Selasa, 10 Februari 2026

Harga Perak Kembali Terkoreksi, Aksi Ambil Untung Dominasi Pasar yang Masih Panas

Harga perak kembali melemah signifikan dengan penurunan sekitar 2% hingga berada di bawah level USD 82 per ons pada perdagangan Selasa. Koreksi ini menghentikan reli dua hari sebelumnya, seiring semakin banyak pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan setelah pergerakan harga yang agresif. Pasar logam mulia saat ini masih berada dalam kondisi volatilitas tinggi, dipicu oleh fluktuasi ekstrem yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan mencerminkan sensitivitas pasar terhadap sentimen jangka pendek.

Meski sempat mengalami rebound, posisi perak masih jauh dari level puncaknya. Logam putih ini tercatat turun sekitar 33% dari rekor tertingginya yang dicapai pada 29 Januari, tepat sebelum aksi jual besar-besaran memangkas nilainya hampir 50%. Jarak yang cukup lebar dari level tertinggi tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar belum sepenuhnya pulih. Pergerakan harga perak masih sangat reaktif dan mudah terguncang oleh perubahan persepsi investor maupun faktor eksternal.

Tekanan terhadap pasar perak semakin meningkat setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyoroti peran aktivitas trader asal China sebagai salah satu pemicu fluktuasi tajam. Ia menilai reli harga perak yang terjadi sebelumnya lebih menyerupai lonjakan spekulatif dibandingkan kenaikan yang didukung oleh fundamental yang kuat. Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa pasar perak saat ini digerakkan oleh sentimen dan arus modal jangka pendek, bukan oleh permintaan industri atau faktor struktural yang solid.

Fokus investor kini beralih ke rilis data ekonomi utama Amerika Serikat pekan ini, khususnya laporan ketenagakerjaan dan inflasi. Data tersebut dipandang krusial dalam memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan. Konsensus pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret, dengan peluang dua kali pemangkasan suku bunga pada paruh kedua tahun ini. Ekspektasi kebijakan moneter ini menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan logam mulia, termasuk perak.

Sejalan dengan pelemahan perak, logam mulia lainnya seperti emas, platinum, dan paladium juga mengalami tekanan pada perdagangan Selasa. Kondisi ini mencerminkan aksi ambil untung yang meluas di sektor logam mulia setelah reli tajam sebelumnya. Meskipun pasar masih tergolong panas dan penuh peluang, tingginya volatilitas menuntut kehati-hatian ekstra dari investor dalam mengelola risiko, terutama di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter global.

Sumber : www.newsmaker.id 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar