Senin, 29 September 2025

Saham Jepang Melemah untuk Sesi Kedua, Investor Waspada Menjelang Rangkaian Data Ekonomi

 

Pasar saham Jepang kembali ditutup melemah pada awal pekan ini. Indeks Nikkei 225 turun 0,69% ke level 45.044, sementara Topix Index merosot lebih dalam sebesar 1,74% ke 3.132 pada perdagangan Senin. Pelemahan ini menandai penurunan selama dua sesi berturut-turut, seiring banyak saham Jepang yang diperdagangkan tanpa hak dividen (ex-dividend) serta meningkatnya kehati-hatian investor menjelang serangkaian rilis data ekonomi penting.

Rangkaian data yang ditunggu pasar antara lain survei sentimen bisnis Tankan, tingkat kepercayaan konsumen, produksi industri, penjualan ritel, hingga ringkasan opini terbaru dari Bank of Japan (BOJ). Hasil data tersebut dinilai akan menjadi penentu arah ekonomi Jepang di tengah ketidakpastian global, sekaligus memberi gambaran lebih jelas mengenai langkah kebijakan moneter bank sentral ke depan.

Notulen rapat BOJ bulan Juli menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan tetap membuka opsi untuk pengetatan lebih lanjut, terutama jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi bergerak sesuai perkiraan. Ekspektasi ini menambah tekanan pada saham sektor keuangan dan konsumsi, yang menjadi kelompok paling tertekan di bursa.

Di antara saham unggulan, penurunan signifikan terlihat pada Mitsubishi UFJ (-2,8%), Sumitomo Mitsui (-3,3%), Mizuho Financial (-3,2%), Sony Group (-3,1%), serta Toyota Motor (-3,4%). Tekanan jual pada saham-saham besar tersebut memperkuat tren bearish di pasar, mencerminkan sentimen investor yang cenderung menahan diri sambil menunggu kejelasan data.

Namun, tidak semua saham bergerak negatif. Sony Financial Group justru melonjak 16% setelah resmi dipisahkan (spin-off) dari induknya, Sony Group. Kenaikan tajam ini menjadi sorotan, menunjukkan adanya peluang positif bagi perusahaan keuangan Jepang di tengah dinamika pasar yang penuh tantangan.

Secara keseluruhan, pasar saham Jepang diperkirakan akan tetap berfluktuasi dalam jangka pendek. Investor kini berfokus pada hasil rilis data ekonomi utama yang akan memberikan gambaran lebih jelas terkait arah kebijakan Bank of Japan, inflasi domestik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Negeri Sakura ke depan.

Sumber : newsmaker.id 

Kamis, 25 September 2025

Emas Stabil di Sesi Eropa Menanti Data Ekonomi AS


Harga emas bergerak stabil pada Kamis, sedikit terdorong oleh pelemahan dolar AS sebesar 0,1% yang membuat emas berbasis dolar lebih terjangkau bagi pembeli internasional. Pada pukul 03:47 GMT, harga spot emas tercatat di $3.737,01 per ons, sementara kontrak berjangka Desember tidak berubah di $3.767,90. Dari sisi kebijakan, Mary Daly dari The Fed San Francisco menyatakan dukungannya terhadap pemangkasan suku bunga pekan lalu dan menegaskan masih ada ruang untuk penurunan lebih lanjut.

Secara teknikal, analis Ilya Spivak menilai reli emas mencerminkan ekspektasi bahwa The Fed bersedia membiarkan ekonomi AS “panas” sambil kembali memfokuskan perhatian pada pasar tenaga kerja. Level support awal diperkirakan berada di $3.700, kemudian $3.600. Jika harga berhasil menembus resistensi di sekitar $3.790, target berikutnya berada pada kisaran $3.870–$3.875, bahkan berpotensi menuju $4.000.

Fokus pasar kini tertuju pada rilis PCE (Personal Consumption Expenditure Price Index) pada Jumat, indikator inflasi favorit The Fed, yang diperkirakan tumbuh +0,3% bulanan dan +2,7% tahunan. Beberapa pelaku pasar meyakini dampaknya terhadap emas akan terbatas kecuali angka inflasi jauh melampaui perkiraan. Sementara itu, klaim pengangguran mingguan AS yang akan diumumkan Kamis malam WIB dipandang sebagai sinyal terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja.

Secara makroekonomi, pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, masing-masing pada Oktober dan Desember. Emas, sebagai aset safe haven yang sensitif terhadap suku bunga, sempat mencatat rekor baru di $3.790,82 pada Selasa.

Di antara logam mulia lainnya, perak naik 0,1% menjadi $43,97 per ons, platinum menguat 0,4% menjadi $1.477,94, dan palladium bertambah 0,2% menjadi $1.211,84.

Poin Penting:

  • Emas stabil: spot $3.737, kontrak Desember $3.768, indeks dolar melemah 0,1%.

  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap ada; PCE dan klaim pengangguran menjadi katalis utama.

  • Level teknikal: support $3.700/$3.600; resistensi $3.790 – $3.870–$3.875 – $4.000.

     

Selasa, 23 September 2025

Wall Street Cetak Rekor, Apa Dampaknya bagi Asia?

 


Bursa Asia diperkirakan dibuka dengan kenaikan tipis pada Selasa, mengikuti reli di Wall Street yang kembali menguat berkat optimisme terhadap saham teknologi raksasa. Indeks berjangka Australia dan Korea Selatan menunjukkan potensi penguatan, sementara Hong Kong diperkirakan bergerak datar akibat dampak topan terkuat sejak 2018. Aktivitas perdagangan di Asia juga relatif tenang karena pasar obligasi AS tutup seiring hari libur nasional di Jepang.

Rekor Baru di Wall Street Berkat Saham Teknologi
Indeks S&P 500 mencatat rekor ke-28 tahun ini setelah saham Nvidia melonjak sekitar 4%. Kenaikan tersebut dipicu oleh komitmen Nvidia untuk menggelontorkan investasi hingga USD 100 miliar ke OpenAI, langkah yang semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin industri kecerdasan buatan. Reli saham teknologi mendorong indeks saham AS menguat selama tiga pekan berturut-turut, didukung oleh sentimen positif dari pemangkasan suku bunga pertama The Fed pada tahun ini. Meski demikian, sebagian analis mengingatkan bahwa euforia ini perlu diimbangi dengan kewaspadaan, mengingat kapitalisasi pasar telah bertambah sekitar USD 15 triliun sejak April.

Pasar Obligasi dan Inflasi AS Jadi Sorotan
Di sisi obligasi, pergerakan relatif tenang dengan imbal hasil AS sedikit lebih tinggi menjelang lelang Treasury serta rilis data inflasi penting. Indeks PCE inti—ukuran inflasi favorit The Fed—diperkirakan tumbuh lebih lambat pada Agustus. Jika benar, kondisi ini memberi ruang lebih bagi bank sentral untuk mengalihkan fokus ke pelemahan pasar tenaga kerja. Sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan memberikan pandangan minggu ini, termasuk Ketua Jerome Powell, sementara Gubernur Stephen Miran menyerukan pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.

Dampak ke Asia-Pasifik
Perhatian di Asia-Pasifik juga tertuju pada Selandia Baru yang akan menunjuk gubernur bank sentral baru, seorang perempuan sekaligus warga asing pertama yang menduduki posisi tersebut. Keputusan ini menandai langkah bersejarah bagi kebijakan moneter negara tersebut. Di sisi lain, Hong Kong bersiap menghadapi super topan Ragasa yang berpotensi menunda debut perdagangan IPO Zijin Gold International, salah satu penawaran umum perdana terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Kesimpulan
Kenaikan di Wall Street memberi sentimen positif bagi pasar Asia, terutama bagi indeks berjangka di Australia dan Korea Selatan. Namun, faktor eksternal seperti cuaca ekstrem di Hong Kong, arah kebijakan The Fed, serta pergantian kepemimpinan bank sentral Selandia Baru menjadi variabel penting yang memengaruhi dinamika perdagangan kawasan. Investor Asia dihadapkan pada kombinasi peluang dari reli global sekaligus tantangan dari faktor domestik dan geopolitik.

Jumat, 19 September 2025

Poundsterling Tertekan Defisit yang Membengkak

 

Poundsterling Inggris melemah ke level US$1,35, terendah dalam dua pekan terakhir, setelah data pinjaman pemerintah menunjukkan hasil yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Public sector net borrowing pada Agustus mencapai £18 miliar, tertinggi untuk periode bulan yang sama dalam lima tahun terakhir dan jauh melampaui perkiraan konsensus sebesar £12,7 miliar.

Tekanan semakin besar karena sejak awal tahun fiskal, total pinjaman pemerintah telah mencapai £83,8 miliar, atau £11,4 miliar lebih tinggi dibanding proyeksi Office for Budget Responsibility (OBR) pada Maret. Angka ini diperburuk oleh revisi naik sebesar £5,9 miliar untuk bulan-bulan sebelumnya. Data tersebut menambah beban menjelang penyusunan anggaran musim gugur, di tengah kekhawatiran global mengenai lonjakan utang yang baru-baru ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun ke rekor tertinggi.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga di level 4% dengan hasil voting 7–2, serta memperlambat laju quantitative tightening (QT) menjadi £70 miliar. Nada hati-hati tetap dipertahankan, meski pasar mulai sedikit meningkatkan ekspektasi pelonggaran jangka panjang. Namun, mayoritas investor memilih menunggu kepastian fiskal sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.

Sementara itu, dari Amerika Serikat, Federal Reserve memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dan memberi sinyal tambahan pemangkasan sebesar 50 basis poin hingga akhir tahun. Meski demikian, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan langkah tersebut bukan awal dari siklus pelonggaran besar. Pernyataan ini memperkuat dolar AS, yang pada gilirannya menambah tekanan terhadap poundsterling.

Kombinasi defisit fiskal yang membengkak, kebijakan moneter BoE yang penuh kehati-hatian, serta penguatan dolar AS membuat poundsterling berada dalam posisi rapuh. Arah pergerakan GBP/USD ke depan akan sangat ditentukan oleh kebijakan fiskal pemerintah Inggris pada musim gugur dan sinyal lanjutan dari The Fed.

Rabu, 17 September 2025

Indeks Hang Seng Menguat Dipimpin Saham Teknologi Alibaba


Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka lebih tinggi pada 17 September, menguat 115 poin atau 0,43% hingga mencapai level 26.554. Kenaikan ini turut diikuti oleh China Enterprises Index yang menambah 48 poin (0,51%) menjadi 9.434, sementara Hang Seng Tech Index melompat 55 poin (0,91%) dan ditutup di 6.133. Pergerakan positif ini menegaskan dominasi saham teknologi sebagai pendorong utama pasar pada awal perdagangan.

Sektor teknologi menjadi pusat perhatian dengan reli yang dipimpin oleh Alibaba Group yang melonjak 2,7%. Lonjakan ini memperlihatkan kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan e-commerce Tiongkok yang semakin solid. JD.com juga mencatat kenaikan kuat sebesar 3%, diikuti Meituan yang naik 0,8% dan Xiaomi Group sebesar 0,7%. Tencent Holdings turut bergerak naik meski terbatas di 0,2%, sedangkan Kuaishou Technology justru terkoreksi tipis 0,1%, menjadi pengecualian di sektor ini.

Di sisi lain, kinerja saham keuangan menunjukkan hasil yang beragam. HSBC Holdings turun 0,6%, berbeda arah dengan AIA Group yang naik 0,4%. Sementara itu, Ping An Insurance dan Hong Kong Exchanges and Clearing masing-masing menguat 0,2%, mencerminkan adanya ketidakseragaman pandangan investor terhadap stabilitas keuangan dan prospek makroekonomi.

Kuatnya pergerakan saham teknologi menjadi sinyal penting mengenai keyakinan pasar pada sektor digital sebagai motor pertumbuhan baru. Optimisme ini terutama tertuju pada pemain besar seperti Alibaba dan JD.com yang dianggap mampu menghadapi tekanan ekonomi global. Sebaliknya, sektor keuangan yang bergerak campuran menunjukkan adanya kehati-hatian investor dalam menyikapi ketidakpastian ekonomi dunia dan kondisi domestik Hong Kong.

Secara keseluruhan, penguatan Indeks Hang Seng mencerminkan sentimen positif yang masih terjaga di pasar modal Asia. Namun, dinamika global serta faktor lokal tetap menjadi penentu arah indeks ke depan. Investor akan terus memantau perkembangan ekonomi internasional serta kebijakan regional untuk membaca tren lanjutan pergerakan pasar.