Kamis, 23 Oktober 2025

Harga Emas Melemah, Namun Risiko Global Dapat Memberikan Dukungan Baru

Harga emas turun tipis di bawah $4.100 per ons dalam perdagangan Eropa pada Kamis pagi, setelah para investor melakukan aksi ambil untung menyusul kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Optimisme terhadap meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mendorong pelaku pasar untuk menjual emas guna mengamankan keuntungan. Pada saat yang sama, permintaan terhadap dolar AS kembali meningkat menjelang rilis data inflasi penting AS yang dijadwalkan pada hari Jumat.

Selain itu, berakhirnya perayaan Diwali di India—negara konsumen emas terbesar kedua di dunia—juga diperkirakan akan menekan permintaan fisik terhadap logam mulia ini. Para analis menilai faktor tersebut dapat menjadi salah satu penyebab penurunan harga emas dalam jangka pendek. Namun demikian, sejumlah faktor global masih berpotensi menahan pelemahan lebih lanjut di pasar emas.

Krisis politik yang timbul akibat penutupan sebagian pemerintahan AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia dapat kembali mendorong minat terhadap aset safe haven seperti emas. Spekulasi mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed) turut memberikan dukungan tambahan, karena suku bunga yang lebih rendah biasanya membuat emas lebih menarik dibandingkan aset berbunga seperti obligasi.

Ke depan, para pelaku pasar akan memusatkan perhatian pada data inflasi konsumen AS (CPI) untuk bulan September yang akan dirilis pada hari Jumat. Data ini menjadi sorotan utama di tengah minimnya rilis ekonomi akibat penutupan sebagian pemerintahan AS. Jika angka inflasi lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut dan memberi tekanan pada harga emas dalam waktu dekat. Namun, jika hasilnya lebih lemah dari ekspektasi, peluang bagi emas untuk kembali menguat akan terbuka lebar.

Selasa, 21 Oktober 2025

Perak Melemah Tipis, Pasar Fokus pada Nada Damai dan Sinyal dari The Fed

Harga perak bergerak negatif di kisaran US$52 per ons pada awal perdagangan Asia. Pelemahan ini terjadi seiring berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven setelah ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok mulai mereda. Para pelaku pasar kini menanti arah kebijakan suku bunga melalui pidato Ketua The Fed, Christopher Waller, yang dijadwalkan pada hari Selasa, untuk mencari petunjuk mengenai langkah kebijakan moneter selanjutnya.

Nada yang lebih damai dari Presiden Donald Trump juga turut menekan minat lindung nilai di pasar logam mulia. Dalam pernyataannya, Trump mengakui bahwa rencana penambahan tarif hingga 100 persen terhadap barang-barang asal Tiongkok tidak berkelanjutan dan menyampaikan niatnya untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping pekan ini. Sikap yang lebih lunak tersebut membantu menurunkan tensi perdagangan global dan mendorong aksi ambil untung setelah reli tajam yang terjadi minggu lalu.

Meski demikian, ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Fed berpotensi membatasi penurunan harga perak lebih lanjut. Waller sebelumnya menyatakan dukungan terhadap pemotongan suku bunga tambahan pada pertemuan akhir bulan ini, dengan mempertimbangkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih campuran. Di sisi lain, Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, juga membuka kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga jika risiko terhadap lapangan kerja meningkat dan inflasi tetap terkendali. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah biasanya mengurangi biaya peluang dalam memegang perak, sehingga menjaga minat investor terhadap logam mulia tersebut.

Secara teknikal, harga perak masih tertahan di bawah level US$52,50 per ons, mencerminkan fase konsolidasi setelah reli kuat pada pekan sebelumnya. Sementara tekanan jual tetap ada akibat aksi ambil untung, nada dovish dari pejabat The Fed memberikan dukungan psikologis bagi pasar. Investor kini memusatkan perhatian pada pidato Christopher Waller, yang diperkirakan akan menjadi katalis penting bagi arah harga perak dalam jangka pendek.

Poin-Poin Utama:

  • Harga perak bertahan di bawah US$52,50 seiring meredanya ketegangan perdagangan

  • Nada damai dari Trump menekan minat lindung nilai dan memicu aksi ambil untung

  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menahan tekanan jual

  • Pasar menanti pidato Waller untuk sinyal arah kebijakan moneter berikutnya

Dengan kombinasi faktor geopolitik yang mereda dan prospek kebijakan moneter yang longgar, pergerakan perak berpotensi tetap stabil dalam jangka pendek, meskipun ruang untuk penguatan baru akan terbuka apabila The Fed memberikan sinyal lebih jelas tentang arah pelonggaran suku bunga.

Jumat, 17 Oktober 2025

Trump-Putin di Radar Pasar: Kekhawatiran Pasokan Rusia dan Tekanan Harga Minyak Global

 

Harga minyak dunia kembali melemah dan bersiap mencatat penurunan beruntun untuk ketiga kalinya—rangkaian terpanjang sejak Maret lalu. Minyak Brent bergerak mendekati level USD 61 per barel dengan penurunan sekitar 2,8% secara mingguan, sementara WTI diperdagangkan di atas USD 57 per barel. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi kelebihan pasokan (oversupply) global yang semakin dominan, serta ketegangan dagang AS-Tiongkok yang terus mengancam permintaan dari dua konsumen minyak terbesar di dunia.

Badan Energi Internasional (IEA) minggu ini memperbarui proyeksinya dengan menaikkan estimasi kelebihan pasokan global untuk tahun depan hingga mendekati 20%. Revisi tersebut mempertegas narasi melemahnya keseimbangan pasar energi dunia, menekan harga lebih jauh di tengah lemahnya pertumbuhan ekonomi dan ketidakpastian permintaan industri. Investor kini menghadapi kenyataan bahwa pasokan berlebih bukan lagi ancaman sementara, melainkan risiko struktural yang dapat menekan harga minyak lebih dalam pada kuartal mendatang.

Sementara itu, dinamika geopolitik kembali menjadi pusat perhatian. Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencananya untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin “dalam dua minggu ke depan” guna membahas potensi penyelesaian perang Ukraina. Langkah ini menimbulkan spekulasi bahwa pertemuan tersebut dapat membuka peluang pelonggaran aliran ekspor minyak Rusia ke pasar global. Namun, negara-negara Barat masih memperketat sanksi energi terhadap Moskow. Di sisi lain, para penyuling minyak India melaporkan telah mengurangi pembelian minyak mentah Rusia sembari menunggu arahan resmi dari pemerintah New Delhi.

Dari sisi data makro AS, pasar mendapatkan sinyal campuran. Persediaan minyak mentah AS meningkat untuk minggu ketiga berturut-turut dan kini berada di level tertinggi sejak awal September, menambah tekanan pada harga. Namun, stok minyak di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma, justru turun ke titik terendah sejak Juli. Data ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara produksi dan distribusi, menciptakan ambiguitas arah harga jangka pendek. Pada pukul 08.28 waktu Singapura, kontrak Brent Desember tercatat di USD 60,97 (-0,2%), sedangkan WTI November berada di USD 57,37 (-0,2%).

Secara keseluruhan, pasar minyak saat ini dihadapkan pada tiga tekanan utama: narasi kelebihan pasokan global yang semakin kuat, ketegangan dagang AS-Tiongkok yang menekan permintaan, serta ketidakpastian geopolitik terkait hubungan AS-Rusia. Di sisi fundamental, kenaikan persediaan minyak AS dan penurunan stok di Cushing menambah sinyal campuran bagi pelaku pasar. Tanpa adanya katalis positif baru—seperti pemangkasan produksi OPEC+ atau lonjakan permintaan global—arah harga minyak dalam jangka pendek diperkirakan tetap bearish.

Dalam kondisi ini, para pelaku pasar perlu tetap waspada terhadap potensi volatilitas tinggi, terutama menjelang pertemuan Trump-Putin yang dapat mengubah peta pasokan energi dunia secara tiba-tiba. Untuk saat ini, tren teknikal dan fundamental sama-sama mengindikasikan bahwa tekanan jual akan tetap mendominasi pasar minyak global hingga ada tanda-tanda nyata perbaikan di sisi permintaan atau kebijakan produksi internasional.

Sumber : newsmaker.id 

Rabu, 15 Oktober 2025

Saham Global Menguat Didukung Laporan Laba dan Spekulasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Pasar saham global mengalami reli signifikan pada perdagangan terbaru, dipicu oleh laporan laba perusahaan yang solid serta meningkatnya optimisme terhadap potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Sentimen positif ini mendorong minat risiko kembali menguat di berbagai bursa dunia, menandai perubahan tajam dari kehati-hatian investor beberapa pekan sebelumnya.

