Jumat, 20 Februari 2026

Wall Street Melemah Dipicu Notulen The Fed dan Kinerja Emiten Ritel, S&P 500 Terkoreksi ke 6.862

Bursa saham Amerika Serikat kembali ditutup di zona merah pada Kamis, 19 Februari, setelah pelaku pasar mencermati notulen rapat terbaru bank sentral serta mengevaluasi kinerja sejumlah emiten besar sektor ritel. Tekanan jual meningkat usai risalah rapat kebijakan moneter menunjukkan sikap yang lebih ketat dari ekspektasi pasar, memicu kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

Pada penutupan perdagangan, indeks S&P 500 turun 0,3% ke level 6.862,16. Indeks Nasdaq Composite melemah 0,3% ke 22.682,73, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,5% ke posisi 49.395,16. Pelemahan ini menghapus sebagian penguatan pada sesi sebelumnya, ketika saham-saham teknologi sempat bangkit dengan dukungan signifikan dari Nvidia yang memimpin reli sektor chip.

Notulen rapat Januari dari Federal Reserve mengungkapkan bahwa hampir seluruh anggota FOMC sepakat untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Namun, dokumen tersebut juga memperlihatkan perbedaan pandangan internal mengenai arah kebijakan selanjutnya, khususnya dalam menghadapi risiko inflasi. Sejumlah pejabat disebut masih membuka kemungkinan pengetatan tambahan apabila inflasi tetap berada di atas target 2%. Sinyal ini menekan sentimen pasar, karena ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin tidak pasti.

Ketidakpastian juga muncul dari perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Beberapa pejabat menilai AI berpotensi meningkatkan produktivitas dan menekan tekanan harga dalam jangka panjang. Namun, ada pula pandangan bahwa lonjakan investasi dan perubahan dinamika pasar akibat AI justru bisa memicu tekanan inflasi baru. Perbedaan persepsi ini menambah kompleksitas dalam perumusan kebijakan moneter, sekaligus memperbesar volatilitas pasar saham AS.

Dari sisi fundamental ekonomi, data terbaru menunjukkan defisit perdagangan barang dan jasa AS melebar menjadi US$70,3 miliar pada Desember. Untuk tahun 2025, defisit diproyeksikan mencapai US$901,5 miliar, menandakan tekanan struktural pada neraca eksternal Amerika Serikat. Pelebaran defisit ini dapat memengaruhi nilai tukar dolar dan arus modal global, yang pada akhirnya turut berdampak pada pergerakan indeks saham.

Sementara itu, kondisi pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan. US Department of Labor melaporkan klaim tunjangan pengangguran awal mingguan turun menjadi 206.000, lebih rendah dari perkiraan 223.000. Data ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja tetap solid meskipun suku bunga berada di level tinggi. Ketahanan sektor tenaga kerja sering kali menjadi alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama guna memastikan inflasi benar-benar terkendali.

Tekanan tambahan juga datang dari sektor ritel, termasuk Walmart yang ditutup melemah setelah merilis laporan kuartalan pertama di bawah kepemimpinan CEO baru. Respons pasar mencerminkan kehati-hatian investor terhadap prospek margin dan daya beli konsumen di tengah lingkungan suku bunga tinggi serta ketidakpastian ekonomi global.

Secara keseluruhan, kombinasi notulen The Fed yang bernada hawkish, data ekonomi yang beragam, serta kinerja emiten ritel yang kurang memuaskan menjadi katalis utama pelemahan Wall Street. Pasar kini menunggu sinyal lanjutan terkait arah suku bunga dan inflasi, yang akan menentukan apakah tekanan terhadap indeks saham AS bersifat sementara atau menjadi tren koreksi yang lebih dalam.

Sumber : www.newsmaker.id

Rabu, 18 Februari 2026

AS–Iran Kian Dekat Kesepakatan, Harga Minyak Bertahan di Jalur Pelemahan

Harga minyak global menahan laju penurunan setelah Amerika Serikat dan Iran sama-sama menunjukkan nada yang lebih positif usai pembicaraan terkait program nuklir Teheran. Perubahan sentimen ini menurunkan premi risiko di pasar energi, seiring pelaku pasar menilai peluang deeskalasi meningkat dan risiko gangguan pasokan jangka pendek mulai mereda. Optimisme diplomatik tersebut membuat pasar lebih berhati-hati dalam menambah posisi beli, sehingga arah harga cenderung tertahan.

Di pasar, minyak acuan AS bergerak nyaris tidak berubah di atas USD 62 per barel, setelah ditutup melemah 0,9% pada perdagangan Selasa yang berlangsung usai libur panjang di Amerika. Sementara itu, minyak acuan global bertahan di atas USD 67 per barel meskipun juga mencatat pelemahan pada penutupan sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan keseimbangan sementara antara harapan penurunan ketegangan geopolitik dan kehati-hatian terhadap prospek pasokan yang masih dinamis.

Dari sisi diplomasi, Iran menyatakan telah mencapai “kesepakatan umum” dengan Washington terkait kerangka persyaratan menuju potensi perjanjian. Seorang pejabat dari Amerika Serikat juga mengonfirmasi bahwa negosiator Iran dijadwalkan kembali dalam dua pekan dengan proposal baru. Pernyataan ini mendorong pasar untuk menunggu rincian lebih lanjut sebelum menilai dampak riil terhadap pasokan minyak global, terutama terkait kemungkinan pelonggaran sanksi.

Sepanjang tahun ini, pergerakan harga minyak banyak didorong oleh faktor geopolitik—termasuk ketegangan dengan Iran—yang kerap menutupi peringatan bahwa pasar global berisiko mengalami surplus pasokan. Situasi domestik Iran, yang sempat memicu gelombang protes pada Januari, turut menambah kekhawatiran akan gangguan produksi dan jalur pasokan strategis, sehingga volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar.

Namun, tanda-tanda kemajuan diplomatik muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer. Iran mengumumkan penutupan sebagian Selat Hormuz selama beberapa jam untuk latihan militer, sementara Amerika dilaporkan mengirimkan kapal induk kedua ke kawasan tersebut. Di Asia, kontrak minyak AS untuk pengiriman Maret turun tipis 0,1% menjadi USD 62,25 per barel pada pukul 07.30 waktu Singapura, mencerminkan sikap pasar yang masih wait and see.

Pada penutupan sebelumnya, kontrak Brent untuk April turun 1,8% ke USD 67,42 per barel. Ke depan, perhatian pasar diperkirakan akan terfokus pada kelanjutan negosiasi dalam dua pekan mendatang serta dinamika keamanan di Selat Hormuz. Kedua faktor tersebut berpotensi membentuk ulang premi risiko dan menentukan arah harga minyak, apakah berlanjut melemah atau kembali menguat seiring perubahan lanskap geopolitik.

Sumber : www.newsmaker.id 

Kamis, 12 Februari 2026

NFP Kuat Tekan Euro, Fokus Pasar Beralih ke Data Inflasi AS

 

Pasangan mata uang EUR/USD kembali melemah untuk hari ketiga berturut-turut, bergerak di sekitar area 1,1860 pada awal sesi Eropa hari Kamis. Pelemahan euro ini terjadi seiring menguatnya dolar AS, yang mendapat dorongan signifikan setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan hasil yang solid. Data tersebut membuat pelaku pasar menahan diri untuk tidak terlalu agresif dalam memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

Pemicu utama tekanan datang dari laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Januari, yang mencatat penambahan sekitar 130.000 lapangan kerja, sementara tingkat pengangguran turun ke level 4,3 persen. Kombinasi ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS masih relatif tangguh. Ketahanan ini secara langsung mempersempit ruang bagi The Fed untuk segera melonggarkan kebijakan moneter, karena salah satu syarat utama pemangkasan suku bunga—pelemahan signifikan di sektor tenaga kerja—belum sepenuhnya terpenuhi.

Seiring dengan data tersebut, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat pun mulai mereda. Sebagian pelaku pasar kini melihat peluang yang semakin besar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan berikutnya. Probabilitas skenario “tidak ada perubahan” dalam indikator FedWatch pun meningkat, memperkuat posisi dolar AS di pasar valuta asing dan menambah tekanan pada mata uang euro.

Dari sisi Eropa, euro sebenarnya masih mendapat dukungan dari sikap Bank Sentral Eropa (ECB) yang berhati-hati dan sangat bergantung pada data. ECB belum memberikan sinyal tegas untuk pelonggaran agresif, sehingga secara fundamental euro tidak sepenuhnya kehilangan pijakan. Namun, dukungan ini belum cukup kuat untuk menahan tekanan jangka pendek dari penguatan dolar AS. Akibatnya, pergerakan EUR/USD saat ini lebih banyak ditentukan oleh arah dolar dan dinamika imbal hasil obligasi AS.

Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis Initial Jobless Claims serta data inflasi Amerika Serikat, yaitu Consumer Price Index (CPI), yang dijadwalkan pada Jumat. Jika data CPI menunjukkan rebound atau inflasi kembali menguat, dolar AS berpotensi melanjutkan penguatannya dan menjaga EUR/USD tetap berada di bawah tekanan. Sebaliknya, jika inflasi menunjukkan tren penurunan, narasi pelonggaran kebijakan moneter dapat kembali menguat, membuka ruang bagi euro untuk bernapas dan berpotensi melakukan pemulihan terbatas.

Selasa, 10 Februari 2026

Harga Perak Kembali Terkoreksi, Aksi Ambil Untung Dominasi Pasar yang Masih Panas

Harga perak kembali melemah signifikan dengan penurunan sekitar 2% hingga berada di bawah level USD 82 per ons pada perdagangan Selasa. Koreksi ini menghentikan reli dua hari sebelumnya, seiring semakin banyak pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan setelah pergerakan harga yang agresif. Pasar logam mulia saat ini masih berada dalam kondisi volatilitas tinggi, dipicu oleh fluktuasi ekstrem yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan mencerminkan sensitivitas pasar terhadap sentimen jangka pendek.

Meski sempat mengalami rebound, posisi perak masih jauh dari level puncaknya. Logam putih ini tercatat turun sekitar 33% dari rekor tertingginya yang dicapai pada 29 Januari, tepat sebelum aksi jual besar-besaran memangkas nilainya hampir 50%. Jarak yang cukup lebar dari level tertinggi tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar belum sepenuhnya pulih. Pergerakan harga perak masih sangat reaktif dan mudah terguncang oleh perubahan persepsi investor maupun faktor eksternal.

Tekanan terhadap pasar perak semakin meningkat setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyoroti peran aktivitas trader asal China sebagai salah satu pemicu fluktuasi tajam. Ia menilai reli harga perak yang terjadi sebelumnya lebih menyerupai lonjakan spekulatif dibandingkan kenaikan yang didukung oleh fundamental yang kuat. Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa pasar perak saat ini digerakkan oleh sentimen dan arus modal jangka pendek, bukan oleh permintaan industri atau faktor struktural yang solid.

Fokus investor kini beralih ke rilis data ekonomi utama Amerika Serikat pekan ini, khususnya laporan ketenagakerjaan dan inflasi. Data tersebut dipandang krusial dalam memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan. Konsensus pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret, dengan peluang dua kali pemangkasan suku bunga pada paruh kedua tahun ini. Ekspektasi kebijakan moneter ini menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan logam mulia, termasuk perak.

Sejalan dengan pelemahan perak, logam mulia lainnya seperti emas, platinum, dan paladium juga mengalami tekanan pada perdagangan Selasa. Kondisi ini mencerminkan aksi ambil untung yang meluas di sektor logam mulia setelah reli tajam sebelumnya. Meskipun pasar masih tergolong panas dan penuh peluang, tingginya volatilitas menuntut kehati-hatian ekstra dari investor dalam mengelola risiko, terutama di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter global.

Sumber : www.newsmaker.id 

Jumat, 06 Februari 2026

Harga Emas Tembus USD 4.700 Lalu Berbalik Turun, Aksi Ambil Untung dan Kenaikan Margin Redam Sentimen Safe Haven

 

Harga emas dunia (XAU/USD) mengalami koreksi tajam setelah sempat menembus level psikologis USD 4.700. Pada sesi Asia Jumat pagi, emas turun ke area USD 4.680 atau melemah sekitar 2,7% dalam satu hari. Tekanan jual muncul tak lama setelah reli kuat sebelumnya, ketika pasar mulai melakukan aksi ambil untung dan merapikan posisi di tengah kondisi pasar yang masih rapuh dan penuh volatilitas.

Pemicu utama penurunan ini adalah profit taking yang terjadi secara luas. Banyak pelaku pasar memilih menutup posisi emas untuk mengamankan keuntungan, sekaligus menutupi kerugian dari portofolio saham yang tertekan. Dalam situasi seperti ini, emas yang sebelumnya menjadi aset unggulan justru ikut terkena dampak forced selling, karena investor membutuhkan likuiditas cepat untuk menyeimbangkan posisi mereka di berbagai instrumen keuangan.

Tekanan tambahan datang dari sisi teknikal pasar derivatif. CME kembali menaikkan initial margin untuk kontrak berjangka emas dan perak. Kenaikan margin ini memaksa trader menyetor dana jaminan yang lebih besar untuk mempertahankan posisi terbuka. Dalam praktiknya, kebijakan seperti ini sering mendorong sebagian pelaku pasar untuk melikuidasi posisi emas mereka daripada menambah modal, sehingga tekanan jual pun meningkat.

Situasi semakin diperparah oleh pelemahan saham teknologi global. Ketika pasar saham turun tajam dan persyaratan margin semakin ketat, sejumlah investor terpaksa menjual aset yang masih mencetak keuntungan, termasuk emas, demi memenuhi kebutuhan kolateral. Kondisi ini menciptakan efek domino, di mana emas tidak lagi berfungsi sebagai pelindung nilai jangka pendek, melainkan menjadi sumber likuiditas.

Dari sisi geopolitik, meredanya ketegangan global turut melemahkan daya tarik emas sebagai aset safe haven. Konfirmasi bahwa pejabat Amerika Serikat dan Iran akan menggelar pembicaraan diplomatik di Oman membuat pasar menilai risiko konflik menurun. Persepsi risiko yang lebih rendah biasanya berdampak negatif bagi harga emas, karena permintaan terhadap aset lindung nilai ikut menyusut.

Meski demikian, potensi penurunan emas masih dapat tertahan jika dolar AS melemah. Salah satu faktor yang terus dipantau pasar adalah kekhawatiran terkait independensi Federal Reserve. Isu ini berpotensi menekan nilai dolar, dan dalam kondisi seperti itu, komoditas berdenominasi dolar seperti emas cenderung mendapatkan dukungan harga.

Selain itu, perhatian pasar kini tertuju pada rilis awal data Michigan Consumer Sentiment. Data ini berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan ekspektasi suku bunga. Jika sentimen konsumen melemah secara signifikan, pasar dapat kembali memperhitungkan skenario pelonggaran kebijakan moneter, yang secara historis menjadi katalis positif bagi harga emas dalam jangka menengah.

Sumber : www.newsmaker.id