Rabu, 15 Juli 2026

Harga Minyak Memanas! Ancaman Trump terhadap Iran Dorong Brent Mendekati US$86 per Barel

Harga minyak dunia kembali melonjak untuk hari ketiga berturut-turut setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan tambahan terhadap Iran. Eskalasi terbaru ini semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi global, terutama setelah Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran melalui Selat Hormuz.

Minyak mentah Brent bergerak mendekati level US$86 per barel setelah melonjak sekitar 11 persen dalam dua sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) bertahan di atas US$80 per barel. Pada perdagangan Asia, Brent naik sekitar 1,3 persen menjadi US$85,86 per barel, sedangkan WTI menguat 1,1 persen ke level US$80,22 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh pernyataan Trump yang menegaskan bahwa Amerika Serikat akan melanjutkan operasi militernya terhadap Iran. Ia bahkan membuka kemungkinan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran pada pekan depan apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah.

Amerika Serikat juga kembali menerapkan blokade terhadap pelayaran Iran mulai pukul 16.00 waktu Washington, hanya satu jam setelah militer AS melancarkan serangan baru yang diklaim bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Langkah ini memperbesar kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi melalui salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Di sisi lain, Trump membatalkan rencana penerapan pungutan sebesar 20 persen terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Keputusan tersebut sempat memberikan sedikit kelegaan bagi pelaku industri pelayaran karena mengurangi potensi kenaikan biaya logistik. Meski demikian, sentimen positif tersebut belum mampu meredakan kekhawatiran pasar karena aktivitas pengiriman di kawasan tersebut masih terganggu akibat meningkatnya risiko keamanan.

Ketegangan yang terus meningkat menyebabkan lalu lintas pengiriman minyak di kawasan Teluk mengalami perlambatan yang signifikan. Serangkaian serangan terhadap kapal pengangkut minyak serta meningkatnya ancaman terhadap negara-negara Teluk, termasuk Kuwait, membuat pelaku industri pelayaran mengambil langkah yang lebih berhati-hati dalam mengoperasikan armadanya.

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian pasar energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati jalur tersebut. Apabila gangguan terhadap pelayaran terus berlangsung, risiko berkurangnya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah akan semakin besar dan berpotensi mendorong harga minyak naik lebih tinggi.

Risiko geopolitik juga semakin meluas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak ke arah Arab Saudi. Serangan tersebut menjadi eskalasi besar pertama sejak gencatan senjata pada 2022 dan meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat melibatkan lebih banyak pihak di kawasan.

Lonjakan harga minyak juga membawa implikasi terhadap pasar keuangan global. Harga energi yang tinggi berpotensi memicu tekanan inflasi, sehingga dapat mendorong bank-bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas di pasar saham, obligasi, mata uang, hingga komoditas.

Dalam jangka pendek, harga minyak diperkirakan masih akan bertahan pada level tinggi selama blokade, ancaman terhadap jalur pelayaran, dan ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran belum mereda. Namun, apabila Iran kembali ke meja perundingan atau arus pengiriman melalui Selat Hormuz mulai pulih, premi risiko geopolitik yang saat ini menopang harga minyak berpotensi berangsur-angsur berkurang sehingga membuka peluang koreksi harga di pasar energi global.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar