
Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Rabu, mencatat kenaikan selama empat sesi berturut-turut. Kebuntuan hubungan Amerika Serikat dan Iran membuat pasar belum melihat tanda-tanda penyelesaian konflik, sementara ketidakpastian mengenai aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terus mempertahankan premi risiko pada harga energi global.
West Texas Intermediate (WTI) kembali menembus US$85 per barel setelah sebelumnya menguat sekitar 4,5% dalam tiga sesi perdagangan. Sementara itu, minyak Brent bertahan di atas US$91 per barel. Penguatan tersebut menunjukkan bahwa pasar semakin memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.
Ketegangan antara Washington dan Teheran menjadi faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa saat ini tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran. Pada saat yang sama, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas, sehingga kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi dari kawasan tersebut belum mereda.
Selat Hormuz menjadi titik krusial bagi pasar energi karena setiap gangguan terhadap jalur tersebut dapat menghambat pengiriman minyak dan produk energi menuju pasar global. Selama aktivitas kapal belum kembali normal dan tidak terdapat kepastian diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, investor cenderung mempertahankan premi risiko dalam harga Brent dan WTI.
Tekanan terhadap Iran juga diperkirakan semakin meningkat. Amerika Serikat berencana memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran sekaligus mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengisyaratkan bahwa paket sanksi baru yang lebih keras dapat diumumkan dalam pekan ini untuk mendorong Iran memenuhi tuntutan Washington.
Jika sanksi baru tersebut mengganggu produksi, ekspor, atau aktivitas perdagangan minyak Iran, pasar dapat kembali menghadapi kekhawatiran mengenai berkurangnya pasokan global. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dorongan tambahan terhadap harga minyak, terutama jika terjadi bersamaan dengan gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Risiko geopolitik juga semakin meluas setelah Uni Emirat Arab mengumumkan penghentian sementara seluruh aktivitas perdagangan dan transaksi keuangan dengan Iran di tengah meningkatnya eskalasi kawasan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa konflik mulai memberikan dampak lebih luas terhadap hubungan ekonomi regional.
Sementara itu, konflik Rusia-Ukraina turut memperketat kondisi pasar energi global. Serangan terhadap kilang minyak dan gangguan terhadap ekspor produk olahan menyebabkan pasokan diesel dunia semakin terbatas. Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap pasar produk minyak, khususnya ketika permintaan terhadap bahan bakar tetap kuat.
Tekanan pasokan juga terlihat dari data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. American Petroleum Institute melaporkan penurunan stok minyak mentah AS, termasuk persediaan di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma. Persediaan produk distilat yang mencakup diesel juga dilaporkan mengalami penurunan.
Kondisi tersebut menjadi semakin signifikan karena margin pengolahan diesel di Amerika Serikat telah melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah. Margin yang tinggi mencerminkan ketatnya pasokan produk olahan dan dapat menjadi sinyal bahwa pasar energi menghadapi tekanan dari sisi pasokan, bukan hanya dari faktor geopolitik.
Dari sisi fundamental, kombinasi antara penurunan persediaan minyak AS, terbatasnya pasokan produk olahan, gangguan ekspor akibat konflik Rusia-Ukraina, serta ketidakpastian Selat Hormuz menciptakan lingkungan yang relatif mendukung harga minyak. Selama faktor-faktor tersebut bertahan, ruang koreksi harga minyak dapat menjadi terbatas.
Namun, reli minyak tetap menghadapi sejumlah risiko. Pemulihan arus ekspor dari kawasan Teluk Persia dapat mengurangi kekhawatiran pasar terhadap pasokan. Demikian pula, apabila sanksi baru AS terhadap Iran tidak memberikan dampak signifikan terhadap produksi dan ekspor minyak, premi risiko geopolitik berpotensi berkurang.
Harga minyak juga perlu diwaspadai karena kenaikan yang terlalu tajam dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi global. Brent yang bertahan di atas US$90 per barel berpotensi meningkatkan biaya energi, transportasi, dan produksi. Kondisi tersebut dapat menyulitkan bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter dan berpotensi meningkatkan imbal hasil obligasi.
Newsmaker Analysis: Momentum harga minyak masih bullish selama diplomasi AS-Iran tetap buntu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum kembali normal, dan persediaan energi terus menurun. Brent berpeluang mempertahankan posisi di atas US$91 per barel dan menguji level yang lebih tinggi apabila ketegangan geopolitik semakin meningkat. Sebaliknya, pemulihan arus ekspor dari kawasan Teluk atau sanksi AS yang tidak berdampak signifikan terhadap pasokan dapat mengurangi tekanan beli dan memicu konsolidasi harga.



