
Harga perak berhasil mempertahankan penguatan pada awal April dengan diperdagangkan stabil di kisaran $75 per ons. Kenaikan ini melanjutkan lonjakan lebih dari 7% pada sesi sebelumnya dan membawa harga ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir. Sentimen positif ini dipicu oleh harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah, yang berpotensi menekan harga minyak dan mengurangi kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga tinggi dari bank sentral global.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memberikan dorongan psikologis bagi pasar. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar tujuan militer telah tercapai dan bahwa pengelolaan isu Selat Hormuz akan diserahkan kepada negara lain. Sinyal ini diperkuat oleh laporan dari media pemerintah Iran yang mengutip Presiden Masoud Pezeshkian yang menyatakan kesiapan Iran untuk mengakhiri konflik dengan syarat tertentu. Kombinasi pernyataan dari kedua pemimpin tersebut meningkatkan optimisme pasar terhadap kemungkinan deeskalasi konflik geopolitik.
Namun demikian, di balik penguatan jangka pendek ini, perak masih berada dalam tekanan besar. Sepanjang bulan Maret, harga perak tercatat anjlok lebih dari 20%, menjadi penurunan tajam pertama sejak 2011. Bahkan, jika dibandingkan dengan puncaknya pada Januari, harga perak saat ini masih berada hampir 40% lebih rendah. Penurunan signifikan ini mencerminkan dampak luas dari gangguan pasar energi serta meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global.
Kondisi tersebut mendorong investor dan bank sentral untuk mengambil sikap yang lebih berhati-hati, bahkan cenderung agresif dalam menjaga stabilitas ekonomi. Ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada tahun 2026 pun mengalami penyesuaian, dari sebelumnya diperkirakan dua kali pemotongan menjadi lebih terbatas. Kebijakan moneter yang lebih ketat ini menjadi salah satu faktor yang menahan potensi kenaikan harga perak.
Ke depan, prospek harga perak masih dibayangi ketidakpastian. Jika ketegangan geopolitik benar-benar mereda dan harga minyak mengalami penurunan, maka perak berpeluang mendapatkan dukungan tambahan. Namun, risiko inflasi yang tetap tinggi serta kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat akan membatasi ruang kenaikan dalam jangka pendek.
Pasar perak diperkirakan akan tetap volatil dalam waktu dekat. Pergerakan harga dapat dengan mudah berbalik arah jika tekanan ekonomi global kembali meningkat. Oleh karena itu, investor perlu mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan bank sentral secara cermat, karena kedua faktor ini akan menjadi penentu utama arah harga perak dalam beberapa bulan ke depan.