Jumat, 13 Maret 2026

Saham Asia Melemah Ikuti Wall Street, Kekhawatiran Lonjakan Harga Minyak dan Inflasi Membayangi Pasar

 

Pasar saham Asia memulai perdagangan Jumat dengan pelemahan seiring mengikuti penurunan tajam di Wall Street. Investor global semakin fokus pada pergerakan harga minyak dan potensi dampaknya terhadap inflasi global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran. Kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat mengganggu pasokan energi dunia mendorong pelaku pasar untuk mengambil sikap lebih defensif terhadap aset berisiko.

Indeks saham Asia secara keseluruhan turun sekitar 0,5% pada awal perdagangan setelah indeks utama Amerika Serikat mengalami tekanan signifikan. Indeks S&P 500 anjlok sekitar 1,5% hingga menyentuh level terendah sejak November, sementara Nasdaq-100 turun 1,7%. Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penggerak utama pasar juga mendekati ambang koreksi, menandakan meningkatnya tekanan terhadap sektor pertumbuhan. Meski demikian, kontrak berjangka indeks saham AS sempat dibuka sedikit lebih tinggi, memberi sinyal potensi jeda sementara dalam tekanan pasar pada awal sesi.

Kekhawatiran utama pasar saat ini adalah lonjakan harga energi. Premi risiko energi dinilai tetap tinggi meskipun harga minyak sempat turun tipis pada Jumat setelah sebelumnya mencatat penutupan tertinggi sejak Agustus 2022. Ketegangan geopolitik meningkat setelah pernyataan keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta pemimpin tertinggi baru Iran yang menegaskan bahwa Strait of Hormuz harus tetap ditutup. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling vital di dunia, sehingga gangguan di wilayah ini langsung mempengaruhi stabilitas pasar energi global.

Menurut analis pasar Chris Weston dari Pepperstone, pasar tampaknya mulai memperpanjang ekspektasi terhadap durasi penutupan Selat Hormuz dan potensi konflik yang lebih luas. Kondisi ini dapat memperburuk prospek inflasi global serta mengubah pola konsumsi energi, yang pada akhirnya dapat menekan profitabilitas perusahaan dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Kekhawatiran inflasi juga mulai merambat ke pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat sempat melemah pada sesi sebelumnya namun kembali stabil pada awal perdagangan Jumat. Obligasi pemerintah AS atau US Treasury dengan tenor dua tahun naik sembilan basis poin menjadi sekitar 3,74% pada Kamis, sementara yield obligasi 10 tahun naik tiga basis poin menjadi sekitar 4,26%. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan ekspektasi bahwa kebijakan moneter akan tetap ketat lebih lama untuk menahan tekanan inflasi.

Perubahan ekspektasi kebijakan moneter juga terlihat dari sikap pasar terhadap langkah Federal Reserve. Pelaku pasar kini dilaporkan mulai menghapus kemungkinan penurunan suku bunga pada tahun 2026 dari proyeksi mereka. Kondisi ini memperketat kondisi keuangan global dan biasanya memberikan tekanan terhadap valuasi saham, terutama pada sektor teknologi dan perusahaan berbasis pertumbuhan yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Sementara itu, dolar AS sempat ditutup pada level tertinggi dalam hampir dua bulan sebelum melemah tipis pada perdagangan Jumat. Investor saat ini menunggu rilis data inflasi terbaru Amerika Serikat yang dapat memberikan gambaran tambahan mengenai arah kebijakan moneter. Namun banyak analis menilai data inflasi tersebut mungkin memiliki dampak terbatas terhadap sentimen pasar karena fokus investor saat ini lebih tertuju pada ketidakpastian geopolitik.

Dengan Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan minggu depan, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan kebijakan serta proyeksi ekonomi dari para pejabat bank sentral. Ekonom dari Capital Economics, Stephen Brown, menyatakan bahwa hasil paling hawkish kemungkinan terjadi apabila Federal Reserve menghapus bias pelonggaran dari pernyataan resminya serta mengubah proyeksi median dari satu kali pemangkasan suku bunga tahun ini menjadi tidak ada perubahan sama sekali.

