
Harga emas melonjak tajam hingga menembus level US$4.950 per ons pada hari Jumat, mencetak rekor tertinggi baru dan berada di jalur untuk menutup pekan ini dengan kenaikan terkuat sejak Maret 2020. Lonjakan ini didorong oleh kombinasi melemahnya dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global, yang mendorong investor di seluruh dunia memburu aset lindung nilai. Dalam kondisi pasar yang penuh risiko dan volatilitas, emas kembali menunjukkan perannya sebagai penyimpan nilai paling andal, dengan level psikologis US$5.000 kini berada tepat di depan mata.
Tekanan pada dolar AS menjadi katalis utama penguatan harga emas. Ketika nilai dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan global meningkat secara signifikan. Di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dan dinamika geopolitik, arus dana pun mengalir deras ke logam mulia. Pergerakan ini memperkuat tren bullish emas yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir dan kini memasuki fase percepatan.
Dari sisi geopolitik, pasar dikejutkan oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang mengklaim telah mengamankan akses permanen Amerika Serikat ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO. Namun, kurangnya detail resmi dan penegasan kembali kedaulatan Denmark atas wilayah tersebut membuat investor menilai bahwa isu ini masih jauh dari selesai. Ketegangan potensial ini dipersepsikan sebagai sumber risiko baru di panggung global, yang secara langsung meningkatkan daya tarik emas sebagai aset aman di tengah ketidakpastian politik internasional.
Di bidang perdagangan global, Trump juga membatalkan rencana tarif impor terhadap Eropa, sementara Uni Eropa menunda langkah balasan yang sebelumnya telah disiapkan. Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu kejelasan mengenai arah kebijakan Trump selanjutnya, karena perubahan mendadak dalam kebijakan perdagangan dapat dengan cepat memicu gejolak pasar. Ketidakpastian inilah yang terus mendorong minat terhadap emas, karena investor mencari perlindungan dari potensi gangguan ekonomi lintas negara.
Dari sisi data ekonomi, indeks inflasi pilihan The Federal Reserve, yaitu PCE baik utama maupun inti, naik sesuai ekspektasi. Hal ini menandakan bahwa proses penurunan inflasi masih berlangsung, meskipun aktivitas ekonomi tetap relatif kuat. Pasar saat ini memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed tahun ini, sebuah kondisi yang secara historis sangat mendukung harga emas karena menurunkan imbal hasil aset berbunga dan meningkatkan daya tarik logam mulia yang tidak memberikan bunga.
Selain itu, investor juga mencermati dengan saksama keputusan Trump terkait penunjukan Ketua The Fed berikutnya setelah proses wawancara para kandidat selesai. Jika pilihan jatuh pada figur yang lebih dovish atau condong pada kebijakan moneter longgar, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa semakin menguat. Skenario ini berpotensi menjadi bahan bakar tambahan bagi reli emas yang sudah berada di wilayah rekor, memperbesar peluang emas untuk menembus level ikonik US$5.000 per ons dalam waktu dekat.
Sumber : www.newsmaker.id



