Senin, 29 Juni 2026

Pound Sterling Melemah, Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian Hubungan AS-Iran

Pasangan mata uang GBP/USD bergerak melemah pada perdagangan sesi Asia, Senin (29 Juni), dengan bertahan di sekitar level 1,3200. Pelemahan pound sterling dipicu oleh menguatnya dolar Amerika Serikat yang kembali menjadi aset pilihan investor di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai proses perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait konflik di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.

Permintaan terhadap aset safe haven kembali meningkat setelah pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah. Dolar AS memperoleh dukungan karena investor memilih aset yang dinilai lebih aman di tengah kekhawatiran bahwa proses diplomasi antara Washington dan Teheran masih menghadapi berbagai tantangan.

Sentimen pasar tetap sangat sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik di kawasan tersebut. Berdasarkan laporan Reuters pada Minggu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah menyepakati penghentian sementara aksi saling serang di kawasan Teluk serta berkomitmen untuk melanjutkan pembahasan mengenai sengketa di Selat Hormuz melalui jalur diplomasi.

Pembukaan kembali jalur perundingan tersebut dilakukan setelah beberapa hari kedua negara terlibat aksi balasan yang meningkatkan ketegangan. Eskalasi terjadi setelah sebuah proyektil yang diduga berasal dari Iran dilaporkan menghantam kapal kargo pada Kamis, memicu saling tuduh antara Washington dan Teheran terkait dugaan pelanggaran terhadap gencatan senjata sementara yang diberlakukan sejak 17 Juni.

Meskipun terdapat upaya diplomasi, investor masih memandang situasi di Timur Tengah sebagai sumber risiko yang dapat memengaruhi sentimen pasar global. Ketidakpastian mengenai keberlangsungan kesepakatan damai membuat permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang yang lebih sensitif terhadap sentimen risiko, termasuk pound sterling.

Di Inggris, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan politik domestik. Setelah Keir Starmer mengundurkan diri dari posisi pemimpin Partai Buruh akibat tekanan politik, anggota parlemen yang baru terpilih, Andy Burnham, dijadwalkan menyampaikan visi nasionalnya pada Senin. Minimnya pesaing yang kuat membuka peluang bagi Burnham untuk memperoleh dukungan politik yang lebih luas dan berpotensi menjadi Perdana Menteri secepatnya pada 17 Juli.

Ketidakpastian politik di Inggris turut menambah tekanan terhadap pound sterling. Pelaku pasar cenderung menunggu arah kebijakan pemerintahan baru sebelum meningkatkan eksposur terhadap aset-aset Inggris. Di sisi lain, prospek dolar AS masih didukung oleh statusnya sebagai mata uang safe haven, terutama apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat.

Secara keseluruhan, pergerakan GBP/USD dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik dan perkembangan politik domestik Inggris. Selama ketidakpastian terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran masih berlanjut serta investor tetap mencari aset yang lebih aman, dolar AS berpotensi mempertahankan dominasinya. Sementara itu, pound sterling kemungkinan akan bergerak terbatas hingga terdapat kepastian yang lebih besar mengenai arah politik Inggris maupun perkembangan diplomatik di kawasan Timur Tengah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar