Harga minyak mentah kembali menguat untuk sesi kedua berturut-turut pada perdagangan awal September 2026 seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Harga minyak Brent kontrak November naik 0,6% menjadi US$91,06 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Oktober menguat 1% ke US$86,61 per barel. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik kembali menjadi faktor dominan yang memengaruhi harga energi global.
Penguatan harga minyak terjadi setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sebuah pulau di kawasan Hormuz, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan yang menargetkan wilayah Uni Emirat Arab dan Yordania. Bentrokan tersebut menjadi pertukaran serangan langsung pertama antara Amerika Serikat dan Iran dalam sekitar satu bulan. Kembalinya konfrontasi militer meningkatkan kekhawatiran bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah dapat kembali memasuki fase eskalasi dan berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan energi.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Setiap peningkatan risiko keamanan di kawasan tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai kelancaran pengiriman minyak mentah dan produk energi dari negara-negara produsen di kawasan Teluk. Bahkan ketika arus ekspor secara fisik masih berlangsung, meningkatnya risiko terhadap kapal tanker dapat mendorong pelaku pasar memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Washington akan merespons setiap serangan terhadap pasukan AS turut memperbesar kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik berkepanjangan. Pasar belum melihat indikasi kuat bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz akan segera kembali sepenuhnya normal. Kondisi tersebut membuat investor energi lebih berhati-hati karena setiap serangan baru terhadap fasilitas, kapal, atau personel militer dapat dengan cepat meningkatkan risiko terhadap rantai pasokan minyak global.
Meskipun demikian, ekspor minyak melalui Selat Hormuz hingga saat ini masih terus berlangsung. Sejumlah kapal dilaporkan mematikan transponder mereka untuk menghindari deteksi, tetapi langkah tersebut justru memperlihatkan tingginya tingkat ketidakpastian yang dihadapi industri pelayaran. Risiko keamanan juga kembali meningkat setelah sebuah kapal tanker melaporkan terkena tiga proyektil yang belum teridentifikasi di dekat Oman.
Insiden terhadap kapal tanker tersebut menjadi faktor penting bagi pasar karena gangguan terhadap transportasi dapat memberikan dampak lebih besar dibandingkan sekadar perubahan produksi minyak. Jika perusahaan pelayaran mulai menghindari rute tertentu atau premi asuransi meningkat akibat risiko serangan, biaya pengiriman energi dapat ikut naik. Dalam skenario yang lebih buruk, gangguan terhadap arus kapal tanker dapat mengurangi pasokan yang tersedia di pasar internasional dan mendorong harga minyak naik lebih tajam.
Namun, terdapat faktor yang dapat membatasi kenaikan harga minyak. Pemulihan kapasitas penuh kilang ADNOC Ruwais menjadi salah satu perkembangan positif dari sisi pasokan. Kembalinya fasilitas tersebut ke kapasitas normal berpotensi meningkatkan ketersediaan produk olahan seperti diesel dan bahan bakar jet. Tambahan pasokan produk energi dapat membantu mengurangi sebagian tekanan yang muncul akibat kekhawatiran terhadap gangguan distribusi di kawasan.
Karena itu, arah harga minyak dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada keseimbangan antara risiko geopolitik dan kondisi pasokan aktual. Selama minyak mentah masih dapat mengalir melalui Selat Hormuz dan fasilitas penting seperti kilang Ruwais terus meningkatkan produksinya, kenaikan harga berpotensi tetap terkendali. Sebaliknya, serangan baru yang mengganggu kapal tanker atau fasilitas energi dapat mengubah situasi dengan cepat dan mendorong Brent maupun WTI bergerak lebih tinggi.
Kenaikan harga minyak juga memiliki implikasi besar terhadap inflasi global. Energi merupakan komponen penting dalam biaya transportasi, manufaktur, distribusi, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Jika harga minyak bertahan di atas US$90 per barel atau terus meningkat, biaya energi yang lebih tinggi berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa. Kondisi tersebut dapat memperlambat proses penurunan inflasi yang selama ini menjadi salah satu perhatian utama bank sentral.
Bagi Federal Reserve, kenaikan harga minyak menciptakan persoalan karena inflasi berbasis energi dapat memperkuat tekanan harga pada saat bank sentral sedang menentukan arah kebijakan suku bunga. Jika lonjakan minyak dianggap berpotensi membuat inflasi bertahan lebih tinggi, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed dapat semakin kuat. Suku bunga yang lebih tinggi kemudian dapat mendorong kenaikan imbal hasil Treasury Amerika Serikat dan memberikan dukungan terhadap dolar AS.
Kondisi tersebut menjadi kurang menguntungkan bagi harga emas. Emas tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga kenaikan yield obligasi pemerintah AS dapat meningkatkan biaya peluang untuk memegang logam mulia. Penguatan dolar AS juga cenderung membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kombinasi kenaikan yield dan dolar berpotensi memberikan tekanan terhadap harga emas meskipun ketegangan geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.
Dengan demikian, pasar komoditas saat ini menghadapi hubungan yang cukup kompleks antara minyak dan emas. Ketegangan di Selat Hormuz memberikan dukungan langsung terhadap harga minyak karena meningkatkan risiko pasokan, sementara pada saat yang sama dapat memberikan dukungan terhadap emas melalui permintaan safe haven. Namun, apabila kenaikan harga minyak memicu inflasi dan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, efek lanjutan berupa kenaikan yield Treasury dan penguatan dolar dapat menekan harga emas.
Untuk minyak, bias jangka pendek masih cenderung positif selama risiko terhadap pelayaran di Selat Hormuz tetap tinggi. Harga Brent di atas US$90 per barel memperlihatkan bahwa pasar mulai memberikan premi yang lebih besar terhadap potensi gangguan pasokan. Namun, keberlanjutan reli akan sangat bergantung pada apakah konflik berkembang menjadi gangguan fisik terhadap ekspor atau hanya meningkatkan risiko keamanan tanpa menghentikan arus minyak.
Perkembangan militer antara Amerika Serikat dan Iran, keamanan kapal tanker di sekitar Oman, kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz, serta pemulihan produksi kilang Ruwais menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan arah harga minyak berikutnya. Selama pasokan tetap mengalir, kenaikan harga kemungkinan masih menghadapi batas. Tetapi jika terjadi gangguan nyata terhadap jalur ekspor atau fasilitas energi utama, risiko lonjakan harga Brent dan WTI akan meningkat secara signifikan.
Memasuki September 2026, pasar minyak kembali berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Harga Brent US$91,06 per barel dan WTI US$86,61 per barel mencerminkan meningkatnya premi risiko akibat memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran. Selat Hormuz menjadi titik perhatian utama, karena setiap gangguan terhadap jalur tersebut dapat berdampak luas terhadap pasokan energi, inflasi, kebijakan Federal Reserve, dolar AS, hingga harga emas di pasar global.


















