lanskap geopolitik.
Sumber : www.newsmaker.id



