Senin, 13 Oktober 2025

Harga Perak Tembus Rekor Baru di Atas $51, Didorong Ketegangan Global dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

 

Harga perak dunia melonjak lebih dari 2% hingga menembus level $51 per ons pada perdagangan Senin, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta meningkatnya kekhawatiran geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset lindung nilai (safe haven).

Ketegangan AS–Tiongkok Picu Lonjakan Permintaan Aset Aman
Pendorong utama kenaikan harga perak kali ini berasal dari pernyataan Presiden Donald Trump, yang mengancam akan memberlakukan tarif impor 100% terhadap barang-barang asal Tiongkok mulai 1 November mendatang. Meski demikian, Trump kemudian menyatakan kesediaannya untuk bernegosiasi dengan Presiden Xi Jinping menjelang pertemuan APEC akhir bulan ini.
Ketidakpastian arah hubungan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut membuat investor global mencari perlindungan pada komoditas bernilai seperti perak dan emas. Langkah ini menjadi cerminan meningkatnya sentimen aversi risiko di pasar global.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Fed Menambah Daya Dorong
Selain faktor geopolitik, ekspektasi terhadap kebijakan moneter longgar dari Federal Reserve (The Fed) turut mendukung reli harga perak. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini, dan kemungkinan kembali menurunkannya pada Desember mendatang.
Secara historis, penurunan suku bunga memperlemah imbal hasil aset berisiko seperti obligasi dan saham, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai penyimpan nilai. Dalam konteks ini, perak tidak hanya dipandang sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai indikator ketegangan ekonomi global.

Pasokan Fisik di London Menyusut, Dorong Reli Lebih Lanjut
Kenaikan harga juga dipicu oleh pengetatan pasokan fisik perak di pasar London, salah satu pusat perdagangan logam mulia terbesar di dunia. Menurut laporan pasar, pasokan perak batangan di gudang utama mulai menurun akibat meningkatnya permintaan industri dan pembelian besar-besaran dari investor institusional.
Kondisi pasokan yang terbatas ini memperkuat momentum harga, terutama di tengah meningkatnya permintaan dari sektor energi hijau—di mana perak digunakan secara luas dalam panel surya dan perangkat elektronik berteknologi tinggi.

Kekacauan Politik Global Menambah Tekanan Ketidakpastian
Di luar faktor ekonomi, berbagai krisis politik internasional turut memperkuat posisi perak sebagai instrumen lindung nilai utama. Penutupan pemerintahan di AS, gejolak politik di Prancis, dan ketidakpastian kepemimpinan di Jepang semuanya berkontribusi pada meningkatnya volatilitas pasar.
Kombinasi antara tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan fiskal membuat investor global menilai bahwa aset berisiko kini terlalu rapuh untuk dijadikan pegangan utama. Dalam situasi seperti ini, perak kembali mengambil peran penting sebagai penyimpan nilai yang stabil di tengah turbulensi global.

Kesimpulan: Momentum Bullish Perak Belum Menunjukkan Tanda Pelemahan
Dengan meningkatnya risiko politik, ekspektasi pelonggaran moneter, dan ketatnya pasokan fisik, harga perak berpotensi melanjutkan tren bullish dalam jangka menengah. Para analis menilai bahwa jika The Fed benar-benar menurunkan suku bunga dua kali lagi hingga akhir tahun, perak dapat memperkuat posisinya di atas level psikologis $50 dan bahkan menuju $55 per ons.
Dalam iklim global yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, perak semakin dipandang bukan hanya sebagai komoditas industri, melainkan simbol stabilitas dan perlindungan nilai kekayaan di tengah badai ekonomi dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar