Selasa, 23 September 2025

Wall Street Cetak Rekor, Apa Dampaknya bagi Asia?

 


Bursa Asia diperkirakan dibuka dengan kenaikan tipis pada Selasa, mengikuti reli di Wall Street yang kembali menguat berkat optimisme terhadap saham teknologi raksasa. Indeks berjangka Australia dan Korea Selatan menunjukkan potensi penguatan, sementara Hong Kong diperkirakan bergerak datar akibat dampak topan terkuat sejak 2018. Aktivitas perdagangan di Asia juga relatif tenang karena pasar obligasi AS tutup seiring hari libur nasional di Jepang.

Rekor Baru di Wall Street Berkat Saham Teknologi
Indeks S&P 500 mencatat rekor ke-28 tahun ini setelah saham Nvidia melonjak sekitar 4%. Kenaikan tersebut dipicu oleh komitmen Nvidia untuk menggelontorkan investasi hingga USD 100 miliar ke OpenAI, langkah yang semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin industri kecerdasan buatan. Reli saham teknologi mendorong indeks saham AS menguat selama tiga pekan berturut-turut, didukung oleh sentimen positif dari pemangkasan suku bunga pertama The Fed pada tahun ini. Meski demikian, sebagian analis mengingatkan bahwa euforia ini perlu diimbangi dengan kewaspadaan, mengingat kapitalisasi pasar telah bertambah sekitar USD 15 triliun sejak April.

Pasar Obligasi dan Inflasi AS Jadi Sorotan
Di sisi obligasi, pergerakan relatif tenang dengan imbal hasil AS sedikit lebih tinggi menjelang lelang Treasury serta rilis data inflasi penting. Indeks PCE inti—ukuran inflasi favorit The Fed—diperkirakan tumbuh lebih lambat pada Agustus. Jika benar, kondisi ini memberi ruang lebih bagi bank sentral untuk mengalihkan fokus ke pelemahan pasar tenaga kerja. Sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan memberikan pandangan minggu ini, termasuk Ketua Jerome Powell, sementara Gubernur Stephen Miran menyerukan pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.

Dampak ke Asia-Pasifik
Perhatian di Asia-Pasifik juga tertuju pada Selandia Baru yang akan menunjuk gubernur bank sentral baru, seorang perempuan sekaligus warga asing pertama yang menduduki posisi tersebut. Keputusan ini menandai langkah bersejarah bagi kebijakan moneter negara tersebut. Di sisi lain, Hong Kong bersiap menghadapi super topan Ragasa yang berpotensi menunda debut perdagangan IPO Zijin Gold International, salah satu penawaran umum perdana terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Kesimpulan
Kenaikan di Wall Street memberi sentimen positif bagi pasar Asia, terutama bagi indeks berjangka di Australia dan Korea Selatan. Namun, faktor eksternal seperti cuaca ekstrem di Hong Kong, arah kebijakan The Fed, serta pergantian kepemimpinan bank sentral Selandia Baru menjadi variabel penting yang memengaruhi dinamika perdagangan kawasan. Investor Asia dihadapkan pada kombinasi peluang dari reli global sekaligus tantangan dari faktor domestik dan geopolitik.

Jumat, 19 September 2025

Poundsterling Tertekan Defisit yang Membengkak

 

Poundsterling Inggris melemah ke level US$1,35, terendah dalam dua pekan terakhir, setelah data pinjaman pemerintah menunjukkan hasil yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Public sector net borrowing pada Agustus mencapai £18 miliar, tertinggi untuk periode bulan yang sama dalam lima tahun terakhir dan jauh melampaui perkiraan konsensus sebesar £12,7 miliar.

Tekanan semakin besar karena sejak awal tahun fiskal, total pinjaman pemerintah telah mencapai £83,8 miliar, atau £11,4 miliar lebih tinggi dibanding proyeksi Office for Budget Responsibility (OBR) pada Maret. Angka ini diperburuk oleh revisi naik sebesar £5,9 miliar untuk bulan-bulan sebelumnya. Data tersebut menambah beban menjelang penyusunan anggaran musim gugur, di tengah kekhawatiran global mengenai lonjakan utang yang baru-baru ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun ke rekor tertinggi.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga di level 4% dengan hasil voting 7–2, serta memperlambat laju quantitative tightening (QT) menjadi £70 miliar. Nada hati-hati tetap dipertahankan, meski pasar mulai sedikit meningkatkan ekspektasi pelonggaran jangka panjang. Namun, mayoritas investor memilih menunggu kepastian fiskal sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.

