Selasa, 07 Oktober 2025

EUR/USD Melemah di Tengah Krisis Politik Prancis dan Data Ekonomi Eropa yang Suram

Pasangan mata uang EUR/USD kembali bergerak turun untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa, diperdagangkan di kisaran 1,1675. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap krisis politik dan fiskal di Prancis, ditambah dengan data ekonomi Jerman yang mengecewakan, menandakan lemahnya momentum ekonomi di kawasan Eropa.

Keputusan mengejutkan Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu untuk mengundurkan diri pada Senin setelah hanya 27 hari menjabat memicu guncangan di pasar keuangan. Pengunduran diri tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah ia mengumumkan susunan kabinet barunya, sehingga memperdalam ketidakpastian politik di Paris. Presiden Emmanuel Macron segera meminta Lecornu untuk menegosiasikan jalan keluar dari krisis dengan para pemimpin koalisi pemerintahan. Namun, oposisi dari kubu kiri dan kanan menyerukan pemilu kilat, memperburuk tekanan terhadap kredibilitas Macron yang kini berada di titik terendah.

Krisis politik ini datang di saat ekonomi zona euro sedang menghadapi tekanan berat. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde pada Senin menyatakan bahwa proses disinflasi di kawasan Eropa telah berakhir, menandakan potensi berakhirnya tren penurunan inflasi yang selama ini menjadi alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Namun, Wakil Presiden ECB Luis de Guindos memperingatkan adanya risiko geopolitik dan pertumbuhan domestik yang lemah, membuka peluang bahwa pemangkasan suku bunga masih mungkin dilakukan jika kondisi ekonomi memburuk.

Menambah tekanan, data pesanan pabrik Jerman (German Factory Orders) yang dirilis pada Selasa menunjukkan kontraksi tak terduga pada Agustus. Penurunan ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi Jerman—sebagai motor utama Eropa—sedang kehilangan tenaga, terutama di tengah lemahnya permintaan global dan tekanan dari sektor industri otomotif.

Sementara itu, di Amerika Serikat, penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown) telah memasuki hari ketujuh, menyebabkan penundaan publikasi data neraca perdagangan (Trade Balance). Namun, fokus investor kini tertuju pada serangkaian pidato pejabat Federal Reserve (The Fed), termasuk Michelle Bowman, Wakil Ketua Pengawasan, serta Stephen Miran, pejabat baru yang ditunjuk oleh Presiden Donald Trump. Pernyataan mereka diperkirakan akan memberikan arah baru bagi pergerakan dolar AS dalam beberapa hari mendatang.

Secara keseluruhan, kombinasi antara krisis politik Prancis, pelemahan data ekonomi Jerman, dan ketidakpastian global membuat euro terus berada di bawah tekanan. Dengan sentimen pasar yang masih negatif terhadap prospek Eropa, pasangan EUR/USD berpotensi melanjutkan tren pelemahannya dalam waktu dekat, terutama jika dolar AS tetap menjadi aset lindung nilai di tengah turbulensi politik dan ekonomi dunia.

Rabu, 01 Oktober 2025

Harga Perak Tembus US$47, Dapat Angin Segar dari Data AS


Harga perak (XAG/USD) mencatatkan lonjakan lebih dari 1% dan sempat menyentuh level tertinggi baru di US$47,57 per troy ounce pada sesi Asia, Rabu pagi. Hingga saat artikel ini ditulis, perak masih stabil di sekitar US$47,15, didorong oleh melemahnya dolar AS serta meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Katalis utama pergerakan perak kali ini datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Meski jumlah job openings naik tipis dari 7,21 juta menjadi 7,23 juta, tingkat perekrutan justru jatuh ke level terendah sejak Juni 2024, yakni di 3,2%. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan segera menurunkan suku bunga guna menopang pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat.

Dolar AS yang semakin melemah memperkuat posisi perak sebagai salah satu aset alternatif yang menarik. Berdasarkan proyeksi alat prediksi CME FedWatch, pasar kini memperkirakan kemungkinan 97% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada Oktober mendatang, serta peluang 76% pemangkasan lanjutan di bulan Desember. Dalam skenario seperti ini, perak yang tidak memberikan imbal hasil bunga kembali menjadi primadona di kalangan investor global.

Momentum kenaikan harga perak juga semakin mempertegas statusnya sebagai aset pelindung nilai selain emas. Dengan tingkat ketidakpastian ekonomi yang tinggi, serta kebijakan moneter yang cenderung lebih longgar, potensi reli perak masih terbuka lebar. Para analis menilai, jika tekanan terhadap dolar AS terus berlanjut dan pemangkasan suku bunga benar-benar terwujud, harga perak berpotensi menembus level psikologis baru di atas US$48 per troy ounce dalam waktu dekat.

Senin, 29 September 2025

Saham Jepang Melemah untuk Sesi Kedua, Investor Waspada Menjelang Rangkaian Data Ekonomi

 

Pasar saham Jepang kembali ditutup melemah pada awal pekan ini. Indeks Nikkei 225 turun 0,69% ke level 45.044, sementara Topix Index merosot lebih dalam sebesar 1,74% ke 3.132 pada perdagangan Senin. Pelemahan ini menandai penurunan selama dua sesi berturut-turut, seiring banyak saham Jepang yang diperdagangkan tanpa hak dividen (ex-dividend) serta meningkatnya kehati-hatian investor menjelang serangkaian rilis data ekonomi penting.

Rangkaian data yang ditunggu pasar antara lain survei sentimen bisnis Tankan, tingkat kepercayaan konsumen, produksi industri, penjualan ritel, hingga ringkasan opini terbaru dari Bank of Japan (BOJ). Hasil data tersebut dinilai akan menjadi penentu arah ekonomi Jepang di tengah ketidakpastian global, sekaligus memberi gambaran lebih jelas mengenai langkah kebijakan moneter bank sentral ke depan.

Notulen rapat BOJ bulan Juli menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan tetap membuka opsi untuk pengetatan lebih lanjut, terutama jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi bergerak sesuai perkiraan. Ekspektasi ini menambah tekanan pada saham sektor keuangan dan konsumsi, yang menjadi kelompok paling tertekan di bursa.

Di antara saham unggulan, penurunan signifikan terlihat pada Mitsubishi UFJ (-2,8%), Sumitomo Mitsui (-3,3%), Mizuho Financial (-3,2%), Sony Group (-3,1%), serta Toyota Motor (-3,4%). Tekanan jual pada saham-saham besar tersebut memperkuat tren bearish di pasar, mencerminkan sentimen investor yang cenderung menahan diri sambil menunggu kejelasan data.

Namun, tidak semua saham bergerak negatif. Sony Financial Group justru melonjak 16% setelah resmi dipisahkan (spin-off) dari induknya, Sony Group. Kenaikan tajam ini menjadi sorotan, menunjukkan adanya peluang positif bagi perusahaan keuangan Jepang di tengah dinamika pasar yang penuh tantangan.

Secara keseluruhan, pasar saham Jepang diperkirakan akan tetap berfluktuasi dalam jangka pendek. Investor kini berfokus pada hasil rilis data ekonomi utama yang akan memberikan gambaran lebih jelas terkait arah kebijakan Bank of Japan, inflasi domestik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Negeri Sakura ke depan.

Sumber : newsmaker.id 

Kamis, 25 September 2025

Emas Stabil di Sesi Eropa Menanti Data Ekonomi AS


Harga emas bergerak stabil pada Kamis, sedikit terdorong oleh pelemahan dolar AS sebesar 0,1% yang membuat emas berbasis dolar lebih terjangkau bagi pembeli internasional. Pada pukul 03:47 GMT, harga spot emas tercatat di $3.737,01 per ons, sementara kontrak berjangka Desember tidak berubah di $3.767,90. Dari sisi kebijakan, Mary Daly dari The Fed San Francisco menyatakan dukungannya terhadap pemangkasan suku bunga pekan lalu dan menegaskan masih ada ruang untuk penurunan lebih lanjut.

Secara teknikal, analis Ilya Spivak menilai reli emas mencerminkan ekspektasi bahwa The Fed bersedia membiarkan ekonomi AS “panas” sambil kembali memfokuskan perhatian pada pasar tenaga kerja. Level support awal diperkirakan berada di $3.700, kemudian $3.600. Jika harga berhasil menembus resistensi di sekitar $3.790, target berikutnya berada pada kisaran $3.870–$3.875, bahkan berpotensi menuju $4.000.

Fokus pasar kini tertuju pada rilis PCE (Personal Consumption Expenditure Price Index) pada Jumat, indikator inflasi favorit The Fed, yang diperkirakan tumbuh +0,3% bulanan dan +2,7% tahunan. Beberapa pelaku pasar meyakini dampaknya terhadap emas akan terbatas kecuali angka inflasi jauh melampaui perkiraan. Sementara itu, klaim pengangguran mingguan AS yang akan diumumkan Kamis malam WIB dipandang sebagai sinyal terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja.

Secara makroekonomi, pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, masing-masing pada Oktober dan Desember. Emas, sebagai aset safe haven yang sensitif terhadap suku bunga, sempat mencatat rekor baru di $3.790,82 pada Selasa.

Di antara logam mulia lainnya, perak naik 0,1% menjadi $43,97 per ons, platinum menguat 0,4% menjadi $1.477,94, dan palladium bertambah 0,2% menjadi $1.211,84.

Poin Penting:

  • Emas stabil: spot $3.737, kontrak Desember $3.768, indeks dolar melemah 0,1%.

  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap ada; PCE dan klaim pengangguran menjadi katalis utama.

  • Level teknikal: support $3.700/$3.600; resistensi $3.790 – $3.870–$3.875 – $4.000.

     

Selasa, 23 September 2025

Wall Street Cetak Rekor, Apa Dampaknya bagi Asia?

 


Bursa Asia diperkirakan dibuka dengan kenaikan tipis pada Selasa, mengikuti reli di Wall Street yang kembali menguat berkat optimisme terhadap saham teknologi raksasa. Indeks berjangka Australia dan Korea Selatan menunjukkan potensi penguatan, sementara Hong Kong diperkirakan bergerak datar akibat dampak topan terkuat sejak 2018. Aktivitas perdagangan di Asia juga relatif tenang karena pasar obligasi AS tutup seiring hari libur nasional di Jepang.

Rekor Baru di Wall Street Berkat Saham Teknologi
Indeks S&P 500 mencatat rekor ke-28 tahun ini setelah saham Nvidia melonjak sekitar 4%. Kenaikan tersebut dipicu oleh komitmen Nvidia untuk menggelontorkan investasi hingga USD 100 miliar ke OpenAI, langkah yang semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin industri kecerdasan buatan. Reli saham teknologi mendorong indeks saham AS menguat selama tiga pekan berturut-turut, didukung oleh sentimen positif dari pemangkasan suku bunga pertama The Fed pada tahun ini. Meski demikian, sebagian analis mengingatkan bahwa euforia ini perlu diimbangi dengan kewaspadaan, mengingat kapitalisasi pasar telah bertambah sekitar USD 15 triliun sejak April.

Pasar Obligasi dan Inflasi AS Jadi Sorotan
Di sisi obligasi, pergerakan relatif tenang dengan imbal hasil AS sedikit lebih tinggi menjelang lelang Treasury serta rilis data inflasi penting. Indeks PCE inti—ukuran inflasi favorit The Fed—diperkirakan tumbuh lebih lambat pada Agustus. Jika benar, kondisi ini memberi ruang lebih bagi bank sentral untuk mengalihkan fokus ke pelemahan pasar tenaga kerja. Sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan memberikan pandangan minggu ini, termasuk Ketua Jerome Powell, sementara Gubernur Stephen Miran menyerukan pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.

Dampak ke Asia-Pasifik
Perhatian di Asia-Pasifik juga tertuju pada Selandia Baru yang akan menunjuk gubernur bank sentral baru, seorang perempuan sekaligus warga asing pertama yang menduduki posisi tersebut. Keputusan ini menandai langkah bersejarah bagi kebijakan moneter negara tersebut. Di sisi lain, Hong Kong bersiap menghadapi super topan Ragasa yang berpotensi menunda debut perdagangan IPO Zijin Gold International, salah satu penawaran umum perdana terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Kesimpulan
Kenaikan di Wall Street memberi sentimen positif bagi pasar Asia, terutama bagi indeks berjangka di Australia dan Korea Selatan. Namun, faktor eksternal seperti cuaca ekstrem di Hong Kong, arah kebijakan The Fed, serta pergantian kepemimpinan bank sentral Selandia Baru menjadi variabel penting yang memengaruhi dinamika perdagangan kawasan. Investor Asia dihadapkan pada kombinasi peluang dari reli global sekaligus tantangan dari faktor domestik dan geopolitik.