
Nilai tukar yen Jepang melemah tajam pada sesi Asia Selasa, 27 Januari 2026, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi harian. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kesehatan fiskal Jepang, terutama setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan rencana belanja besar-besaran dan pemotongan pajak yang agresif. Kombinasi kebijakan ekspansif tersebut memunculkan kekhawatiran akan membengkaknya defisit anggaran, sehingga menekan kepercayaan pasar terhadap stabilitas yen. Di saat yang sama, sentimen pasar saham yang cenderung risk-on membuat minat terhadap aset safe haven seperti yen ikut menurun.
Tekanan terhadap yen juga diperparah oleh ketidakpastian politik menjelang pemilu Jepang pada 8 Februari. Pasar keuangan biasanya sangat sensitif terhadap dinamika politik, terutama ketika hasil pemilu berpotensi mengubah arah kebijakan ekonomi dan fiskal. Ketika risiko politik meningkat, pelaku pasar cenderung melakukan penyesuaian posisi, dan dalam konteks ini yen justru menjadi sasaran aksi jual karena investor memandang risiko domestik Jepang lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Meski demikian, ruang pelemahan yen tidak sepenuhnya bebas. Pasar tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi dari otoritas Jepang apabila pergerakan mata uang dianggap terlalu ekstrem. Pemerintah Jepang dan Bank of Japan telah berulang kali menegaskan komitmen mereka untuk menjaga stabilitas nilai tukar, bahkan dengan menekankan koordinasi erat dengan Amerika Serikat dalam isu valuta asing. Sinyal ini menjadi faktor penahan yang membuat spekulan berpikir dua kali sebelum mendorong yen terlalu jauh ke arah pelemahan.
Di sisi lain, dolar Amerika Serikat sendiri berada di bawah tekanan dan bertahan di dekat level terendah multi-bulan. Spekulasi bahwa Federal Reserve akan mengadopsi kebijakan yang lebih longgar, ditambah sentimen “sell America”, membuat daya tarik dolar melemah secara struktural. Kondisi ini menciptakan keseimbangan yang unik pada pasangan USD/JPY, di mana pelemahan yen dibatasi oleh lemahnya dolar, sehingga pergerakan pasangan mata uang ini berpotensi tetap terkonsolidasi dalam kisaran sempit.
Fokus utama pasar kini tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee yang berlangsung selama dua hari dan dimulai hari ini. Hasil rapat tersebut akan menentukan arah kebijakan moneter AS dan sekaligus memberi nada baru bagi pergerakan dolar di pasar global. Dengan latar belakang kekhawatiran fiskal Jepang, potensi intervensi pemerintah, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed, dinamika yen diperkirakan akan tetap sangat volatil, menjadikannya salah satu mata uang paling menarik untuk dipantau dalam beberapa hari ke depan.
Sumber : www.newsmaker.id