Di sektor energi, para analis dari Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melampaui rekor tertinggi tahun 2008 apabila aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap terganggu hingga bulan Maret. Sementara itu, International Energy Agency menyatakan bahwa perang yang melibatkan Iran telah memicu gangguan luar biasa di pasar minyak global, dengan dampak terhadap sekitar 7,5% pasokan minyak dunia dan porsi ekspor yang bahkan lebih besar.

Pemerintah Amerika Serikat juga dikabarkan sedang mempertimbangkan langkah darurat untuk menekan lonjakan harga energi. Salah satunya adalah rencana untuk sementara menangguhkan aturan maritim berusia lebih dari satu abad yang mengharuskan penggunaan kapal berbendera Amerika untuk pengiriman barang antar pelabuhan domestik. Langkah ini bertujuan meningkatkan fleksibilitas logistik dan membantu menstabilkan pasokan energi domestik.

Selain itu, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan bahwa Angkatan Laut AS berpotensi mulai mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz pada akhir Maret guna menjaga keamanan jalur perdagangan energi. Langkah ini menunjukkan betapa strategisnya jalur tersebut bagi stabilitas ekonomi global.

Ke depan, pasar global akan terus memantau sejumlah faktor kunci yang dapat mempengaruhi arah investasi. Pergerakan harga minyak dan perkembangan situasi di Selat Hormuz akan menjadi indikator utama bagi stabilitas pasar energi. Selain itu, respons imbal hasil obligasi Amerika terhadap risiko inflasi, rilis data inflasi terbaru AS, serta sinyal kebijakan dari Federal Reserve juga akan memainkan peran penting dalam menentukan sentimen pasar. Tekanan terhadap saham teknologi berkapitalisasi besar juga diperkirakan akan menjadi barometer penting bagi selera risiko investor global dalam beberapa waktu mendatang.

Rabu, 11 Maret 2026

Nikkei Tembus 55.000, Saham Teknologi Pimpin Reli Pasar Saham Jepang

Pasar saham Jepang kembali mencatatkan kinerja impresif pada perdagangan Rabu dengan melanjutkan tren penguatan untuk sesi kedua berturut-turut. Indeks Nikkei 225 melonjak sekitar 2,1% hingga berhasil menembus level psikologis 55.000, sebuah pencapaian penting yang mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi dan sektor teknologi Jepang. Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 1,6% dan mencapai level 3.723, menandakan penguatan yang merata di berbagai sektor industri.

Kenaikan pasar saham Jepang kali ini didorong oleh beberapa faktor utama, terutama penurunan harga minyak global yang membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi lonjakan inflasi. Penurunan harga energi memberikan ruang bagi perusahaan untuk menekan biaya operasional, sekaligus memperkuat sentimen pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini membuat investor kembali meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko seperti saham, terutama di pasar Asia yang sensitif terhadap perubahan harga komoditas energi.

Harga minyak mengalami penurunan lanjutan setelah Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah. Rencana tersebut disebut-sebut melampaui pelepasan sekitar 182 juta barel yang dilakukan pada tahun 2022 saat terjadi invasi Rusia ke Ukraina. Langkah ini bertujuan untuk menstabilkan pasokan energi global serta meredam tekanan harga yang dapat memicu inflasi di berbagai negara. Bagi pasar saham Jepang, penurunan harga minyak menjadi katalis positif karena Jepang merupakan negara pengimpor energi yang sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

Sentimen positif juga datang dari sektor teknologi global yang kembali menunjukkan momentum kuat. Saham-saham teknologi Jepang memimpin reli pasar setelah perusahaan teknologi Amerika Serikat Oracle melonjak hampir 9% dalam perdagangan lanjutan berkat laporan kinerja keuangan yang kuat. Hasil tersebut memperkuat optimisme investor terhadap pertumbuhan industri teknologi, terutama yang berkaitan dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Antusiasme terhadap sektor AI saat ini menjadi salah satu pendorong utama bagi saham teknologi di berbagai bursa global, termasuk Jepang.

Sejumlah saham teknologi Jepang mencatat kenaikan signifikan dalam perdagangan tersebut. Kioxia Holdings, salah satu produsen memori flash terkemuka, naik sekitar 6,3% seiring meningkatnya prospek permintaan chip untuk teknologi kecerdasan buatan dan pusat data. SoftBank Group juga mengalami penguatan sekitar 5%, didukung oleh ekspektasi investasi teknologi jangka panjang yang semakin besar. Sementara itu, perusahaan teknologi kabel dan komponen elektronik Fujikura mencatat kenaikan sekitar 4,8%, memperkuat tren penguatan sektor teknologi Jepang.

Selain sektor teknologi, saham perusahaan hiburan digital juga turut memberikan kontribusi besar terhadap penguatan indeks. Nintendo mencatat lonjakan sekitar 6% setelah perusahaan tersebut mengajukan pengaduan resmi yang meminta pengembalian dana atas tarif yang dikenakan oleh Amerika Serikat. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis untuk melindungi profitabilitas perusahaan di tengah dinamika perdagangan internasional yang terus berubah.

Pergerakan spektakuler juga terjadi pada saham Japan Display yang melonjak hingga 30%. Lonjakan ini dipicu oleh laporan yang menyebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat dan Jepang sedang mempertimbangkan rencana untuk membangun pabrik display di Amerika Serikat. Jika proyek tersebut terealisasi, hal ini berpotensi memperkuat rantai pasokan teknologi antara kedua negara serta meningkatkan kapasitas produksi layar untuk berbagai perangkat elektronik, mulai dari smartphone hingga perangkat otomotif dan teknologi canggih lainnya.

Secara keseluruhan, kombinasi antara penurunan harga minyak global dan meningkatnya optimisme terhadap sektor teknologi telah memberikan dorongan kuat bagi pasar saham Jepang. Momentum ini menunjukkan bahwa investor semakin percaya diri terhadap prospek pertumbuhan perusahaan Jepang, terutama yang terlibat dalam industri teknologi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan.

Penguatan indeks Nikkei yang berhasil menembus level 55.000 juga menandai meningkatnya daya tarik pasar saham Jepang di mata investor global. Dengan dukungan kebijakan ekonomi yang stabil, inovasi teknologi yang terus berkembang, serta sentimen global yang membaik, pasar saham Jepang berpotensi mempertahankan momentum positif dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi ini membuat Jepang kembali menjadi salah satu pusat perhatian utama dalam peta investasi pasar saham Asia dan global.

Senin, 09 Maret 2026

Pasar Global Pekan Ini Dibayangi Perang Timur Tengah dan Ancaman Inflasi Energi

Pasar keuangan global memasuki pekan ini dalam bayang-bayang ketegangan geopolitik dan meningkatnya risiko inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi. Pergerakan berbagai aset utama, terutama emas dan minyak, menunjukkan dinamika yang sangat dipengaruhi oleh tarik-menarik antara kebutuhan investor mencari perlindungan terhadap risiko global dan tekanan makroekonomi dari penguatan dolar Amerika Serikat serta kenaikan imbal hasil obligasi. Kombinasi faktor tersebut menciptakan volatilitas tinggi di pasar, sekaligus menegaskan bahwa geopolitik kembali menjadi salah satu penggerak utama arah aset global.

Pergerakan harga emas sepanjang pekan lalu memperlihatkan sensitivitas yang sangat tinggi terhadap dua kekuatan besar di pasar. Di satu sisi, eskalasi konflik yang melibatkan Iran meningkatkan ketidakpastian geopolitik dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama terkait potensi gangguan pasokan energi global. Kondisi tersebut secara alami mendorong investor untuk mengalihkan sebagian portofolio mereka ke aset safe haven seperti emas. Ketidakjelasan mengenai berapa lama konflik akan berlangsung serta kemungkinan eskalasi militer yang lebih luas membuat permintaan terhadap aset lindung nilai tetap terjaga.

Namun di sisi lain, penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika beberapa kali menekan pergerakan emas. Dalam kondisi suku bunga yang tinggi, emas menjadi kurang menarik karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga. Ketika yield obligasi meningkat dan dolar menguat, biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih tinggi, sehingga harga logam mulia tersebut cenderung tertahan meskipun ketegangan geopolitik sedang meningkat.

Lonjakan harga energi juga memainkan peran penting dalam membentuk arah pasar emas. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran bahwa inflasi di Amerika Serikat dapat kembali meningkat, terutama jika harga energi terus bertahan di level tinggi. Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat. Akibatnya, dolar AS dan imbal hasil obligasi kembali mendapatkan dukungan, yang secara tidak langsung menahan potensi kenaikan harga emas meskipun permintaan safe haven tetap ada.

Ketika tekanan dari dolar mulai mereda, emas sempat mendapatkan ruang untuk pulih. Aksi beli muncul terutama di area harga yang lebih rendah, menunjukkan bahwa investor masih melihat emas sebagai instrumen lindung nilai penting di tengah ketidakpastian global. Hal ini menegaskan bahwa selama periode tersebut, pergerakan emas sangat bergantung pada dua katalis utama: perkembangan konflik geopolitik yang meningkatkan permintaan safe haven serta perubahan ekspektasi suku bunga yang memengaruhi kekuatan dolar dan obligasi.

Menjelang akhir periode perdagangan, emas kembali memperoleh dukungan setelah data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Data tersebut memunculkan kembali harapan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar masih mungkin terjadi jika ekonomi mulai melambat. Ekspektasi ini membantu memperbaiki sentimen terhadap emas, karena suku bunga yang lebih rendah biasanya meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset penyimpan nilai.

Meskipun demikian, pasar tetap sangat reaktif terhadap setiap perkembangan geopolitik terbaru. Setiap kabar mengenai potensi eskalasi konflik di Timur Tengah cenderung meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai safe haven. Namun pada saat yang sama, penguatan dolar dan kenaikan yield dapat dengan cepat mengimbangi sentimen tersebut. Akibatnya, pergerakan emas selama pekan tersebut terlihat fluktuatif, mencerminkan benturan antara kebutuhan investor untuk melindungi nilai aset mereka dari risiko global dan tekanan makro dari inflasi energi serta prospek kebijakan moneter Amerika Serikat.

Sementara itu, pasar energi mengalami pergerakan yang jauh lebih dramatis. Harga minyak mentah melonjak tajam karena meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah, terutama terkait hambatan pengapalan di sekitar Selat Hormuz. Jalur laut strategis ini merupakan salah satu koridor distribusi minyak paling penting di dunia, sehingga setiap gangguan terhadap aktivitas pengiriman di kawasan tersebut langsung memicu lonjakan premi risiko di pasar energi global.

Pada penutupan akhir pekan, minyak mentah jenis Brent tercatat berada di sekitar US$92,69 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$90,90 per barel. Kedua kontrak tersebut mencatat kenaikan harian yang sangat kuat. Secara mingguan, Brent dilaporkan naik sekitar 28 persen, sementara WTI melonjak hingga sekitar 36 persen. Lonjakan ini menjadikannya salah satu kenaikan mingguan terbesar dalam beberapa dekade, terutama untuk minyak jenis WTI.

Pergerakan harga minyak tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses kenaikan bertahap sebelum akhirnya melonjak tajam pada akhir periode perdagangan. Data historis menunjukkan bahwa WTI sebelumnya bergerak di kisaran US$71 hingga US$75 per barel sebelum naik menuju sekitar US$81 per barel. Setelah itu, harga terus meningkat hingga mendekati US$91 per barel ketika kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global semakin meningkat.

