Poundsterling Inggris melemah ke level US$1,35, terendah dalam dua pekan terakhir, setelah data pinjaman pemerintah menunjukkan hasil yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Public sector net borrowing pada Agustus mencapai £18 miliar, tertinggi untuk periode bulan yang sama dalam lima tahun terakhir dan jauh melampaui perkiraan konsensus sebesar £12,7 miliar.
Tekanan semakin besar karena sejak awal tahun fiskal, total pinjaman pemerintah telah mencapai £83,8 miliar, atau £11,4 miliar lebih tinggi dibanding proyeksi Office for Budget Responsibility (OBR) pada Maret. Angka ini diperburuk oleh revisi naik sebesar £5,9 miliar untuk bulan-bulan sebelumnya. Data tersebut menambah beban menjelang penyusunan anggaran musim gugur, di tengah kekhawatiran global mengenai lonjakan utang yang baru-baru ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun ke rekor tertinggi.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga di level 4% dengan hasil voting 7–2, serta memperlambat laju quantitative tightening (QT) menjadi £70 miliar. Nada hati-hati tetap dipertahankan, meski pasar mulai sedikit meningkatkan ekspektasi pelonggaran jangka panjang. Namun, mayoritas investor memilih menunggu kepastian fiskal sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.
Sementara itu, dari Amerika Serikat, Federal Reserve memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dan memberi sinyal tambahan pemangkasan sebesar 50 basis poin hingga akhir tahun. Meski demikian, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan langkah tersebut bukan awal dari siklus pelonggaran besar. Pernyataan ini memperkuat dolar AS, yang pada gilirannya menambah tekanan terhadap poundsterling.
Kombinasi defisit fiskal yang membengkak, kebijakan moneter BoE yang penuh kehati-hatian, serta penguatan dolar AS membuat poundsterling berada dalam posisi rapuh. Arah pergerakan GBP/USD ke depan akan sangat ditentukan oleh kebijakan fiskal pemerintah Inggris pada musim gugur dan sinyal lanjutan dari The Fed.




