Rabu, 04 Maret 2026

Perak Rebound, Risiko Hormuz Masih Mengintai

 

Harga perak naik lebih dari 1% dan kembali diperdagangkan di atas US$83 per ons pada Rabu, setelah melemah selama dua sesi berturut-turut. Pemulihan ini terjadi ketika pasar kembali mempertimbangkan kenaikan risiko geopolitik, terutama karena konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Perang AS–Israel melawan Iran telah memasuki hari kelima, dan eskalasi terbaru membantu mempertahankan permintaan terhadap aset defensif. Sejumlah laporan media internasional menyebut Israel menargetkan lokasi yang dikaitkan dengan Assembly of Experts di kota Qom—lembaga kunci dalam proses suksesi pemimpin tertinggi Iran. Perkembangan ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik berpotensi berkembang menjadi krisis politik jangka panjang, bukan sekadar bentrokan militer singkat.

Sementara itu, Washington berupaya meredakan kepanikan atas jalur energi global. Presiden Donald Trump mengemukakan kemungkinan pengawalan Angkatan Laut AS serta jaminan asuransi/risiko bagi kapal tanker dan perdagangan maritim di kawasan Teluk, termasuk Selat Hormuz yang strategis. Langkah ini bertujuan menstabilkan biaya pengiriman dan mencegah lonjakan energi lebih lanjut, meskipun pelaku pasar menilai risiko operasional di lapangan masih tinggi.

Namun, kenaikan hari ini juga bisa dibaca sebagai technical rebound. Dalam dua sesi sebelumnya, perak tertekan cukup dalam, sebagian akibat penguatan dolar AS dan perubahan ekspektasi suku bunga. Pasar khawatir lonjakan harga energi dapat memicu inflasi, yang berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan ketat lebih lama dari perkiraan awal.

Sifat “dua wajah” perak membuatnya sering lebih volatil dibanding emas. Di satu sisi, ia berperan sebagai aset lindung nilai saat konflik memanas. Di sisi lain, sebagai logam industri, perak sensitif terhadap prospek pertumbuhan global dan dinamika suku bunga. Ketika dolar dan imbal hasil obligasi naik karena narasi inflasi, perak rentan terkoreksi—terutama setelah reli besar yang biasanya diikuti aksi ambil untung dan pengurangan leverage.

Senin, 02 Maret 2026

Indeks Dolar Dekati Level 98: Sinyal Safe Haven Menguat atau Sekadar Reaksi Sesaat?

Indeks Dolar AS (DXY) sempat menyentuh level tertinggi dalam lima pekan dan bertahan di kisaran 97,9–98,0 pada sesi Asia, sebelum terkoreksi tipis setelah lonjakan awal. Koreksi ini belum mencerminkan pelemahan signifikan, karena permintaan terhadap aset safe haven masih kuat di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Selama sentimen global didominasi oleh ketidakpastian geopolitik, dolar AS tetap menjadi instrumen lindung nilai utama bagi investor global.

Daya tarik dolar meningkat setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran memicu respons balasan di berbagai titik kawasan. Lingkungan “risk-off” seperti ini biasanya mendorong pelaku pasar untuk meningkatkan eksposur terhadap mata uang yang dianggap paling likuid dan aman, yaitu dolar AS. Oleh karena itu, potensi penurunan DXY relatif terbatas selama ketegangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara konkret.

Ketegangan regional juga meningkat di front Lebanon. Israel melancarkan serangan ke wilayah selatan Beirut setelah adanya tembakan roket dan drone dari Lebanon, disertai perintah evakuasi di beberapa area. Perkembangan ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas, yang pada gilirannya menopang permintaan dolar sebagai aset defensif. Setiap eskalasi tambahan berpotensi mendorong arus modal masuk ke dolar dan memperkuat indeks lebih lanjut.

Namun, penguatan dolar tidak terjadi secara linier tanpa hambatan. Pasar juga tengah mencerna sinyal kebijakan moneter dari Federal Reserve. Munculnya narasi yang mendorong pemangkasan suku bunga lebih agresif dari sejumlah pejabat atau tokoh kebijakan berpotensi membatasi penguatan USD. Jika ekspektasi pemotongan suku bunga semakin menguat, imbal hasil obligasi bisa turun dan menekan daya tarik dolar dalam jangka pendek. Inilah yang menciptakan tarik-menarik antara faktor geopolitik dan ekspektasi suku bunga.

Secara gambaran besar, DXY saat ini didukung oleh faktor geopolitik sebagai safe haven, tetapi di sisi lain menghadapi tekanan dari dinamika kebijakan moneter. Selama tajuk berita Timur Tengah tetap memanas, bias dolar cenderung defensif. Namun volatilitas diperkirakan tetap tinggi karena pasar akan bereaksi cepat terhadap setiap sinyal eskalasi maupun de-eskalasi.

Ke depan, fokus utama pasar akan tertuju pada tiga faktor kunci: perkembangan serangan dan aksi balasan di kawasan, stabilitas jalur energi global, serta komentar pejabat bank sentral mengenai arah suku bunga. Kombinasi ketiganya akan menentukan apakah DXY mampu mempertahankan area 98 sebagai level psikologis penting atau justru kembali terkoreksi seiring meredanya risiko dan meningkatnya ekspektasi pelonggaran moneter.

Sumber : www.newsmaker.id 

Kamis, 26 Februari 2026

EUR/USD Stabil di Tengah Tekanan Tarif Trump dan Pelemahan Dolar AS

Pasangan mata uang EUR/USD mempertahankan bias positif untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan Kamis, didukung oleh pelemahan dolar AS di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Pada sesi Asia, EUR/USD bergerak di kisaran 1,1815–1,1820 atau naik sekitar 0,1%. Meski demikian, laju penguatan masih terbatas dan belum menunjukkan momentum bullish yang kuat, menandakan pelaku pasar tetap berhati-hati dalam menambah posisi beli.

Tekanan terhadap dolar muncul meskipun The Federal Reserve mempertahankan nada kebijakan yang relatif hawkish. Investor menilai bahwa ketidakpastian terkait kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump kembali menjadi faktor dominan yang membebani greenback. Penerapan tarif global sebesar 10% terhadap barang non-pengecualian, menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang membatasi skema tarif “resiprokal” sebelumnya, memicu kekhawatiran baru tentang stabilitas perdagangan global dan prospek pertumbuhan ekonomi AS.

Sentimen pasar semakin tertekan setelah Trump mengisyaratkan kemungkinan kenaikan tarif hingga 15%. Prospek peningkatan tarif ini dipandang berpotensi memicu aksi balasan dari mitra dagang utama dan mengganggu rantai pasok global. Dampaknya bisa berupa perlambatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan volatilitas pasar keuangan. Kondisi tersebut membuat daya tarik dolar sebagai aset safe haven sedikit memudar, memberikan ruang bagi euro untuk tetap berada di zona positif.

Dari sisi Eropa, mata uang euro memperoleh dukungan tambahan dari spekulasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) mendekati akhir siklus penurunan suku bunga. Presiden ECB, Christine Lagarde, menilai kebijakan suku bunga saat ini sudah berada pada posisi yang “baik” dan mengindikasikan bahwa perubahan kebijakan dalam waktu dekat tidak mendesak. Pernyataan ini memperkuat persepsi stabilitas kebijakan moneter zona euro, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap euro di tengah tekanan pada dolar.

Meski demikian, pelaku pasar masih enggan mengambil posisi long secara agresif. Parlemen Eropa menunda pemungutan suara terkait kesepakatan perdagangan Uni Eropa–AS, yang menambah ketidakpastian dalam hubungan dagang transatlantik. Situasi ini berpotensi membatasi penguatan EUR/USD dalam jangka pendek. Investor kini menantikan komentar lanjutan dari Lagarde serta rilis data ekonomi AS, termasuk klaim pengangguran, sebagai katalis berikutnya yang dapat menentukan arah pergerakan pasangan mata uang ini.

Secara teknikal dan fundamental, arah EUR/USD ke depan sangat bergantung pada dinamika kebijakan tarif AS, respons mitra dagang global, serta sinyal kebijakan moneter dari kedua bank sentral. Selama dolar masih dibayangi ketidakpastian kebijakan perdagangan dan ECB mempertahankan sikap stabil, peluang EUR/USD untuk mempertahankan tren positif tetap terbuka, meskipun risiko konsolidasi jangka pendek masih membayangi pasar.

Selasa, 24 Februari 2026

AUD Menguat Jelang Rilis CPI, Pasar Uji Sinyal Kebijakan RBA

 

Pasangan AUD/USD menguat tipis ke kisaran 0,7065 pada awal sesi perdagangan Eropa hari Selasa, menjadikan dolar Australia sebagai salah satu mata uang utama dengan performa terbaik hari ini. Penguatan ini terjadi menjelang rilis data inflasi Australia (CPI) bulan Januari yang dijadwalkan pada Rabu, sebuah indikator kunci yang berpotensi menggeser ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Reserve Bank of Australia.

Fokus pasar saat ini tertuju sepenuhnya pada data inflasi, mengingat bank sentral Australia masih membuka ruang untuk sikap kebijakan yang lebih ketat. Dalam pertemuan awal Februari, Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,85% dan menegaskan bahwa peluang kenaikan lanjutan tetap terbuka. Gubernur Michele Bullock menekankan bahwa tekanan harga masih “terlalu kuat” dan bank sentral tidak ingin inflasi kembali lepas kendali. Pernyataan tersebut memperkuat persepsi bahwa RBA masih berada dalam mode waspada terhadap risiko inflasi yang persisten.

Secara konsensus, inflasi tahunan Australia diperkirakan melambat tipis menjadi 3,7% dari 3,8% pada Desember. Sementara itu, trimmed mean CPI—indikator inflasi inti yang menjadi perhatian utama RBA—diproyeksikan tetap stabil di 3,3%. Jika data aktual menunjukkan angka yang lebih tinggi dari ekspektasi, dolar Australia berpotensi mendapatkan dorongan tambahan karena pasar kemungkinan akan kembali meningkatkan probabilitas pengetatan kebijakan moneter. Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, risiko aksi ambil untung cukup besar mengingat penguatan AUD yang sudah terjadi menjelang rilis data.

Di sisi lain, dolar AS masih mempertahankan dukungan luas dengan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) naik tipis ke sekitar 97,80. Sentimen terhadap USD tetap defensif namun relatif solid di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan AS. Presiden Donald Trump kembali memberi sinyal bahwa tarif dapat diberlakukan terhadap negara-negara yang dianggap “memainkan” perjanjian dagang yang ada, menyusul putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat terkait kebijakan tarif sebelumnya. Pernyataan tersebut memperkuat ketidakpastian global sekaligus membatasi ruang gerak AUD terhadap tekanan dolar AS.

Secara teknikal dan fundamental, pergerakan AUD/USD kini berada di titik krusial. Kombinasi antara ekspektasi inflasi domestik, sinyal kebijakan RBA, serta dinamika dolar AS akibat risiko perdagangan global menciptakan volatilitas yang berpotensi meningkat dalam jangka pendek. Jika data CPI mendukung narasi pengetatan lanjutan, AUD dapat memperpanjang reli dan menantang level resistensi berikutnya. Namun, ketahanan dolar AS dan ketidakpastian eksternal tetap menjadi faktor pembatas yang tidak dapat diabaikan oleh pelaku pasar.

Sumber : www.newsmaker.id 

Jumat, 20 Februari 2026

Wall Street Melemah Dipicu Notulen The Fed dan Kinerja Emiten Ritel, S&P 500 Terkoreksi ke 6.862

Bursa saham Amerika Serikat kembali ditutup di zona merah pada Kamis, 19 Februari, setelah pelaku pasar mencermati notulen rapat terbaru bank sentral serta mengevaluasi kinerja sejumlah emiten besar sektor ritel. Tekanan jual meningkat usai risalah rapat kebijakan moneter menunjukkan sikap yang lebih ketat dari ekspektasi pasar, memicu kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

Pada penutupan perdagangan, indeks S&P 500 turun 0,3% ke level 6.862,16. Indeks Nasdaq Composite melemah 0,3% ke 22.682,73, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,5% ke posisi 49.395,16. Pelemahan ini menghapus sebagian penguatan pada sesi sebelumnya, ketika saham-saham teknologi sempat bangkit dengan dukungan signifikan dari Nvidia yang memimpin reli sektor chip.

Notulen rapat Januari dari Federal Reserve mengungkapkan bahwa hampir seluruh anggota FOMC sepakat untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Namun, dokumen tersebut juga memperlihatkan perbedaan pandangan internal mengenai arah kebijakan selanjutnya, khususnya dalam menghadapi risiko inflasi. Sejumlah pejabat disebut masih membuka kemungkinan pengetatan tambahan apabila inflasi tetap berada di atas target 2%. Sinyal ini menekan sentimen pasar, karena ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin tidak pasti.

Ketidakpastian juga muncul dari perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Beberapa pejabat menilai AI berpotensi meningkatkan produktivitas dan menekan tekanan harga dalam jangka panjang. Namun, ada pula pandangan bahwa lonjakan investasi dan perubahan dinamika pasar akibat AI justru bisa memicu tekanan inflasi baru. Perbedaan persepsi ini menambah kompleksitas dalam perumusan kebijakan moneter, sekaligus memperbesar volatilitas pasar saham AS.

Dari sisi fundamental ekonomi, data terbaru menunjukkan defisit perdagangan barang dan jasa AS melebar menjadi US$70,3 miliar pada Desember. Untuk tahun 2025, defisit diproyeksikan mencapai US$901,5 miliar, menandakan tekanan struktural pada neraca eksternal Amerika Serikat. Pelebaran defisit ini dapat memengaruhi nilai tukar dolar dan arus modal global, yang pada akhirnya turut berdampak pada pergerakan indeks saham.

Sementara itu, kondisi pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan. US Department of Labor melaporkan klaim tunjangan pengangguran awal mingguan turun menjadi 206.000, lebih rendah dari perkiraan 223.000. Data ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja tetap solid meskipun suku bunga berada di level tinggi. Ketahanan sektor tenaga kerja sering kali menjadi alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama guna memastikan inflasi benar-benar terkendali.

Tekanan tambahan juga datang dari sektor ritel, termasuk Walmart yang ditutup melemah setelah merilis laporan kuartalan pertama di bawah kepemimpinan CEO baru. Respons pasar mencerminkan kehati-hatian investor terhadap prospek margin dan daya beli konsumen di tengah lingkungan suku bunga tinggi serta ketidakpastian ekonomi global.

Secara keseluruhan, kombinasi notulen The Fed yang bernada hawkish, data ekonomi yang beragam, serta kinerja emiten ritel yang kurang memuaskan menjadi katalis utama pelemahan Wall Street. Pasar kini menunggu sinyal lanjutan terkait arah suku bunga dan inflasi, yang akan menentukan apakah tekanan terhadap indeks saham AS bersifat sementara atau menjadi tren koreksi yang lebih dalam.

Sumber : www.newsmaker.id