
Pasar saham Asia bergerak menguat sementara harga minyak melemah setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata. Sentimen risk-on kembali mendominasi pasar keuangan global seiring meningkatnya harapan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah akan mereda, sehingga potensi gangguan terhadap pasokan energi dunia dapat diminimalkan.
Kenaikan bursa regional dipimpin oleh Jepang dan Korea Selatan, yang mendorong MSCI Asia Pacific Index naik sekitar 0,7% pada perdagangan Jumat. Optimisme di Asia mengikuti reli kuat Wall Street setelah indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 kembali mencetak rekor tertinggi baru. Minat investor terhadap saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tetap menjadi pendorong utama penguatan pasar saham global, terutama di sektor teknologi.
Di pasar komoditas, harga minyak Brent turun sekitar 0,4% ke level US$93,40 per barel. Penurunan tersebut dipicu oleh harapan bahwa perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan kelanjutan pembicaraan mengenai program nuklir Iran dapat membuka jalan menuju penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Meski demikian, pasar masih berhati-hati karena Presiden AS Donald Trump dikabarkan belum memberikan persetujuan final terhadap kesepakatan tersebut.
Pelaku pasar menilai potensi meredanya konflik lebih besar dibandingkan risiko bentrokan lanjutan di kawasan Teluk Persia. Selama perang berlangsung, penutupan Selat Hormuz telah menekan distribusi minyak global dan memicu kekhawatiran inflasi dunia. Oleh karena itu, investor kini fokus memantau sinyal pembukaan kembali jalur perdagangan strategis tersebut, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu rute utama pengiriman energi global. Namun, sejarah panjang negosiasi yang sering menemui jalan buntu membuat pasar tetap rentan terhadap perubahan sentimen secara mendadak.
Di pasar valuta asing, yen Jepang bergerak stabil di kisaran 159,25 per dolar AS setelah indikator inflasi utama Tokyo secara mengejutkan turun untuk bulan keenam berturut-turut. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa Bank of Japan kemungkinan masih akan mempertahankan kebijakan moneter longgar dalam waktu lebih lama. Pada sesi perdagangan Amerika sebelumnya, imbal hasil obligasi Treasury AS turun di seluruh tenor, sementara dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama negara maju.
Dari sisi makroekonomi, kenaikan biaya energi terus menjadi perhatian utama investor karena memperbesar tekanan inflasi global. Kondisi tersebut juga memunculkan kekhawatiran bahwa ruang gerak Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas. Data terbaru menunjukkan belanja konsumen AS naik tipis pada April, sementara inflasi tahunan meningkat ke level tertinggi sejak 2023. Di saat yang sama, ekonomi AS hanya tumbuh 1,6% pada kuartal pertama, lebih rendah dibanding estimasi sebelumnya, menandakan perlambatan mulai terlihat di tengah tekanan harga yang masih tinggi.
Pergerakan kontrak berjangka turut mencerminkan sentimen pasar yang beragam. Futures Hang Seng menguat 0,6%, futures Topix naik 0,5%, dan futures ASX 200 bertambah 0,8%. Sebaliknya, futures Euro Stoxx 50 justru turun 0,4%, menunjukkan bahwa investor Eropa masih cenderung berhati-hati menghadapi ketidakpastian geopolitik dan prospek ekonomi global.
Secara keseluruhan, kombinasi antara harapan perdamaian di Timur Tengah, pelemahan harga minyak, dan ekspektasi kebijakan moneter global menjadi faktor utama yang mendorong pergerakan pasar saat ini. Investor diperkirakan akan terus mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran, arah inflasi global, serta langkah bank sentral utama dunia dalam menentukan kebijakan suku bunga pada beberapa bulan mendatang.