Di Eropa, indeks Stoxx 600 melonjak setelah LVMH mencatat kenaikan harga saham hingga 13% berkat kembalinya pertumbuhan yang tak terduga. Performa impresif tersebut mengangkat seluruh sektor barang mewah, memperkuat keyakinan bahwa daya beli kelas menengah atas tetap kuat meskipun tekanan ekonomi global meningkat. Sementara itu, di Asia, indeks utama mencatat kenaikan intraday terbesar dalam dua bulan terakhir setelah Ketua The Fed, Jerome Powell, memberikan sinyal dovish terkait kondisi pasar tenaga kerja yang melemah, memperbesar peluang terjadinya pemangkasan suku bunga pada Oktober. Futures S&P 500 pun naik 0,4%, memperkuat tren bullish di Wall Street.

Di sisi valuta asing, yuan offshore menguat setelah Tiongkok meningkatkan langkah-langkah pertahanan mata uangnya di tengah ketegangan perdagangan dengan AS. Kebijakan ini membantu menstabilkan mata uang regional lainnya dan menekan dolar AS. Penguatan yuan juga dipandang sebagai upaya Beijing untuk mempercepat internasionalisasi mata uangnya. Seiring itu, harga emas mencetak rekor baru, menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset lindung nilai masih tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sejak aksi jual besar yang dipicu oleh tarif impor pada April lalu, pasar saham global telah bangkit tajam, didorong oleh ekspektasi pelonggaran moneter lanjutan setelah pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada September, serta optimisme terhadap kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, reli ini mulai menghadapi tantangan baru seiring munculnya kembali ketegangan antara AS dan Tiongkok, di mana kedua negara meningkatkan retorika dan mengisyaratkan pembatasan baru terhadap teknologi strategis.

Menurut Dilin Wu, analis strategi di Pepperstone Group, ketidakpastian makro tetap menjadi hambatan utama bagi aset berisiko. “Dengan dukungan dari ekspektasi pemangkasan suku bunga dan kinerja laba yang kuat, saya menilai potensi penurunan saham AS masih terbatas,” tulisnya dalam laporan riset terbaru.

Dalam pernyataannya pada Selasa, Powell menegaskan bahwa The Fed berada di jalur untuk menurunkan suku bunga sebesar 0,25 poin pada akhir bulan ini, meski penutupan sebagian pemerintahan AS telah mengganggu pembacaan data ekonomi. Kontrak swap memperkirakan pemangkasan total sekitar 1,25 poin persentase hingga akhir tahun depan, dari kisaran suku bunga saat ini di 4%–4,25%. Powell juga mengisyaratkan kemungkinan penghentian penyusutan neraca The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

Dari Tiongkok, bank sentral negara itu menetapkan nilai patokan yuan di 7,0995 per dolar AS, lebih kuat dari level psikologis 7,1 per dolar, untuk pertama kalinya sejak November. Langkah ini menandakan tekad Beijing menjaga stabilitas mata uangnya di tengah tekanan eksternal. “Patokan di bawah 7,10 menunjukkan sinyal kekuatan yang jelas,” ujar Fiona Lim, analis valas senior di Malayan Banking Bhd, Singapura. “Yuan yang kuat menunjukkan posisi Tiongkok yang percaya diri dalam menghadapi negosiasi atau potensi eskalasi balasan.”

Sementara itu, di Washington, Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer menyatakan keyakinan bahwa ketegangan ekspor dengan Tiongkok akan mereda setelah pertemuan antara pejabat kedua negara. Presiden Donald Trump juga menampilkan sikap hati-hati namun optimistis, menyebut bahwa hubungan dengan Beijing tetap baik dan negosiasi masih terbuka. “Kami memiliki hubungan yang baik dengan Tiongkok, dan saya pikir semuanya akan berjalan baik. Jika tidak, itu juga tidak masalah,” ujarnya di Gedung Putih.

Di Eropa, Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu berhasil mengamankan dukungan penting dari Partai Sosialis di Majelis Nasional, memperbesar peluang pemerintahannya untuk bertahan dari dua mosi tidak percaya yang dijadwalkan pada Kamis mendatang.

Sementara di Jepang, penjualan obligasi pemerintah pertama sejak koalisi penguasa runtuh mencatat permintaan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata 12 bulan terakhir, karena imbal hasil yang lebih tinggi menarik minat investor. Di tengah ketidakpastian politik, para pemimpin partai oposisi utama Jepang dijadwalkan bertemu pada Rabu untuk membahas kemungkinan menyatukan kebijakan dan menentukan kandidat perdana menteri baru.

Secara keseluruhan, kombinasi laba korporasi yang solid, prospek pelonggaran kebijakan moneter, dan stabilitas mata uang Asia telah menciptakan suasana optimistis di pasar global. Namun, dengan ketegangan geopolitik yang belum mereda, pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan koreksi mendadak di tengah volatilitas yang meningkat.

Senin, 13 Oktober 2025

Harga Perak Tembus Rekor Baru di Atas $51, Didorong Ketegangan Global dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

 

Harga perak dunia melonjak lebih dari 2% hingga menembus level $51 per ons pada perdagangan Senin, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta meningkatnya kekhawatiran geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset lindung nilai (safe haven).

Ketegangan AS–Tiongkok Picu Lonjakan Permintaan Aset Aman
Pendorong utama kenaikan harga perak kali ini berasal dari pernyataan Presiden Donald Trump, yang mengancam akan memberlakukan tarif impor 100% terhadap barang-barang asal Tiongkok mulai 1 November mendatang. Meski demikian, Trump kemudian menyatakan kesediaannya untuk bernegosiasi dengan Presiden Xi Jinping menjelang pertemuan APEC akhir bulan ini.
Ketidakpastian arah hubungan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut membuat investor global mencari perlindungan pada komoditas bernilai seperti perak dan emas. Langkah ini menjadi cerminan meningkatnya sentimen aversi risiko di pasar global.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Fed Menambah Daya Dorong
Selain faktor geopolitik, ekspektasi terhadap kebijakan moneter longgar dari Federal Reserve (The Fed) turut mendukung reli harga perak. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini, dan kemungkinan kembali menurunkannya pada Desember mendatang.
Secara historis, penurunan suku bunga memperlemah imbal hasil aset berisiko seperti obligasi dan saham, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai penyimpan nilai. Dalam konteks ini, perak tidak hanya dipandang sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai indikator ketegangan ekonomi global.

Pasokan Fisik di London Menyusut, Dorong Reli Lebih Lanjut
Kenaikan harga juga dipicu oleh pengetatan pasokan fisik perak di pasar London, salah satu pusat perdagangan logam mulia terbesar di dunia. Menurut laporan pasar, pasokan perak batangan di gudang utama mulai menurun akibat meningkatnya permintaan industri dan pembelian besar-besaran dari investor institusional.
Kondisi pasokan yang terbatas ini memperkuat momentum harga, terutama di tengah meningkatnya permintaan dari sektor energi hijau—di mana perak digunakan secara luas dalam panel surya dan perangkat elektronik berteknologi tinggi.

Kekacauan Politik Global Menambah Tekanan Ketidakpastian
Di luar faktor ekonomi, berbagai krisis politik internasional turut memperkuat posisi perak sebagai instrumen lindung nilai utama. Penutupan pemerintahan di AS, gejolak politik di Prancis, dan ketidakpastian kepemimpinan di Jepang semuanya berkontribusi pada meningkatnya volatilitas pasar.
Kombinasi antara tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan fiskal membuat investor global menilai bahwa aset berisiko kini terlalu rapuh untuk dijadikan pegangan utama. Dalam situasi seperti ini, perak kembali mengambil peran penting sebagai penyimpan nilai yang stabil di tengah turbulensi global.

Kesimpulan: Momentum Bullish Perak Belum Menunjukkan Tanda Pelemahan
Dengan meningkatnya risiko politik, ekspektasi pelonggaran moneter, dan ketatnya pasokan fisik, harga perak berpotensi melanjutkan tren bullish dalam jangka menengah. Para analis menilai bahwa jika The Fed benar-benar menurunkan suku bunga dua kali lagi hingga akhir tahun, perak dapat memperkuat posisinya di atas level psikologis $50 dan bahkan menuju $55 per ons.
Dalam iklim global yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, perak semakin dipandang bukan hanya sebagai komoditas industri, melainkan simbol stabilitas dan perlindungan nilai kekayaan di tengah badai ekonomi dunia.