Jumat, 15 November 2019

Walau Kesepakatan Dagang Abu-abu, Bursa Saham China Menghijau

Walau Kesepakatan Dagang Abu-abu, Bursa Saham China Menghijau
Foto: Bursa Asia (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Rifan Financindo - Bursa saham China dan Hong Kong mengawali perdagangan terakhir di pekan ini, Jumat (15/11/2019), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Shanghai naik 0,05% ke level 2.911,35, sementara indeks Hang Seng menguat 0,78% ke level 26.529,95.

Bursa saham China dan Hong Kong menguat kala kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China semakin berwarna abu-abu.

Kini, hubungan AS-China di bidang perdagangan terlihat semakin renggang dan penandatanganan kesepakatan dagang tahap satu sepertinya masih belum akan terjadi dalam waktu dekat.

CNBC International melaporkan bahwa AS sedang berusaha mendapatkan konsesi yang lebih besar dari China terkait dengan perlindungan kekayaan intelektual dan penghentian praktik transfer teknologi secara paksa. Sebagai gantinya, AS akan menghapuskan sebagian bea masuk tambahan yang sudah dibebankan terhadap produk impor asal China.

Di sisi lain, Beijing dikabarkan enggan untuk memasukkan komitmen untuk membeli produk agrikultur asal AS dalam jumlah tertentu dalam teks kesepakatan dagang tahap satu. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa China setuju untuk membeli produk agrikultur asal AS senilai US$ 50 miliar setiap tahunnya sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu.

Perkembangan tersebut lantas melengkapi kabar negatif seputar perundingan dagang AS-China. Sebelumnya, Trump menegaskan bahwa AS akan menaikkan bea masuk bagi produk impor asal China secara signifikan jika kesepakatan dagang tahap satu tak bisa diteken.

"Jika kami tak mencapai kesepakatan, kami akan secara signifikan menaikkan bea masuk tersebut," kata Trump dalam pidatonya di hadapan para peserta Economic Club of New York.

"Bea masuk akan dinaikkan dengan sangat signifikan. Hal ini akan berlaku untuk negara-negara lain yang juga memperlakukan kita dengan tidak benar," tambahnya.

Lolosnya perekonomian Jerman dari resesi menjadi faktor yang mengerek kinerja bursa saham China dan Hong Kong. Kemarin, pembacaan awal atas angka pertumbuhan ekonomi Jerman periode kuartal III-2019 diumumkan di level 0,1% secara kuartalan.

Untuk diketahui, pada kuartal II-2019 perekonomian Jerman terkontraksi 0,2% secara kuartalan. Jika pada kuartal III-2019 masih terjadi kontraksi, maka Jerman akan resmi memasuki periode resesi.

Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Melansir World Economic Outlook edisi April 2019 yang dipublikasikan oleh International Monetary Fund (IMF), Jerman merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar kelima di dunia. Alhasil, lolosnya Jerman dari periode resesi praktis menjadi kabar positif bagi perekonomian dunia.

TIM RISET CNBC INDONESIA(ank/ank)

Kamis, 14 November 2019

Netflix Tak Bayar Pajak, Johnny Plate Harus Blokir Layanan!

Netflix Tak Bayar Pajak, Johnny Plate Harus Blokir Layanan!
Foto: Infografis/Dari hobi rental DVD, ini kisah sukses bos NETFLIX/Aristya Rahadian Krisabella
PT Rifan - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) di bawah kendali Johnny Plate sebagai Menteri harus berani memblokir seluruh layanan Netflix di Indonesia. Pasalnya, video on demand yang tengah digandrungi masyarakat ini sama sekali tidak berkontribusi terhadap penerimaan negara.

Padahal aturan sudah jelas, segala bentuk transaksi jual beli hingga jasa harus tunduk aturan perpajakan.

"Gampang sebenarnya, mereka tak bayar pajak. Setop sementara layanan di Indonesia. Kominfo harus kerja sama dengan Kementerian Keuangan," ungkap Ekonom Senior Indef Didik J Rachbini kepada CNBC Indonesia, Kamis (14/11/2019).

Menurut Didik, pertama pihak Netflix haruslah dipanggil untuk berdialog lebih jauh. Setelah itu, sambung Didik diminta komitmennya untuk membayar pajak.

Netflix Tak Bayar Pajak, Johnny Plate Harus Blokir Layanan!
Foto: Netflix (REUTERS/Mike Blake)
"Kalau belum bayar pajak ya setop. Kan gampang itu. Apalagi di Netflix harus dilihat kabarnya banyak film yang tidak sesuai atau film dewasa kategori porno," tegas Didik.

"Pemerintah terkesan lembek hadapi yang seperti ini," imbuh Didik lagi.

Lebih jauh Didik mengatakan sepertinya pasar Indonesia ini dijual sangat murah. Konsumen Indonesia ini diobral oleh pemerintah.

"Akhirnya, itu adalah devisa keluar ke Netflix bikin bocor bukan hanya pajak tapi neraca jasa dan neraca berjalan," tegas Didik.

Sebelumnya Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Hestu Yoga Saksama.

"Enggak [bayar pajak]. Karena memang selama ini, mereka belum jadi BUT [Badan Usaha Tetap] di Indonesia, dan tidak menjadi wajib pajak di Indonesia," kata Hestu saat dihubungi CNBC Indonesia.

"Nah memang kesulitan kita memang di situ. Karena dari segi regulasi yang ada sekarang ini, belum bisa memaksa mereka jadi BUT, jadi subyek pajak dalam negeri. BUT kan subyek pajak dalam negeri."

Melihat kewajiban Netflix sendiri, jika menggunakan PPN sebesar 10% maka Netflix harus setor ke negara sebsar Rp 62 miliar. Belum lagi PPh atau pajak penghasilan dan lainnya.

Corporate Communication Netflix Kooswardini Wulandari sudah dikonfirmasi mengenai hal ini. Namun pihaknya meminta waktu untuk memberikan jawabannya. (dru)
 

Rabu, 13 November 2019

Duh! Usai Trump Pidato, Kok Ada Ramalan Buruk Soal Emas

Duh! Usai Trump Pidato, Kok Ada Ramalan Buruk Soal Emas
Foto: Emas Batangan ditampilkan di Hatton Garden Metals, London pada 21 July 2015 (REUTERS/Neil Hall/File Photo)
PT Rifan Financindo Berjangka - Harga emas dunia kembali naik tipis setelah sempat diterpa aksi jual pada perdagangan Selasa (12/11/19). Ketidakpasatian atas kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS) dengan China membuat harga emas nyaris anjlok 4% dalam enam hari perdagangan terakhir, dan berada di level terendah tiga bulan.

Ketidakpasatian hubungan dagang AS-China mendorong emas sebagai instrumen safe-haven naik beberapa tingkat di perdagangan setelah jam kerja.

Emas berjangka untuk pengiriman Desember di New York COMEX naik $ 2,85, atau 0,2%, pada US$ 1.453,70/troy ounce (Oz) setelah Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa fase satu yang sangat dinanti-nantikan dari kesepakatan perdagangan AS-Cina akan ditandatangani.

Sebelumnya harga emas untuk kontrak Desember sempat turun $ 3,40, atau 0,2%, pada US$ 1.453,70/Oz setelah ada harapan Trump akan memberikan beberapa kejelasan pada negosiasi perdagangan saat menyampaikan pidato makan siangnya di New York Economic Club. Akhir pekan lalu, Trump mengatakan dia tidak setuju untuk menurunkan tarif seperti yang disarankan oleh Beijing untuk mencapai tahap pertama dari perjanjian mereka.

Sementara harga emas di pasar spot naik US$ 3,53, atau 0,2%, pada US$ 1,459.18/Oz. Sebelumnya harga emas sempat mencapai level terendah tiga bulan di $ 1,445.68.

Emas Desember juga mencapai level terendah tiga bulan sebelumnya pada hari itu, ketika jatuh ke $ 1,446.25.

Saat ini, harga psikologis emas berada pada level US$ 1.500/Oz, lalu jatuh setelah Trump bulan lalu mengatakan bahwa Washington dan Beijing bersiap-siap untuk mengakhiri perang dagang yang sudah berlangsung 16 bulan. Sebelumnya banyak investor memburu emas, selain dolar, sebagai lindung nilai karena dampak perang dagang yang membuat ekonomi dunia jadi suram.

"Saya melihat harga emas masih bearish dalam waktu dekat, tapi saya curiga itu akan membutuhkan lebih banyak komentar atau berita utama dari Presiden (Trump) mengenai tarif dan perdagangan untuk mendorong harga emas menyentuh level resisten di US$ 1.450," kata Eric Scoles, ahli strategi logam mulia di RJO Futures di Chicago.

"Jika emas kontrak Desember ditutup di bawah titik itu, saya harapkan target berikutnya menjadi $ 1.425."

Dalam pidatonya i New York Economic Club Trump mengatakan bahwa kesepakatan perdagangan "akan segera terjadi, tetapi kami hanya akan menerima kesepakatan jika itu baik untuk Amerika Serikat, dan para pekerja kami serta perusahaan besar kami."

Itu adalah kalimat yang sudah di dengar oleh pelaku pasar berulang kali selama putaran perang perdagangan terjadi.