Narasi utama yang mendorong kenaikan harga minyak adalah ancaman terhadap kelancaran distribusi energi dari kawasan Timur Tengah. Banyak pengiriman minyak mentah dan produk energi global melewati jalur perdagangan yang berada di wilayah tersebut. Ketika risiko gangguan meningkat, pasar langsung bereaksi dengan mencari sumber pasokan alternatif. Proses ini memicu peningkatan biaya logistik, termasuk biaya pengiriman dan asuransi kapal tanker, yang pada akhirnya ikut mendorong kenaikan harga minyak di pasar global.

Secara fundamental, lonjakan harga minyak bergerak melalui dua mekanisme utama. Pertama, ekspektasi pasokan yang lebih ketat mendorong kenaikan harga kontrak berjangka sekaligus memperbesar premi risiko di pasar energi. Kedua, peningkatan biaya logistik seperti freight dan insurance membuat harga minyak yang dikirim ke konsumen akhir menjadi lebih mahal. Kenaikan biaya ini kemudian memengaruhi margin kilang dan memperlebar perbedaan harga minyak antarwilayah.

Tekanan terhadap rantai pasok energi ini memperkuat persepsi bahwa pasar sedang menghadapi risiko pasokan yang nyata, bukan sekadar reaksi emosional jangka pendek. Jika gangguan distribusi energi terus berlanjut, dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi global, mulai dari transportasi hingga industri manufaktur. Oleh karena itu, lonjakan harga minyak dalam periode ini tidak hanya mencerminkan kepanikan pasar, tetapi juga penyesuaian terhadap kemungkinan disrupsi energi yang lebih besar.

Secara keseluruhan, dinamika pasar selama periode ini menunjukkan hubungan yang sangat erat antara emas, minyak, dolar Amerika Serikat, dan ekspektasi suku bunga. Lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi global dan secara tidak langsung mendukung penguatan dolar serta imbal hasil obligasi. Faktor tersebut menjadi hambatan bagi kenaikan harga emas. Namun pada saat yang sama, konflik geopolitik yang memicu kenaikan minyak juga menjaga permintaan terhadap aset safe haven tetap tinggi.

Akibatnya, emas bergerak dalam pola fluktuatif di bawah tekanan silang berbagai faktor makro dan geopolitik. Sebaliknya, minyak menjadi aset yang paling dominan menguat karena menerima dampak langsung dari ancaman gangguan pasokan global. Kombinasi konflik regional, ketidakpastian kebijakan moneter, dan lonjakan harga energi membuat pasar global memasuki fase volatilitas yang tinggi, di mana setiap perkembangan baru berpotensi dengan cepat mengubah arah pergerakan aset utama dunia.

Rabu, 04 Maret 2026

Perak Rebound, Risiko Hormuz Masih Mengintai

 

Harga perak naik lebih dari 1% dan kembali diperdagangkan di atas US$83 per ons pada Rabu, setelah melemah selama dua sesi berturut-turut. Pemulihan ini terjadi ketika pasar kembali mempertimbangkan kenaikan risiko geopolitik, terutama karena konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Perang AS–Israel melawan Iran telah memasuki hari kelima, dan eskalasi terbaru membantu mempertahankan permintaan terhadap aset defensif. Sejumlah laporan media internasional menyebut Israel menargetkan lokasi yang dikaitkan dengan Assembly of Experts di kota Qom—lembaga kunci dalam proses suksesi pemimpin tertinggi Iran. Perkembangan ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik berpotensi berkembang menjadi krisis politik jangka panjang, bukan sekadar bentrokan militer singkat.

Sementara itu, Washington berupaya meredakan kepanikan atas jalur energi global. Presiden Donald Trump mengemukakan kemungkinan pengawalan Angkatan Laut AS serta jaminan asuransi/risiko bagi kapal tanker dan perdagangan maritim di kawasan Teluk, termasuk Selat Hormuz yang strategis. Langkah ini bertujuan menstabilkan biaya pengiriman dan mencegah lonjakan energi lebih lanjut, meskipun pelaku pasar menilai risiko operasional di lapangan masih tinggi.

Namun, kenaikan hari ini juga bisa dibaca sebagai technical rebound. Dalam dua sesi sebelumnya, perak tertekan cukup dalam, sebagian akibat penguatan dolar AS dan perubahan ekspektasi suku bunga. Pasar khawatir lonjakan harga energi dapat memicu inflasi, yang berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan ketat lebih lama dari perkiraan awal.

Sifat “dua wajah” perak membuatnya sering lebih volatil dibanding emas. Di satu sisi, ia berperan sebagai aset lindung nilai saat konflik memanas. Di sisi lain, sebagai logam industri, perak sensitif terhadap prospek pertumbuhan global dan dinamika suku bunga. Ketika dolar dan imbal hasil obligasi naik karena narasi inflasi, perak rentan terkoreksi—terutama setelah reli besar yang biasanya diikuti aksi ambil untung dan pengurangan leverage.

Senin, 02 Maret 2026

Indeks Dolar Dekati Level 98: Sinyal Safe Haven Menguat atau Sekadar Reaksi Sesaat?

Indeks Dolar AS (DXY) sempat menyentuh level tertinggi dalam lima pekan dan bertahan di kisaran 97,9–98,0 pada sesi Asia, sebelum terkoreksi tipis setelah lonjakan awal. Koreksi ini belum mencerminkan pelemahan signifikan, karena permintaan terhadap aset safe haven masih kuat di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Selama sentimen global didominasi oleh ketidakpastian geopolitik, dolar AS tetap menjadi instrumen lindung nilai utama bagi investor global.

Daya tarik dolar meningkat setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran memicu respons balasan di berbagai titik kawasan. Lingkungan “risk-off” seperti ini biasanya mendorong pelaku pasar untuk meningkatkan eksposur terhadap mata uang yang dianggap paling likuid dan aman, yaitu dolar AS. Oleh karena itu, potensi penurunan DXY relatif terbatas selama ketegangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara konkret.

Ketegangan regional juga meningkat di front Lebanon. Israel melancarkan serangan ke wilayah selatan Beirut setelah adanya tembakan roket dan drone dari Lebanon, disertai perintah evakuasi di beberapa area. Perkembangan ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas, yang pada gilirannya menopang permintaan dolar sebagai aset defensif. Setiap eskalasi tambahan berpotensi mendorong arus modal masuk ke dolar dan memperkuat indeks lebih lanjut.

Namun, penguatan dolar tidak terjadi secara linier tanpa hambatan. Pasar juga tengah mencerna sinyal kebijakan moneter dari Federal Reserve. Munculnya narasi yang mendorong pemangkasan suku bunga lebih agresif dari sejumlah pejabat atau tokoh kebijakan berpotensi membatasi penguatan USD. Jika ekspektasi pemotongan suku bunga semakin menguat, imbal hasil obligasi bisa turun dan menekan daya tarik dolar dalam jangka pendek. Inilah yang menciptakan tarik-menarik antara faktor geopolitik dan ekspektasi suku bunga.

Secara gambaran besar, DXY saat ini didukung oleh faktor geopolitik sebagai safe haven, tetapi di sisi lain menghadapi tekanan dari dinamika kebijakan moneter. Selama tajuk berita Timur Tengah tetap memanas, bias dolar cenderung defensif. Namun volatilitas diperkirakan tetap tinggi karena pasar akan bereaksi cepat terhadap setiap sinyal eskalasi maupun de-eskalasi.

Ke depan, fokus utama pasar akan tertuju pada tiga faktor kunci: perkembangan serangan dan aksi balasan di kawasan, stabilitas jalur energi global, serta komentar pejabat bank sentral mengenai arah suku bunga. Kombinasi ketiganya akan menentukan apakah DXY mampu mempertahankan area 98 sebagai level psikologis penting atau justru kembali terkoreksi seiring meredanya risiko dan meningkatnya ekspektasi pelonggaran moneter.

Sumber : www.newsmaker.id