Rabu, 15 Juli 2026

Harga Minyak Memanas! Ancaman Trump terhadap Iran Dorong Brent Mendekati US$86 per Barel

Harga minyak dunia kembali melonjak untuk hari ketiga berturut-turut setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan tambahan terhadap Iran. Eskalasi terbaru ini semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi global, terutama setelah Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran melalui Selat Hormuz.

Minyak mentah Brent bergerak mendekati level US$86 per barel setelah melonjak sekitar 11 persen dalam dua sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) bertahan di atas US$80 per barel. Pada perdagangan Asia, Brent naik sekitar 1,3 persen menjadi US$85,86 per barel, sedangkan WTI menguat 1,1 persen ke level US$80,22 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh pernyataan Trump yang menegaskan bahwa Amerika Serikat akan melanjutkan operasi militernya terhadap Iran. Ia bahkan membuka kemungkinan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran pada pekan depan apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah.

Amerika Serikat juga kembali menerapkan blokade terhadap pelayaran Iran mulai pukul 16.00 waktu Washington, hanya satu jam setelah militer AS melancarkan serangan baru yang diklaim bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Langkah ini memperbesar kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi melalui salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Di sisi lain, Trump membatalkan rencana penerapan pungutan sebesar 20 persen terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Keputusan tersebut sempat memberikan sedikit kelegaan bagi pelaku industri pelayaran karena mengurangi potensi kenaikan biaya logistik. Meski demikian, sentimen positif tersebut belum mampu meredakan kekhawatiran pasar karena aktivitas pengiriman di kawasan tersebut masih terganggu akibat meningkatnya risiko keamanan.

Ketegangan yang terus meningkat menyebabkan lalu lintas pengiriman minyak di kawasan Teluk mengalami perlambatan yang signifikan. Serangkaian serangan terhadap kapal pengangkut minyak serta meningkatnya ancaman terhadap negara-negara Teluk, termasuk Kuwait, membuat pelaku industri pelayaran mengambil langkah yang lebih berhati-hati dalam mengoperasikan armadanya.

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian pasar energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati jalur tersebut. Apabila gangguan terhadap pelayaran terus berlangsung, risiko berkurangnya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah akan semakin besar dan berpotensi mendorong harga minyak naik lebih tinggi.

Risiko geopolitik juga semakin meluas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak ke arah Arab Saudi. Serangan tersebut menjadi eskalasi besar pertama sejak gencatan senjata pada 2022 dan meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat melibatkan lebih banyak pihak di kawasan.

Lonjakan harga minyak juga membawa implikasi terhadap pasar keuangan global. Harga energi yang tinggi berpotensi memicu tekanan inflasi, sehingga dapat mendorong bank-bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas di pasar saham, obligasi, mata uang, hingga komoditas.

Dalam jangka pendek, harga minyak diperkirakan masih akan bertahan pada level tinggi selama blokade, ancaman terhadap jalur pelayaran, dan ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran belum mereda. Namun, apabila Iran kembali ke meja perundingan atau arus pengiriman melalui Selat Hormuz mulai pulih, premi risiko geopolitik yang saat ini menopang harga minyak berpotensi berangsur-angsur berkurang sehingga membuka peluang koreksi harga di pasar energi global.

Senin, 13 Juli 2026

Harga Emas Melemah, Konflik Iran dan Data Inflasi AS Jadi Sorotan Pasar

Harga emas kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin (13 Juli) setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan baru sepanjang akhir pekan. Meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong harga energi lebih tinggi dan memunculkan kembali kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi, sehingga ekspektasi pasar mengenai kebijakan suku bunga Federal Reserve kembali menjadi faktor utama yang membebani pergerakan logam mulia.

Emas sempat turun hingga sekitar 1,2 persen dan bergerak di bawah level US$4.070 per troy ounce setelah sebelumnya mencatat pelemahan sekitar 1,4 persen sepanjang pekan lalu. Pada pukul 07.40 waktu Singapura, harga emas spot diperdagangkan turun sekitar 1 persen ke level US$4.077,77 per troy ounce. Logam mulia lainnya juga mengalami tekanan, dengan harga perak turun sekitar 1,7 persen menjadi US$58,83 per ounce, sementara platinum dan paladium turut bergerak melemah.

Perhatian investor tertuju pada perkembangan situasi di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Iran menyatakan bahwa jalur pelayaran tersebut ditutup hingga waktu yang belum ditentukan, namun pernyataan itu dibantah oleh Amerika Serikat. Militer AS menegaskan bahwa operasi yang dilakukan bertujuan menjaga kebebasan pelayaran internasional dan memastikan distribusi energi melalui kawasan tersebut tetap berjalan.

Meskipun ketegangan geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven, kondisi kali ini menunjukkan respons pasar yang berbeda. Investor justru lebih mengkhawatirkan dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi dibandingkan potensi peningkatan permintaan aset lindung nilai.

Kenaikan harga energi dipandang berpotensi mendorong inflasi kembali meningkat. Apabila biaya energi terus naik, tekanan terhadap harga barang dan jasa dapat bertambah sehingga memperbesar kemungkinan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih lama. Prospek tersebut menjadi faktor yang mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen pendapatan tetap.

Sentimen tersebut semakin diperkuat oleh risalah rapat Federal Reserve bulan Juni yang dirilis pekan lalu. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa beberapa pejabat bank sentral sempat mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebelum akhirnya memutuskan mempertahankan kebijakan yang ada. Hal ini mengindikasikan bahwa Federal Reserve masih memprioritaskan pengendalian inflasi dan belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan pengetatan kebijakan apabila tekanan harga kembali meningkat.

Selain perkembangan konflik di Timur Tengah, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat (Consumer Price Index/CPI) periode Juni. Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk menilai apakah tekanan inflasi masih bertahan atau mulai mereda. Hasil yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Fokus pasar juga tertuju pada penampilan pertama Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan Kongres. Pernyataan Warsh diperkirakan akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang. Investor akan mencermati setiap komentar mengenai inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan prospek suku bunga untuk memperkirakan langkah Federal Reserve pada pertemuan berikutnya.

Apabila data CPI menunjukkan inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi atau Kevin Warsh menyampaikan pandangan yang bernada hawkish, tekanan terhadap harga emas berpotensi berlanjut. Sebaliknya, jika inflasi mulai melambat dan sinyal kebijakan menjadi lebih moderat, emas berpeluang memperoleh dukungan melalui pelemahan dolar Amerika Serikat dan penurunan imbal hasil obligasi.

Dalam jangka pendek, arah pergerakan emas akan ditentukan oleh kombinasi perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran, dinamika harga minyak dunia, data inflasi Amerika Serikat, serta ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve. Selama risiko inflasi dan prospek suku bunga tinggi masih mendominasi sentimen pasar, harga emas diperkirakan tetap bergerak dengan volatilitas tinggi meskipun permintaan terhadap aset safe haven masih berpotensi meningkat akibat ketidakpastian geopolitik.

 

Kamis, 09 Juli 2026

Yen Menguat, Jepang Mulai Memberikan Sinyal Intervensi

Mata uang yen Jepang menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan Asia, Kamis (8 Juli). Pasangan mata uang USD/JPY turun tipis ke kisaran 162,45 setelah sebelumnya berada di bawah tekanan akibat penguatan dolar AS dan masih lebarnya perbedaan kebijakan moneter antara Jepang dan Amerika Serikat.

Penguatan yen terjadi ketika pelaku pasar mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan intervensi dari otoritas Jepang. Nilai tukar yen yang terus melemah dinilai semakin mengkhawatirkan karena berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk energi dan bahan baku, sehingga dapat menambah tekanan terhadap rumah tangga maupun dunia usaha di Jepang.

Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menegaskan bahwa pemerintah Jepang terus menjalin komunikasi secara rutin dengan Amerika Serikat terkait perkembangan di pasar valuta asing. Ia juga menekankan bahwa pemerintah siap mengambil langkah yang dianggap tepat kapan saja apabila pergerakan yen dinilai terlalu berlebihan dan tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi.

Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati untuk terus mendorong penguatan USD/JPY. Ancaman intervensi verbal maupun intervensi langsung dari pemerintah Jepang sering kali menjadi faktor yang mampu menahan laju pelemahan yen, terutama ketika nilai tukar mendekati level yang dianggap sensitif oleh otoritas.

Sejumlah analis menilai pelemahan yen saat ini sudah terlalu dalam dan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi Jepang. Meskipun Bank of Japan telah memulai normalisasi kebijakan moneter, selisih suku bunga dengan Amerika Serikat masih cukup lebar sehingga yen tetap menjadi mata uang favorit dalam strategi carry trade. Namun, apabila pelemahan berlanjut terlalu cepat, peluang intervensi dari pemerintah Jepang diperkirakan akan semakin besar.

Selain kemungkinan aksi sepihak dari Tokyo, pasar juga membuka kemungkinan adanya koordinasi dengan otoritas keuangan negara-negara besar apabila volatilitas di pasar valuta asing dinilai mengganggu stabilitas sistem keuangan. Faktor ini membuat investor cenderung mengurangi posisi spekulatif terhadap pelemahan yen.

Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada risalah rapat terbaru Federal Reserve yang dirilis pada Rabu. Dokumen tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral Amerika Serikat mengenai prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga ke depan.

Sebagian pejabat masih melihat risiko inflasi tetap tinggi, terutama setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong kenaikan harga energi. Namun, sebagian lainnya menilai perlambatan ekonomi dan melemahnya beberapa indikator tenaga kerja dapat memberikan ruang bagi pendekatan kebijakan yang lebih hati-hati. Perbedaan pandangan tersebut membuat prospek suku bunga The Fed masih menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pergerakan dolar AS.

Apabila ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat kembali menguat, dolar berpotensi memperoleh dukungan sehingga USD/JPY dapat kembali naik. Sebaliknya, apabila pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve akan mengambil sikap yang lebih moderat, tekanan terhadap yen dapat mulai mereda.

Ke depan, pergerakan USD/JPY diperkirakan masih akan berlangsung volatil. Selama risiko intervensi dari pemerintah Jepang tetap tinggi, ruang kenaikan pasangan mata uang ini diperkirakan akan lebih terbatas meskipun dolar AS masih memperoleh dukungan dari kebijakan moneter yang relatif ketat.

Fokus investor berikutnya akan tertuju pada data klaim awal tunjangan pengangguran Amerika Serikat. Data tersebut akan memberikan petunjuk baru mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS dan dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve. Selain itu, pelaku pasar juga akan terus memantau setiap pernyataan dari otoritas Jepang karena sinyal intervensi sekecil apa pun berpotensi memicu pergerakan tajam pada nilai tukar yen dalam jangka pendek.

Selasa, 07 Juli 2026

Bursa Asia Melemah, Saham Samsung Menekan Sentimen Pasar di Tengah Evaluasi Prospek AI

Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Selasa, 7 Juli, seiring meningkatnya aksi jual di sektor teknologi yang membebani sentimen investor. Indeks MSCI Asia Pacific turun sekitar 0,3%, dengan jumlah saham yang mengalami penurunan sedikit lebih banyak dibandingkan saham yang mencatatkan kenaikan. Pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang mulai mengevaluasi keberlanjutan reli saham teknologi setelah kenaikan tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Tekanan terbesar datang dari saham Samsung Electronics yang anjlok lebih dari 5% setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartalan. Penurunan tersebut terjadi meskipun Samsung membukukan lonjakan laba hingga 19 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja impresif tersebut didorong oleh tingginya permintaan terhadap chip memori yang digunakan pada pusat data berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, hasil tersebut belum mampu memuaskan ekspektasi pasar karena investor lebih fokus pada prospek pertumbuhan laba ke depan serta tingginya valuasi saham teknologi.

Reaksi pasar terhadap laporan keuangan Samsung menunjukkan bahwa pelaku investasi kini tidak hanya memperhatikan besarnya pertumbuhan laba, tetapi juga mempertimbangkan apakah momentum permintaan AI masih mampu dipertahankan dalam jangka panjang. Kekhawatiran mengenai potensi perlambatan pertumbuhan industri semikonduktor membuat sebagian investor memilih melakukan aksi ambil untung setelah reli panjang yang terjadi sepanjang tahun.

Dampak pelemahan Samsung turut menyeret pasar saham Korea Selatan. Indeks Kospi merosot sekitar 3,5%, mencerminkan tekanan yang cukup besar terhadap sektor teknologi yang memiliki bobot dominan dalam indeks tersebut. Sementara itu, saham SK Hynix juga turun sekitar 1% setelah perusahaan secara resmi memulai proses pemasaran untuk rencana pencatatan sahamnya di Amerika Serikat. Langkah tersebut menarik perhatian investor, namun pada saat yang sama memunculkan evaluasi terhadap valuasi perusahaan chip di tengah tingginya ekspektasi terhadap pertumbuhan industri AI.

Pergerakan saham-saham semikonduktor menjadi indikator penting bagi pasar global karena industri ini merupakan tulang punggung perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Permintaan terhadap chip berkapasitas tinggi memang masih kuat berkat ekspansi pusat data dan pengembangan model AI generatif. Namun, investor mulai mempertanyakan apakah pertumbuhan permintaan tersebut dapat terus berlangsung pada kecepatan yang sama dalam beberapa kuartal mendatang.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak di bawah level US$69 per barel. Pelemahan harga minyak dipengaruhi oleh semakin kuatnya indikasi kelebihan pasokan global. Langkah Arab Saudi memangkas harga jual minyak untuk pembeli di Asia serta meningkatnya kembali aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi. Kombinasi kedua faktor tersebut memberikan tekanan terhadap harga minyak meskipun risiko geopolitik di Timur Tengah masih belum sepenuhnya hilang.

Sementara itu, nilai tukar yen Jepang relatif stabil di kisaran 162,08 per dolar Amerika Serikat. Stabilnya yen terjadi meskipun data menunjukkan hedge fund masih mempertahankan posisi jual terhadap mata uang Jepang pada level terbesar sejak tahun 2007. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih memperkirakan perbedaan kebijakan moneter antara Jepang dan Amerika Serikat akan terus membatasi penguatan yen dalam waktu dekat.

Pergerakan indeks utama di kawasan Asia menunjukkan arah yang bervariasi. Indeks Topix Jepang berhasil menguat sekitar 0,5%, didukung oleh saham-saham di luar sektor teknologi. Sebaliknya, indeks S&P/ASX 200 Australia melemah sekitar 0,2% akibat tekanan pada sektor sumber daya dan keuangan. Di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng naik tipis sekitar 0,1%, sedangkan kontrak berjangka Euro Stoxx 50 turun sekitar 0,3%, mencerminkan sentimen global yang masih cenderung berhati-hati.

Secara keseluruhan, investor masih menunggu katalis baru yang mampu memberikan kepastian mengenai keberlanjutan tren pertumbuhan industri kecerdasan buatan. Selain perkembangan sektor teknologi, perhatian pasar juga tertuju pada pergerakan harga minyak serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve yang diperkirakan akan menjadi faktor utama dalam menentukan sentimen pasar keuangan global pada periode mendatang. Selama ketiga faktor tersebut belum memberikan kepastian yang kuat, pelaku pasar diperkirakan akan tetap bersikap selektif dalam mengambil keputusan investasi.

Jumat, 03 Juli 2026

Indeks Dolar AS Melemah Setelah Data Ketenagakerjaan Mengecewakan, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menurun

Indeks dolar Amerika Serikat (US Dollar Index/DXY) bertahan di bawah level 101 pada perdagangan Jumat, 3 Juli, setelah mengalami pelemahan tajam pada sesi sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang AS muncul menyusul rilis data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan, sehingga mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang. Perubahan sentimen tersebut membuat permintaan terhadap dolar melemah seiring meningkatnya keyakinan bahwa bank sentral Amerika Serikat tidak perlu terburu-buru memperketat kebijakan moneternya.

Laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Amerika Serikat hanya menciptakan 57.000 lapangan kerja baru sepanjang Juni. Angka tersebut menjadi pertumbuhan terendah dalam empat bulan terakhir dan jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 110.000 pekerjaan. Perlambatan ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum setelah sebelumnya menjadi salah satu pilar utama yang menopang ketahanan ekonomi Amerika Serikat.

Di sisi lain, tingkat pengangguran tercatat berada di level 4,2%. Meskipun masih tergolong relatif rendah secara historis, kombinasi antara melambatnya pertumbuhan lapangan kerja dan tingkat pengangguran yang stabil memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja mulai bergerak menuju kondisi yang lebih seimbang. Kondisi tersebut mengurangi tekanan bagi Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga demi mendinginkan aktivitas ekonomi.

Data ketenagakerjaan ini juga melengkapi laporan sebelumnya yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta berada di bawah ekspektasi pasar. Rangkaian data tersebut memperkuat sinyal bahwa aktivitas ekonomi Amerika Serikat mulai mengalami moderasi setelah beberapa bulan menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Bagi investor, perlambatan pasar tenaga kerja menjadi salah satu indikator penting yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve pada pertemuan-pertemuan mendatang.

Menyusul rilis data tersebut, pelaku pasar segera menyesuaikan proyeksi terhadap kebijakan suku bunga. Berdasarkan kontrak berjangka Fed Funds Futures, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini turun menjadi sekitar 50%, dibandingkan sekitar 67% sebelum laporan ketenagakerjaan dipublikasikan. Penurunan ekspektasi ini menjadi faktor utama yang membebani pergerakan dolar AS karena investor mulai memperkirakan siklus pengetatan moneter mendekati akhir.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pernyataan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang menyampaikan bahwa ekspektasi inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, Warsh tetap menegaskan bahwa Federal Reserve berkomitmen menjaga stabilitas harga dan mengembalikan inflasi menuju target jangka panjang sebesar 2%. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bank sentral masih mempertahankan sikap hati-hati, meskipun tekanan inflasi mulai berkurang.

Komentar Warsh dipandang sebagai sinyal bahwa Federal Reserve akan tetap bergantung pada data ekonomi sebelum mengambil keputusan mengenai arah suku bunga berikutnya. Dengan inflasi yang mulai melandai dan pasar tenaga kerja menunjukkan perlambatan, ruang bagi kebijakan yang lebih agresif menjadi semakin terbatas. Kondisi ini mendorong investor mengurangi kepemilikan dolar AS dan mulai beralih ke aset lain yang dinilai memiliki potensi keuntungan lebih besar apabila suku bunga tidak kembali dinaikkan.

Secara mingguan, Indeks Dolar AS berada di jalur untuk mencatat pelemahan dan berpotensi mengakhiri reli yang telah berlangsung selama dua pekan berturut-turut. Pelemahan ini mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat, yang sebelumnya didukung oleh data ekonomi yang relatif solid. Kini, fokus investor beralih pada kemungkinan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga lebih lama tanpa melakukan kenaikan tambahan apabila tren perlambatan ekonomi terus berlanjut.

Ke depan, arah pergerakan dolar AS akan tetap sangat bergantung pada rilis data ekonomi berikutnya, terutama inflasi, aktivitas sektor jasa dan manufaktur, serta perkembangan pasar tenaga kerja. Selain itu, setiap pernyataan dari pejabat Federal Reserve akan terus menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam menilai peluang perubahan kebijakan moneter. Jika data ekonomi kembali melemah dan tekanan inflasi terus mereda, dolar AS berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, apabila indikator ekonomi menunjukkan pemulihan yang lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat kembali meningkat dan memberikan dukungan baru bagi mata uang Amerika Serikat.