Senin, 29 September 2025

Saham Jepang Melemah untuk Sesi Kedua, Investor Waspada Menjelang Rangkaian Data Ekonomi

 

Pasar saham Jepang kembali ditutup melemah pada awal pekan ini. Indeks Nikkei 225 turun 0,69% ke level 45.044, sementara Topix Index merosot lebih dalam sebesar 1,74% ke 3.132 pada perdagangan Senin. Pelemahan ini menandai penurunan selama dua sesi berturut-turut, seiring banyak saham Jepang yang diperdagangkan tanpa hak dividen (ex-dividend) serta meningkatnya kehati-hatian investor menjelang serangkaian rilis data ekonomi penting.

Rangkaian data yang ditunggu pasar antara lain survei sentimen bisnis Tankan, tingkat kepercayaan konsumen, produksi industri, penjualan ritel, hingga ringkasan opini terbaru dari Bank of Japan (BOJ). Hasil data tersebut dinilai akan menjadi penentu arah ekonomi Jepang di tengah ketidakpastian global, sekaligus memberi gambaran lebih jelas mengenai langkah kebijakan moneter bank sentral ke depan.

Notulen rapat BOJ bulan Juli menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan tetap membuka opsi untuk pengetatan lebih lanjut, terutama jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi bergerak sesuai perkiraan. Ekspektasi ini menambah tekanan pada saham sektor keuangan dan konsumsi, yang menjadi kelompok paling tertekan di bursa.

Di antara saham unggulan, penurunan signifikan terlihat pada Mitsubishi UFJ (-2,8%), Sumitomo Mitsui (-3,3%), Mizuho Financial (-3,2%), Sony Group (-3,1%), serta Toyota Motor (-3,4%). Tekanan jual pada saham-saham besar tersebut memperkuat tren bearish di pasar, mencerminkan sentimen investor yang cenderung menahan diri sambil menunggu kejelasan data.

Namun, tidak semua saham bergerak negatif. Sony Financial Group justru melonjak 16% setelah resmi dipisahkan (spin-off) dari induknya, Sony Group. Kenaikan tajam ini menjadi sorotan, menunjukkan adanya peluang positif bagi perusahaan keuangan Jepang di tengah dinamika pasar yang penuh tantangan.

Secara keseluruhan, pasar saham Jepang diperkirakan akan tetap berfluktuasi dalam jangka pendek. Investor kini berfokus pada hasil rilis data ekonomi utama yang akan memberikan gambaran lebih jelas terkait arah kebijakan Bank of Japan, inflasi domestik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Negeri Sakura ke depan.

Sumber : newsmaker.id 

Kamis, 25 September 2025

Emas Stabil di Sesi Eropa Menanti Data Ekonomi AS


Harga emas bergerak stabil pada Kamis, sedikit terdorong oleh pelemahan dolar AS sebesar 0,1% yang membuat emas berbasis dolar lebih terjangkau bagi pembeli internasional. Pada pukul 03:47 GMT, harga spot emas tercatat di $3.737,01 per ons, sementara kontrak berjangka Desember tidak berubah di $3.767,90. Dari sisi kebijakan, Mary Daly dari The Fed San Francisco menyatakan dukungannya terhadap pemangkasan suku bunga pekan lalu dan menegaskan masih ada ruang untuk penurunan lebih lanjut.

Secara teknikal, analis Ilya Spivak menilai reli emas mencerminkan ekspektasi bahwa The Fed bersedia membiarkan ekonomi AS “panas” sambil kembali memfokuskan perhatian pada pasar tenaga kerja. Level support awal diperkirakan berada di $3.700, kemudian $3.600. Jika harga berhasil menembus resistensi di sekitar $3.790, target berikutnya berada pada kisaran $3.870–$3.875, bahkan berpotensi menuju $4.000.

Fokus pasar kini tertuju pada rilis PCE (Personal Consumption Expenditure Price Index) pada Jumat, indikator inflasi favorit The Fed, yang diperkirakan tumbuh +0,3% bulanan dan +2,7% tahunan. Beberapa pelaku pasar meyakini dampaknya terhadap emas akan terbatas kecuali angka inflasi jauh melampaui perkiraan. Sementara itu, klaim pengangguran mingguan AS yang akan diumumkan Kamis malam WIB dipandang sebagai sinyal terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja.

Secara makroekonomi, pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, masing-masing pada Oktober dan Desember. Emas, sebagai aset safe haven yang sensitif terhadap suku bunga, sempat mencatat rekor baru di $3.790,82 pada Selasa.

Di antara logam mulia lainnya, perak naik 0,1% menjadi $43,97 per ons, platinum menguat 0,4% menjadi $1.477,94, dan palladium bertambah 0,2% menjadi $1.211,84.

Poin Penting:

  • Emas stabil: spot $3.737, kontrak Desember $3.768, indeks dolar melemah 0,1%.

  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap ada; PCE dan klaim pengangguran menjadi katalis utama.

  • Level teknikal: support $3.700/$3.600; resistensi $3.790 – $3.870–$3.875 – $4.000.

     

Selasa, 23 September 2025

Wall Street Cetak Rekor, Apa Dampaknya bagi Asia?

 


Bursa Asia diperkirakan dibuka dengan kenaikan tipis pada Selasa, mengikuti reli di Wall Street yang kembali menguat berkat optimisme terhadap saham teknologi raksasa. Indeks berjangka Australia dan Korea Selatan menunjukkan potensi penguatan, sementara Hong Kong diperkirakan bergerak datar akibat dampak topan terkuat sejak 2018. Aktivitas perdagangan di Asia juga relatif tenang karena pasar obligasi AS tutup seiring hari libur nasional di Jepang.

Rekor Baru di Wall Street Berkat Saham Teknologi
Indeks S&P 500 mencatat rekor ke-28 tahun ini setelah saham Nvidia melonjak sekitar 4%. Kenaikan tersebut dipicu oleh komitmen Nvidia untuk menggelontorkan investasi hingga USD 100 miliar ke OpenAI, langkah yang semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin industri kecerdasan buatan. Reli saham teknologi mendorong indeks saham AS menguat selama tiga pekan berturut-turut, didukung oleh sentimen positif dari pemangkasan suku bunga pertama The Fed pada tahun ini. Meski demikian, sebagian analis mengingatkan bahwa euforia ini perlu diimbangi dengan kewaspadaan, mengingat kapitalisasi pasar telah bertambah sekitar USD 15 triliun sejak April.

Pasar Obligasi dan Inflasi AS Jadi Sorotan
Di sisi obligasi, pergerakan relatif tenang dengan imbal hasil AS sedikit lebih tinggi menjelang lelang Treasury serta rilis data inflasi penting. Indeks PCE inti—ukuran inflasi favorit The Fed—diperkirakan tumbuh lebih lambat pada Agustus. Jika benar, kondisi ini memberi ruang lebih bagi bank sentral untuk mengalihkan fokus ke pelemahan pasar tenaga kerja. Sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan memberikan pandangan minggu ini, termasuk Ketua Jerome Powell, sementara Gubernur Stephen Miran menyerukan pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.

Dampak ke Asia-Pasifik
Perhatian di Asia-Pasifik juga tertuju pada Selandia Baru yang akan menunjuk gubernur bank sentral baru, seorang perempuan sekaligus warga asing pertama yang menduduki posisi tersebut. Keputusan ini menandai langkah bersejarah bagi kebijakan moneter negara tersebut. Di sisi lain, Hong Kong bersiap menghadapi super topan Ragasa yang berpotensi menunda debut perdagangan IPO Zijin Gold International, salah satu penawaran umum perdana terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Kesimpulan
Kenaikan di Wall Street memberi sentimen positif bagi pasar Asia, terutama bagi indeks berjangka di Australia dan Korea Selatan. Namun, faktor eksternal seperti cuaca ekstrem di Hong Kong, arah kebijakan The Fed, serta pergantian kepemimpinan bank sentral Selandia Baru menjadi variabel penting yang memengaruhi dinamika perdagangan kawasan. Investor Asia dihadapkan pada kombinasi peluang dari reli global sekaligus tantangan dari faktor domestik dan geopolitik.

Jumat, 19 September 2025

Poundsterling Tertekan Defisit yang Membengkak

 

Poundsterling Inggris melemah ke level US$1,35, terendah dalam dua pekan terakhir, setelah data pinjaman pemerintah menunjukkan hasil yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Public sector net borrowing pada Agustus mencapai £18 miliar, tertinggi untuk periode bulan yang sama dalam lima tahun terakhir dan jauh melampaui perkiraan konsensus sebesar £12,7 miliar.

Tekanan semakin besar karena sejak awal tahun fiskal, total pinjaman pemerintah telah mencapai £83,8 miliar, atau £11,4 miliar lebih tinggi dibanding proyeksi Office for Budget Responsibility (OBR) pada Maret. Angka ini diperburuk oleh revisi naik sebesar £5,9 miliar untuk bulan-bulan sebelumnya. Data tersebut menambah beban menjelang penyusunan anggaran musim gugur, di tengah kekhawatiran global mengenai lonjakan utang yang baru-baru ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun ke rekor tertinggi.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga di level 4% dengan hasil voting 7–2, serta memperlambat laju quantitative tightening (QT) menjadi £70 miliar. Nada hati-hati tetap dipertahankan, meski pasar mulai sedikit meningkatkan ekspektasi pelonggaran jangka panjang. Namun, mayoritas investor memilih menunggu kepastian fiskal sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.

Sementara itu, dari Amerika Serikat, Federal Reserve memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dan memberi sinyal tambahan pemangkasan sebesar 50 basis poin hingga akhir tahun. Meski demikian, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan langkah tersebut bukan awal dari siklus pelonggaran besar. Pernyataan ini memperkuat dolar AS, yang pada gilirannya menambah tekanan terhadap poundsterling.

Kombinasi defisit fiskal yang membengkak, kebijakan moneter BoE yang penuh kehati-hatian, serta penguatan dolar AS membuat poundsterling berada dalam posisi rapuh. Arah pergerakan GBP/USD ke depan akan sangat ditentukan oleh kebijakan fiskal pemerintah Inggris pada musim gugur dan sinyal lanjutan dari The Fed.

Rabu, 17 September 2025

Indeks Hang Seng Menguat Dipimpin Saham Teknologi Alibaba


Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka lebih tinggi pada 17 September, menguat 115 poin atau 0,43% hingga mencapai level 26.554. Kenaikan ini turut diikuti oleh China Enterprises Index yang menambah 48 poin (0,51%) menjadi 9.434, sementara Hang Seng Tech Index melompat 55 poin (0,91%) dan ditutup di 6.133. Pergerakan positif ini menegaskan dominasi saham teknologi sebagai pendorong utama pasar pada awal perdagangan.

Sektor teknologi menjadi pusat perhatian dengan reli yang dipimpin oleh Alibaba Group yang melonjak 2,7%. Lonjakan ini memperlihatkan kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan e-commerce Tiongkok yang semakin solid. JD.com juga mencatat kenaikan kuat sebesar 3%, diikuti Meituan yang naik 0,8% dan Xiaomi Group sebesar 0,7%. Tencent Holdings turut bergerak naik meski terbatas di 0,2%, sedangkan Kuaishou Technology justru terkoreksi tipis 0,1%, menjadi pengecualian di sektor ini.

Di sisi lain, kinerja saham keuangan menunjukkan hasil yang beragam. HSBC Holdings turun 0,6%, berbeda arah dengan AIA Group yang naik 0,4%. Sementara itu, Ping An Insurance dan Hong Kong Exchanges and Clearing masing-masing menguat 0,2%, mencerminkan adanya ketidakseragaman pandangan investor terhadap stabilitas keuangan dan prospek makroekonomi.

Kuatnya pergerakan saham teknologi menjadi sinyal penting mengenai keyakinan pasar pada sektor digital sebagai motor pertumbuhan baru. Optimisme ini terutama tertuju pada pemain besar seperti Alibaba dan JD.com yang dianggap mampu menghadapi tekanan ekonomi global. Sebaliknya, sektor keuangan yang bergerak campuran menunjukkan adanya kehati-hatian investor dalam menyikapi ketidakpastian ekonomi dunia dan kondisi domestik Hong Kong.

Secara keseluruhan, penguatan Indeks Hang Seng mencerminkan sentimen positif yang masih terjaga di pasar modal Asia. Namun, dinamika global serta faktor lokal tetap menjadi penentu arah indeks ke depan. Investor akan terus memantau perkembangan ekonomi internasional serta kebijakan regional untuk membaca tren lanjutan pergerakan pasar.

