Jumat, 17 Oktober 2025

Trump-Putin di Radar Pasar: Kekhawatiran Pasokan Rusia dan Tekanan Harga Minyak Global

 

Harga minyak dunia kembali melemah dan bersiap mencatat penurunan beruntun untuk ketiga kalinya—rangkaian terpanjang sejak Maret lalu. Minyak Brent bergerak mendekati level USD 61 per barel dengan penurunan sekitar 2,8% secara mingguan, sementara WTI diperdagangkan di atas USD 57 per barel. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi kelebihan pasokan (oversupply) global yang semakin dominan, serta ketegangan dagang AS-Tiongkok yang terus mengancam permintaan dari dua konsumen minyak terbesar di dunia.

Badan Energi Internasional (IEA) minggu ini memperbarui proyeksinya dengan menaikkan estimasi kelebihan pasokan global untuk tahun depan hingga mendekati 20%. Revisi tersebut mempertegas narasi melemahnya keseimbangan pasar energi dunia, menekan harga lebih jauh di tengah lemahnya pertumbuhan ekonomi dan ketidakpastian permintaan industri. Investor kini menghadapi kenyataan bahwa pasokan berlebih bukan lagi ancaman sementara, melainkan risiko struktural yang dapat menekan harga minyak lebih dalam pada kuartal mendatang.

Sementara itu, dinamika geopolitik kembali menjadi pusat perhatian. Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencananya untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin “dalam dua minggu ke depan” guna membahas potensi penyelesaian perang Ukraina. Langkah ini menimbulkan spekulasi bahwa pertemuan tersebut dapat membuka peluang pelonggaran aliran ekspor minyak Rusia ke pasar global. Namun, negara-negara Barat masih memperketat sanksi energi terhadap Moskow. Di sisi lain, para penyuling minyak India melaporkan telah mengurangi pembelian minyak mentah Rusia sembari menunggu arahan resmi dari pemerintah New Delhi.

Dari sisi data makro AS, pasar mendapatkan sinyal campuran. Persediaan minyak mentah AS meningkat untuk minggu ketiga berturut-turut dan kini berada di level tertinggi sejak awal September, menambah tekanan pada harga. Namun, stok minyak di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma, justru turun ke titik terendah sejak Juli. Data ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara produksi dan distribusi, menciptakan ambiguitas arah harga jangka pendek. Pada pukul 08.28 waktu Singapura, kontrak Brent Desember tercatat di USD 60,97 (-0,2%), sedangkan WTI November berada di USD 57,37 (-0,2%).

Secara keseluruhan, pasar minyak saat ini dihadapkan pada tiga tekanan utama: narasi kelebihan pasokan global yang semakin kuat, ketegangan dagang AS-Tiongkok yang menekan permintaan, serta ketidakpastian geopolitik terkait hubungan AS-Rusia. Di sisi fundamental, kenaikan persediaan minyak AS dan penurunan stok di Cushing menambah sinyal campuran bagi pelaku pasar. Tanpa adanya katalis positif baru—seperti pemangkasan produksi OPEC+ atau lonjakan permintaan global—arah harga minyak dalam jangka pendek diperkirakan tetap bearish.

Dalam kondisi ini, para pelaku pasar perlu tetap waspada terhadap potensi volatilitas tinggi, terutama menjelang pertemuan Trump-Putin yang dapat mengubah peta pasokan energi dunia secara tiba-tiba. Untuk saat ini, tren teknikal dan fundamental sama-sama mengindikasikan bahwa tekanan jual akan tetap mendominasi pasar minyak global hingga ada tanda-tanda nyata perbaikan di sisi permintaan atau kebijakan produksi internasional.

Sumber : newsmaker.id 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar