Jumat, 13 Juli 2018

IHSG Berpotensi Berbalik Melemah pada Akhir Pekan | Rifan Financindo

IHSG Berpotensi Berbalik Melemah pada Akhir Pekan 






Rifan Financindo -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi sulit bertahan di zona hijau pada akhir pekan ini, Jumat (13/7), bila dilihat secara teknikal karena sudah mendekati level terkuat.

Analis Artha Sekuritas Dennies Christopher Jordan mengatakan pergerakan IHSG saat ini sudah mendekati level terkuatnya, sehingga berpeluang berbalik melemah.

"Secara teknikal IHSG telah bergerak mendekati resistance kuat moving average 50 sehingga IHSG berpotensi kembali terkoreksi," terang Dennies dalam risetnya.
Memang, IHSG dalam tiga hari berturut-turut telah menguat mendekati level 6.000. Pada perdagangan kemarin saja, IHSG ditutup ke level 5.907.

Menurut Dennies, sentimen negatif dalam beberapa waktu tak hanya terlihat secara teknikal, melainkan isu perang dagang masih menyumbang dampak negatif bagi pergerakan indeks saham dalam negeri.

"Pergerakan IHSG masih dibayangi sentimen perang dagang yang kembali memanas," sambung Dennies.

Maka itu, Dennies belum melihat IHSG bisa kembali ke level 6.000 meski saat ini sudah berada di area sekitar 5.900. Menurutnya, IHSG hanya akan bergerak dalam level support 5.892-5.899 dan resistance 5.923-5.939.

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal Reza Priyambada melihat sudah ada beberapa pelaku pasar yang melakukan aksi ambil untung (profit taking) merespons penguatan IHSG beberapa hari terakhir.

"Tetap waspadai sentimen-sentimen yang membuat IHSG melemah," ucap Reza melalui risetnya.

Sepanjang hari ini, Reza memproyeksi IHSG bergerak dalam rentang support 5.873-5.884 dan resistance 5.915-5.926.

Adapun, pergerakan bursa saham Wall Street sejalan dengan IHSG kemarin. Terbukti, tiga indeks utamanya ditutup menguat tadi malam. Terinci, Dow Jones naik 0,91 persen, S&P500 naik 0,87 persen, dan Nasdaq Composite naik 1,39 persen.

Baca Juga :
Sumber: CNN Indonesia
Akb – rifanfinancindo
 

Kamis, 12 Juli 2018

Harga Minyak Tersungkur Tensi AS-China yang Memanas | PT Rifan Financindo

Harga Minyak Tersungkur Tensi AS-China yang Memanas 
PT Rifan Financindo -- Harga minyak mentah berjangka Brent mengalami kejatuhan terbesar sejak dua tahun terakhir hanya dalam kurun sehari pada perdagangan Rabu (11/7), waktu Amerika Serikat (AS).

Pelemahan dipicu oleh memanasnya tensi perdagangan antara AS dan China yang mulai mengancam permintaan minyak mentah. Selain itu, rencana Libya untuk membuka kembali pelabuhannya menimbulkan ekspektasi terhadap pertumbuhan pasokan.

Dilansir dari Reuters, Kamis (12/7), harga minyak mentah berjangka Brent anjlok sebesar US$5,46 atau 6,9 persen menjadi US$73,40 per barel. Secara persentase, penurunan Brent dalam sehari tersebut merupakan yang terbesar sejak 9 Februari 2016.


Penurunan harga juga dialami oleh harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$3,73 atau lima persen menjadi US$70,38 per barel.

Aksi jual terjadi di pasar terjadi di awal perdagangan setelah Perusahaan Minyak Nasional (NOC), Libya menyatakan akan membuka kembali pelabuhan yang telah ditutup sejak akhir Juni lalu.

"Pokok berita dari Libya menjadi pemicu (penurunan harga) utamanya," ujar Wakil Presiden MObius Risk Group John Saucer.

Aksi jual semakin marak setelah muncul pemberitaan bahwa ketersediaan minyak mentah AS gagal membalikkan sentimen pasar.

Tekanan jual semakin tinggi, seiring tensi perdagangan AS dan China yang menimbulkan kekhawatiran terhadap permintaan minyak global. Cakupan pengenaan tarif impor terhadap US$200 juta produk China menekan harga komoditas sekaligus indeks pasar saham.

"Meningkatnya tensi perdagangan antara AS dan China telah menyulut upaya untuk menghindari risiko pada sesi perdagangan hari ini yang terlihat dari harga minyak," ujar Analis Energi Senior Interfax Energy Abhishek Kumar.

Tekanan terhadap harga minyak mentah juga berasal dari penguatan kurs dolar AS yang didorong oleh laporan inflasi AS mumpuni.

Kondisi tingkat inflasi AS memberikan prospek kenaikan suku bunga AS lebih dari dua kali lagi tahun ini. Penguatan dolar AS bisa melemahkan harga komoditas yang diperdagangkan dengan dolar AS, seperti minyak mentah.

"Jika tarif impor mulai dikenakan maka akan ada dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global dan permintaan," ujar Kepala Strategi Pasar CMC Markets Michael McCarthy.

Sebagai catatan, China merupakan salah satu pembeli utama minyah mentah AS. Diperkirakan, jika tensi perdagangan terus memanas maka minyak mentah AS akan terkena imbas negatif.

Di Libya, NOC menyatakan empat terminal ekspor telah beroperasi kembali setelah kelompok timur menyerahkan kembali pelabuhan. Hal itu mengakhiri berhentinya sebagian besar produksi minyak Libya.

Penutupan pelabuhan pada akhir Juni lalu telah menekan produksi minyak Libya ke level 527 ribu barel per hari (bph) dari sebelumnya 1,28 juta bph pada Februari lalu.

Pemberitaan dari Libya telah meredakan kekhawatiran terhadap terpakainya kapasitas cadangan minyak dunia. Sentimen terhadap kapasitas cadangan dunia telah mendorong reli kenaikan harga minyak.

Sementara itu, prospek pengenaan sanksi AS terhadap ekspor minyak mentah produsen kelima terbesar Iran telah mendongkrak harga minyak selama beberapa minggu terakhir, mendekati level tertingginya dalam tiga setengah tahun terakhir.

Selasa (10/7) lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan bakal mempertimbangkan permintaan beberapa negara untuk diberikan pengecualian dari sanksi yang menghalangi ekspor minyak Iran tersebut.

Sebelumnya, pemerintah AS menyatakan bahwa seluruh negara di dunia harus menghentikan impor minyak dari Iran mulai 4 November 2018 atau berhadapan dengan pembatasan di sektor keuangan AS.

Di AS, pasar mengacuhkan sentimen pendorong harga dari data persediaan minyak mentah AS yang menurun hampir 13 juta barel pada pekan lalu, penurunan terbesar sejak hamir dua tahun terakhir.

Pasokan minyak ke AS juga merosot akibat gangguan pasokan dari Kanada.

"Walaupun ada penurunan persediaan minyak yang sangat besar, pasar berada d bawah tekanan setelah pemilik kilang memproduksi bensin dalam jumlah besar pekan ini dan bersamaan dengan ekspektasi persediaan minyak distilasi," ujar Presiden Lipow Associate Andrew Lipow di Houston.

Baca Juga :
Sumber: CNN Indonesia
Akb – rifanfinancindo
 

Rabu, 11 Juli 2018

Mengekor Bursa Regional, IHSG Dibuka di Zona Merah | Rifanfinancindo

Foto: Rachman Haryanto

Rifanfinancindo - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini dibuka merah. IHSG melemah ke level 5.842,990.

Sementara nilai tukar dolar terhadap rupiah pada pagi ini ada di angka Rp 14.375. Rupiah bergerak di level Rp 14.365 hingga Rp 14.375.

Pada pra pembukaan, IHSG melemah 38,770 poin (0,66%) ke 5.842,990. Indeks LQ45 juga memerah, turun 9,817 poin (1,06%) ke 919,233.

Membuka perdagangan Rabu (11/7/2018), IHSG turun 38,770 poin (0,66%) ke 5.842,990. Indeks LQ45 juga turun 9,817 poin (1,06%) ke 919,233.

Pada pukul 09.03 waktu JATS, IHSG lanjutkan pelemahan sebanyak 55,574 poin (0,92%) ke 5.826,468. Indeks LQ45 turun 13,962 poin (1,55%) ke 919,347.
Sementara itu, indeks utama bursa AS kompak ditutup dalam teritori positif pada perdagangan kemarin (10/07). Indeks Dow Jones berakhir menguat sebesar 0.58% ke level 24.919, S&P terangkat sebesar 0.35% ke level 2793 dan Nasdaq kembali naik sebesar 0.04% ke level 7759.

Penguatan indeks terjadi seiring dengan optimisme pelaku pasar atas pertumbuhan ekonomi global yang dirasa mampu menahan ketegangan perang dagang antara AS dan China. Adapun pada kuartal kedua tahun ini, laporan pendapatan bagi perusahaan AS hampir di semua sektor diperkirakan mampu memberikan pertumbuhan lebih dari 20% hal ini terdorong dari adanya pemotongan pajak.

Sementara bursa regional juga mayoritas bergerak di zona merah pagi ini. Berikut pergerakan bursa Asia pagi ini:

Indeks saham Nikkei turun 343,771 poin (1,55%) ke 21.849,051.

Indeks komposit Shanghai turun 49,410 poin (1,75%) ke 2.778,180.

Indeks Strait Times turun 44,120 poin (1,35%) ke 3.230,580.

Indeks Hang Seng turun 478,729 poin (1,61%) ke 28.129,369.


Baca Juga :
Sumber: Detik
Akb – rifanfinancindo

Selasa, 10 Juli 2018

Harga Emas Antam Turun Rp 2.000/Gram | Rifan Financindo

Foto: Ari Saputra 

Rifan Financindo - Logam mulia atau emas batangan milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hari ini dijual Rp 649.000/gram. Harga ini turun Rp 2.000 dari akhir pekan kemarin.

Sementara harga buyback atau pembelian kembali emas Antam juga turun Rp 2.000 dan dibanderol Rp 579.000/gram. Harga buyback ini berarti, jika Anda ingin menjual emas, maka Antam akan membelinya dengan harga tersebut.

Demikian dikutip detikFinance dari situs perdagangan Logam Mulia Antam, Senin (9/7/2018).


Harga emas batangan tersebut sudah termasuk PPh 22 sebesar 0,9%. Bila ingin mendapatkan potongan pajak lebih rendah, yaitu sebesar 0,45% maka bawa NPWP saat transaksi.

Berikut rincian harga emas Antam hari ini:

Pecahan 1 gram Rp 649.000
Pecahan 5 gram Rp 3.102.000
Pecahan 10 gram Rp 6.154.000
Pecahan 25 gram Rp 15.311.000
Pecahan 50 gram Rp 30.572.000
Pecahan 100 gram Rp 61.094.000
Pecahan 250 gram Rp 152.611.000
Pecahan 500 gram Rp 305.020.000

Baca Juga :
Sumber: Detik
Akb – rifanfinancindo

Senin, 09 Juli 2018

China Tegaskan Perang Dagang Trump Bumerang Bagi AS | PT Rifan Financindo

image_title 

PT Rifan Financindo – Upaya perang dagang yang dilakukan Amerika Serikat terhadap China yang menaikkan tarif tambahan atas barang impor senilai US$34 miliar pada Jumat lalu dinilai dapat merugikan perekonomiannya sendiri.

Dilansir dari Xinhua, Sabtu 7 Juli 2018, perang dagang justru membuat eksportir AS akan mengalami kerugian, karena mereka juga akan kehilangan fasilitas besar yang diberikan China untuk memperluas pasar.

Selain itu, importir asal AS yang selama ini membutuhkan barang dari China ke depan juga akan mengalami kesulitan, terlebih importir harus mencari ke sumber lain yang harganya mungkin telah meningkat.

Bahkan, berdasarkan survei CEO dari 200 perusahaan besar AS menunjukkan bahwa 90 persen eksekutif khawatir biaya yang lebih tinggi akibat dari gesekan perdagangan tersebut.

Ditambah, 95 persen eksekutif dari perusahaan tersebut menganggap potensi kemerosotan dalam ekspor sebagai akibat dari pembalasan mitra dagang asing yang berupa risiko sedang atau signifikan.

Sebelum kebijakan AS dilakukan, data statistik menyebutkan ekspor China ke Amerika Serikat meningkat 5,4 persen pada semester pertama 2018, angka itu lebih lambat 13,9 poin dari periode yang sama tahun lalu.

Asosiasi Pedagangan Internasional China, Li Yong mengatakan keputusan AS untuk melakukan perang dagang telah mengikis kepercayaan para importir, dan dapat menyebabkan kekacauan dalam rantai pasokan global.

Menurut dia, hal itu terlihat dari Wall Street yang telah menyatakan ketakutannya. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1.000 poin dari level tertingginya pada pertengahan Juni, sementara S&P 500 juga turun terutama karena kekhawatiran tentang perang perdagangan mulai terlihat.

Tak hanya itu, OECD pun memperkirakan bila AS naikkan tarif impornya maka akan berdampak ke negara lain dan biaya perdagangan global naik sebesar 10 persen, sementara volume perdagangan turun sebesar 6 persen, serta menyeret ekonomi global turun 1,4 persen.


Baca Juga :
Sumber: Viva
Akb – rifanfinancindo