
Pasar saham Jepang kembali ditutup melemah pada awal pekan ini. Indeks Nikkei 225 turun 0,69% ke level 45.044, sementara Topix Index merosot lebih dalam sebesar 1,74% ke 3.132 pada perdagangan Senin. Pelemahan ini menandai penurunan selama dua sesi berturut-turut, seiring banyak saham Jepang yang diperdagangkan tanpa hak dividen (ex-dividend) serta meningkatnya kehati-hatian investor menjelang serangkaian rilis data ekonomi penting.
Rangkaian data yang ditunggu pasar antara lain survei sentimen bisnis Tankan, tingkat kepercayaan konsumen, produksi industri, penjualan ritel, hingga ringkasan opini terbaru dari Bank of Japan (BOJ). Hasil data tersebut dinilai akan menjadi penentu arah ekonomi Jepang di tengah ketidakpastian global, sekaligus memberi gambaran lebih jelas mengenai langkah kebijakan moneter bank sentral ke depan.
Notulen rapat BOJ bulan Juli menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan tetap membuka opsi untuk pengetatan lebih lanjut, terutama jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi bergerak sesuai perkiraan. Ekspektasi ini menambah tekanan pada saham sektor keuangan dan konsumsi, yang menjadi kelompok paling tertekan di bursa.
Di antara saham unggulan, penurunan signifikan terlihat pada Mitsubishi UFJ (-2,8%), Sumitomo Mitsui (-3,3%), Mizuho Financial (-3,2%), Sony Group (-3,1%), serta Toyota Motor (-3,4%). Tekanan jual pada saham-saham besar tersebut memperkuat tren bearish di pasar, mencerminkan sentimen investor yang cenderung menahan diri sambil menunggu kejelasan data.
Namun, tidak semua saham bergerak negatif. Sony Financial Group justru melonjak 16% setelah resmi dipisahkan (spin-off) dari induknya, Sony Group. Kenaikan tajam ini menjadi sorotan, menunjukkan adanya peluang positif bagi perusahaan keuangan Jepang di tengah dinamika pasar yang penuh tantangan.
Secara keseluruhan, pasar saham Jepang diperkirakan akan tetap berfluktuasi dalam jangka pendek. Investor kini berfokus pada hasil rilis data ekonomi utama yang akan memberikan gambaran lebih jelas terkait arah kebijakan Bank of Japan, inflasi domestik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Negeri Sakura ke depan.
Sumber : newsmaker.id








