
Pasangan mata uang EUR/USD kembali bergerak turun untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa, diperdagangkan di kisaran 1,1675. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap krisis politik dan fiskal di Prancis, ditambah dengan data ekonomi Jerman yang mengecewakan, menandakan lemahnya momentum ekonomi di kawasan Eropa.
Keputusan mengejutkan Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu untuk mengundurkan diri pada Senin setelah hanya 27 hari menjabat memicu guncangan di pasar keuangan. Pengunduran diri tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah ia mengumumkan susunan kabinet barunya, sehingga memperdalam ketidakpastian politik di Paris. Presiden Emmanuel Macron segera meminta Lecornu untuk menegosiasikan jalan keluar dari krisis dengan para pemimpin koalisi pemerintahan. Namun, oposisi dari kubu kiri dan kanan menyerukan pemilu kilat, memperburuk tekanan terhadap kredibilitas Macron yang kini berada di titik terendah.
Krisis politik ini datang di saat ekonomi zona euro sedang menghadapi tekanan berat. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde pada Senin menyatakan bahwa proses disinflasi di kawasan Eropa telah berakhir, menandakan potensi berakhirnya tren penurunan inflasi yang selama ini menjadi alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Namun, Wakil Presiden ECB Luis de Guindos memperingatkan adanya risiko geopolitik dan pertumbuhan domestik yang lemah, membuka peluang bahwa pemangkasan suku bunga masih mungkin dilakukan jika kondisi ekonomi memburuk.
Menambah tekanan, data pesanan pabrik Jerman (German Factory Orders) yang dirilis pada Selasa menunjukkan kontraksi tak terduga pada Agustus. Penurunan ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi Jerman—sebagai motor utama Eropa—sedang kehilangan tenaga, terutama di tengah lemahnya permintaan global dan tekanan dari sektor industri otomotif.
Sementara itu, di Amerika Serikat, penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown) telah memasuki hari ketujuh, menyebabkan penundaan publikasi data neraca perdagangan (Trade Balance). Namun, fokus investor kini tertuju pada serangkaian pidato pejabat Federal Reserve (The Fed), termasuk Michelle Bowman, Wakil Ketua Pengawasan, serta Stephen Miran, pejabat baru yang ditunjuk oleh Presiden Donald Trump. Pernyataan mereka diperkirakan akan memberikan arah baru bagi pergerakan dolar AS dalam beberapa hari mendatang.
Secara keseluruhan, kombinasi antara krisis politik Prancis, pelemahan data ekonomi Jerman, dan ketidakpastian global membuat euro terus berada di bawah tekanan. Dengan sentimen pasar yang masih negatif terhadap prospek Eropa, pasangan EUR/USD berpotensi melanjutkan tren pelemahannya dalam waktu dekat, terutama jika dolar AS tetap menjadi aset lindung nilai di tengah turbulensi politik dan ekonomi dunia.