Sementara itu, dari Amerika Serikat, Federal Reserve memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dan memberi sinyal tambahan pemangkasan sebesar 50 basis poin hingga akhir tahun. Meski demikian, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan langkah tersebut bukan awal dari siklus pelonggaran besar. Pernyataan ini memperkuat dolar AS, yang pada gilirannya menambah tekanan terhadap poundsterling.

Kombinasi defisit fiskal yang membengkak, kebijakan moneter BoE yang penuh kehati-hatian, serta penguatan dolar AS membuat poundsterling berada dalam posisi rapuh. Arah pergerakan GBP/USD ke depan akan sangat ditentukan oleh kebijakan fiskal pemerintah Inggris pada musim gugur dan sinyal lanjutan dari The Fed.

Rabu, 17 September 2025

Indeks Hang Seng Menguat Dipimpin Saham Teknologi Alibaba


Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka lebih tinggi pada 17 September, menguat 115 poin atau 0,43% hingga mencapai level 26.554. Kenaikan ini turut diikuti oleh China Enterprises Index yang menambah 48 poin (0,51%) menjadi 9.434, sementara Hang Seng Tech Index melompat 55 poin (0,91%) dan ditutup di 6.133. Pergerakan positif ini menegaskan dominasi saham teknologi sebagai pendorong utama pasar pada awal perdagangan.

Sektor teknologi menjadi pusat perhatian dengan reli yang dipimpin oleh Alibaba Group yang melonjak 2,7%. Lonjakan ini memperlihatkan kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan e-commerce Tiongkok yang semakin solid. JD.com juga mencatat kenaikan kuat sebesar 3%, diikuti Meituan yang naik 0,8% dan Xiaomi Group sebesar 0,7%. Tencent Holdings turut bergerak naik meski terbatas di 0,2%, sedangkan Kuaishou Technology justru terkoreksi tipis 0,1%, menjadi pengecualian di sektor ini.

Di sisi lain, kinerja saham keuangan menunjukkan hasil yang beragam. HSBC Holdings turun 0,6%, berbeda arah dengan AIA Group yang naik 0,4%. Sementara itu, Ping An Insurance dan Hong Kong Exchanges and Clearing masing-masing menguat 0,2%, mencerminkan adanya ketidakseragaman pandangan investor terhadap stabilitas keuangan dan prospek makroekonomi.

Kuatnya pergerakan saham teknologi menjadi sinyal penting mengenai keyakinan pasar pada sektor digital sebagai motor pertumbuhan baru. Optimisme ini terutama tertuju pada pemain besar seperti Alibaba dan JD.com yang dianggap mampu menghadapi tekanan ekonomi global. Sebaliknya, sektor keuangan yang bergerak campuran menunjukkan adanya kehati-hatian investor dalam menyikapi ketidakpastian ekonomi dunia dan kondisi domestik Hong Kong.

Secara keseluruhan, penguatan Indeks Hang Seng mencerminkan sentimen positif yang masih terjaga di pasar modal Asia. Namun, dinamika global serta faktor lokal tetap menjadi penentu arah indeks ke depan. Investor akan terus memantau perkembangan ekonomi internasional serta kebijakan regional untuk membaca tren lanjutan pergerakan pasar.

Senin, 15 September 2025

Dolar Melemah Menjelang Pekan Penentu Bank Sentral, Fokus pada The Fed


Dolar Amerika Serikat melemah pada Senin di awal pekan yang penuh keputusan penting dari bank-bank sentral global, dengan sorotan utama tertuju pada Federal Reserve (The Fed). Sementara itu, euro nyaris tak terpengaruh meski Fitch memangkas peringkat kredit Prancis ke level terendah sepanjang sejarah.

Perdagangan di kawasan Asia relatif sepi karena pasar Jepang libur, membuat pergerakan mata uang cenderung terbatas. Euro tercatat melemah tipis 0,04% ke posisi $1,1729. Penurunan ini muncul setelah pengumuman Fitch pada Jumat lalu yang menurunkan peringkat kredit negara terbesar kedua di zona euro itu dari AA- di tengah krisis politik dan lonjakan utang. Namun, investor sebagian besar tampak mengabaikan dampak downgrade tersebut.

Pekan ini, perhatian pasar global akan tertuju pada serangkaian keputusan suku bunga dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Kanada, hingga Norwegia. The Fed menjadi pusat perhatian karena diprediksi akan memangkas suku bunga pada Rabu, sebuah langkah yang menekan dolar dalam beberapa waktu terakhir. Indeks dolar terhadap sekeranjang mata uang utama turun 0,08% ke level 97,58 pada Senin.

Poundsterling menguat 0,11% menjadi $1,3565, sedangkan dolar Australia naik 0,23% ke $0,6663, mendekati level tertinggi 10 bulan yang disentuh pada Jumat lalu. Pasar juga menantikan proyeksi "dot plot" dari anggota The Fed serta panduan dari Ketua Jerome Powell terkait arah kebijakan moneter ke depan, termasuk kecepatan dan besarnya potensi pelonggaran lanjutan.

Yen Jepang turut menguat lebih dari 0,1% ke 147,44 per dolar menjelang pertemuan kebijakan Bank of Japan (BOJ) pekan ini. Meskipun BOJ diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga, komentar Gubernur Kazuo Ueda mengenai prospek kebijakan moneter akan menjadi sorotan investor.

Di sisi lain, dolar Selandia Baru naik 0,15% menjadi $0,5964, sementara yuan daratan menguat tipis ke 7,1213 per dolar, terbantu pelemahan greenback. Hal ini terjadi meskipun data ekonomi Tiongkok pada Senin menunjukkan pertumbuhan output pabrik dan penjualan ritel Agustus paling lemah sejak tahun lalu.

Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada pembicaraan perdagangan antara pejabat Amerika Serikat dan Tiongkok di Madrid pada Minggu. Diskusi ini berlangsung di tengah ketegangan dagang, tenggat waktu divestasi untuk aplikasi video pendek TikTok, serta desakan Washington agar sekutunya mengenakan tarif pada impor dari Tiongkok terkait pembelian minyak Rusia.

Pergerakan pasar valuta asing pekan ini diperkirakan akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan bank sentral global, dengan The Fed sebagai penentu utama sentimen investor.

Sumber : newsmaker.id 

Kamis, 11 September 2025

Harga Minyak Melemah Akibat Oversupply dan Permintaan AS yang Lesu

 


Harga minyak dunia pada Kamis pagi bergerak stabil dengan kecenderungan melemah, dipengaruhi oleh kombinasi kekhawatiran terhadap lemahnya permintaan di Amerika Serikat dan meningkatnya risiko kelebihan pasokan global. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina menahan penurunan harga agar tidak lebih dalam.

Pergerakan Harga Minyak Global
Brent crude futures tercatat turun 13 sen atau 0,2% menjadi USD 67,36 per barel pada pukul 07.29 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) crude futures AS melemah 17 sen atau 0,3% ke posisi USD 63,50 per barel. Angka ini terjadi setelah pada sesi sebelumnya harga sempat naik lebih dari USD 1 per kontrak, dipicu oleh serangan Israel terhadap pimpinan Hamas di Qatar dan penguatan pertahanan udara Polandia serta NATO untuk menanggapi dugaan drone Rusia yang memasuki wilayah udara Polandia saat menyerang Ukraina barat.

Faktor Permintaan: Ekonomi AS yang Melemah
Data terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat 3,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 5 September, berbanding terbalik dengan perkiraan pasar yang justru memproyeksikan penurunan sekitar 1 juta barel. Lonjakan stok ini menandakan konsumsi yang lebih lemah dari perkiraan. Selain itu, melambatnya ekonomi AS meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pekan depan, yang mencerminkan tekanan pada sektor energi akibat berkurangnya aktivitas industri dan konsumsi bahan bakar.

Faktor Pasokan: Kebijakan OPEC+ Menambah Tekanan
Di sisi penawaran, OPEC+ memutuskan untuk menaikkan produksi mulai Oktober. Walaupun peningkatan ini lebih kecil dibandingkan bulan-bulan sebelumnya dan tidak sebesar prediksi sebagian analis, keputusan tersebut tetap menambah tekanan pada pasar minyak yang sudah cenderung rapuh. Menurut laporan EIA, tambahan produksi tersebut berpotensi memperbesar persediaan global secara signifikan dan mendorong harga minyak turun dalam beberapa bulan mendatang.

Prospek Pasar Minyak ke Depan
Kombinasi antara pertumbuhan produksi, meningkatnya stok minyak AS, serta lemahnya permintaan domestik menjadi sinyal negatif bagi harga minyak di kuartal mendatang. Namun, faktor geopolitik—terutama konflik di Timur Tengah dan eskalasi perang Rusia-Ukraina—tetap menjadi variabel penting yang bisa menahan penurunan lebih tajam. Secara keseluruhan, harga minyak diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas tinggi seiring tarik-menarik antara sentimen bearish dari sisi fundamental dan sentimen bullish dari risiko geopolitik.