Kamis, 30 Januari 2020

Suku Bunga The Fed Tetap, Namun Waspada Corona

Suku Bunga The Fed Tetap, Namun Waspada Corona
Foto: Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, Jerome Powell (AP Photo/Jacquelyn Martin)
Rifan Financindo - Bank sentral Amerika Serikat The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu (29/1/2020) waktu AS. Perekonomian negeri Paman Sam yang diperkirakan masih akan tumbuh meski pelan menjadi dasar acuannya.

Federal Open Market Committe (FOMC) tetap mematok suku bunga di rentang 1,5 hingga 1,75%. Sebelumnya, The Fed sudah menurunkan suku bunga tiga kali di tahun 2019 lalu.

Lembaga moneter AS itu mengatakan suku bunga berada pada level yang "tepat". Meski demikian The Fed menegaskan akan tetap memantau situasi yang berlangsung, baik di dalam maupun luar negeri.


Kekhawatiran akan resesi yang merebak di 2019 lalu sepertinya telah memudar. Kesepakatan perdagangan AS dan China yang bersifat parsial awal Januari ini juga meredakan kecemasan pasar.

Belum lagi, pada September 2019, The Fed telah membeli sejumlah Treasury Bills, yang menurut sebagian orang telah menopang pasar saham. Wall Street, indeks S&P misalnya, bahkan naik 10% sejak The Fed membuat pengumuman akan membeli lebih banyak surat utang jangka pendek negara itu.

"Ekonomi pada tingkat moderat dan pasar kerja tetap kuat," ujar The Fed. Meski demikian pengeluaran rumah tangga kini lebih moderat, dari sebelumnya yang digambarkan The Fed kuat.

Sementara itu, wabah virus corona, yang mirip dengan SARS di China membuat The Fed sedikit khawatir. Bahkan wabah mematikan ini juga menimbulkan pertanyaan, soal prospek ekonomi global ke depan.

"Ketidakpastian tentang prospek tetap ada, termasuk ditimbulkan oleh virus corona baru," kata Ketua The Fed Jerome Powell sebagaimana dikutip dari AFP. (sef/sef)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Rabu, 29 Januari 2020

The Fed Bikin Rupiah Belum "Pede" Menguat Lagi

Foto: Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, Jerome Powell (AP Photo/Jacquelyn Martin)
PT RifanNilai tukar rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (29/1/2020) setelah melemah dua hari beruntun.

Begitu perdagangan hari ini dibuka, rupiah menguat 0,11% ke level Rp 13.615/US$. Sayangmnnya level tersebut menjadi yang terkuat bagi Mata Uang Garuda pada hari ini, setelahnya rupiah sempat melemah 0,04% ke Rp 13.635/US$. Rupiah berhasil kembali menguat ke pada pukul 12:00 WIB.

Penyebaran virus corona masih menjadi perhatian pada hari ini. Mengutip CNBC International, jumlah korban meninggal akibat virus corona hingga pagi ini bertambah menjadi 132 orang, dan telah menjangkiti 5.974 orang. Selain itu sebanyak 103 orang dilaporkan sudah sembuh.

The Fed Bikin Rupiah Belum
Foto: Seorang pekerja medis yang mengenakan alat pelindung berjalan di jalan dekat sebuah stasiun kesehatan masyarakat di Wuhan di Provinsi Hubei, China tengah. (Chinatopix via AP)
Jumlah kasus virus corona di China kini melebihi wabah Sindrom Pernapasan Akut Berat (Severe Acute Respiratory Syndrome/SARS) pada 2002-2003 lalu sebanyak 5.327 kasus.

Virus corona pertama kali muncul di kota Wuhan China, dan kini telah menyebar setidaknya ke 16 negara. Kota Wuhan dengan jumlah penduduk mencapai 11 juta jiwa sudah diisolasi oleh pemerintah China.

Jumlah korban meninggal yang bertambah banyak dalam waktu singkat, serta penyebarannya ke berbagai negara tentunya membuat pelaku pasar dibuat semakin cemas, bahkan dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi perekonomian China.

Hasil riset S&P menunjukkan virus corona akan memangkas pertumbuhan ekonomi China sebesar 1,2%.

Ketika perekonomian China memburuk, maka kondisi ekonomi global akan turut menurun karena China merupakan negara dengan nilai ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS.

Berdasarkan kajian Bank Dunia, setiap perlambatan ekonomi China sebesar 1 poin persentase bakal mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,3%.

Hal tersebut memberikan dampak negatif bagi rupiah. Tetapi akhir pekan lalu rupiah menunjukkan masih kebal terhadap isu virus corona, dan baru mengalami tekanan sejak awal pekan ini.

Selain itu, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang akan mengumumkan kebijakan moneter Kamis dini hari WIB membuat rupiah belum "pede" untuk menguat lebih lanjut pada hari ini.

Pada akhir tahun lalu, The Fed menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga di tahun ini, serta membanjiri likuditas di pasar melalui program repurchase agreement (repo) yang menjadi salah satu alasan rupiah membukukan penguatan delapan pekan beruntun.

Program tersebut diluncurkan setelah pasar uang antar bank (PUAB) di AS sedang mengalami pengetatan, bahkan suku bunga overnight mencapai 10%, sebagaimana dilansir nasdaq.com.

Untuk mencegah gejolak finansial, The Fed melakukan operasi moneter dengan repo. Caranya, mereka membeli surat-surat berharga seperti obligasi pemerintah AS jangka pendek (Treasury Bill), efek beragun aset (EBA), dan surat berharga lain dari bank konvensional. Selanjutnya, bank konvensional bisa kembali membeli surat berharga itu beberapa hari atau minggu kemudian, dengan bunga lebih rendah.

The Fed dini hari hampir pasti akan mempertahankan suku bunga acuannya, tetapi pelaku pasar akan melihat bagaimana ketua The Fed, Jerome Powell akan menjelaskan program repo tersebut, dan bagaimana kelanjutannya.

Keberlanjutan program tersebut berpeluang membuat rupiah kembali menguat, sementara jika dihentikan, rupiah berisiko tertekan.
TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/tas)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Selasa, 28 Januari 2020

Korban Virus Corona Capai 100 Jiwa, Bursa Asia 'Kebakaran'

Korban Virus Corona Capai 100 Jiwa, Bursa Asia 'Kebakaran'
Foto: Bursa Jepang (Nikkei). (AP Photo/Eugene Hoshiko)
PT Rifan Financindo Berjangka - Seluruh bursa saham utama kawasan Asia mengawali perdagangan kedua di pekan ini, Selasa (28/1/2020), di zona merah.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Nikkei melemah 0,93%, indeks Straits Times anjlok 2,09%, dan indeks Kospi ambruk 2,4%.

Untuk diketahui, perdagangan di bursa saham China dan Hong Kong masih diliburkan seiring dengan peringatan Tahun Baru China.

Aksi jual menerpa bursa saham Asia seiring dengan meluasnya infeksi virus Corona. Virus Corona sendiri merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala dari paparan virus Corona meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam, seperti dilansir dari CNN International.

Berpusat di China, kasus serangan virus Corona juga dilaporkan telah terjadi di negara-negara lain. Kini, sebanyak 11 negara telah mengonfirmasi terjadinya infeksi serangan virus Corona di wilayah mereka.

China, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, AS, Vietnam, Prancis, Nepal, dan Kanada termasuk ke dalam daftar negara yang sudah melaporkan infeksi virus Corona.

Hingga kini, setidaknya 100 orang di China telah meninggal akibat infeksi virus Corona. Padahal hingga kemarin, Senin (27/1/2020), jumlahnya baru sebanyak 80 orang. Hingga hari Minggu (26/1/2020), jumlahnya baru mencapai 56 orang.

Sebagai informasi, pemerintah China sebelumnya telah resmi memperpanjang libur Tahun Baru China guna meminimalisir penyebaran virus Corona.



Korban Virus Corona Capai 100 Jiwa, Bursa Asia 'Kebakaran' 
Foto: Pencegahan Virus Corona Indonesia. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Terdapat kemungkinan bahwa infeksi virus Corona akan mewabah seperti SARS. Jika ini yang terjadi, perekonomian China bisa kian tertekan. Pasalnya, kini masyarakat China akan merayakan hari raya Tahun Baru China atau yang dikenal dengan istilah Imlek di Indonesia.

Di China, perdagangan di bursa sahamnya akan diliburkan mulai dari tanggal 24 Januari hingga 30 Januari guna memperingati Tahun Baru China.

Selama libur Tahun Baru China, masyarakat China biasanya kembali ke kampung halamannya, sama seperti yang dilakukan masyarakat Indonesia pada hari raya Idul Fitri. Dalam periode tersebut, konsumsi masyarakat China biasanya akan meningkat drastis.

Pemerintah China sendiri memperkirakan akan ada sebanyak tiga miliar perjalanan pada Tahun Baru China kali ini, naik dibandingkan tahun lalu yaitu 2,99 miliar perjalanan. Dari tiga miliar perjalanan tersebut, 2,43 miliar diperkirakan ditempuh dengan mobil, 440 juta dengan kereta api, 79 juta dengan pesawat terbang, dan 45 juta dengan kapal laut.

Pada akhir 2002 hingga tahun 2003 kala wabah SARS merebak di China, laju pertumbuhan ekonominya jelas tertekan. Pada kuartal III-2002, perekonomian China tercatat tumbuh sebesar 9,6% secara tahunan, mengutip data dari Refinitiv. Pada kuartal IV-2002 kala wabah SARS mulai merebak, pertumbuhannya melemah menjadi 9,1% saja.

Pada kuartal I-2003, pertumbuhan ekonomi China berhasil naik hingga 11,1% secara tahunan, namun diikuti oleh penurunan yang tajam pada kuartal berikutnya. Pada kuartal II-2003, perekonomian China hanya mampu tumbuh 9,1% secara tahunan. Pada dua kuartal terakhir di tahun 2003, perekonomian China tumbuh masing-masing sebesar 10% secara tahunan.

Sejauh ini, China merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua di planet bumi, sementara pada tahun 2003 China bahkan tak menempati posisi lima besar. Lantas, dampak dari tekanan terhadap perekonomian China kini akan semakin terasa bagi perekonomian global.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan 

Senin, 27 Januari 2020

Kala Rupiah, Earth's Mightiest Currency, Lemah Gegara Corona

Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS (CNBC Indonesia/Arie Pratama)
PT Rifan Financindo - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah di perdagangan pasar spot pagi ini. Kekhawatiran investor terhadap penyebaran virus Corona yang semakin luas membuat risk appetite menciut.

Pada Senin (27/1/2020), US$ 1 dihargai Rp 13.570 kala pembukaan pasar spot. Rupiah melemah 0,04% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Sepanjang pekan kemarin, rupiah menguat 0,48% di hadapan greenback. Rupiah mampu menguat kala mata uang utama Asia lainnya melemah, seperti yuan China (-1,13%), dolar Hong Kong (-0,06%), won Korea Selatan (-0,75%), dolar Taiwan (-0,31%), rupee India (-0,34%), dolar Singapura (-0,28%), ringgit Malaysia (-0,36%), sampai baht Thailand (-0,56%).

Secara year-to-date, rupiah sudah menguat 2,27% terhadap dolar AS. Ini membuat rupiah tidak cuma mata uang terbaik Asia, tetapi juga terkuat di dunia. Kalau Avengers adalah earth's mightiest heroes, maka rupiah adalah earth's mightiest currency!

 
Refinitiv

Namun gelar tersebut membuat rupiah rentan terserang 'kudeta'. Penguatan rupiah yang begitu tajam membuat investor sudah menangguk untung besar.

Kala situasi sedang tidak pasti, investor yang ingin bermain aman akan memilih untuk mencairkan keuntungan. Rupiah bakal terpapar tekanan jual sehingga nilainya melemah.

Saat ini memang sedang ada momentum yang membuat pasar bermain aman. Ada risiko besar yang sedang menghantui perekonomian dunia. 

Dunia Waspada Corona
Setelah AS-China mencapai damai dagang, AS-Iran sedikit adem, risiko terbaru bagi perekonomian global adalah penyebaran virus Corona. Sejak pekan lalu, pelaku pasar dibuat gusar dengan isu ini.

Penyebaran virus Corona berawal dari kota Wuhan di China. Kini virus tersebut sudah meluas bahkan hingga ke luar negeri.

Per 26 Januari pukul 11:00 GMT, sudah ada 2.051 kasus infeksi virus Corona di Negeri Tirai Bambu dengan korban jiwa mencapai 56 orang. Kondisi darurat ini membuat pemerintah China memperpanjang masa liburan Tahun Baru Imlek yang awalnya berakhir 30 Januari menjadi 2 Februari. Tujuannya adalah untuk mengendalikan penyebaran virus Corona.


Sejatinya libur Imlek membuat penyebaran virus Corona meluas. Sebab saat liburan, aktivitas pergerakan manusia bertambah bahkan sampai ke luar negeri. Ini membuat kasus virus Corona sudah ditemukan di berbagai negara seperti Hong Kong, Thailand, Korea Selatan, Australia, AS, Kanada, sampai Prancis. Semuanya berasal dari turis China asal Wuhan.

Hong Kong sudah mengambil langkah tegas dengan melarang turis dari Provinsi Hubei untuk masuk ke wilayahnya. Wuhan adalah ibu kota provinsi tersebut.

Wajar jika Hong Kong cemas. Pada 2002-2003, saat virus SARS menjadi pandemi global, Hong Kong adalah daerah yang terdampak paling parah.

Ketakutan akibat virus Corona sudah merambah ke pasar keuangan. Jika situasi semakin parah, maka aktivitas ekonomi akan terganggu sehingga prospek pemulihan pasca damai dagang AS-China bakal sulit terwujud.

Akibatnya, pelaku pasar memilih untuk bermain aman. Lebih baik menunggu sampai situasi agak tenang, baru kembali agresif.

Arus modal pun menjauh dari aset-aset berisiko di negara berkembang. Hasilnya jelas, mata uang utama Asia ramai-ramai melemah. Termasuk rupiah.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning pada pukul 08:09 WIB:


TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)
 
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Jumat, 24 Januari 2020

Korban Virus Corona Bertambah, Bikin Bursa Saham Asia Merah

Korban Virus Corona Bertambah, Bikin Bursa Saham Asia Merah
Foto: Ilustrasi Bursa Tokyo (REUTERS/Issei Kato)
Rifan Financindo - Bursa saham mayoritas terkoreksi pada perdagangan Jumat pagi ini karena jumlah kasus virus corona di China daratan naik menjadi lebih dari 800, dengan jumlah kematian meningkat menjadi 25.

Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 0,42% pada awal perdagangan. Demikian pula dengan indeks Nikkei 225 di Jepang jatuh turun 0,12% dan indeks Topix juga turun 0,19%.

Sementara itu, bursa saham di Australia dimana indeks S&P/ ASX 200 naik sekitar 0,3%.

Koreksi di bursa saham terjadi ketika investor terus mengamati situasi seputar virus corona yang menyebar cepat yang pertama kali didiagnosis kurang dari sebulan yang lalu. Jumlah total kasus virus corona di China naik menjadi 830, media pemerintah China melaporkan pada hari Jumat. Setidaknya ada 14 kasus yang diketahui di luar China daratan, di seluruh dunia tercatat sudah 844 terjangkit virus ini.

Pasar utama di seluruh wilayah seperti Cina dan Korea Selatan ditutup pada hari Jumat menjelang Tahun Baru Imlek yang dimulai pada hari Sabtu.

"Ketika orang-orang Cina di seluruh dunia menyambut 'Tahun Tikus', kekhawatiran penularan virus corona telah menyebabkan pasar domestik China dan global secara umum menjadi gelisah," kata Venkateswaran Lavanya, seorang ekonom di Mizuho Bank, dalam catatatnya Jumat (24/1/2020).

"Sejauh ini, 25 nyawa diklaim dan sekitar 830 kasus infeksi adalah sumber kekhawatiran; tetapi kepanikan masih prematur karena dampak evolusi dari virus korona masih harus dilihat."

Dari bursa Wall Street, saham ditutup sedikit berubah karena investor menimbang dampak dari wabah koronavirus yang sedang berlangsung. S&P 500 adalah 0,1% lebih tinggi pada 3.325,54 sementara Nasdaq Composite naik 0,2% ke rekor penutupan tertinggi di 9402,48. Dow Jones Industrial Average, bagaimanapun, turun 26,18 poin menjadi 29.160,09.

Pergerakan di Amerika Serikat terjadi setelah WHO mengatakan "agak terlalu dini untuk menganggap acara ini adalah darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional." (hps/hps)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Kamis, 23 Januari 2020

Gara-gara Virus Corona, Bursa Saham Asia Berguguran

Gara-gara Virus Corona, Bursa Saham Asia Berguguran
Foto: Pria melihat papan kutipan saham di luar broker di Tokyo, Jepang, 5 Desember 2018. REUTERS / Issei Kato
PT Rifan - Seluruh bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan keempat di pekan ini, Kamis (23/1/2020), di zona merah.

Pada penutupan perdagangan, indeks Nikkei turun 0,98%, indeks Shanghai terkoreksi 2,75%, indeks Hang Seng melemah 1,52%, indeks Straits Times terpangkas 0,6%, dan indeks Kospi berkurang 0,93%.

Sentimen negatif bagi bursa saham Benua Kuning datang dari penyebaran virus Corona. Virus Corona sendiri merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala dari paparan virus Corona meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam, seperti dilansir dari CNN International.

Berpusat di China, kasus serangan virus Corona juga dilaporkan telah terjadi di negara-negara lain seperti Korea Selatan, Jepang, Taiwan, hingga Thailand, semuanya melibatkan turis China asal Wuhan.

Kini, infeksi virus Corona telah resmi menyebar ke Makau dan Hong Kong. Lagi-lagi, virus tersebut dibawa oleh orang yang baru saja mengunjungi China.Pada hari Selasa (21/1/2020), US Centers for Disease Control and Prevention mengonfirmasi diagnosis pertama atas infeksi virus Corona di AS.
 
 Kasus ini terjadi di Seattle, di mana pengidapnya adalah seorang pria yang baru saja mengunjungi China.Kemarin (22/1/2020), Komisi Kesehatan Nasional menggelar konferensi pers di Beijing dan menginformasikan bahwa jumlah korban meninggal akibat Virus Corona telah bertambah menjadi sembilan orang.

Per 21 Januari, terdapat 440 kasus infeksi virus Corona yang tersebar di 13 provinsi di China. Sebanyak 1.394 pasien kini berada dalam observasi medis, seperti dilansir dari Bloomberg.

Hingga kini, belum jelas seberapa parah dampak dari infeksi virus Corona, namun akselerasi infeksinya telah menyebabkan kekhawatiran bahwa wabah seperti virus severe acute respiratory syndrome (SARS) yang merebak pada akhir 2002 hingga tahun 2003 di China, akan terulang.

Jika benar virus Corona menjadi wabah seperti SARS, perekonomian China bisa kian tertekan. Pasalnya, sebentar lagi masyarakat China akan merayakan hari raya Tahun Baru China atau yang dikenal dengan istilah Imlek di Indonesia.

Di China, perdagangan di bursa sahamnya akan diliburkan mulai dari tanggal 24 Januari hingga 30 Januari guna memperingati Tahun Baru China.

Selama libur Tahun Baru China, masyarakat China biasanya kembali ke kampung halamannya, sama seperti yang dilakukan masyarakat Indonesia pada hari raya Idul Fitri. Dalam periode tersebut, konsumsi masyarakat China biasanya akan meningkat drastis.

Pemerintah China sendiri memperkirakan akan ada sebanyak tiga miliar perjalanan pada Tahun Baru China kali ini, naik dibandingkan tahun lalu yaitu 2,99 miliar perjalanan. Dari tiga miliar perjalanan tersebut, 2,43 miliar diperkirakan ditempuh dengan mobil, 440 juta dengan kereta api, 79 juta dengan pesawat terbang, dan 45 juta dengan kapal laut.

Pada akhir 2002 hingga tahun 2003 kala wabah SARS merebak di China, laju pertumbuhan ekonominya jelas tertekan. Pada kuartal III-2002, perekonomian China tercatat tumbuh sebesar 9,6% secara tahunan, mengutip data dari Refinitiv. Pada kuartal IV-2002 kala wabah SARS mulai merebak, pertumbuhannya melemah menjadi 9,1% saja.

Pada kuartal I-2003, pertumbuhan ekonomi China berhasil naik hingga 11,1% secara tahunan, namun diikuti oleh penurunan yang tajam pada kuartal berikutnya. Pada kuartal II-2003, perekonomian China hanya mampu tumbuh 9,1% secara tahunan. Pada dua kuartal terakhir di tahun 2003, perekonomian China tumbuh masing-masing sebesar 10% secara tahunan.
TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Rabu, 22 Januari 2020

IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi, Bursa Saham China Melemah

IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi, Bursa Saham China Melemah
Foto: REUTERS/Jason Lee
PT Rifan Financindo Berjangka - Bursa saham China mengawali perdagangan ketiga di pekan ini, Rabu (22/1/2020), di zona merah.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Shanghai jatuh 0,45% ke level 3.038,49, sementara indeks indeks Hang Seng selaku indeks saham acuan di Hong Kong naik 0,47% ke level 28.116,5.

Bursa saham China melemah menyusul sentimen negatif yang datang dari dipangkasnya proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh International Monetary Fund (IMF).

Pada proyeksinya di bulan Oktober, IMF memproyeksikan perekonomian global tumbuh sebesar 3% pada tahun 2019 dan 3,4% pada tahun 2020. Dalam proyeksi terbarunya, angka pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2019 dipangkas menjadi 2,9%, sementara untuk tahun 2020 proyeksinya berada di level 3,3%.

Proyeksi terbaru oleh IMF tersebut dituangkan dalam publikasi bertajuk "World Economic Outlook Update, January 2020: Tentative Stabilization, Sluggish Recovery?" yang dirilis pada hari Senin waktu Indonesia (20/1/2020).

Untuk tahun 2021, proyeksi pertumbuhan ekonomi global dipangkas menjadi 3,4%, dari yang sebelumnya 3,6%.

Dipangkasnya proyeksi pertumbuhan ekonomi global utamanya dipicu oleh proyeksi pertumbuhan yang lebih rendah di India. Pada proyeksi bulan Oktober, pertumbuhan ekonomi India untuk tahun 2020 dan 2021 dipatok masing-masing di level 7% dan 7,4%. Kini, proyeksinya dipangkas masing-masing menjadi 5,8% dan 6,5%.

Terkait dengan China selaku negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua di dunia, proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2021 dipangkas sebesar 0,1 persentase poin, walaupun proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2020 dikerek naik 0,2 persentase poin.

Walaupun proyeksi untuk tahun 2020 dinaikkan, angka pertumbuhan ekonomi China pada tahun ini masih berada di level 6%, yang berarti perekonomian Negeri Panda masih akan tumbuh melambat. Pada tahun 2019, perekonomian China diketahui tumbuh 6,1%.

Melansir CNBC International yang mengutip Reuters, pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan 

Selasa, 21 Januari 2020

Peluang Pemangkasan Bunga Meningkat,Poundsterling Tertekan

Peluang Pemangkasan Bunga Meningkat,Poundsterling Tertekan
Foto: Pounds (REUTERS/Sukree Sukplang)
PT Rifan FinancindoPoundsterling melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (20/1/2020) menyusul semakin menguatnya probabilitas pemangkasan suku bunga bank sentral Inggris (Bank of England/BoE).

Pada pukul 19:52 WIB, poundsterling diperdagangkan di level US$ 1,2991, melemah 0,13% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Reuters melaporkan, berdasarkan data BOEWATCH pelaku pasar saat ini melihat probabilitas sebesar 70% BoE akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 0,5%. BOE akan mengumumkan suku bunga pada 30 Januari nanti.

Tanda-tanda akan adanya pemangkasan suku bunga sudah muncul dalam beberapa pekan terakhir. Gubernur BoE, Mark Carney, yang berbicara perdana tahun ini dalam forum resmi dua pekan lalu mulai memberikan sinyal arah kebijakan moneternya.

Melansir Reuters, saat membuka acara "The Futures of Inflation Targeting Conference" di London Kamis (9/1/2020), Carney dikabarkan menyebut akan ada "respon cepat" BoE jika pelemahan ekonomi Inggris berlangsung terus-menerus. Pernyataan Carney itu menjadi sinyal bahwa BoE kemungkinan memangkas suku bunga untuk merangsang perekonomian.

Setelah pernyataan Carney tersebut, pelaku pasar melihat probabilitas sebesar 14% suku bunga akan dipangkas pada 30 Januari nanti. Hanya dalam waktu dua pekan, probabilitas tersebut kini sudah menjadi 70%.

Kolega-kolega Carney yang juga memberikan sinyal suku bunga akan dipangkas, serta data ekonomi Inggris yang buruk membuat pelaku pasar melihat peluang suku bunga dipangkas semakin besar.

Silvana Tenreyro, salah satu anggota pembuat kebijakan BoE pada Jumat (10/1/2020) lalu mengatakan ia cenderung mendukung pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan jika pertumbuhan ekonomi tidak mengalami peningkatan.

Lalu pada Minggu (12/1/2020), Gertjan Vlieghe, yang juga merupakan anggota pembuat kebijakan moneter BoE menyatakan akan memilih memangkas suku bunga dalam rapat kebijakan moneter bulan ini. Sebagaimana dilansir Reuters, Vlieghe mengatakan akan mengubah keputusannya jika data ekonomi Inggris menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Secara bersamaan, data ekonomi Inggris justru memburuk. Office for National Statistic (ONS) pada Jumat (17/1/2020) pekan lalu melaporkan penjualan ritel pada Desember turun 0,6% month-on-month (MoM), mematahkan hasil polling Reuters yang memprediksi pertumbuhan 0,5%. Dengan demikian, penjualan ritel Inggris stagnan 4 bulan beruntun.

Dua hari sebelumnya, ONS melaporkan inflasi Inggris di bulan Desember tumbuh sebesar 1,3% secara year-on-year (YoY), lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya 1,5%. Kenaikan harga-harga di bulan Desember tersebut juga merupakan yang terendah sejak November 2016.

Inflasi Inggris berada dalam tren menurun sejak November 2017, saat itu inflasi tumbuh 3,1%. Setelahnya inflasi terus menurun hingga jauh ke bawah target bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) sebesar 2%.
TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/pap)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Senin, 20 Januari 2020

Masih Ditopang Data Ekonomi, Bursa Saham China Dibuka Naik

Masih Ditopang Data Ekonomi, Bursa Saham China Dibuka Naik
Foto: Bursa Asia (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Rifan Financindo - Bursa saham China dan Hong Kong kompak mengawali perdagangan pertama di pekan ini, Senin (20/1/2020), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Shanghai naik 0,22% ke level 3.082,11, sementara indeks Hang Seng menguat 0,39% ke level 29.169,12.

Rilis data ekonomi China yang menggembirakan menjadi faktor yang menopang aksi beli di bursa saham China dan Hong Kong.

Sepanjang tiga bulan terakhir tahun 2019, perekonomian China tercatat tumbuh sebesar 6% secara tahunan, sesuai dengan konsensus yang dihimpun oleh Reuters. Untuk keseluruhan tahun 2019, perekonomian Negeri Panda tumbuh sebesar 6,1%, juga sesuai dengan estimasi. Angka pertumbuhan ekonomi China tersebut dirilis menjelang akhir pekan kemarin, Jumat (17/1/2020).

Lantas, pertumbuhan ekonomi China melambat signifikan dari yang sebelumnya 6,6% pada tahun 2018. Melansir CNBC International yang mengutip Reuters, pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990.

Walaupun pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990, nyatanya hal tersebut sudah diekspektasikan oleh pelaku pasar. Seperti yang sudah disebutkan di atas, angka pertumbuhan ekonomi China untuk periode kuartal IV-2019 dan keseluruhan tahun 2019 sesuai dengan konsensus.

Lantas, pelaku pasar pun tak lagi kaget dengan perlambatan perekonomian China yang signifikan. Justru, fakta bahwa perlambatan ekonomi China tidaklah separah yang diekspektasikan menjadi faktor yang membuat pelaku pasar memburu instrumen berisiko seperti saham.

Kedepannya, ada ekspektasi yang besar bahwa perlambatan ekonomi China bisa diredam. Pasalnya, AS dan China kini telah resmi meneken kesepakatan dagang tahap satu yang akan menjadi kunci dalam meredam tekanan terhadap perekonomian China.

Seperti yang diketahui, pada hari Rabu waktu setempat (15/1/2020) AS dan China menandatangani kesepakatan dagang tahap satu di Gedung Putih, AS. Dari pihak AS, penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Donald Trump, sementara pihak China mengirim Wakil Perdana Menteri Liu He.

TIM RISET CNBC INDONESIA(ank/ank)

Jumat, 17 Januari 2020

Investor Lari ke Saham, Emas Antam Turun Rp 720.000/gram

Investor Lari ke Saham, Emas Antam Turun Rp 720.000/gram
Foto : (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
PT Rifan - Harga emas acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun hingga kembali ke bawah level psikologis Rp 720.000 per gram, tepatnya melemah Rp 4.000 (0,45%) menjadi Rp 719.000 per gram dari Rp 723.000/gram kemarin.
Berdasarkan harga Logam Mulia di gerai Butik Emas LM - Pulo Gadung di situs logammulia milik Antam hari ini (17/1/19), harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram melemah menjadi Rp 71,9 juta dari harga kemarin Rp 72,3 juta per batang.
Penurunan harga emas Antam itu mengekor harga emas di pasar spot global yang turun duluan kemarin akibat sentimen positif dari kinerja emiten di pasar saham Wall Street yang memberikan harapan pada prospek ekonomi global ke depannya serta kesepakatan dagang fase I Amerika Serikat (AS)-China yang efeknya baru dirasakan sekarang. Sentimen positif itu berhasil mengangkat indeks di Wall Street hingga rekor lagi tadi pagi.
Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda.
Di sisi lain, harga beli kembali (buyback) emas Antam juga turun Rp 5.000/gram hari ini menjadi Rp 680.000/gram dari Rp 685.000/gram kemarin. Harga itu dapat menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat ingin menjual kembali investasi tersebut.

Terkait dengan harga emas di pasar spot global, kemarin harga logam mulia ini sudah mencapai US$ 1.552,54 per troy ounce (oz), turun 0,22% dari US$ 1.555,93/oz pada hari sebelumnya. Hari ini, harga emas di pasar spot masih naik tipis 0,03% menjadi US$ 1.552,99/oz.

Selain emas Antam biasa, Antam juga menawarkan emas batik dan emas tematik serta menampilkan harga hariannya di situs yang sama.

Di sisi lain, Antam juga menjual emas batangan dengan dasar ukuran mulai 1 gram hingga 500 gram di berbagai gerai yang tersedia di berbagai kota, dari Medan hingga Makassar.

Harga dan ketersediaan emas di tiap gerai bisa berbeda. Harga emas tersebut sudah termasuk PPh 22 0,9%. Masyarakat bisa menyertakan NPWP untuk memperoleh potongan pajak lebih rendah yaitu 0,45%.

Naik-turunnya harga emas ukuran kecil itu biasanya mengindikasikan risiko pada hari kerja sebelumn.

Beberapa faktor yang memengaruhi harga emas adalah nilai tukar rupiah, penawaran-permintaan, permintaan industri emas, isu global, tingkat inflasi, dan tingkat suku bunga.

Penguatan harga emas Antam biasanya mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk memburu emas ritel ketika kondisi tidak kondusif, sehingga mencerminkan fungsi logam mulia sebagai instrumen yang dinilai lebih aman (safe haven) untuk masyarakat di dalam negeri.
TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/irv)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Kamis, 16 Januari 2020

Cihuy! Harga Emas Antam Naik Goceng Usai Deal AS-China

Cihuy! Harga Emas Antam Naik Goceng Usai Deal AS-China
Foto: Karyawan menunjukkan emas batangan yang dijual di Butik Emas, Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (17/9/2018). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
PT Rifan Financindo Berjangka - Harga emas acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik Rp 5.000 (0,7%) menjadi Rp 723.000 per gram pada perdagangan Kamis ini (16/1/2020), dari Rp 718.000/gram Rabu kemarin.Berdasarkan harga Logam Mulia di gerai Butik Emas LM - Pulo Gadung di situs logammulia milik Antam hari ini, harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram menguat menjadi Rp 72,3 juta dari harga kemarin Rp 71,8 juta/batang.
 Naiknya harga emas Antam itu mengekor harga emas di pasar spot global yang naik duluan kemarin akibat sentimen negatif dari damai dagang Amerika Serikat (AS)-China yang tampaknya akan menghasilkan resolusi yang tidak sebaik prediksi pasar. Sentimen itu juga ditambah perkembangan dari berlanjutnya proses pemakzulan Presiden AS Donald Trump. 

Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda.

Di sisi lain, harga beli kembali (buyback) emas Antam juga naik Rp 6.000/gram hari ini menjadi Rp 685.000/gram dari Rp 679.000/gram kemarin.Harga itu dapat menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat ingin menjual kembali investasi tersebut.  

Terkait dengan harga emas di pasar spot global, kemarin harga logam mulia ini sudah mencapai US$ 1.555,93 per troy ounce (oz), naik 0,63% dari US$ 1.546,12/oz pada hari sebelumnya. Hari ini, harga emas di pasar spot masih naik lagi meskipun tipis, yakni sebesar 0,03% menjadi US$ 1.556,4/oz.

Selain emas Antam biasa, Antam juga menawarkan emas batik dan emas tematik serta menampilkan harga hariannya di situs yang sama.Di sisi lain, Antam juga menjual emas batangan dengan dasar ukuran mulai 1 gram hingga 500 gram di berbagai gerai yang tersedia di berbagai kota, dari Medan hingga Makassar.

Harga dan ketersediaan emas di tiap gerai bisa berbeda. Harga emas tersebut sudah termasuk PPh 22 0,9%. Masyarakat bisa menyertakan NPWP untuk memperoleh potongan pajak lebih rendah yaitu 0,45%. Naik-turunnya harga emas ukuran kecil itu biasanya mengindikasikan risiko pada hari kerja sebelumnya.

Beberapa faktor yang memengaruhi harga emas adalah nilai tukar rupiah, penawaran-permintaan, permintaan industri emas, isu global, tingkat inflasi, dan tingkat suku bunga.

Penguatan harga emas Antam biasanya mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk memburu emas ritel ketika kondisi tidak kondusif, sehingga mencerminkan fungsi logam mulia sebagai instrumen yang dinilai lebih aman (safe haven) untuk masyarakat di dalam negeri.
TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/tas)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan 

Rabu, 15 Januari 2020

Hah! AS Sebut Deal Dagang Tak Akan Turunkan Tarif ke China?

Hah! AS Sebut Deal Dagang Tak Akan Turunkan Tarif ke China?
Foto: Infografis/Perang Dagang AS-China/Edward Ricardo
PT Rifan Financindo Berjangka - Kesepakatan dagang Fase I antara Amerika Serikat (AS) dengan China akan ditandatangani pada Rabu waku setempat (15/1/2020). Namun, pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan kesepakatan tidak mencakup pengurangan tarif impor yang diterapkan AS, pada sebagian besar barang China.

"Tidak ada kesepakatan untuk pengurangan tarif di masa depan. Setiap rumor yang bertentangan adalah palsu," kata Departemen Keuangan dan kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) dalam sebuah pernyataan bersama, Selasa (14/1/2020), sebagaimana dilaporkan AFP.

"Tidak ada perjanjian lisan atau tertulis lainnya antara Amerika Serikat dan China tentang masalah ini."

Sebelumnya, Bloomberg melaporkan bahwa kesepakatan itu tidak akan mencakup penghapusan tarif. Media itu mengatakan tarif miliaran dolar dalam barang-barang China akan tetap berlaku sampai setelah pemilihan presiden AS.

Pemilihan presiden sendiri akan berlangsung pada November. Setelahnya, masih simpang siur apakah AS akan menghapus tarif atau tidak. AS dikatakan akan melakukan revisi kembali sejauh mana China mengikuti aturan dalam perjanjian Fase I.

Padahal, dalam artikel sejumlah media Desember 2019 lalu, disebutkan China dan AS menyepakati teks kesepakatan perdagangan Fase I yang mencakup penghapusan tarif barang-barang China secara bertahap. Ini dikatakan Wakil Menteri Perdagangan Wang Shouwen.

Saat AS-China mengerjakan teks kesepakatan Fase I, ini juga sempat disetujui Presiden AS Donald Trump. Ia membatalkan bea masuk baru pernah akan diterapkan 15 Desember 2019 lalu.

Selain itu AS sepakat untuk memotong setengah dari tarif 15% yang diberlakukan pada US$ 120 miliar barang-barang China. Tarif ini pertama kali dikenakan 1 September lalu.

Sementara itu, perwakilan China dikabarkan sudah sampai di AS. Dalam penandatanganan kesepakatan dagang di Washington 15 Januari ini, beberapa negosiator utama, termasuk Menteri Keuangan Steven Mnuchin, petinggi USTR AS Robert Lighthizer, diperkirakan akan hadir.


Sebelumnya, USTR mengatakan isi kesepakatan itu termasuk pembelian produk-produk AS oleh China senilai miliaran dolar. Mulai dari makanan, produk pertanian, dan produk makanan laut. Selain itu, dalam kesepakatan juga ada perjanjian reformasi dalam praktik transfer teknologi paksa China. (sef/sef)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Selasa, 14 Januari 2020

Delegasi China Mendarat di AS, Emas Antam Ambles Rp 11.000/gr

Delegasi China Mendarat di AS, Emas Antam Ambles Rp 11.000/gr
Foto: Ilustrasi Karyawan menunjukkan emas batangan yang dijual di Butik Emas, Sarinah, Jakarta Pusat. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)
Rifan Financindo - Harga emas investasi ritel kepingan acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM/Antam) anjlok Rp 11.000 menjadi Rp 718.000/gram hari ini dari posisi kemarin Rp 729.000/gram. Turunya harga itu senada dengan pelemahan harga emas global yang masih diguyur sentimen positif dari hampir pastinya penandatanganan kesepakatan dagang fase I Amerika Serikat (AS)-China pekan ini.

Kondisi terkini dari perkembangan hubungan AS-China adalah sudah sampainya Wakil Perdana Menteri China Liu He di AS kemarin sore waktu setempat, atau dini hari WIB. Meskipun demikian, masih tetap ada risiko terhadap kelanjutan drama perang dagang ke depannya karena fase I ini bukanlah akhir tetapi baru tahap awal.

Sentimen positif akan baik untuk pasar instrumen investasi berisiko, tetapi dengan kodrat sebagai produk yang dianggap lebih aman (safe haven instrument) maka harga emas akan tertekan justru ketika datang sentimen positif kenpasar keuangan.

Data di situs logam mulia milik Antam hari ini (14/1/20) menunjukkan harga buy back emas Antam di gerai resmi juga amblas Rp 13.000/gram menjadi Rp 679.000/gram dari posisi kemarin Rp 692.000/gram.

Harga itu dapat menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat tersebut ingin menjual kembali investasinya di gerai resmi.

Harga emas Antam itu mengalami koreksi ketika harga emas di pasar spot global turun duluan menjadi US$ 1.548,05 per troy ounce (oz) semalam dari posisi sehari sebelumnya US$ 1.562,03/oz. Hari ini, harga emas masih berlanjut turun lagi ke US$ 1.538,19/oz.

Selain emas Antam biasa, Antam juga menawarkan emas batik dan emas tematik serta menampilkan harga hariannya di situs yang sama.

Di sisi lain, Antam juga menjual emas batangan dengan dasar ukuran mulai 1 gram hingga 500 gram di berbagai gerai yang tersedia di berbagai kota, dari Medan hingga Makassar.

Harga dan ketersediaan emas di tiap gerai bisa berbeda. Harga emas tersebut sudah termasuk PPh 22 0,9%. Masyarakat bisa menyertakan NPWP untuk memperoleh potongan pajak lebih rendah yaitu 0,45%.

Naik-turunnya harga emas ukuran kecil itu biasanya mengindikasikan risiko pada hari kerja sebelumnya.

Beberapa faktor yang memengaruhi harga emas adalah nilai tukar rupiah, penawaran-permintaan, permintaan industri emas, isu global, tingkat inflasi, dan tingkat suku bunga.

Penguatan harga emas Antam biasanya mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk memburu emas ritel ketika kondisi tidak kondusif, sehingga mencerminkan fungsi logam mulia sebagai instrumen yang dinilai lebih aman (safe haven) untuk masyarakat di dalam negeri.
TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/hps)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Senin, 13 Januari 2020

Rupiah Kian Tak Terbendung, 3 Dolar Dibuat Babak Belur

Rupiah Kian Tak Terbendung, 3 Dolar Dibuat Babak Belur
Foto: detik.com
PT RifanRupiah kembali unjuk keperkasaan pada perdagangan Senin (13/1/2020), penguatannya kian tak terbendung melawan tiga dolar sekaligus.

Melawan dolar Amerika Serikat (AS), pada pukul 9:00 WIB, rupiah menguat 0,47% ke level Rp 13.690/US$, dan berada di level terkuat sejak Februari 2018. Dolar AS benar-benar dibuat babak belur, sebelum hari ini Sang Garuda sudah menguat 6 pekan beruntun. Pada periode tersebut, rupiah membukukan penguatan 2,45%.

Dolar Singapura juga kembali menjadi korban rupiah, hanya satu jam setelah pasar dalam negeri dibuka, dolar Singapura langsung melemah 0,31% ke level Rp 10.165,47/SG$, posisi tersebut merupakan yang terlemah dalam tiga bulan terakhir.

Di waktu yang sama, dolar Australia juga tertekan 0,21% di level Rp 9.468,07/AU$, yang merupakan level terlemah sejak Februari 2016, nyaris empat tahun terakhir.

Membaiknya sentimen pelaku pasar membuat rupiah terus mendapat suntikan tenaga untuk menguat. Jika pekan lalu meredanya risiko perang antara AS vs Iran yang menaikkan minat terhadap risiko (risk appetite) pelaku pasar, di pekan ini berakhirnya perang dagang AS vs China yang menjadi headline utama.

Rabu (15/1/2020) AS dan China rencananya akan menandatangani kesepakatan dagang fase I. Seluruh dunia menanti hal tersebut, perang dagang kedua negara yang sudah berlangsung sejak pertengahan 2018 akhirnya selesai, atau setidaknya risiko tereskalasi kembali mengecil.

Perang dagang kedua negara telah membuat perekonomian global melambat. Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) pada pertengahan Oktober lalu memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3% di tahun 2019, dibandingkan proyeksi yang diberikan pada bulan Juli sebesar 3,2%. Proyeksi tersebut merupakan yang terendah dalam satu dekade terakhir.

Dalam kesepakatan dagang fase I, Presiden Trump mengatakan bahwa bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar nantinya akan dipangkas menjadi 7,5% saja sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu.

Sementara dari pihak China, Trump menyebut bahwa China akan segera memulai pembelian produk agrikultur asal AS yang jika ditotal akan mencapai US$ 50 miliar.

Ketika perang dagang AS-China tidak lagi tereskalasi, laju pertumbuhan ekonomi global diharapkan akan lebih terakselerasi. Dalam kondisi tersebut sentimen pelaku pasar akan membuncah, dan masuk ke aset-aset berisiko dengan imbal hasil tinggi, rupiah pun perkasa kembali.

TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/tas)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Jumat, 10 Januari 2020

Lama Tak Dapat "Panggung", BoE Bikin Poundsterling Merosot

Lama Tak Dapat
Foto: Ilustrasi Poundsterling (REUTERS/ Benoit Tessier)
PT Rifan Financindo BerjangkaBank sentral Inggris (Bank of England/BoE) tidak mendapat "panggung" di pasar finansial global. Di saat bank sentral utama dunia lain menjadi perhatian pelaku pasar dengan pelonggaran kebijakan moneter.

BoE lebih dari satu tahun tidak merubah kebijakannya, bahkan panduan kebijakan moneter juga tidak ada perubahan yang signifikan.

Namun tahun ini, BoE berpeluang mendapat "panggung" lebih banyak mengingat Inggris akan keluar dari Uni Eropa (Brexit), kemungkinan besar 31 Januari nanti, dengan masa transisi hingga akhir 2020.

Respon ekonomi Inggris terhadap setelah keluar dari Uni Eropa akan mempengaruhi kebijakan BoE. Gubernur BoE, Mark Carney, yang berbicara perdana di tahun ini dalam forum resmi mulai memberikan sinyal arah kebijakan moneternya.

Melansir Reuters, saat membuka acara "The Futures of Inflation Targeting Conference" di London Kamis (9/1/2020), Carney mengatakan akan ada "respon yang cepat" dari BoE jika pelemahan ekonomi Inggris berlangsung terus-menerus.

Pernyataan Carney tersebut memberikan sinyal BoE kemungkinan memangkas suku bunga untuk merangsang perekonomian. Dampaknya, poundsterling langsung melemah melawan dolar AS. Pada pukul 18:38 WIB, poundsterling diperdagangkan di level US$ 1,3017, merosot 0,65% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Pada bulan Desember dan November lalu terjadinya perbendaan pendapat antar anggota Komite Kebijakan Moneter BoE. Dua dari Sembilan anggota komite meminta suku bunga untuk diturunkan, sementara sisanya termasuk juga Carney memilih tetap mempertahankan suku bunga.

Setelah pernyataan Carney hari ini, pelaku pasar melihat probabilitas sebesar 14% suku bunga akan dipangkas pada 30 Januari nanti, persentase tersebut naik dua kali lipat dibandingkan awal pekan lalu. Sementara, probabilitas pemangkasan di bulan Juni sudah lebih dari 50%, sebagaimana dilansir Reuters.

Perekonomian Inggris mengalami pelambatan di semester II 2019, meski ekonominya berhasil tumbuh 0,4% quarter-on-quarter (QoQ) di kuartal III-2019, dari kuartal sebelumnya yang berkontraksi 0,2%. Inggris pun lepas dari resesi.

Namun jika dilihat secara tahun atau year-on-year (YoY) pertumbuhan di kuartal III-2019 tumbuhan 1,1% menyamai pertumbuhan kuartal I-2018, dan menjadi yang terendah sejak kuartal I-2013.

Beberapa indikator ekonomi juga menunjukkan tren penurunan. Inflasi Inggris di bulan November berada di level 1,5% YoY, menjadi yang terendah dalam dua tahun terakhir. Sementara itu, aktivitas sektor manufaktur sudah berkontraksi dalam delapan bulan berturut-turut.
TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/pap)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Kamis, 09 Januari 2020

Pidato Trump soal Iran Bikin Harga Emas Sempat Anjlok

Pidato Trump soal Iran Bikin Harga Emas Sempat Anjlok
Foto: Demo Mengecam Tindakan AS Terhadap Iran di India (AP Photo/Altaf Qadri)
PT Rifan Financindo - Setelah Rabu kemarin ditutup anjlok, kini harga emas bergerak naik kembali tak mencatatkan kenaikan tinggi seperti sebelum-sebelumnya. Pasar saat ini masih diliputi dengan hawa panas antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Kamis (9/1/2020) harga emas di pasar spot menyentuh level US$ 1.559,99/troy ons naik tipis 0,28% dibanding posisi penutupan perdagangan kemarin. Logam mulia ini kemarin dihargai di level US$ 1.555,71/troy ons atau terkoreksi 1,15% dibanding harga penutupan sehari sebelumnya.

Harga emas sempat turun ketika Trump menegaskan tidak akan menyerang balik Iran setelah pangkalan militer gabungan di Al Asad Irak dihujani belasan rudal oleh Iran. Kondisi sempat memanas memang kala itu.


Pidato Trump Soal Iran Bikin Harga Emas Sempat Anjlok 
Foto: Demo Mengecam Tindakan AS Terhadap Iran di India (AP Photo/Altaf Qadri)


Iran berbalik menyerang sebagai bagian dari aksi balas dendam akibat terbunuhnya pimpinan militer Quds Force Qassem Soleimani. Iran juga mengatakan hal tersebut merupakan tamparan untuk AS.

Dalam serangan tersebut Iran mengklaim ada 80 tentara AS yang tewas. Namun hal tersebut dibantah oleh Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya.

"Tidak ada warga AS yang terluka dalam serangan rudal Iran." begitu kata presiden ke-45 AS itu di Gedung Putih melansir AFP.

Selanjutnya Trump akan mengenakan sanksi ekonomi untuk Iran. Walau tak disampaikan secara detail, tetapi Trump menegaskan sanksi tersebut akan berlaku sampai Iran mengubah pikirannya terutama soal pengembangan nuklir.

"Iran harus meninggalkan ambisi nuklirnya dan mengakhiri dukungannya untuk terorisme." Ujar Trump.

Kabar terbaru menyebutkan bahwa zona hijau di Irak kembali diserang roket. Setidaknya ada dua roket Katyusha yang mendarat di wilayah internasional yang dipimpin oleh AS. Menurut militer Irak tak ada kerusakan yang berarti di wilayah itu. Juru bicara militer AS Kol. Myles B. Caggins III juga menegaskan hal ini.

"Koalisi militer mengkonfirmasi roket kecil menyerang sekitar zona internasional di Baghdad," katanya dari akun twitter @OIRSpox.

Mengutip AFP, serangan terjadi 24 jam setelah Iran meluncurkan rudal balisitik ke pangkalan militer gabungan AS-Irak di Ayn Al -Asad.

Walau pidato Trump membuat ketegangan agak mereda. Namun hawa panas masih terasa, harga emas masih berada di posisi yang tinggi saat ini. Konflik sudah bergulir. Tak ada yang tahu bagaimana skenario akhir dari kisruh ini.
TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/tas)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Rabu, 08 Januari 2020

Iran Punya 13 Skenario Balas Dendam, Emas Menguat Lagi

Iran Punya 13 Skenario Balas Dendam, Emas Menguat Lagi
Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)
Rifan FinancindoHarga emas dunia menguat di perdagangan sesi Amerika Serikat (AS) Selasa (7/1/2020) setelah mengalami pelemahan di sesi Asia.

Pada Senin kemarin, emas sempat melesat lebih dari 2% ke US$ 1582,59/troy ons, level tersebut merupakan yang tertinggi sejak April 2013. Seiring berjalannya waktu, penguatan tersebut terpangkas hingga tersisa 0,93% dan mengakhiri perdagangan awal pekan di level US$ 1.565,85/troy ons.

Jika dilihat dalam tiga hari perdagangan di tahun ini, emas sudah mencatat kenaikan lebih dari 3%. Dan jika dilihat lebih ke belakang lagi, atau sejak 23 Desember, ketika tren kenaikan dimulai, emas sudah melesat nyaris 6%.

Dengan kenaikan tajam dalam waktu singkat, tentunya emas rentan diterpa aksi ambil untung (profit taking) jika tidak ada sentimen tambahan pendongkrak kenaikan harga emas. Kenaikan tinggi bisa memicu koreksi dalam, dan koreksi akibat profit taking tersebut sudah mulai terjadi pada pagi tadi, dan emas sempat melemah 0,69% ke US$ 1.555/troy ons.

Kenaikan harga emas di awal tahun ini dipicu oleh risiko terjadinya perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang membuat permintaan emas sebagai aset aman (safe haven) meningkat.
 
Sepanjang akhir pekan lalu, pelaku pasar dibuat cemas dengan kemungkinan meletusnya perang antara AS dengan Iran. Pada Jumat (3/1/2019) AS membunuh Jenderal Quds Force, pasukan elite Iran, Qassim Soleimani lewat serangan pesawat tanpa awak di Bandara Baghdad.

Jenderal Soleimani adalah sosok penting nomor dua di Iran dan dikenal sebagai tokoh revolusioner. Soleimani yang berusia 62 tahun itu juga dikenal sebagai pemimpin Garda Revolusi Iran, yang memikul tanggung jawab atas operasi rahasia Iran di luar negeri.

Sejumlah analis bahkan menilai Soleimani memiliki pengaruh diplomatik yang lebih besar ketimbang Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif. Zarif mengutuk keras tindakan AS, dan menyatakan bahwa Iran tidak takut untuk membalas AS.

"AS bertanggung jawab atas semua konsekuensi dari keputusan jahatnya," tegasnya melalui akun Twitter sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (3/1/2019).

Sementara pada Sabtu (4/1/2020) waktu Washington, Presiden AS Donald Trump, melalui akun Twitter-nya memperingatkan Iran untuk tidak melakukan balasan atas tewasnya Jendral Soleimani. Jika peringatan tersebut tidak dihiraukan, Trump akan menyerang sebanyak 52 wilayah Iran sebagai balasan.

Namun, hingga hari ini Iran yang belum "balas dendam" membuat pelaku pasar lebih tenang, sentimen sedikit membaik, dan kembali masuk ke aset berisiko yang berimbal hasil tinggi.

Membaiknya sentimen pelaku pasar terlihat dari bursa saham AS (Wall Street) yang berbalik menguat pada perdagangan Senin kemarin, yang berdampak pada terpangkasnya penguatan emas.

Kenaikan Wali Street juga diikuti dengan penguatan bursa saham Asia, dampaknya emas menjadi tertekan pagi tadi, yang juga memicu aksi profit taking. Namun, sore tadi, Iran kembali menebar ancaman yang membuat emas kembali melesat naik.

Sebagaimana dikutip Bloomberg dari Fars News Agency, Kepala Komite Pengamanan Nasional Iran Ali Shamkhani mengatakan Teheran sedang menyiapkan 13 skenario untuk membalas AS. Bahkan, ia mengatakan hal ini bisa menjadi "mimpi buruk bersejarah" bagi AS.

"Bahkan jika skenario terlemah kita disetujui, penerapannya bisa menjadi mimpi buruk bersejarah bagi Amerika," katanya. "Keseluruhan pasukan perlawanan akan membalas."

Akibat ancaman tersebut, pelaku pasar kembali berhati-hati, dan emas kembali menjadi target investasi, dan berbalik menguat 0,31% ke US$ 1.570,71/troy ons. Meski demikian menjelang dibukanya perdagangan sesi AS, emas memangkas penguatannya hingga tersisa 0,03% saja atau nyaris stagnan di level US$ 1.566,34/troy ons pada pukul 20:15 WIB.

TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/pap)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Selasa, 07 Januari 2020

2 Hari Dihajar Perang Teluk, Bursa Shanghai Kini Hijau

2 Hari Dihajar Perang Teluk, Bursa Shanghai Kini Hijau
Foto: Reuters
PT Rifan - Bursa saham China dan Hong Kong mengawali perdagangan kedua di pekan ini, Selasa (7/1/2020), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Shanghai naik 0,07% ke level 3.085,49, sementara indeks Hang Seng menguat 0,45% ke level 28.352,68.

Bursa saham China menghijau pasca sudah terkoreksi selama dua hari beruntun. Senada dengan bursa saham China, bursa saham Hong kong juga sudah terkoreksi selama dua hari beruntun.
Pelaku pasar saham China dan Hong Kong terus memantau kejelasan penandatanganan kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China.

Seperti yang diketahui, belum lama ini AS dan China mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mencapai kesepakatan dagang tahap satu.

Dengan adanya kesepakatan dagang tahap satu tersebut, Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana untuk mengenakan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China pada tanggal 15 Desember. Untuk diketahui, nilai produk impor asal China yang akan terdampak oleh kebijakan ini sejatinya mencapai US$ 160 miliar.

Tak sampai di situ, Trump mengatakan bahwa bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar nantinya akan dipangkas menjadi 7,5% saja sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu. Di sisi lain, China membatalkan rencana untuk mengenakan bea masuk balasan yang disiapkan guna membalas bea masuk dari AS pada tanggal 15 Desember.

Masih sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu, China akan meningkatkan pembelian produk agrikultur asal AS secara signifikan. Trump menyebut bahwa China akan segera memulai pembelian produk agrikultur asal AS yang jika ditotal akan mencapai US$ 50 miliar.

Lebih lanjut, kesepakatan dagang tahap satu AS-China juga mengatur mengenai komplain dari AS terkait pencurian hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam.

Menjelang tahun baru kemarin, Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan dagang tahap satu dengan China akan diteken di Gedung Putih pada tanggal 15 Januari.

Hal tersebut diumumkan oleh Trump melalui akun Twitter pribadinya, @realDonaldTrump. Menurut Trump, pejabat tingkat tinggi dari China akan menghadiri penandatanganan kesepakatan dagang tahap satu.

Kemudian, Trump juga mengungkapkan bahwa nantinya dirinya akan bertandang ke Beijing guna memulai negosiasi terkait kesepakatan dagang tahap dua.

Pada pukul 14:00 WIB, data cadangan devisa China periode Desember 2019 akan dirilis, disusul rilis data cadangan devisa Hong Kong periode yang sama pada pukul 15:30 WIB.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Senin, 06 Januari 2020

Duh! AS-Iran Semakin Panas, Bursa Saham Asia Berguguran

Duh! AS-Iran Semakin Panas, Bursa Saham Asia Berguguran
Foto: Bursa China (Reuters/Aly Song)
PT Rifan Financindo Berjangka - Bursa saham utama kawasan Asia mengawali perdagangan pertama di pekan ini, Senin (6/1/2020), di zona merah.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Nikkei turun 1,42%, indeks Shanghai melemah 0,42%, indeks Hang Seng jatuh 0,44%, indeks Straits Times terkoreksi 0,54%, dan indeks Kospi berkurang 0,99%.

Semakin memanasnya tensi geopolitik antara AS dengan Iran menjadi faktor yang memantik aksi jual di bursa saham Benua Kuning.

Pada Jumat pagi waktu Indonesia (3/1/2020), CNBC International melaporkan bahwa AS telah menembak mati petinggi pasukan militer Iran. Eskalasi tersebut menandai semakin terpecahnya AS dengan Iran.

Mengutip CNBC International, Jenderal Qassim Soleimani yang merupakan pemimpin dari Quds Force selaku satuan pasukan khusus yang dimiliki Revolutionary Guards (salah satu bagian dari pasukan bersenjata Iran), dikabarkan tewas dalam serangan udara yang diluncurkan oleh AS di Baghdad.

Selain itu, Abu Mahdi al-Muhandis yang merupakan wakil komandan dari Popular Mobilization Forces selaku kelompok milisi Irak yang dibekingi oleh Iran, juga dilaporkan meninggal dunia. Laporan dari CNBC International tersebut mengutip pemberitaan dari stasiun televisi di Irak, beserta pejabat pemerintahan.]

Melansir Bloomberg, serangan udara yang diluncurkan oleh AS terjadi di dekat bandara internasional Baghdad.

Memasuki siang hari waktu Indonesia, Pentagon mengonfirmasi tewasnya Soleimani. Pentagon mengonfirmasi bahwa Soleimani tewas dalam sebuah serangan yang diluncurkan AS menggunakan drone

"Atas arahan Presiden, militer AS telah mengambil tindakan defensif yang diperlukan untuk melindungi personil AS di luar negeri dengan membunuh Qasem Soleimani," tulis Pentagon dalam keterangan resminya.

"Jenderal Soleimani secara aktif mengembangkan rencana untuk menyerang para diplomat dan personel militer AS di Irak dan seluruh kawasan regional," jelas Pentagon.

Iran pun tak tinggal diam. Dalam pernyataanya, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengutuk keras tindakan AS. Dirinya menyatakan bahwa Iran tidak takut untuk membalas AS.
"AS bertanggung jawab atas semua konsekuensi dari keputusan jahatnya," tegasnya melalui akun Twitter sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (3/1/2019).

Soleimani sendiri telah disanksi oleh AS sejak tahun 2007 dan pada Mei 2019, Washington memutuskan untuk melabeli Revolutionary Guards, beserta dengan seluruh bagiannya, sebagai organisasi teroris, menandai kali pertama label tersebut diberikan terhadap lembaga militer resmi dari sebuah negara.

Serangan udara yang diluncurkan oleh AS di Baghdad merupakan eskalasi teranyar dari hubungan AS-Iran yang sudah panas dalam beberapa waktu terakhir. Pada pekan kemarin, seorang kontraktor asal AS diketahui tewas dalam serangan roket di markas militer Irak di Kirkuk.

