Bursa Asia diperkirakan dibuka dengan kenaikan tipis pada Selasa, mengikuti reli di Wall Street yang kembali menguat berkat optimisme terhadap saham teknologi raksasa. Indeks berjangka Australia dan Korea Selatan menunjukkan potensi penguatan, sementara Hong Kong diperkirakan bergerak datar akibat dampak topan terkuat sejak 2018. Aktivitas perdagangan di Asia juga relatif tenang karena pasar obligasi AS tutup seiring hari libur nasional di Jepang.
Rekor Baru di Wall Street Berkat Saham Teknologi
Indeks S&P 500 mencatat rekor ke-28 tahun ini setelah saham Nvidia melonjak sekitar 4%. Kenaikan tersebut dipicu oleh komitmen Nvidia untuk menggelontorkan investasi hingga USD 100 miliar ke OpenAI, langkah yang semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin industri kecerdasan buatan. Reli saham teknologi mendorong indeks saham AS menguat selama tiga pekan berturut-turut, didukung oleh sentimen positif dari pemangkasan suku bunga pertama The Fed pada tahun ini. Meski demikian, sebagian analis mengingatkan bahwa euforia ini perlu diimbangi dengan kewaspadaan, mengingat kapitalisasi pasar telah bertambah sekitar USD 15 triliun sejak April.
Pasar Obligasi dan Inflasi AS Jadi Sorotan
Di sisi obligasi, pergerakan relatif tenang dengan imbal hasil AS sedikit lebih tinggi menjelang lelang Treasury serta rilis data inflasi penting. Indeks PCE inti—ukuran inflasi favorit The Fed—diperkirakan tumbuh lebih lambat pada Agustus. Jika benar, kondisi ini memberi ruang lebih bagi bank sentral untuk mengalihkan fokus ke pelemahan pasar tenaga kerja. Sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan memberikan pandangan minggu ini, termasuk Ketua Jerome Powell, sementara Gubernur Stephen Miran menyerukan pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.
Dampak ke Asia-Pasifik
Perhatian di Asia-Pasifik juga tertuju pada Selandia Baru yang akan menunjuk gubernur bank sentral baru, seorang perempuan sekaligus warga asing pertama yang menduduki posisi tersebut. Keputusan ini menandai langkah bersejarah bagi kebijakan moneter negara tersebut. Di sisi lain, Hong Kong bersiap menghadapi super topan Ragasa yang berpotensi menunda debut perdagangan IPO Zijin Gold International, salah satu penawaran umum perdana terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Kesimpulan
Kenaikan di Wall Street memberi sentimen positif bagi pasar Asia, terutama bagi indeks berjangka di Australia dan Korea Selatan. Namun, faktor eksternal seperti cuaca ekstrem di Hong Kong, arah kebijakan The Fed, serta pergantian kepemimpinan bank sentral Selandia Baru menjadi variabel penting yang memengaruhi dinamika perdagangan kawasan. Investor Asia dihadapkan pada kombinasi peluang dari reli global sekaligus tantangan dari faktor domestik dan geopolitik.




