
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata yang baru berlangsung selama dua minggu. Pernyataan ini mempertegas rapuhnya stabilitas di kawasan Timur Tengah dan meningkatkan kekhawatiran pasar global terhadap eskalasi konflik yang lebih luas.
Dalam pernyataannya, Ghalibaf menegaskan bahwa ketidakpercayaan historis Iran terhadap Amerika Serikat bukanlah tanpa alasan. Ia menyebut pola pelanggaran komitmen yang berulang sebagai bukti bahwa kesepakatan diplomatik sering kali tidak dihormati. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan akibat perbedaan interpretasi terhadap isi dan implementasi gencatan senjata antara kedua negara.
Ghalibaf secara spesifik menyoroti tiga poin utama dari proposal gencatan senjata Iran yang dianggap telah dilanggar. Pertama, serangan Israel yang terus berlanjut ke wilayah Lebanon dinilai sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap kesepakatan damai. Kedua, keberadaan drone yang memasuki wilayah udara Iran dianggap sebagai ancaman terhadap kedaulatan negara. Ketiga, penolakan terhadap hak Iran untuk memperkaya uranium juga menjadi titik krusial yang memperkeruh situasi. Dalam kondisi seperti ini, Ghalibaf menyatakan bahwa gencatan senjata bilateral maupun negosiasi lanjutan menjadi tidak relevan.
Di sisi lain, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyebut proposal Iran sebagai dasar yang “layak” untuk negosiasi. Ia bahkan mengklaim telah menyetujui penghentian serangan selama dua minggu dengan imbalan dibukanya jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Namun, kesepakatan tersebut segera menghadapi tantangan akibat perbedaan pandangan terkait mekanisme operasional di jalur strategis tersebut.
Amerika Serikat menuntut pembukaan Selat Hormuz secara penuh, aman, dan tanpa syarat, termasuk tanpa biaya tambahan bagi kapal yang melintas. Sebaliknya, laporan menunjukkan bahwa Iran berencana mengenakan biaya bagi kapal yang menggunakan jalur tersebut, yang memicu ketegangan baru dalam implementasi kesepakatan. Perbedaan ini mencerminkan kompleksitas negosiasi dan minimnya keselarasan kepentingan antara kedua pihak.
Dampak dari konflik ini juga sangat terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah Amerika Serikat tercatat turun lebih dari 15%, mendekati level US$95 per barel, meskipun risiko kegagalan gencatan senjata semakin meningkat. Penurunan ini mencerminkan ketidakpastian pasar yang mencoba menyeimbangkan antara potensi gangguan pasokan dan harapan stabilitas sementara.
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia karena perannya yang sangat vital dalam distribusi energi global. Sebelum konflik memuncak pada akhir Februari, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Namun, serangan yang terjadi selama perang menyebabkan penurunan drastis lalu lintas tanker, menciptakan gangguan terbesar dalam sejarah pasokan minyak mentah.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Iran tidak hanya berdampak secara regional, tetapi juga memiliki implikasi global yang signifikan. Ketidakpastian terhadap gencatan senjata, ditambah dengan perbedaan kepentingan antara kekuatan besar, terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan, energi, dan stabilitas ekonomi dunia.



