Harga minyak kembali menjadi perhatian pasar setelah muncul laporan bahwa Gedung Putih meminta Pentagon menyiapkan sejumlah opsi serangan terhadap Iran, yang berpotensi dilakukan sebelum pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November. Laporan tersebut kembali meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar energi, meskipun hingga saat ini belum terdapat keputusan final mengenai pelaksanaan operasi militer. Harga Brent sebelumnya bergerak di sekitar US$101 per barel, sementara WTI berada di dekat US$89 per barel, sebelum masing-masing ditutup di sekitar US$100,20 dan US$88,28 per barel.
Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi perhatian karena setiap eskalasi militer berpotensi mengganggu jalur pasokan energi di Timur Tengah. Pasar minyak masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik karena pemulihan arus pengiriman melalui kawasan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko gangguan pasokan. Selama potensi konflik masih terbuka, investor cenderung mempertahankan premi risiko dalam harga minyak.
Risiko pasokan juga muncul dari Amerika Serikat. Badai Tropis Isaias mendorong sejumlah produsen di Teluk Meksiko menghentikan produksi minyak mentah sekitar 511.000 barel per hari, atau sekitar seperempat dari total produksi kawasan tersebut. Penghentian aktivitas produksi ini memberikan tekanan tambahan terhadap pasokan global, terutama ketika kondisi persediaan minyak masih relatif ketat.
Data terbaru Amerika Serikat turut memperkuat perhatian terhadap kondisi pasokan. Persediaan minyak mentah AS tercatat turun sekitar 3,2 juta barel dalam pekan yang berakhir pada 2 Oktober, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan peningkatan stok. Penurunan persediaan menunjukkan bahwa ketersediaan minyak di pasar AS masih menghadapi tekanan dan berpotensi memberikan dukungan terhadap harga minyak.
Sementara itu, situasi di Timur Tengah masih belum stabil. Arus minyak melalui Selat Hormuz memang mulai meningkat, menunjukkan adanya pemulihan aktivitas pengiriman energi. Namun, risiko terhadap kapal tanker masih tinggi. Laporan mengenai serangan terhadap kapal tanker di sekitar Qatar serta meningkatnya aktivitas kelompok Houthi terhadap target di Arab Saudi membuat pasar tetap memperhitungkan kemungkinan gangguan baru terhadap jalur perdagangan minyak.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik perhatian utama karena gangguan terhadap jalur tersebut dapat berdampak langsung terhadap pasokan energi global. Apabila konflik meningkat hingga mengganggu aktivitas kapal tanker atau merusak fasilitas energi, proses pemulihan pasokan yang sedang berlangsung dapat kembali terhambat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong harga minyak naik secara signifikan dalam waktu relatif singkat.
Namun, kenaikan harga minyak masih menghadapi penahan dari sisi pasokan. Negara-negara G7 telah menyepakati pelepasan cadangan darurat, sementara International Energy Agency (IEA) juga mempercepat mekanisme untuk melepas stok minyak mentah dan diesel ke pasar. Tambahan pasokan tersebut berpotensi membatasi kenaikan harga apabila volume cadangan benar-benar dapat masuk ke pasar dalam waktu yang cepat.
Efektivitas pelepasan cadangan strategis akan sangat bergantung pada kecepatan distribusi dan perkembangan konflik di Timur Tengah. Jika pasokan tambahan mampu menutup sebagian kekurangan akibat gangguan produksi dan pengiriman, tekanan kenaikan harga dapat berkurang. Sebaliknya, apabila eskalasi geopolitik berkembang lebih cepat daripada masuknya pasokan tambahan, pasar dapat kembali menghadapi risiko defisit.
Dengan demikian, prospek harga minyak dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara risiko geopolitik dan pemulihan pasokan. Potensi operasi militer terhadap Iran, gangguan produksi di Teluk Meksiko, serta ancaman terhadap kapal tanker di Timur Tengah menjadi faktor yang dapat mempertahankan harga Brent di sekitar US$100 per barel. Di sisi lain, pelepasan cadangan strategis G7 dan IEA dapat membatasi kenaikan apabila tambahan pasokan segera tersedia di pasar.
Selama ketidakpastian mengenai konflik Iran dan keamanan Selat Hormuz masih tinggi, volatilitas harga minyak berpotensi tetap besar. Pasar akan mencermati perkembangan hubungan AS-Iran, kondisi produksi di Teluk Meksiko, arus pengiriman melalui Selat Hormuz, serta realisasi pelepasan cadangan minyak untuk menentukan arah harga berikutnya.