Senin, 15 September 2025

Dolar Melemah Menjelang Pekan Penentu Bank Sentral, Fokus pada The Fed


Dolar Amerika Serikat melemah pada Senin di awal pekan yang penuh keputusan penting dari bank-bank sentral global, dengan sorotan utama tertuju pada Federal Reserve (The Fed). Sementara itu, euro nyaris tak terpengaruh meski Fitch memangkas peringkat kredit Prancis ke level terendah sepanjang sejarah.

Perdagangan di kawasan Asia relatif sepi karena pasar Jepang libur, membuat pergerakan mata uang cenderung terbatas. Euro tercatat melemah tipis 0,04% ke posisi $1,1729. Penurunan ini muncul setelah pengumuman Fitch pada Jumat lalu yang menurunkan peringkat kredit negara terbesar kedua di zona euro itu dari AA- di tengah krisis politik dan lonjakan utang. Namun, investor sebagian besar tampak mengabaikan dampak downgrade tersebut.

Pekan ini, perhatian pasar global akan tertuju pada serangkaian keputusan suku bunga dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Kanada, hingga Norwegia. The Fed menjadi pusat perhatian karena diprediksi akan memangkas suku bunga pada Rabu, sebuah langkah yang menekan dolar dalam beberapa waktu terakhir. Indeks dolar terhadap sekeranjang mata uang utama turun 0,08% ke level 97,58 pada Senin.

Poundsterling menguat 0,11% menjadi $1,3565, sedangkan dolar Australia naik 0,23% ke $0,6663, mendekati level tertinggi 10 bulan yang disentuh pada Jumat lalu. Pasar juga menantikan proyeksi "dot plot" dari anggota The Fed serta panduan dari Ketua Jerome Powell terkait arah kebijakan moneter ke depan, termasuk kecepatan dan besarnya potensi pelonggaran lanjutan.

Yen Jepang turut menguat lebih dari 0,1% ke 147,44 per dolar menjelang pertemuan kebijakan Bank of Japan (BOJ) pekan ini. Meskipun BOJ diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga, komentar Gubernur Kazuo Ueda mengenai prospek kebijakan moneter akan menjadi sorotan investor.

Di sisi lain, dolar Selandia Baru naik 0,15% menjadi $0,5964, sementara yuan daratan menguat tipis ke 7,1213 per dolar, terbantu pelemahan greenback. Hal ini terjadi meskipun data ekonomi Tiongkok pada Senin menunjukkan pertumbuhan output pabrik dan penjualan ritel Agustus paling lemah sejak tahun lalu.

Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada pembicaraan perdagangan antara pejabat Amerika Serikat dan Tiongkok di Madrid pada Minggu. Diskusi ini berlangsung di tengah ketegangan dagang, tenggat waktu divestasi untuk aplikasi video pendek TikTok, serta desakan Washington agar sekutunya mengenakan tarif pada impor dari Tiongkok terkait pembelian minyak Rusia.

Pergerakan pasar valuta asing pekan ini diperkirakan akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan bank sentral global, dengan The Fed sebagai penentu utama sentimen investor.

Sumber : newsmaker.id 

Kamis, 11 September 2025

Harga Minyak Melemah Akibat Oversupply dan Permintaan AS yang Lesu

 


Harga minyak dunia pada Kamis pagi bergerak stabil dengan kecenderungan melemah, dipengaruhi oleh kombinasi kekhawatiran terhadap lemahnya permintaan di Amerika Serikat dan meningkatnya risiko kelebihan pasokan global. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina menahan penurunan harga agar tidak lebih dalam.

Pergerakan Harga Minyak Global
Brent crude futures tercatat turun 13 sen atau 0,2% menjadi USD 67,36 per barel pada pukul 07.29 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) crude futures AS melemah 17 sen atau 0,3% ke posisi USD 63,50 per barel. Angka ini terjadi setelah pada sesi sebelumnya harga sempat naik lebih dari USD 1 per kontrak, dipicu oleh serangan Israel terhadap pimpinan Hamas di Qatar dan penguatan pertahanan udara Polandia serta NATO untuk menanggapi dugaan drone Rusia yang memasuki wilayah udara Polandia saat menyerang Ukraina barat.

Faktor Permintaan: Ekonomi AS yang Melemah
Data terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat 3,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 5 September, berbanding terbalik dengan perkiraan pasar yang justru memproyeksikan penurunan sekitar 1 juta barel. Lonjakan stok ini menandakan konsumsi yang lebih lemah dari perkiraan. Selain itu, melambatnya ekonomi AS meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pekan depan, yang mencerminkan tekanan pada sektor energi akibat berkurangnya aktivitas industri dan konsumsi bahan bakar.

Faktor Pasokan: Kebijakan OPEC+ Menambah Tekanan
Di sisi penawaran, OPEC+ memutuskan untuk menaikkan produksi mulai Oktober. Walaupun peningkatan ini lebih kecil dibandingkan bulan-bulan sebelumnya dan tidak sebesar prediksi sebagian analis, keputusan tersebut tetap menambah tekanan pada pasar minyak yang sudah cenderung rapuh. Menurut laporan EIA, tambahan produksi tersebut berpotensi memperbesar persediaan global secara signifikan dan mendorong harga minyak turun dalam beberapa bulan mendatang.

Prospek Pasar Minyak ke Depan
Kombinasi antara pertumbuhan produksi, meningkatnya stok minyak AS, serta lemahnya permintaan domestik menjadi sinyal negatif bagi harga minyak di kuartal mendatang. Namun, faktor geopolitik—terutama konflik di Timur Tengah dan eskalasi perang Rusia-Ukraina—tetap menjadi variabel penting yang bisa menahan penurunan lebih tajam. Secara keseluruhan, harga minyak diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas tinggi seiring tarik-menarik antara sentimen bearish dari sisi fundamental dan sentimen bullish dari risiko geopolitik.

Senin, 08 September 2025

Perak Sedikit Melemah, Masih Bertahan di Zona Tinggi

Pergerakan harga perak (XAG/USD) pada hari ini diperdagangkan di kisaran $40,855, melemah sekitar 0,36%. Koreksi tipis ini terjadi setelah reli kuat pada pekan sebelumnya, sehingga pasar cenderung melakukan konsolidasi sambil menantikan katalis baru. Selama harga tetap bertahan di area $40, sentimen jangka pendek masih dianggap konstruktif.

Dari sisi sentimen, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap menjadi penopang utama dalam jangka menengah. Namun, penguatan sementara dolar AS serta aksi ambil untung menekan pergerakan intraday. Permintaan industri, khususnya dari sektor panel surya dan kendaraan listrik (EV), ikut membatasi penurunan. Sementara itu, arus safe-haven yang mengikuti emas dan imbal hasil obligasi AS juga memberi peran dalam menjaga kestabilan harga.

Secara teknikal, level resistance terdekat terlihat pada rentang $41,20 – $41,50. Jika mampu ditembus dengan jelas, peluang terbuka menuju uji area $42,00. Sebaliknya, support awal berada di $40,50 dan kemudian $40,00. Penurunan di bawah level tersebut meningkatkan risiko koreksi lebih dalam menuju $39,50.

Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada rilis data inflasi AS, komentar pejabat bank sentral, serta data aktivitas manufaktur dan permintaan logam. Dalam konteks strategi, trader dapat mempertimbangkan pendekatan buy on dip di area support, atau buy on breakout di atas $41,50, dengan disiplin menggunakan stop-loss ketat untuk mengelola risiko.

Sumber : newsmaker.id 

 

Rabu, 03 September 2025

Dolar Australia Melemah Tipis Meski Didukung Data PDB yang Lebih Kuat

 


Dolar Australia terpantau stabil di kisaran USD 0,652 pada Rabu, setelah turun 0,5% di sesi sebelumnya. Penguatan dolar AS yang didorong oleh permintaan aset safe haven menahan dampak positif dari rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Australia yang lebih baik dari perkiraan. Dolar AS tetap kokoh seiring ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya ketegangan perdagangan, serta risiko geopolitik yang membuat investor lebih memilih aset berisiko rendah. Kekhawatiran mengenai beban utang yang terus meningkat di berbagai ekonomi besar juga menambah daya tarik terhadap mata uang AS tersebut.

Di sisi domestik, perekonomian Australia mencatat pertumbuhan 0,6% pada kuartal II 2025, melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,5% dan mempercepat laju dari revisi pertumbuhan 0,3% pada kuartal sebelumnya. Hasil ini menandai pertumbuhan selama 15 kuartal berturut-turut, sebuah sinyal bahwa ekonomi tetap tangguh meski menghadapi tantangan eksternal. Secara tahunan, PDB naik 1,8%, menjadi laju tercepat sejak kuartal III 2023. Namun demikian, investor tetap berhati-hati karena pasar memperkirakan lebih dari 80% peluang bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini.

Dari sisi eksternal, dolar Australia yang sering dianggap sebagai mata uang proksi China juga mendapatkan dukungan dari data sektor jasa China yang lebih kuat. Aktivitas jasa di Negeri Tirai Bambu melonjak ke level tertinggi dalam 15 bulan terakhir, menunjukkan permintaan yang tetap tangguh di kawasan Asia-Pasifik. Faktor ini membantu menopang sentimen terhadap Aussie, meskipun pengaruh dominan dolar AS masih membatasi penguatan lebih lanjut.

Secara keseluruhan, pergerakan dolar Australia masih dibayangi tarik-menarik antara fundamental domestik yang positif dengan dominasi dolar AS sebagai aset lindung nilai global. Prospek jangka pendek akan banyak ditentukan oleh arah kebijakan moneter RBA, dinamika ekonomi China, serta sentimen pasar global terhadap risiko geopolitik dan perdagangan.

Senin, 01 September 2025

Saham Hong Kong Menguat, Indeks Hang Seng Naik Lebih dari 400 Poin


Pasar saham Hong Kong memulai bulan September dengan tren positif setelah membukukan kenaikan beruntun selama empat bulan terakhir. Indeks Hang Seng dibuka menguat signifikan, melonjak 430 poin atau sekitar 1,71% hingga mencapai level 25.508 poin. Tidak hanya itu, Hang Seng China Enterprises Index juga naik 136 poin atau 1,52% menjadi 9.084 poin, sementara Indeks Teknologi menambah 117 poin atau 2,07% ke posisi 5.792 poin.

Lonjakan Saham Teknologi Dorong Kinerja Pasar
Sektor teknologi menjadi motor penggerak utama dalam penguatan bursa Hong Kong. Alibaba mencatat lonjakan spektakuler sebesar 14,9% setelah laporan laba perusahaan melampaui ekspektasi pasar, memberikan sentimen positif terhadap sektor teknologi secara keseluruhan. Tencent turut menguat 1,4%, Xiaomi naik 1,6%, JD Group bertambah 2,2%, dan Kuaishou meningkat 1,3%. Namun, tidak semua saham teknologi bergerak positif; Meituan justru melemah 1,1%, menjadi pengecualian di tengah euforia kenaikan.

Sektor Keuangan Relatif Stabil
Di sisi lain, saham sektor keuangan menunjukkan pergerakan yang relatif tenang. HSBC Holdings tidak mengalami perubahan berarti, tetapi AIA Group berhasil naik 1,5%. Saham China Ping An juga mencatat kenaikan 1,2%, sementara Bursa Efek Hong Kong (HKEX) menguat 0,8%. Kestabilan sektor ini memberikan pondasi solid bagi pergerakan indeks secara keseluruhan, meski tidak setajam lonjakan saham teknologi.

Sektor Otomotif Catat Performa Campuran
Saham otomotif Hong Kong memperlihatkan hasil yang beragam. BYD anjlok tajam hingga 8% setelah laporan laba perusahaan tidak sesuai dengan ekspektasi investor. Sebaliknya, Geely Automobile justru mampu bertahan dengan kenaikan 1,4%. Sementara itu, Xpeng Motors harus menanggung pelemahan sebesar 1,4%. Perbedaan kinerja ini menunjukkan bahwa sektor otomotif masih menghadapi tantangan, khususnya terkait persaingan ketat dan fluktuasi permintaan pasar.

Prospek Pasar Saham Hong Kong
Dengan dorongan kuat dari sektor teknologi dan stabilitas di sektor keuangan, pasar saham Hong Kong memiliki potensi untuk melanjutkan momentum positif dalam jangka pendek. Namun, investor tetap perlu mewaspadai fluktuasi pada sektor otomotif serta perkembangan eksternal, termasuk kondisi ekonomi global dan kebijakan moneter Tiongkok, yang sangat memengaruhi arah pasar Hong Kong.

Sumber : newsmaker.id