Senin, 02 Februari 2026

Tekanan Jual Meluas, Hang Seng Catat Penurunan Terbesar Sejak 21 November

Tekanan jual di pasar saham Hong Kong kembali meningkat untuk hari kedua berturut-turut, menandai pelemahan yang semakin signifikan. Indeks Hang Seng ditutup turun 2,2% atau merosot 611,54 poin ke level 26.775,57 pada Senin, 2 Februari. Ini merupakan penurunan harian terdalam sejak indeks tersebut jatuh 2,4% pada 21 November, menegaskan bahwa pasar telah bergeser dari sekadar koreksi teknikal menuju fase “risk-off” yang lebih tegas dan menyeluruh.

Pelemahan ini diperparah oleh tekanan yang bersifat luas di hampir seluruh sektor. Saham-saham perdagangan dan industri memimpin penurunan, menciptakan kondisi pasar yang nyaris sepenuhnya merah. Dari total 88 saham yang tercatat, sebanyak 75 saham melemah, hanya 11 saham yang menguat. Pola seperti ini biasanya mencerminkan aksi jual kolektif, di mana investor memilih mengurangi eksposur secara menyeluruh, bukan sekadar berpindah antar sektor atau saham tertentu.

Saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi salah satu sumber tekanan utama terhadap indeks. Alibaba Group Holding Ltd. tercatat sebagai kontributor terbesar pelemahan setelah sahamnya turun 3,5%. Penurunan Alibaba ikut menekan sentimen terhadap saham-saham pertumbuhan yang sangat sensitif terhadap perubahan suasana pasar, terutama ketika kepercayaan investor melemah dan toleransi risiko menurun.

Sementara itu, BYD Co. mencatat penurunan paling tajam pada sesi tersebut dengan koreksi mencapai 6,9%. Kejatuhan BYD mengirim sinyal kuat bahwa tekanan jual kini juga menyasar saham-saham pemimpin yang biasanya diuntungkan saat optimisme pasar tinggi. Ketika sentimen memburuk, saham-saham unggulan justru sering menjadi target tercepat untuk aksi ambil untung, mempercepat laju penurunan indeks secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, Indeks Hang Seng saat ini menghadapi tekanan yang bersifat menyeluruh, bukan berasal dari satu sektor atau satu katalis tunggal. Ketika mayoritas saham bergerak turun dan emiten besar seperti Alibaba serta BYD ikut membebani pasar, stabilisasi biasanya memerlukan pemicu baru yang kuat. Tanpa adanya katalis positif, pola pelemahan berkelanjutan—turun hari ini dan berpotensi berlanjut pada sesi berikutnya—masih menjadi risiko yang nyata di pasar saham Hong Kong.

Sumber : www.newsmaker.id 

Kamis, 29 Januari 2026

EUR/USD Bertahan di Area 1,20, Pasar Masih Mencermati Arah Kebijakan The Fed

 

Pasangan mata uang EUR/USD bergerak stabil dengan bias positif di sekitar level 1,1980 pada awal sesi perdagangan Eropa hari Kamis, mencerminkan tekanan berkelanjutan terhadap dolar AS. Pelemahan dolar terjadi di tengah ketidakpastian pasar terhadap arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat, khususnya terkait independensi dan langkah lanjutan Federal Reserve. Investor global memilih bersikap hati-hati sambil menunggu rilis data Consumer Confidence Zona Euro serta laporan Initial Jobless Claims AS, yang diperkirakan akan memberikan petunjuk tambahan mengenai kekuatan ekonomi masing-masing kawasan.

Tekanan terhadap dolar AS semakin diperkuat oleh kekhawatiran pasar atas gaya kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai sulit diprediksi. Pernyataan Trump mengenai rencana pengumuman Ketua The Fed yang baru dalam waktu dekat memicu spekulasi luas di pasar keuangan. Ia bahkan menyiratkan kemungkinan penurunan suku bunga secara signifikan di bawah kepemimpinan baru, sebuah komentar yang langsung meningkatkan sensitivitas pasar terhadap prospek kebijakan moneter AS dan memperlemah daya tarik dolar sebagai aset lindung nilai.

Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve pada pertemuan Januari memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Ketua The Fed Jerome Powell menilai kondisi ekonomi AS masih cukup solid dengan pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan stabilisasi, meskipun terdapat indikasi perlambatan bertahap. Para pejabat Fed juga menegaskan pendekatan yang lebih berhati-hati terkait pelonggaran kebijakan ke depan, sementara pelaku pasar mulai memperkirakan pemangkasan suku bunga berikutnya dapat terjadi paling cepat pada bulan Juni. Ekspektasi ini terus membebani dolar dan memberikan ruang bagi penguatan euro.

Di Eropa, Bank Sentral Eropa diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Februari dan cenderung menjaga kebijakan tersebut hingga pertengahan 2026. Kondisi ini membuat fokus pasar tertuju pada perbedaan arah kebijakan moneter antara ECB dan The Fed. Selama ketidakpastian kebijakan AS masih mendominasi sentimen global dan euro mendapat dukungan dari stabilitas kebijakan ECB, pasangan EUR/USD berpotensi tetap bertahan di level tinggi mendekati 1,20, dengan volatilitas yang dipengaruhi oleh rilis data ekonomi utama dan pernyataan pejabat bank sentral.

Selasa, 27 Januari 2026

Yen Jepang Melemah Mendadak di Tengah Kekhawatiran Defisit dan Bayang-Bayang Intervensi

 

Nilai tukar yen Jepang melemah tajam pada sesi Asia Selasa, 27 Januari 2026, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi harian. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kesehatan fiskal Jepang, terutama setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan rencana belanja besar-besaran dan pemotongan pajak yang agresif. Kombinasi kebijakan ekspansif tersebut memunculkan kekhawatiran akan membengkaknya defisit anggaran, sehingga menekan kepercayaan pasar terhadap stabilitas yen. Di saat yang sama, sentimen pasar saham yang cenderung risk-on membuat minat terhadap aset safe haven seperti yen ikut menurun.

Tekanan terhadap yen juga diperparah oleh ketidakpastian politik menjelang pemilu Jepang pada 8 Februari. Pasar keuangan biasanya sangat sensitif terhadap dinamika politik, terutama ketika hasil pemilu berpotensi mengubah arah kebijakan ekonomi dan fiskal. Ketika risiko politik meningkat, pelaku pasar cenderung melakukan penyesuaian posisi, dan dalam konteks ini yen justru menjadi sasaran aksi jual karena investor memandang risiko domestik Jepang lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Meski demikian, ruang pelemahan yen tidak sepenuhnya bebas. Pasar tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi dari otoritas Jepang apabila pergerakan mata uang dianggap terlalu ekstrem. Pemerintah Jepang dan Bank of Japan telah berulang kali menegaskan komitmen mereka untuk menjaga stabilitas nilai tukar, bahkan dengan menekankan koordinasi erat dengan Amerika Serikat dalam isu valuta asing. Sinyal ini menjadi faktor penahan yang membuat spekulan berpikir dua kali sebelum mendorong yen terlalu jauh ke arah pelemahan.

Di sisi lain, dolar Amerika Serikat sendiri berada di bawah tekanan dan bertahan di dekat level terendah multi-bulan. Spekulasi bahwa Federal Reserve akan mengadopsi kebijakan yang lebih longgar, ditambah sentimen “sell America”, membuat daya tarik dolar melemah secara struktural. Kondisi ini menciptakan keseimbangan yang unik pada pasangan USD/JPY, di mana pelemahan yen dibatasi oleh lemahnya dolar, sehingga pergerakan pasangan mata uang ini berpotensi tetap terkonsolidasi dalam kisaran sempit.

Fokus utama pasar kini tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee yang berlangsung selama dua hari dan dimulai hari ini. Hasil rapat tersebut akan menentukan arah kebijakan moneter AS dan sekaligus memberi nada baru bagi pergerakan dolar di pasar global. Dengan latar belakang kekhawatiran fiskal Jepang, potensi intervensi pemerintah, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed, dinamika yen diperkirakan akan tetap sangat volatil, menjadikannya salah satu mata uang paling menarik untuk dipantau dalam beberapa hari ke depan.

Sumber : www.newsmaker.id 

Jumat, 23 Januari 2026

Harga Emas Dekati US$5.000 Saat Dolar Melemah dan Ketidakpastian Global Memuncak

 

Harga emas melonjak tajam hingga menembus level US$4.950 per ons pada hari Jumat, mencetak rekor tertinggi baru dan berada di jalur untuk menutup pekan ini dengan kenaikan terkuat sejak Maret 2020. Lonjakan ini didorong oleh kombinasi melemahnya dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global, yang mendorong investor di seluruh dunia memburu aset lindung nilai. Dalam kondisi pasar yang penuh risiko dan volatilitas, emas kembali menunjukkan perannya sebagai penyimpan nilai paling andal, dengan level psikologis US$5.000 kini berada tepat di depan mata.

Tekanan pada dolar AS menjadi katalis utama penguatan harga emas. Ketika nilai dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan global meningkat secara signifikan. Di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dan dinamika geopolitik, arus dana pun mengalir deras ke logam mulia. Pergerakan ini memperkuat tren bullish emas yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir dan kini memasuki fase percepatan.

Dari sisi geopolitik, pasar dikejutkan oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang mengklaim telah mengamankan akses permanen Amerika Serikat ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO. Namun, kurangnya detail resmi dan penegasan kembali kedaulatan Denmark atas wilayah tersebut membuat investor menilai bahwa isu ini masih jauh dari selesai. Ketegangan potensial ini dipersepsikan sebagai sumber risiko baru di panggung global, yang secara langsung meningkatkan daya tarik emas sebagai aset aman di tengah ketidakpastian politik internasional.

Di bidang perdagangan global, Trump juga membatalkan rencana tarif impor terhadap Eropa, sementara Uni Eropa menunda langkah balasan yang sebelumnya telah disiapkan. Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu kejelasan mengenai arah kebijakan Trump selanjutnya, karena perubahan mendadak dalam kebijakan perdagangan dapat dengan cepat memicu gejolak pasar. Ketidakpastian inilah yang terus mendorong minat terhadap emas, karena investor mencari perlindungan dari potensi gangguan ekonomi lintas negara.

Dari sisi data ekonomi, indeks inflasi pilihan The Federal Reserve, yaitu PCE baik utama maupun inti, naik sesuai ekspektasi. Hal ini menandakan bahwa proses penurunan inflasi masih berlangsung, meskipun aktivitas ekonomi tetap relatif kuat. Pasar saat ini memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed tahun ini, sebuah kondisi yang secara historis sangat mendukung harga emas karena menurunkan imbal hasil aset berbunga dan meningkatkan daya tarik logam mulia yang tidak memberikan bunga.

Selain itu, investor juga mencermati dengan saksama keputusan Trump terkait penunjukan Ketua The Fed berikutnya setelah proses wawancara para kandidat selesai. Jika pilihan jatuh pada figur yang lebih dovish atau condong pada kebijakan moneter longgar, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa semakin menguat. Skenario ini berpotensi menjadi bahan bakar tambahan bagi reli emas yang sudah berada di wilayah rekor, memperbesar peluang emas untuk menembus level ikonik US$5.000 per ons dalam waktu dekat.

Sumber : www.newsmaker.id 

Rabu, 21 Januari 2026

Trump Bersikeras Soal Greenland, Ketegangan Eropa Meningkat dan Pasar Global Mulai Waspada

 

Dalam sebuah briefing di Gedung Putih pada Rabu pagi waktu Indonesia, Donald Trump kembali menegaskan satu pesan yang tidak bisa disalahartikan: Greenland tetap menjadi target strategis Amerika Serikat. Namun ketika ditanya sejauh mana ia bersedia melangkah untuk mewujudkannya, Trump memilih untuk tidak memberi jawaban pasti dan justru menutup dengan pernyataan ambigu bernada ancaman, “kalian akan mengetahuinya nanti.” Kalimat singkat ini langsung memicu spekulasi luas bahwa tekanan politik dan ekonomi terhadap Eropa akan semakin ditingkatkan dalam waktu dekat.

Trump juga mengulang ancaman pengenaan tarif baru terhadap delapan negara Eropa yang menolak bekerja sama dalam isu Greenland. Nada bicaranya jelas agresif dan tidak menyisakan ruang untuk salah tafsir, bahwa tarif akan digunakan sebagai alat tekanan utama. Strategi ini menghidupkan kembali bayang-bayang perang dagang antara Amerika Serikat dan Eropa, sesuatu yang selama ini menjadi mimpi buruk bagi pasar keuangan global karena berpotensi mengganggu rantai pasok, menekan pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan volatilitas di pasar saham serta mata uang.

Di luar isu Greenland, Trump juga menyinggung NATO dengan cara yang kembali menimbulkan kegelisahan di kalangan sekutu. Ia menekankan soal “beban pertahanan” dan menuntut komitmen yang menurutnya lebih adil dari negara-negara anggota. Dalam satu rangkaian pernyataan, ia bahkan mengaitkannya dengan konflik internasional dan peran lembaga global, menciptakan kesan bahwa Amerika Serikat siap meninjau ulang banyak kesepakatan strategis. Bagi Eropa, ini berarti ketidakpastian tambahan mengenai stabilitas keamanan dan hubungan transatlantik di masa depan.

Gaya penyampaian Trump dalam briefing tersebut terlihat semakin tidak terstruktur dan penuh kontradiksi. Banyak jawaban dibiarkan menggantung, sementara beberapa pernyataan terdengar seperti perpaduan antara ancaman dan ajakan bernegosiasi. Pendekatan yang terkesan “kaos” ini justru memperbesar efeknya di pasar, karena ketidakpastian sering kali lebih meresahkan daripada kebijakan yang tegas. Investor, pemerintah, dan pelaku bisnis global kini harus menghadapi risiko bahwa setiap pernyataan baru dari Gedung Putih bisa memicu reaksi besar di pasar keuangan dan hubungan diplomatik.

Intinya tetap jelas dan keras: Trump tidak bergeser dari ambisinya atas Greenland dan siap menggunakan tarif sebagai senjata politik. Namun cara penyampaian yang tidak konsisten dan penuh tekanan membuat situasi semakin memanas, menempatkan Eropa dan pasar global dalam posisi siaga tinggi. Ketika kebijakan luar negeri dan perdagangan bercampur dengan retorika yang agresif, dampaknya tidak hanya dirasakan di meja diplomasi, tetapi juga langsung tercermin dalam fluktuasi pasar, nilai tukar, dan kepercayaan investor di seluruh dunia.

Sumber : www.newsmaker.id