Pembunuhan terhadap kontraktor asal AS tersebut kemudian direspons AS dengan menyerang pasukan militer yang dibekingi Iran di Irak. Selepas itu, kedutaan besar AS di Irak diserang oleh Kataeb Hezbollah, kelompok milisi yang dibekingi oleh Iran.

Pada Minggu pagi waktu Indonesia (5/1/2020) atau Sabtu malam waktu AS (4/1/2020), tensi antara AS dengan Iran semakin memanas.

Trump memperingatkan Iran untuk tidak melakukan balasan atas pembunuhan Soleimani yang diotorisasi sendiri oleh dirinya. Kalau sampai peringatan tersebut tak diindahkan, Trump menyatakan akan menyerang sebanyak 52 wilayah sebagai balasan.

Hal tersebut diumumkan oleh Trump melalui serangkaian cuitan di akun Twitter pribadinya, @realDonaldTrump. Menurut Trump, beberapa dari 52 wilayah tersebut merupakan lokasi yang sangat penting bagi Iran. Dipilihnya 52 wilayah tersebut melambangkan jumlah tawanan asal AS yang disandera oleh Iran di masa lalu.

AS-Iran Semakin Panas, Bursa Saham Asia Berguguran
Foto: Anthony Kevin
 
TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Jumat, 03 Januari 2020

Harga Emas Diramal Rp 900.000/gram, Bisakah Jadi Kenyataan?

Foto: Ist
PT Rifan Financindo - Harga emas dunia menguat di perdagangan pertama tahun 2020, Kamis kemarin (2/1/2020) setelah bersinar terang di tahun 2019. Sepanjang tahun lalu harga emas tercatat menguat 18,26%, mengakhiri 2019 di level US$ US$ 1.517,01/troy ons.

Bahkan di awal September lalu, logam mulia ini sempat melesat lebih dari 22% ke level US$ 1.577/troy ons, yang menjadi level tertinggi dalam lebih dari enam tahun terakhir. Memasuki 2020, emas kembali berkilau, pukul 20:22 WIB diperdagangkan di level US$ 1,524,96/troy ons, menguat 0,53% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Emas bahkan masih mampu menguat di saat kesepakatan dagang fase I Amerika Serikat (AS) dengan China tidak lama lagi akan diteken.

Presiden AS, Donald Trump melalui akun Twitternya mengatakan kesepakatan itu akan diteken pada 15 Januari. Melalui akun Twitternya, Trump mengatakan kesepakatan dagang fase I akan diteken pada 15 Januari 2020.

"Saya akan menandatangani perjanjian Fase I yang sangat besar dan komprehensif dengan China pada 15 Januari. Seremoni akan dilakukan di Gedung Putih. Delegasi tingkat tinggi dari China akan datang. Selepas itu, saya akan datang ke Beijing dan memulai pembicaraan Fase II," cuit Trump di Twitter.

Ketika perang dagang berakhir, pertumbuhan ekonomi global diharapkan bisa bangkit di tahun depan, dan aset-aset berisiko serta berimbal hasil tinggi akan menjadi target investasi, aset aman seperti emas yang juga tanpa imbal hasil menjadi tidak menarik lagi.

Di sisi lain, ekspektasi membaiknya pertumbuhan ekonomi global membuat mata uang utama serta emerging market menguat melawan dolar AS, yang merupakan banderol harga emas. Ketika dolar AS melemah, maka harga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, dampaknya permintaan emas berpotensi meningkat.

Tanda-tanda emas masih bersinar dimata para pelaku pasar terlihat dari peningkatan kepemilikan aset di SPDR Gold Trust, ETF berbasis emas terbesar di dunia.

CNBC International
mewartakan, pada Jumat (27/12/2019) kepemilikan di SPDR Gold Trust naik 0,1% ke menjadi 893,25 ton, dan menjadi yang tertinggi sejak 29 November. Sepekan sebelumnya, total kepemilikan aset juga mengalami kenaikan sebesar 0,3%.

Selain itu, data Commodity Futures Trading Commission's (CFTC) menunjukkan volume net buy emas pada pekan lalu sebanyak 286.3000 kontrak, sama dengan pekan sebelumnya. Posisi net buy yang tidak mengalami penurunan di saat bursa saham AS terus mencetak rekor tertinggi memberikan gambaran investor masih percaya emas akan kembali bersinar.

Sejauh ini, selain Goldman Sachs, UBS Group AG dan Citigroup juga memprediksi harga emas akan mencapai US$ 1.600/troy ons di tahun 2020. 

Prediksi Harga Emas Terus Naik
Harga emas investasi ritel kepingan acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM/Antam) stabil pada Rp 713.000/gram pada perdagangan Kamis kemarin (2/1/2020). Stabilnya harga emas Antam itu tidak sejalan dengan koreksi tipis pada Rabu lalu meskipun tren penguatan emas dunia yang masih terjadi.

Penguatan emas dunia dikaitkan dengan tren penguatan musiman, kali ini di awal tahun yang biasa disebut 'January Effect', karena kehawatiran dunia sedang mereda karena adanya kepastian pertemuan damai dagang Amerika Serikat (AS)-China tanggal 15 Januari.

Stabilnya harga emas Antam yang terjadi itu membuat harga instrumen investasi tersebut masih bertahan di atas level psikologis Rp 700.000/gram.

Data di situs logam mulia milik Antam Kamis kemarin (2/1/20) menunjukkan besaran harga emas kepingan 100 gram berada pada Rp 71,3 juta/batang yang sama dengan posisi akhir 2019.

Kamis kemarin, harga beli kembali (buy back) emas Antam di gerai resmi juga stabil di Rp 678.000/gram harga terakhir tahun lalu.

Harga itu dapat menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat tersebut ingin menjual kembali investasinya di gerai resmi.

Sebelumnya, Juli tahun lalu, harga emas diprediksi mencapai Rp 900.000/gram dengan perkiraan harga emas dunia yang diproyeksikan mencapai US$ 2.000 per troy ounce.

Satu troy ounce, mengacu aturan di pasar, setara dengan 31,1 gram. Dengan hitungan itu, besaran US$ 2.000 per troy ounce dikonversi dengan membagi angka tersebut dengan 31,1 gram, hasilnya US$ 64,31 per gram. Dengan asumsi kurs rupiah Rp 14.100 per dolar AS maka prediksi harga emas yakni setara dengan Rp 906.771 per gram.

"Saya meyakini saat ini pasar keuangan sekarang siap hancur seperti tumpukan pasir," ujar David Roche, presiden dan ahli strategi global dari Independent Strategy yang berbasis di London, memprediksi tren kenaikan harga emas dapat berlanjut, dilansir CNBC International pada Senin (8/7/2019).
TIM RISET CNBC INDONESIA (tas)

Kamis, 02 Januari 2020

Optimisme Damai Dagang Angkat Bursa China ke Zona Hijau

Optimisme Damai Dagang Angkat Bursa China ke Zona Hijau
Foto: Bursa Asia (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Rifan Financindo - Bursa saham China dan Hong Kong mengawali perdagangan hari ini, Kamis (2/1/2020), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Shanghai naik 0,53% ke level 3.066,34, sementara indeks Hang Seng menguat 0,21% ke level 28.249,37.

Tingginya ekspektasi bahwa AS dan China akan segera meneken kesepakatan dagang tahap satu menjadi faktor yang memantik aksi beli di bursa saham China dan Hong Kong. Menjelang tahun baru kemarin, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan dagang tahap satu dengan China akan diteken di Gedung Putih pada tanggal 15 Januari.

Seperti yang diketahui, belum lama ini AS dan China mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mencapai kesepakatan dagang tahap satu. Dengan adanya kesepakatan dagang tahap satu tersebut, Trump membatalkan rencana untuk mengenakan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China pada tanggal 15 Desember. Untuk diketahui, nilai produk impor asal China yang akan terdampak oleh kebijakan ini sejatinya mencapai US$ 160 miliar.

Tak sampai di situ, Trump mengatakan bahwa bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar nantinya akan dipangkas menjadi 7,5% saja sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu. Di sisi lain, China membatalkan rencana untuk mengenakan bea masuk balasan yang disiapkan guna membalas bea masuk dari AS pada tanggal 15 Desember.

Masih sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu, China akan meningkatkan pembelian produk agrikultur asal AS secara signifikan. Trump menyebut bahwa China akan segera memulai pembelian produk agrikultur asal AS yang jika ditotal akan mencapai US$ 50 miliar.

Lebih lanjut, kesepakatan dagang tahap satu AS-China juga mengatur mengenai komplain dari AS terkait pencurian hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam.

Jika kesepakatan dagang tahap satu benar diteken nantinya, laju perekonomian AS dan China di tahun-tahun mendatang bisa terus dipertahankan di level yang relatif tinggi.

Pada pukul 08:45 WIB, Manufacturing PMI China periode Desember 2019 versi Caixin akan dirilis.

TIM RISET CNBC INDONESIA(ank/ank)