Senin, 22 Juni 2020

Jos! Dalam 2 Hari Harga Emas Antam Naik Rp 12.000/gram

Emas Antam (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
PT Rifan Financindo - Harga emas logam mulia acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hari Senin ini (22/6/2020) naik 0,24% atau sebesar Rp 2.000 menjadi Rp 849.120/gram dari perdagangan Sabtu kemarin di level Rp 847.120/gram.

Sebelumnya pada perdagangan Sabtu kemarin, harga emas Antam naik 1,19% atau Rp 10.000 dari posisi harga Jumat yakni Rp 837.120/gram.
 
Berdasarkan pencatatan data harga Logam Mulia di gerai Jakarta Gedung Antam di situs logammulia milik Antam hari ini, harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram naik 0,24% berada di Rp 84,912 juta dari harga kemarin Rp 84,712 juta per batang.

Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda.

Adapun khusus harga 1 gram emas Antam hari Senin ini (22/6/2020) naik Rp 2.000 menjadi Rp 907.000/gram setelah naik Rp 10.000 ke Rp 905.000/gram pada hari Sabtu kemarin.

Di sisi lain, harga beli kembali (buyback) emas Antam hari ini juga naik 0,38% atau Rp 3.000 ditetapkan pada Rp 797.000/gram, dari posisi kemarin Rp 794.000/gram. Harga itu menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat ingin menjual kembali investasi tersebut.


Kenaikan harga emas Antam seiring dengan naiknya harga emas dunia di pasar spot pada hari ini Senin (22/6/2020) pukul 08:30 WIB, yang naik US$ 11,18 atau 0,64% ke level US$ 1.754,02/troy ons dari penutupan perdagangan hari Jumat kemarin (Sabtu pagi waktu Indonesia).

Penutupan perdagangan hari Jumat kemarin harga emas melonjak sebesar US$ 20,22 atau 1,17% ke level US$ 1.742,84/troy ons setelah turun US$ 3,67 atau 0,21% pada US$ 1.722,62/troy ons dari penutupan perdagangan sebelumnya, melansir dari Refinitiv. 

Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman bulan Agustus naik US$ 21,90 atau 1,3% ke level US$ 1.753/troy ons setelah turun US$ 0,90 atau sekitar 0,05% pada US$ 1.735,60/troy ons sebelumnya, melansir dari RTTNews.

Lonjakan harga emas dipicu oleh kenaikan kasus virus corona, sehingga meningkatkan kekhawatiran gelombang kedua pandemi yang dapat memaksa sejumlah negara untuk menerapkan karantina wilayah (lockdown) kembali.

"Ada peningkatan berkelanjutan dalam COVID-19 di seluruh wilayah Selatan dan Barat Daya AS dengan peningkatan dalam tingkat rawat inap. Itu telah menyebabkan sedikit kekhawatiran penutupan lainnya, yang menguntungkan emas, "kata Jeffrey Sica, pendiri Circle Squared Alternative Investments, melansir CNBC International.

Lebih dari 8,38 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi virus corona baru. Awal pekan ini sekitar 400 pekerja di rumah pemotongan hewan di Jerman utara melakukan tes untuk virus tersebut, dan China pada hari Jumat melaporkan 32 kasus baru virus.

"Tidak peduli apa konsekuensi jangka panjangnya, seperti inflasi, akan ada stimulus lanjutan di seluruh dunia dan itu akan menjaga harga emas untuk terdorong naik dalam jangka panjang," kata Sica.

Sejauh tahun ini, harga emas telah naik sekitar 15%, didukung oleh permintaan safe-haven di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi serta jumlah dukungan fiskal dan moneter pemerintah dan bank sentral yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang telah mengurangi hasil obligasi dan juga telah menaikkan kekhawatiran tentang inflasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA (har/har)
Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Jumat, 19 Juni 2020

Emas Diramal Cetak Rekor di Akhir 2020, Tapi Bakal Turun Dulu

Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder
Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)
Rifan FinancindoHarga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (18/6/2020), meski sentimen pelaku pasar sedang memburuk akibat kecemasan akan penyebaran pandemi penyakit virus corona (Covid-19) gelombang kedua.

Pada pukul 18:52 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1.720,71/troy ons, melemah 0,32% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

China, lokasi pertama wabah Covd-19, kini mengalami peningkatan kasus Covid-19. Kali ini episentrumnya di Beijing. Kemarin, ada tambahan 31 kasus baru, sehingga total ada 137 kasus sejak pertama kali dilaporkan pada Jumat (12/6/2020) pekan lalu. Akibatnya, beberapa penerbangan dibatalkan, sekolah diliburkan, dan pengunjung dari luar kota dibatasi.

Peningkatan kasus tersebut membuat pelaku pasar waspada akan kemungkinan penerapan karantina wilayah (lockdown) lagi di China, yang tentunya akan memukul pertumbuhan ekonomi global.

Tidak hanya di China, di Negeri Paman Sam juga terjadi hal yang sama. Negara Bagian Texas melaporkan penambahan kasus sebanyak 2.793 orang atau 11% dari total kasus yang ada Rabu kemarin. Sebelumnya pada hari Selasa, tercatat kasus baru sebanyak 2.518.

Penambahan kasus Covid-19 tersebut menjadi penyebab memburuknya sentimen pelaku pasar dan bursa saham berguguran. Dalam kondisi itu, emas seharusnya bisa menguat, tetapi nyatanya malah melempem.

Direktur global trading Kitco Metals Peter Hug menilai emas akan melemah dalam jangka pendek, tetapi di akhir tahun akan melewati level US$ 1.920/troy ons, alias mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Faktor musiman akan menyebabkan emas melemah di musim panas (Juni-Agustus), tetapi dalam jangka menengah jalur penguatan emas masih terbuka.

"Jangka pendek, khususnya karena faktor musiman, harga emas akan melemah, tetapi pada akhir tahun saya pikir level tertinggi tahun 2011 yakni US$ 1.920, akan berhasil dicapai atau bahkan lebih tinggi lagi," kata Hug sebagaimana dilansir Kitco News.

Ia menambahkan kerusakan ekonomi yang panjang akibat pandemi Covid-19 akan memicu koreksi lagi di pasar saham, dan emas juga akan ikut terkoreksi. "Saya pikir itu (koreksi pasar saham) tidak akan menjadi bullish bagi emas. Saya pikir reaksi awal emas akan ikut melemah karena orang-orang mulai panik dan memilih memegang uang kas," tambahnya.

Pergerakan tersebut pernah terjadi di bulan Maret, saat bursa saham diterpa aksi jual masif, emas justru ikut ambrol, saat itu muncul jargon "cash is the king".

Analisis Teknikal
 
Secara teknikal, melihat grafik harian emas sebenarnya bergerak mendatar (sideways) dalam pola rectangle sejak awal April lalu.

Emas bergerak dalam rentang US$ 1.670/troy ons (batas bawah pola rectangle) sampai US$ 1.744/troy ons (batas atas pola rectangle). Beberapa kali, emas memang sempat melewati batas tersebut, tetapi pada akhirnya kembali terjebak di dalam pola tersebut.

Indikator stochastic berada di dekat wilayah jenuh beli (overbought). Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik turun.

xau 
Foto: Refinitiv
xau

Stochastic saat ini berada di level 74, sehingga ruang penguatan emas hari ini cukup terbuka menuju resisten (tahanan atas) terdekat US$ 1.744/troy ons.

Ke depannya, jika mampu menembus US$ 1.744/troy ons dengan meyakinkan, dan mampu bertahan di atasnya dalam beberapa hari ke depan, artinya emas berhasil breakout pola rectangle. Itu artinya, emas berpeluang melesat menuju US$ 1.818/troy ons.

Sementara selama tertahan di bawah resisten tersebut, emas masih akan terjebak dalam pola rectangle, dengan risiko koreksi ke US$ 1.670/troy ons.
TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/pap)
Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Kamis, 18 Juni 2020

Syukur Deh! Harga Emas Antam Hari Ini Melesat Rp 5.000

Emas Antam (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
PT Rifan - Harga emas logam mulia acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hari Kamis ini (18/6/2020) naik 0,60% atau sebesar Rp 5.000 menjadi Rp 842.120/gram dari perdagangan Rabu kemarin di level Rp 837.120/gram.

Sebelumnya pada perdagangan Rabu kemarin, harga emas Antam turun 0,36% atau Rp 3.000 dari posisi harga Selasa yakni Rp 840.120/gram.
 
Berdasarkan pencatatan data harga Logam Mulia di gerai Jakarta Gedung Antam di situs logammulia milik Antam hari ini, harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram naik 0,60% berada di Rp 84,212 juta dari harga kemarin Rp 83,712 juta per batang.

Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda.

Adapun khusus harga 1 gram emas Antam hari Kamis ini (18/6/2020) naik Rp 5.000 menjadi Rp 900.000/gram setelah turun Rp 3.000 ke Rp 895.000/gram pada hari Rabu kemarin.

Di sisi lain, harga beli kembali (buyback) emas Antam hari ini juga naik 0,77% atau Rp 6.000 ditetapkan pada Rp 790.000/gram, dari posisi kemarin Rp 784.000/gram. Harga itu menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat ingin menjual kembali investasi tersebut.

Kenaikan harga emas Antam seiring dengan naiknya harga emas dunia di pasar spot pada hari ini Kamis (18/6/2020) pukul 08:30 WIB, yang naik US$ 1,40 atau 0,08% ke level US$ 1.727,70/troy ons dari penutupan perdagangan hari Rabu kemarin (Kamis pagi waktu Indonesia).

Penutupan perdagangan hari Rabu kemarin harga emas turun tipis sebesar US$ 0,67 atau 0,04% ke level US$ 1.726,29/troy ons setelah naik US$ 2,35 atau 0,14% pada US$ 1.726,96/troy ons dari penutupan perdagangan sebelumnya, melansir dari Refinitiv. 

Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman bulan Agustus turun US$ 0,90 atau 0,05% ke level US$ 1.735,60/troy ons setelah naik US$ 9,30 atau sekitar 0,5% pada US$ 1.736,50/troy ons sebelumnya, melansir dari RTTNews.

Harga emas cenderung stabil dalam beberapa hari terakhir di tengah sentimen yang campur aduk. Penguatan harga emas didukung oleh kekhawatiran atas gelombang coronavirus kedua, sementara penguatan dolar AS dan pasar saham AS sebelumnya telah membebani performa emas.
TIM RISET CNBC INDONESIA (har/har)
Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Rabu, 17 Juni 2020

Harga Emas Dunia Diprediksi Mentok US$ 2.000/oz, Yakin Gak?

[Tak Hanya Logam Mulia, Perhiasan Saat Ini Banyak Diburu Warga Untuk Investasi.(CNBC Indonesia)
Foto: [Tak Hanya Logam Mulia, Perhiasan Saat Ini Banyak Diburu Warga Untuk Investasi.(CNBC Indonesia)
PT Rifan Financindo Berjangka - PT Schroder Investment Management Indonesia (Schroders) menilai harga emas dunia sudah mentok di level saat ini dan diperkirakan tak akan mampu menembus level US$ 2.000 per troy ounce. Schroders menilai ada ekspektasi perekonomian dunia mulai membaik sehingga investor melihat dunia bisnis akan kembali bergeliat.

Dengan demikian, aset-aset safe haven seperti emas dunia, lazimnya akan menurun permintaannya di tengah tingginya risk appetite atau kecenderungan investor memburu aset-aset berisiko.

CEO Schroders Indonesia Michael Tjoajadi mengatakan investor memilih mengamankan dananya di emas dalam kondisi perekonomian melambat, bahkan saat mengalami penurunan. Kondisi tersebut terjadi pada saat krisis 2008-2009 dan kembali terjadi pada akhir 2019 hingga awal 2020.

Perkiraan perekonomian yang turun ini membuat harga emas melambung dari US$ 1.200 per troy ounce bisa menguat hingga US$ 1.700 per troy ounce.

"Sekarang ini US$ 1.700 dan sedikit flat saat ini ga tembus US$ 1.800 karena banyak pengusaha melihat ekonomi mulai up sehingga ga banyak yang investasi di emas. Ekonomi mulai pulih, orang mulai investasikan dananya ke bisnis, bukan emas. Ini emas terkendala naiknya karena banyak bilang emas bisa US$ 2.000. Ini yang kita bisa liat saat ini," kata Michael di Jakarta, Selasa (16/6/2020).

Adapun pada perdagangan Selasa pagi kemarin, di pasar spot, harga emas dunia flat saja di tengah kian agresifnya bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed yang berencana akan membeli obligasi korporasi di pasar sekunder.
Harga emas menguat tipis cenderung flat 0,04% ke US$ 1.726,15/troy ons. Memasuki bulan Juni emas ditransaksikan di rentang tertinggi pada US$ 1.740/troy ons dan terendah di US$ 1.685/troy ounce.

Untuk saat ini harga emas masih dibayangi adanya deflasi, menurut seorang analis dari Saxo Bank.

"Inflasi rendah karena turunnya permintaan dari konsumen dan lambatnya pembukaan ekonomi kembali sehingga mengurangi permintaan emas," kata Hansen Ole, analis Saxo Bank sebagaimana dilaporkan Reuters.

"Secara teknikal, level resisten [batas atas] emas terkuat berada di US$ 1.740 dan aliran dana tak mencukupi," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas di TD Securities.

Namun dengan rendahnya suku bunga, banjir stimulus fiskal serta moneter secara global hingga ancaman munculnya gelombang kedua wabah (second wave outbreak) analis memandang prospek emas jangka panjang masih positif.

Emas merupakan aset minim risiko (safe haven) yang diburu ketika kondisi ekonomi sedang diliputi risiko ketidakpastian. Di sisi lain tingkat suku bunga yang rendah dan banjir stimulus yang ada dalam jangka panjang berpotensi membuat inflasi menjadi lebih tinggi, sehingga emas sebagai aset lindung nilai (hedge) terhadap depresiasi nilai tukar menjadi semakin menarik.

Sebelumnya sejumlah lembaga dan analis memprediksi harga emas dunia menanjak pada level tertentu. Prediksi pertama datang David Roche, Presiden dan ahli strategi global di Independent Strategy yang berbasis di London. Pertengahan tahun lalu, dia memprediksi harga emas dunia bisa mencapai US$ 2.000/troy ounce.

Prediksi kedua dari Bank of America Merrill Lynch (BoA) yang memperkirakan harga emas dunia bakal menembus US$ 1.500 per troy ounce (oz) di tahun lalu dan sudah tercapai, lalu tahun ini bisa menembus US$ 2.000/troy ons.

Satu troy ounce, mengacu aturan di pasar, setara dengan 31,1 gram, sehingga besaran US$ 2.000 per troy ounce dikonversi dengan membagi angka tersebut dengan 31,1 gram, hasilnya US$ 64,31 per gram. Dengan asumsi kurs rupiah Rp 14.000/US$, maka prediksi harga emas tahun ini bisa menembus Rp 900.340/gram. 

Emas Antam
Pada perdagangan Selasa kemarin, harga emas logam mulia acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun 0,47% atau sebesar Rp 4.000 menjadi Rp 840.120/gram dari perdagangan Senin di level Rp 844.120/gram.

Sebelumnya pada perdagangan Senin, harga emas Antam naik 0,24% atau Rp 2.000 dari posisi harga Sabtu yakni Rp 842.120/gram.

Berdasarkan pencatatan data harga Logam Mulia di gerai Jakarta Gedung Antam di situs logammulia milik Antam, harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram turun 0,47% berada di Rp 84,012 juta dari harga kemarin Rp 84,412 juta per batang.

Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda.

Adapun khusus harga 1 gram emas Antam hari Selasa kemarin turun Rp 4.000 menjadi Rp 898.000/gram setelah naik Rp 2.000 ke Rp 902.000/gram pada hari Senin kemarin.

Di sisi lain, harga beli kembali (buyback) emas Antam juga turun 0,76% atau Rp 6.000 ditetapkan pada Rp 787.000/gram, dari posisi kemarin Rp 793.000/gram. Harga itu menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat ingin menjual kembali investasi tersebut. (tas/tas)
Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan 

Selasa, 16 Juni 2020

Top! Wall Street Melesat, Bursa Jepang Ngamuk Hampir 3%

A man walks past an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, Dec. 11, 2019. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Foto: Bursa Jepang (Nikkei). (AP Photo/Eugene Hoshiko)
PT Rifan Financindo - Bursa saham di Asia tiba-tiba melonjak pada perdagangan Selasa pagi (16/6/2020) setelah ditopang lompatan dramatis bursa Wall Street AS dini hari tadi atau Selasa pagi waktu Indonesia.

Data perdagangan mencatat, Indeks Nikkei 225 di Bursa Tokyo, Jepang melonjak 2,86% pada awal perdagangan, sementara indeks Topix menguat 2,49%. Di Korea Selatan, Kospi melonjak 3,1%. Bursa saham di Australia juga diperdagangkan menguat, di mana Indeks S&P/ASX 200 naik 1,28%.
Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia ex-Jepang juga diperdagangkan naik 0,92% pagi ini.

Tadi pagi, bursa Amerika Serikat (AS), Wall Street, mencatatkan kenaikan pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2020). Kenaikan terjadi setelah bank sentral AS, the Federal Reserve (the Fed) mengumumkan rencana yang membawa sentimen positif ke pasar saham.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 157,62 poin pada Senin, setelah indeks saham-saham blue-chip itu turun lebih dari 760 poin di awal sesi. S&P 500 naik 0,8% dan ditutup menjadi 3,066,59, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,4% menjadi 9,726,02. Pada awal perdagangan, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun sebanyak 2,5% dan 1,9%, sebelum akhirnya ditutup rebound.

Sebelumnya The Fed telah mengindikasikan bahwa mereka akan membeli obligasi di pasar primer. Tetapi melalui pengumuman pada Senin, Fed mengungkapkan akan memperluas operasi pembelian obligasi ke pasar sekunder.

Dengan kata lain, pengumuman The Fed di pertengahan Juni ini merupakan langkah lain dari bank sentral untuk mendukung pasar keuangan dan meyakinkan investor bahwa mereka akan terus mendukung pasar kredit selama wabah virus corona ada.

"Apa yang tampaknya baru adalah pembelian obligasi di pasar sekunder dan setidaknya dari pengumuman ini, ini berpotensi bagi The Fed memperluas pembelian obligasi," tulis ahli strategi Evercore ISI, Dennis DeBusschere, dalam sebuah email dilansir CNBC.

"Alasan penyebaran (spread) kredit ketat adalah karena investor percaya bahwa mereka akan menindaklanjuti program ini [pembelian obligasi]," tambah DeBusschere. "Jika mereka tidak menindaklanjuti, spread kredit akan bergerak secara signifikan lebih luas dan The Fed harus membeli lebih banyak [surat] utang untuk menopang kredibilitas."

Investor pada Selasa ini kemungkinan akan fokus pada pengumuman bank sentral. Reserve Bank of Australia akan merilis risalah pertemuan kebijakan moneter pada pukul 9:30 pagi waktu Hong Kong dan Singapura, sementara Bank of Japan juga akan merilis pernyataan kebijakan moneter pada hari Selasa ini.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas, mengatakan sentimen luar negeri yang mempengaruhi pasar ialah 'obat' dari bank sentral AS, The Fed.

"The Fed memberikan apa yang dibutuhkan pasar tatkala pasar sedang mengalami kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan. Sebuah obat penenang yang dibutuhkan," jelasnya.

The Fed mengatakan bahwa mereka akan memulai membeli obligasi korporasi individual di bawah Secondary Market Corporate Credit Facility. Program ini memiliki kemampuan untuk membeli surat utang korporasi hingga US$ 750 miliar.

"Tentu hal ini dilakukan sebagai upaya berkelanjutan dari The Fed untuk mendukung fungsi pasar dan mempermudah situasi dan kondisi kredit. Bank Sentral juga menjelaskan untuk pertama kalinya mereka akan menerapkan strategi pembelian, dan mengatakan akan mengikuti indeks pasar dari obligasi korporasi di Amerika yang dibuat khusus untuk fasilitas tersebut."

"The Fed juga pada akhirnya telah memberikan program baru yaitu Program Pinjaman untuk usaha kecil dan menengah, yang dimana hal tersebut membuat usaha kecil dan menengah dapat semringah karena pada akhirnya pertolongan itu datang," kata Nico dan timnya.(tas/tas)
Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan