
Harga minyak dunia bergerak menguat tipis setelah mencatat penurunan kuartalan terbesar sejak masa pandemi COVID-19. Kenaikan yang masih terbatas ini terjadi ketika pelaku pasar terus mencermati perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran serta pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur distribusi energi paling strategis di dunia. Meskipun sentimen geopolitik masih menjadi perhatian utama, investor kini mulai mengalihkan fokus pada potensi meningkatnya pasokan global yang dapat kembali menekan harga minyak dalam beberapa bulan mendatang.
Minyak mentah Brent diperdagangkan di atas level US$73 per barel setelah sebelumnya kehilangan hampir sepertiga nilainya selama tiga bulan terakhir. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) bertahan di kisaran US$70 per barel. Penguatan ini lebih mencerminkan aksi beli teknikal setelah penurunan tajam dibandingkan perubahan fundamental yang signifikan. Pelaku pasar masih berupaya menilai apakah kemajuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran benar-benar mampu mengurangi risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Optimisme terhadap proses negosiasi meningkat setelah utusan Amerika Serikat, Jared Kushner dan Steve Witkoff, dilaporkan menggelar pembahasan yang konstruktif di Qatar. Di saat yang sama, pembicaraan teknis dengan Iran juga terus mengalami kemajuan. Pertemuan tidak langsung tersebut difokuskan pada upaya meredakan ketegangan di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar internasional. Stabilitas di kawasan ini sangat penting mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut setiap harinya.
Perbaikan sentimen juga didukung oleh pandangan para analis yang menilai pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap risiko geopolitik. Samantha Dart, Co-Head of Global Commodities Research Goldman Sachs, menyatakan bahwa pasar minyak tidak memberikan respons berlebihan terhadap ketegangan terbaru di Selat Hormuz karena ekspor energi Amerika Serikat maupun impor minyak China tetap berlangsung relatif stabil. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keseimbangan pasokan global belum mengalami gangguan besar meskipun konflik geopolitik masih berlangsung.
Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak justru cenderung melemah seiring berlanjutnya pembahasan menuju kesepakatan damai yang lebih permanen. Meskipun sejumlah serangan di sekitar Selat Hormuz sempat memperumit proses negosiasi, aktivitas kapal tanker kini menunjukkan pemulihan setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan pada akhir pekan sebelumnya. Pulihnya arus pengiriman minyak menjadi sinyal positif bahwa risiko gangguan distribusi energi mulai mereda.
Goldman Sachs memperkirakan konflik tersebut berpotensi mencapai penyelesaian pada akhir Juli. Apabila arus distribusi melalui Selat Hormuz kembali normal, perhatian pasar diperkirakan akan beralih dari risiko geopolitik menuju potensi kelebihan pasokan global. Selama beberapa pekan terakhir, premi risiko geopolitik menjadi salah satu faktor yang menopang harga minyak. Namun, jika ancaman terhadap jalur pelayaran berhasil diminimalkan, faktor pendukung tersebut dapat menghilang dan membuka ruang bagi pelemahan harga.
Pandangan serupa juga disampaikan Morgan Stanley yang memperingatkan kemungkinan terjadinya surplus pasokan minyak dunia dalam waktu dekat. Bank investasi tersebut menilai pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Di sisi lain, produksi minyak Amerika Serikat tetap berada pada level tinggi, sementara permintaan dari China masih menunjukkan pelemahan. Berdasarkan kombinasi faktor tersebut, Morgan Stanley kembali memangkas proyeksi harga minyak untuk kedua kalinya dalam kurun waktu sekitar dua minggu.
Tekanan terhadap harga minyak juga berasal dari meningkatnya pasokan dari berbagai negara produsen. Iran mengumumkan telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak sejak Amerika Serikat mencabut blokade angkatan lautnya. Pada saat yang sama, pengiriman minyak Rusia melonjak hingga mencapai rekor tertinggi, sehingga meningkatkan jumlah minyak yang masih berada di atas kapal dan belum terserap pasar. Bertambahnya volume pasokan ini memperkuat kekhawatiran bahwa keseimbangan pasar akan bergeser menuju kondisi surplus apabila permintaan global tidak mengalami peningkatan yang signifikan.
Meski demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang dari pasar energi. Iran kembali menegaskan tekadnya untuk tetap mengendalikan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa sejumlah isu strategis, termasuk program nuklir Iran dan upaya mengakhiri konflik di Lebanon, masih berpotensi menghambat proses negosiasi selama masa gencatan senjata 60 hari. Setiap perkembangan negatif dalam pembahasan tersebut dapat kembali meningkatkan premi risiko geopolitik dan memicu lonjakan harga minyak dalam waktu singkat.
Pada perdagangan pagi di Singapura, kontrak Brent untuk pengiriman September naik sekitar 0,7% menjadi US$73,45 per barel, sementara kontrak WTI untuk pengiriman Agustus menguat sekitar 0,9% ke level US$70,11 per barel. Walaupun mencatat kenaikan harian, pergerakan tersebut masih tergolong moderat dan belum mampu mengubah tren pelemahan yang telah berlangsung sepanjang kuartal sebelumnya.
Secara keseluruhan, kenaikan harga minyak saat ini lebih mencerminkan pemulihan teknikal setelah penurunan tajam dibandingkan perubahan besar pada fundamental pasar. Apabila pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran terus menunjukkan kemajuan serta aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali sepenuhnya normal, harga minyak berpotensi menghadapi tekanan baru akibat meningkatnya ekspektasi kelebihan pasokan global. Sebaliknya, jika ketegangan geopolitik kembali meningkat atau proses negosiasi mengalami kebuntuan, premi risiko dapat kembali mendominasi sentimen pasar dan mendorong harga minyak naik dalam jangka pendek.