Meskipun demikian, pernyataan Trump tersebut disambut positif oleh bursa saham Wall Street , yang mencapai rekor tertinggi sebelum pidato Trump, mendorong emas ke posisi terendah tiga bulan, meskipun emas harga tetap naik setelah dia menyimpulkan tanpa memberikan petunjuk baru pada China.

Pekan lalu, Trump sempat menyatakan ada pemberitaan yang kurang tepat soal bea masuk. Sebelumnya, sempat beredar kabar bahwa AS-China sepakat untuk menghapus bea masuk yang berlaku selama masa perang dagang lebih dari setahun terakhir, sebagaimana dilansir CNBC International.

AS sudah mengenakan bea masuk terhadap importasi produk China senilai US$ 550 miliar. Sedangkan China membebankan bea masuk kepada impor produk made in the USA senilai US$ 185 miliar.

Seperti diketahui sebelumnya, China pada pekan lalu mengklaim jika sudah mencapai kesepakatan dengan AS untuk membatalkan sebagian bea masuk.

Mengutip CNBC International pada Kamis (7/11/19), Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng mengatakan baik AS maupun China setuju untuk membatalkan rencana pengenaan berbagai bea masuk. Perundingan yang konstruktif dalam dua pekan terakhir membuat kedua negara sudah dekat dengan kesepakatan damai dagang fase I.

Namun, Peter Navarro, Penasihat Perdagangan Gedung Putih, menegaskan bahwa belum ada kesepakatan soal penghapusan bea masuk. Dia menilai China melakukan klaim sepihak.

"Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai pencabutan bea masuk sebagai syarat ditandatanganinya perjanjian damai dagang fase I. Mereka (China) mencoba bernegosiasi di ruang publik," tegas Navarro dalam wawancara bersama Fox Business Network, seperti dikutip dari Reuters.

Saat pelaku pasar menanti perkembangan AS-China, datang kabar bagus yang membuat sentimen pelaku pasar membaik. Melansir CNBC International, Presiden Trump pekan ini diperkirakan akan mengumumkan penundaan kenaikan bea masuk produk otomotif dari Uni Eropa hingga enam bulan ke depan.

Merespon pemberitaan tersebut, bursa saham Eropa menguat, dan dampaknya harga emas kembali tertekan. (hps/hps)
Sumber : CNBC

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Selasa, 12 November 2019

Sudah Minus 0,5% dalam 2 Hari, Saatnya Rupiah Unjuk Gigi

Ilustrasi Rupiah (REUTERS/Willy Kurniawan)
PT Rifan Financindo - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat di perdagangan pasar spot pagi ini. Rupiah berhasil menguat kala ketidakpastian melanda pasar keuangan dunia, utamanya karena tarik ulur damai dagang AS-China.

Pada Selasa (12/11/2019), US$ 1 dihargai Rp 14.052 kala pembukaan pasar spot. Rupiah menguat 0,04% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Kemarin, rupiah mengakhiri perdagangan pasar spot dengan depresiasi 0,34% di hadapan dolar AS. Mata uang Negeri Paman Sam terlanjur nyaman di kisaran Rp 14.000 sehingga pagi ini belum mau lengser dari kisaran tersebut.

Namun perlu dicatat bahwa rupiah sudah melemah selama dua hari perdagangan beruntun. Dalam periode tersebut, depresiasi rupiah tercatat nyaris 0,5%. Oleh karena itu, rupiah menyimpan energi untuk technical rebound.

Tidak hanya rupiah, mata uang utama Asia lainnya juga cenderung menguat terhadap greenback. Sepertinya risk appetite investor sedang agak tinggi sehingga arus modal berkenan masuk ke pasar keuangan negara-negara berkembang.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning pada pukul 08:08 WIB:


 
Sumber : CNBC

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Senin, 11 November 2019

Drama Perang Dagang: Klaim China & Bantahan Trump

Foto: Pertemuan G-20 Trump-Xi (REUTERS/Kevin Lamarque)
Rifan Financindo - Setelah seminggu kemarin pasar diwarnai optimisme akan perang dagang, akhir pekan lalu ketegangan kembali terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China. Hal ini dipicu pernyataan China yang mengatakan AS setuju membatalkan seluruh tarif perang dagang.

Pernyataan itu langsung dibantah Presiden AS Donald Trump akhir pekan lalu. Bahkan ia mengatakan klaim tersebut adalah kemunduran bagi perdamaian perang dagang.

"Mereka [China] ingin mengalami kemunduran [kesepakatan]. Saya belum menyetujui apa pun [soal tarif]," katanya kepada wartawan sebelum meninggalkan Gedung Putih dalam perjalanan ke Georgia.

"[Langkah] China ini sedikit kemunduran, bukan kemunduran total karena mereka tahu saya tidak akan melakukannya [pembatalan tarif]."

Komentar Trump ini sebelumnya juga ditegaskan Penasehat Perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro. Bahkan ia menegaskan ini dalam wawancara dengan Fox Business Network.

"Tidak ada kesepakatan untuk saat ini yang menghapus semua tarif yang diberlakukan, sebagai kondisi untuk kesepakatan fase pertama," katanya sebagaimana dikutip Reuters.

Menurut Navarro, pihak China hanya bernegosiasi di ranah publik, dan mencoba mendorong kesepakatan satu arah. Dia menilai pernyataan dari media China tersebut sebagai upaya propaganda.

Sebelumnya, Pemerintah China dan Pemerintah AS memang tengah membicarakan kesepakatan damai perdagangan. Pembicaraan telah dimulai sejak Oktober lalu.

Dari pertemuan yang langsung dihadiri Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri China itu, keduanya mengaku sepakat pada sejumlah hal. Diantaranya, AS yang bersedia membatalkan salah satu kebijakan tarifnya pada barang China yang berlaku di Oktober.

"Di dua minggu ini, para negosiator telah melakukan pembicaraan serius, diskusi konstruktif dan setuju untuk menghilangkan tarif-tarif tambahan di fase (kesepakatan) sebagai progres dari perjanjian yang tengah berjalan," kata Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng, sebagaimana dikutip Bloomberg.

"Jika China, AS, mencapai kesepakatan dagang fase pertama, kedua negara harus meninjau kembali semua tarif tambahan dengan proporsi yang sama secara keseluruhan berdasarkan isi perjanjian, yang mana menjadi situasi penting untuk tercapainya kesepakatan," katanya lagi.

Sejak 2018
Pemerintah Amerika pertama kali menjatuhkan tarif impor pada barang-barang China pada Januari 2018. Saat itu tarif dikenakan pada solar dan sel surya dan jenis mesin cuci tertentu.

Langkah tersebut langsung dikritik China. Penerapan tarif itu dilakukan setelah sebelumnya kedua negara mengadakan perundingan dagang pertama yang membahas berbagai produk seperti daging dan unggas, hingga baja, aluminium, dan beberapa isu lainnya.

Selang dua bulan setelahnya, yaitu pada 8 Maret 2018, Trump menerapkan tarif impor 25% untuk baja dan 10% untuk aluminium. Pada awal April, China menerapkan balasan dengan mengenakan tarif impor terhadap barang-barang AS senilai US$3 miliar.

Semenjak itu, tarif dagang terus berlangsung hingga 2019. Pada 10 Mei 2019, AS meningkatkan bea masuk atas impor China senilai US$ 200 miliar.

Pada Agustus, AS kembali menyerang China dengan tarif. Trump mengumumkan akan mengenakan tarif impor baru sebesar 10% untuk barang-barang China senilai US$ 300 miliar mulai 1 September.

Alasannya adalah karena China mengingkari janji untuk membeli produk pertanian AS dan menghentikan penjualan opioid fentanyl, sejenis obat penenang yang banyak dipakai di AS. Pada saat itu Trump juga telah mengatakan akan mengenakan tarif lainnya pada bulan Desember mendatang.

Pada bulan yang sama, nilai yuan China jatuh di bawah 7 terhadap dolar AS, untuk pertama kalinya dalam 11 tahun. Akibat ini, AS menuduh China memanipulasi mata uangnya demi membantu ekspornya yang merugi akibat perang dagang mereka.

Tuduhan itu dibantah oleh bank sentral China. Namun, AS bersikukuh akan menerapkan tarif baru sebagai hukuman.

Di akhir Agustus, China mengumumkan akan mengenakan tarif baru pada barang-barang AS senilai US$ 75 miliar sebagai pembalasan atas kenaikan tarif yang direncanakan Gedung Putih. Tarif 5-10% itu rencananya mulai diberlakukan pada 1 September hingga 15 Desember, bersamaan dengan tarif AS yang baru.

Namun Trump kembali membalas, mengatakan tarif senilai US$ 300 miliar yang ia rencanakan untuk jatuhkan pada barang-barang China, akan dinaikkan menjadi 15% mulai dari 1 September. Trump juga berencana menaikkan tarif yang ada pada US$ 250 miliar barang China dari 25% menjadi 30% mulai 15 Oktober.

Namun, pada 13 Oktober lalu, AS menangguhkan tarif itu. Alasannya adalah karena kedua negara sudah berhasil mencapai kesepakatan awal 'fase satu'. Tarif Oktober itu bahkan berpotensi dihapuskan oleh AS. (sef/sef)

Sumber : CNBC

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan