Jumat, 19 Juni 2026

AUD/USD Berpotensi Catat Pelemahan Mingguan Ketiga Beruntun, Dolar AS Masih Mendominasi Pasar

Pasangan mata uang AUD/USD kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (19 Juni) setelah dolar Australia melemah ke bawah level US$0,705 dan mendekati titik terendahnya dalam sekitar sepuluh minggu terakhir. Pergerakan ini menempatkan mata uang Negeri Kanguru di jalur untuk mencatat pelemahan mingguan ketiga secara berturut-turut, seiring menguatnya dominasi dolar Amerika Serikat di pasar global.

Faktor utama yang menekan AUD/USD berasal dari sikap Federal Reserve yang tetap hawkish. Meskipun bank sentral Amerika Serikat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhirnya, pernyataan para pejabat The Fed menunjukkan bahwa peluang kenaikan suku bunga tambahan masih terbuka dalam beberapa bulan mendatang. Sinyal tersebut mendorong investor kembali memburu aset berbasis dolar AS, sehingga memperkuat nilai tukar greenback terhadap berbagai mata uang utama, termasuk dolar Australia.

Penguatan dolar AS semakin terlihat setelah indeks dolar mencapai level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya keyakinan pasar bahwa Federal Reserve masih berkomitmen menjaga kebijakan moneter ketat demi mengendalikan inflasi. Hampir setengah dari para pembuat kebijakan The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini, menunjukkan bahwa risiko inflasi masih menjadi perhatian utama bagi bank sentral terbesar di dunia tersebut.

Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA) mulai mengalami perubahan. Setelah RBA memutuskan mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhir, pelaku pasar semakin percaya bahwa siklus pengetatan moneter Australia mungkin telah mendekati akhir. Saat ini, probabilitas adanya satu kali kenaikan suku bunga tambahan oleh RBA sepanjang tahun ini diperkirakan hanya sekitar 50%, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut membuat daya tarik dolar Australia berkurang. Ketika pasar menilai peluang kenaikan suku bunga semakin kecil, potensi imbal hasil dari aset berdenominasi AUD juga menjadi lebih terbatas. Akibatnya, investor cenderung mengalihkan dana ke mata uang yang menawarkan prospek suku bunga lebih tinggi, terutama dolar AS yang masih didukung oleh kebijakan moneter ketat Federal Reserve.

Meski demikian, Gubernur RBA Michele Bullock menegaskan bahwa bank sentral Australia masih membuka kemungkinan untuk kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Pernyataan tersebut memberikan sedikit dukungan bagi dolar Australia karena menunjukkan bahwa RBA belum sepenuhnya menutup pintu terhadap kebijakan yang lebih agresif. Namun, mayoritas pelaku pasar menilai diperlukan lonjakan inflasi kuartal kedua yang jauh melampaui perkiraan agar RBA memiliki alasan kuat untuk melanjutkan pengetatan moneter.

Selain faktor kebijakan bank sentral, perkembangan geopolitik juga turut memengaruhi sentimen pasar. Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran serta kembali normalnya pasokan energi melalui Selat Hormuz membantu meredakan sebagian kekhawatiran global terkait gangguan pasokan minyak dan gas. Kondisi ini mendorong peningkatan sentimen risiko di pasar keuangan internasional.

Membaiknya sentimen risiko tersebut memberikan sedikit dukungan bagi dolar Australia yang dikenal sebagai mata uang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi global dan perubahan selera risiko investor. Ketika optimisme pasar meningkat, mata uang berbasis komoditas seperti AUD biasanya memperoleh manfaat karena investor lebih bersedia mengambil risiko. Faktor ini membantu membatasi pelemahan AUD/USD yang seharusnya bisa lebih dalam akibat kuatnya tekanan dari dolar AS.

Meski demikian, arah pergerakan AUD/USD dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter kedua negara. Selama Federal Reserve mempertahankan nada hawkish dan pasar terus memperkirakan peluang kenaikan suku bunga tambahan di Amerika Serikat, dolar AS berpotensi tetap unggul. Sebaliknya, dolar Australia membutuhkan dukungan dari data inflasi domestik yang kuat atau perbaikan signifikan pada prospek ekonomi Australia untuk mampu mengurangi tekanan jual yang saat ini mendominasi pasar.

Dengan kombinasi penguatan dolar AS, menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga RBA, serta kehati-hatian investor menjelang data ekonomi penting berikutnya, AUD/USD masih berisiko melanjutkan tren pelemahan dalam waktu dekat. Namun, perbaikan sentimen global dan stabilitas pasar energi dapat menjadi faktor penahan yang membantu mencegah penurunan yang lebih tajam pada mata uang Australia.

Sumber : www.newsmaker.id 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar