Jumat, 06 Februari 2026

Harga Emas Tembus USD 4.700 Lalu Berbalik Turun, Aksi Ambil Untung dan Kenaikan Margin Redam Sentimen Safe Haven

 

Harga emas dunia (XAU/USD) mengalami koreksi tajam setelah sempat menembus level psikologis USD 4.700. Pada sesi Asia Jumat pagi, emas turun ke area USD 4.680 atau melemah sekitar 2,7% dalam satu hari. Tekanan jual muncul tak lama setelah reli kuat sebelumnya, ketika pasar mulai melakukan aksi ambil untung dan merapikan posisi di tengah kondisi pasar yang masih rapuh dan penuh volatilitas.

Pemicu utama penurunan ini adalah profit taking yang terjadi secara luas. Banyak pelaku pasar memilih menutup posisi emas untuk mengamankan keuntungan, sekaligus menutupi kerugian dari portofolio saham yang tertekan. Dalam situasi seperti ini, emas yang sebelumnya menjadi aset unggulan justru ikut terkena dampak forced selling, karena investor membutuhkan likuiditas cepat untuk menyeimbangkan posisi mereka di berbagai instrumen keuangan.

Tekanan tambahan datang dari sisi teknikal pasar derivatif. CME kembali menaikkan initial margin untuk kontrak berjangka emas dan perak. Kenaikan margin ini memaksa trader menyetor dana jaminan yang lebih besar untuk mempertahankan posisi terbuka. Dalam praktiknya, kebijakan seperti ini sering mendorong sebagian pelaku pasar untuk melikuidasi posisi emas mereka daripada menambah modal, sehingga tekanan jual pun meningkat.

Situasi semakin diperparah oleh pelemahan saham teknologi global. Ketika pasar saham turun tajam dan persyaratan margin semakin ketat, sejumlah investor terpaksa menjual aset yang masih mencetak keuntungan, termasuk emas, demi memenuhi kebutuhan kolateral. Kondisi ini menciptakan efek domino, di mana emas tidak lagi berfungsi sebagai pelindung nilai jangka pendek, melainkan menjadi sumber likuiditas.

Dari sisi geopolitik, meredanya ketegangan global turut melemahkan daya tarik emas sebagai aset safe haven. Konfirmasi bahwa pejabat Amerika Serikat dan Iran akan menggelar pembicaraan diplomatik di Oman membuat pasar menilai risiko konflik menurun. Persepsi risiko yang lebih rendah biasanya berdampak negatif bagi harga emas, karena permintaan terhadap aset lindung nilai ikut menyusut.

Meski demikian, potensi penurunan emas masih dapat tertahan jika dolar AS melemah. Salah satu faktor yang terus dipantau pasar adalah kekhawatiran terkait independensi Federal Reserve. Isu ini berpotensi menekan nilai dolar, dan dalam kondisi seperti itu, komoditas berdenominasi dolar seperti emas cenderung mendapatkan dukungan harga.

Selain itu, perhatian pasar kini tertuju pada rilis awal data Michigan Consumer Sentiment. Data ini berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan ekspektasi suku bunga. Jika sentimen konsumen melemah secara signifikan, pasar dapat kembali memperhitungkan skenario pelonggaran kebijakan moneter, yang secara historis menjadi katalis positif bagi harga emas dalam jangka menengah.

Sumber : www.newsmaker.id 

Rabu, 04 Februari 2026

Nikkei Bersiap Terkoreksi Usai Cetak Rekor Tertinggi, Sentimen Global Mulai Menguji Pasar Jepang

Indeks saham Jepang diperkirakan melemah setelah reli agresif yang mendorong Nikkei mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa. Setelah euforia yang sangat kuat, pelaku pasar mulai bersikap lebih defensif dan bersiap melakukan aksi ambil untung, terutama di tengah perubahan sentimen global yang mulai kurang mendukung aset berisiko.

Tekanan utama datang dari pasar Amerika Serikat. Saham-saham teknologi di Wall Street mengalami pelemahan pada perdagangan semalam, menciptakan potensi efek menular ke sektor teknologi Jepang yang sebelumnya menjadi motor utama penguatan Nikkei. Kondisi ini membuat investor mulai mengevaluasi kembali valuasi saham, terutama setelah lonjakan harga yang terjadi dalam waktu singkat.

Sinyal awal koreksi sudah terlihat jelas di pasar derivatif. Kontrak berjangka Nikkei 225 di Bursa Singapura turun 1,0% ke level 54.025, mengindikasikan pembukaan pasar yang lebih hati-hati. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya kewaspadaan investor terhadap risiko koreksi jangka pendek setelah reli yang sangat tajam.

Dari sisi nilai tukar, pasangan USD/JPY bergerak ke level 155,78, menguat dari 155,43 saat penutupan bursa Tokyo pada Selasa. Pelemahan yen ini berpotensi memberikan dukungan terbatas bagi saham eksportir, namun pada saat yang sama juga memengaruhi sentimen risiko secara keseluruhan, terutama bagi investor asing yang sensitif terhadap volatilitas mata uang.

Perhatian pasar kini beralih ke musim laporan keuangan, yang berpotensi menjadi katalis penentu arah selanjutnya. Dua emiten besar yang menjadi sorotan pada Rabu adalah Marubeni dan Mitsubishi Heavy Industries. Kinerja dan proyeksi yang mereka sampaikan akan dinilai secara ketat, mengingat indeks telah naik terlalu cepat dan membutuhkan justifikasi fundamental yang kuat untuk melanjutkan penguatan.

Sebagai konteks, pada perdagangan Selasa, indeks Nikkei melonjak tajam sebesar 3,9% dan ditutup di level tertinggi sepanjang masa di 54.720,66. Setelah lonjakan sedrastis ini, pasar biasanya memasuki fase pengujian yang krusial. Dinamika antara aksi ambil untung, sentimen global, dan kekuatan fundamental perusahaan akan menentukan apakah koreksi yang terjadi bersifat sehat atau justru membuka jalan bagi volatilitas yang lebih besar dalam jangka pendek.

Senin, 02 Februari 2026

Tekanan Jual Meluas, Hang Seng Catat Penurunan Terbesar Sejak 21 November

Tekanan jual di pasar saham Hong Kong kembali meningkat untuk hari kedua berturut-turut, menandai pelemahan yang semakin signifikan. Indeks Hang Seng ditutup turun 2,2% atau merosot 611,54 poin ke level 26.775,57 pada Senin, 2 Februari. Ini merupakan penurunan harian terdalam sejak indeks tersebut jatuh 2,4% pada 21 November, menegaskan bahwa pasar telah bergeser dari sekadar koreksi teknikal menuju fase “risk-off” yang lebih tegas dan menyeluruh.

Pelemahan ini diperparah oleh tekanan yang bersifat luas di hampir seluruh sektor. Saham-saham perdagangan dan industri memimpin penurunan, menciptakan kondisi pasar yang nyaris sepenuhnya merah. Dari total 88 saham yang tercatat, sebanyak 75 saham melemah, hanya 11 saham yang menguat. Pola seperti ini biasanya mencerminkan aksi jual kolektif, di mana investor memilih mengurangi eksposur secara menyeluruh, bukan sekadar berpindah antar sektor atau saham tertentu.

Saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi salah satu sumber tekanan utama terhadap indeks. Alibaba Group Holding Ltd. tercatat sebagai kontributor terbesar pelemahan setelah sahamnya turun 3,5%. Penurunan Alibaba ikut menekan sentimen terhadap saham-saham pertumbuhan yang sangat sensitif terhadap perubahan suasana pasar, terutama ketika kepercayaan investor melemah dan toleransi risiko menurun.

Sementara itu, BYD Co. mencatat penurunan paling tajam pada sesi tersebut dengan koreksi mencapai 6,9%. Kejatuhan BYD mengirim sinyal kuat bahwa tekanan jual kini juga menyasar saham-saham pemimpin yang biasanya diuntungkan saat optimisme pasar tinggi. Ketika sentimen memburuk, saham-saham unggulan justru sering menjadi target tercepat untuk aksi ambil untung, mempercepat laju penurunan indeks secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, Indeks Hang Seng saat ini menghadapi tekanan yang bersifat menyeluruh, bukan berasal dari satu sektor atau satu katalis tunggal. Ketika mayoritas saham bergerak turun dan emiten besar seperti Alibaba serta BYD ikut membebani pasar, stabilisasi biasanya memerlukan pemicu baru yang kuat. Tanpa adanya katalis positif, pola pelemahan berkelanjutan—turun hari ini dan berpotensi berlanjut pada sesi berikutnya—masih menjadi risiko yang nyata di pasar saham Hong Kong.

Sumber : www.newsmaker.id 

Kamis, 29 Januari 2026

EUR/USD Bertahan di Area 1,20, Pasar Masih Mencermati Arah Kebijakan The Fed

 

Pasangan mata uang EUR/USD bergerak stabil dengan bias positif di sekitar level 1,1980 pada awal sesi perdagangan Eropa hari Kamis, mencerminkan tekanan berkelanjutan terhadap dolar AS. Pelemahan dolar terjadi di tengah ketidakpastian pasar terhadap arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat, khususnya terkait independensi dan langkah lanjutan Federal Reserve. Investor global memilih bersikap hati-hati sambil menunggu rilis data Consumer Confidence Zona Euro serta laporan Initial Jobless Claims AS, yang diperkirakan akan memberikan petunjuk tambahan mengenai kekuatan ekonomi masing-masing kawasan.

Tekanan terhadap dolar AS semakin diperkuat oleh kekhawatiran pasar atas gaya kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai sulit diprediksi. Pernyataan Trump mengenai rencana pengumuman Ketua The Fed yang baru dalam waktu dekat memicu spekulasi luas di pasar keuangan. Ia bahkan menyiratkan kemungkinan penurunan suku bunga secara signifikan di bawah kepemimpinan baru, sebuah komentar yang langsung meningkatkan sensitivitas pasar terhadap prospek kebijakan moneter AS dan memperlemah daya tarik dolar sebagai aset lindung nilai.

Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve pada pertemuan Januari memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Ketua The Fed Jerome Powell menilai kondisi ekonomi AS masih cukup solid dengan pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan stabilisasi, meskipun terdapat indikasi perlambatan bertahap. Para pejabat Fed juga menegaskan pendekatan yang lebih berhati-hati terkait pelonggaran kebijakan ke depan, sementara pelaku pasar mulai memperkirakan pemangkasan suku bunga berikutnya dapat terjadi paling cepat pada bulan Juni. Ekspektasi ini terus membebani dolar dan memberikan ruang bagi penguatan euro.

Di Eropa, Bank Sentral Eropa diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Februari dan cenderung menjaga kebijakan tersebut hingga pertengahan 2026. Kondisi ini membuat fokus pasar tertuju pada perbedaan arah kebijakan moneter antara ECB dan The Fed. Selama ketidakpastian kebijakan AS masih mendominasi sentimen global dan euro mendapat dukungan dari stabilitas kebijakan ECB, pasangan EUR/USD berpotensi tetap bertahan di level tinggi mendekati 1,20, dengan volatilitas yang dipengaruhi oleh rilis data ekonomi utama dan pernyataan pejabat bank sentral.

Selasa, 27 Januari 2026

Yen Jepang Melemah Mendadak di Tengah Kekhawatiran Defisit dan Bayang-Bayang Intervensi

 

Nilai tukar yen Jepang melemah tajam pada sesi Asia Selasa, 27 Januari 2026, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi harian. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kesehatan fiskal Jepang, terutama setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan rencana belanja besar-besaran dan pemotongan pajak yang agresif. Kombinasi kebijakan ekspansif tersebut memunculkan kekhawatiran akan membengkaknya defisit anggaran, sehingga menekan kepercayaan pasar terhadap stabilitas yen. Di saat yang sama, sentimen pasar saham yang cenderung risk-on membuat minat terhadap aset safe haven seperti yen ikut menurun.

Tekanan terhadap yen juga diperparah oleh ketidakpastian politik menjelang pemilu Jepang pada 8 Februari. Pasar keuangan biasanya sangat sensitif terhadap dinamika politik, terutama ketika hasil pemilu berpotensi mengubah arah kebijakan ekonomi dan fiskal. Ketika risiko politik meningkat, pelaku pasar cenderung melakukan penyesuaian posisi, dan dalam konteks ini yen justru menjadi sasaran aksi jual karena investor memandang risiko domestik Jepang lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Meski demikian, ruang pelemahan yen tidak sepenuhnya bebas. Pasar tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi dari otoritas Jepang apabila pergerakan mata uang dianggap terlalu ekstrem. Pemerintah Jepang dan Bank of Japan telah berulang kali menegaskan komitmen mereka untuk menjaga stabilitas nilai tukar, bahkan dengan menekankan koordinasi erat dengan Amerika Serikat dalam isu valuta asing. Sinyal ini menjadi faktor penahan yang membuat spekulan berpikir dua kali sebelum mendorong yen terlalu jauh ke arah pelemahan.

Di sisi lain, dolar Amerika Serikat sendiri berada di bawah tekanan dan bertahan di dekat level terendah multi-bulan. Spekulasi bahwa Federal Reserve akan mengadopsi kebijakan yang lebih longgar, ditambah sentimen “sell America”, membuat daya tarik dolar melemah secara struktural. Kondisi ini menciptakan keseimbangan yang unik pada pasangan USD/JPY, di mana pelemahan yen dibatasi oleh lemahnya dolar, sehingga pergerakan pasangan mata uang ini berpotensi tetap terkonsolidasi dalam kisaran sempit.

Fokus utama pasar kini tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee yang berlangsung selama dua hari dan dimulai hari ini. Hasil rapat tersebut akan menentukan arah kebijakan moneter AS dan sekaligus memberi nada baru bagi pergerakan dolar di pasar global. Dengan latar belakang kekhawatiran fiskal Jepang, potensi intervensi pemerintah, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed, dinamika yen diperkirakan akan tetap sangat volatil, menjadikannya salah satu mata uang paling menarik untuk dipantau dalam beberapa hari ke depan.

Sumber : www.newsmaker.id