Rabu, 29 Oktober 2025

Bursa Eropa Alami Koreksi Tipis di Tengah Aksi Tunggu Investor

 


Bursa saham Eropa mengalami pelemahan tipis pada Rabu, 29 Oktober 2025, setelah mencetak rekor tertinggi selama beberapa hari berturut-turut. Indeks STOXX 600 turun sekitar -0,3% ke level 576 poin, sementara STOXX 50 juga terkoreksi dari puncaknya. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor mulai mengambil sikap hati-hati sambil menunggu rilis data ekonomi penting serta keputusan kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed).

Sektor farmasi menjadi salah satu penekan utama pasar. Saham raksasa farmasi seperti Novartis merosot sekitar -4,3% setelah laporan keuangan yang dirilis mengecewakan ekspektasi pasar. Sebaliknya, sektor keuangan dan teknologi justru memberikan sentimen positif. HSBC naik sekitar 4,4% setelah menaikkan proyeksi laba tahun 2025, sedangkan Nokia melonjak hampir 20% usai mengumumkan investasi strategis dari Nvidia, yang memperkuat optimisme terhadap prospek inovasi dan pertumbuhan digital di Eropa.

Meskipun koreksi yang terjadi tergolong ringan, analis menilai reli sebelumnya telah “memanas,” dan pasar kini memasuki fase konsolidasi alami. Investor cenderung menunggu arah yang lebih jelas sebelum melakukan aksi beli dalam skala besar. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat dan keputusan suku bunga The Fed dipandang sebagai dua katalis utama yang akan menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya.

Dalam jangka menengah, sentimen investor terhadap pasar Eropa masih cenderung optimistis, didukung oleh pemulihan ekonomi regional dan kinerja korporasi yang stabil. Namun dalam jangka pendek, kehati-hatian tetap mendominasi karena potensi tekanan dari faktor eksternal. Jika sinyal dari The Fed mengarah pada kebijakan yang lebih hawkish, bursa Eropa berpotensi mengalami koreksi lanjutan. Sebaliknya, apabila nada yang disampaikan cenderung dovish atau terdapat kejutan positif dari data ekonomi, peluang penguatan masih terbuka lebar.

Secara keseluruhan, dinamika pasar saham Eropa saat ini mencerminkan fase penyesuaian sehat setelah reli panjang. Dengan volatilitas yang masih terjaga dan prospek fundamental yang relatif solid, investor disarankan untuk tetap selektif, fokus pada sektor dengan pertumbuhan berkelanjutan, serta menunggu konfirmasi arah pasar sebelum melakukan akumulasi lebih lanjut.

Senin, 27 Oktober 2025

Euro Melemah Tipis, Pasar Cemas Menanti Keputusan The Fed


Pasangan mata uang EUR/USD bergerak melemah dari area 1.1650 ke sekitar 1.1625 pada Senin (27 Oktober), meskipun masih mampu mempertahankan sebagian penguatan yang diraih sebelumnya setelah sempat menyentuh level 1.1580 pekan lalu. Sentimen pasar sedikit membaik seiring meningkatnya harapan akan gencatan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang memicu minat risiko (risk appetite) di kalangan investor.

Negosiator dari kedua negara dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan, dan pasar berharap Presiden AS Donald Trump serta Presiden Tiongkok Xi Jinping dapat secara resmi memperpanjang gencatan dagang ketika mereka bertemu akhir pekan ini. Harapan bahwa perang tarif tidak akan berlanjut telah membantu menahan pelemahan euro lebih dalam, sekaligus mengurangi tekanan terhadap aset berisiko. Dalam konteks ini, perbaikan sentimen global menjadi faktor utama yang membatasi penurunan EUR/USD di tengah ketidakpastian kebijakan moneter.

Namun, pasar kini memasuki fase menunggu keputusan besar dari bank sentral dunia, terutama Federal Reserve (The Fed) yang akan menggelar pertemuan pada Rabu malam waktu setempat. Ekspektasi pelaku pasar saat ini mengarah pada pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan pelemahan yang lebih dalam dari perkiraan. Meski demikian, fokus utama bukan hanya pada keputusan suku bunga itu sendiri, melainkan pada pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang akan memberikan sinyal arah kebijakan berikutnya—apakah pemangkasan suku bunga akan berlanjut pada Desember, atau cukup berhenti di sini.

Dari sisi Eropa, pelaku pasar juga bersiap menghadapi dua peristiwa penting yang berpotensi menambah volatilitas euro, yakni rilis data awal PDB Zona Euro kuartal III dan keputusan suku bunga European Central Bank (ECB) yang dijadwalkan pada Kamis. Data ekonomi Eropa yang masih lemah dapat memperkuat tekanan terhadap euro, terutama jika ECB memberikan nada dovish atau mengindikasikan kebijakan pelonggaran tambahan. Sebaliknya, jika data pertumbuhan menunjukkan stabilisasi, euro berpeluang mendapatkan dorongan jangka pendek.

Secara teknikal, EUR/USD menghadapi area resistance kuat di sekitar 1.1660–1.1680, sementara support terdekat berada di 1.1580, level yang sempat diuji pekan lalu. Penembusan di bawah level tersebut bisa memperdalam koreksi menuju area 1.1550, sedangkan penguatan di atas resistance akan membuka peluang menuju 1.1700.

Bagi investor dan trader, minggu ini menjadi periode krusial yang menuntut kewaspadaan ekstra dan strategi manajemen risiko yang disiplin. Kombinasi faktor fundamental—mulai dari keputusan The Fed, komentar Powell, hingga data ekonomi Eropa—akan menentukan arah pergerakan euro dalam jangka pendek. Pasar tampak berhati-hati, dan setiap pernyataan bernada dovish atau hawkish dari bank sentral dapat memicu reaksi tajam dalam hitungan detik.

Artikel ini dioptimalkan untuk SEO dengan kata kunci utama: EUR/USD, euro melemah, keputusan The Fed, Jerome Powell, ECB, dan ekonomi Zona Euro.

Kamis, 23 Oktober 2025

Harga Emas Melemah, Namun Risiko Global Dapat Memberikan Dukungan Baru

Harga emas turun tipis di bawah $4.100 per ons dalam perdagangan Eropa pada Kamis pagi, setelah para investor melakukan aksi ambil untung menyusul kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Optimisme terhadap meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mendorong pelaku pasar untuk menjual emas guna mengamankan keuntungan. Pada saat yang sama, permintaan terhadap dolar AS kembali meningkat menjelang rilis data inflasi penting AS yang dijadwalkan pada hari Jumat.

Selain itu, berakhirnya perayaan Diwali di India—negara konsumen emas terbesar kedua di dunia—juga diperkirakan akan menekan permintaan fisik terhadap logam mulia ini. Para analis menilai faktor tersebut dapat menjadi salah satu penyebab penurunan harga emas dalam jangka pendek. Namun demikian, sejumlah faktor global masih berpotensi menahan pelemahan lebih lanjut di pasar emas.

Krisis politik yang timbul akibat penutupan sebagian pemerintahan AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia dapat kembali mendorong minat terhadap aset safe haven seperti emas. Spekulasi mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed) turut memberikan dukungan tambahan, karena suku bunga yang lebih rendah biasanya membuat emas lebih menarik dibandingkan aset berbunga seperti obligasi.

Ke depan, para pelaku pasar akan memusatkan perhatian pada data inflasi konsumen AS (CPI) untuk bulan September yang akan dirilis pada hari Jumat. Data ini menjadi sorotan utama di tengah minimnya rilis ekonomi akibat penutupan sebagian pemerintahan AS. Jika angka inflasi lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut dan memberi tekanan pada harga emas dalam waktu dekat. Namun, jika hasilnya lebih lemah dari ekspektasi, peluang bagi emas untuk kembali menguat akan terbuka lebar.

Selasa, 21 Oktober 2025

Perak Melemah Tipis, Pasar Fokus pada Nada Damai dan Sinyal dari The Fed

Harga perak bergerak negatif di kisaran US$52 per ons pada awal perdagangan Asia. Pelemahan ini terjadi seiring berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven setelah ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok mulai mereda. Para pelaku pasar kini menanti arah kebijakan suku bunga melalui pidato Ketua The Fed, Christopher Waller, yang dijadwalkan pada hari Selasa, untuk mencari petunjuk mengenai langkah kebijakan moneter selanjutnya.

Nada yang lebih damai dari Presiden Donald Trump juga turut menekan minat lindung nilai di pasar logam mulia. Dalam pernyataannya, Trump mengakui bahwa rencana penambahan tarif hingga 100 persen terhadap barang-barang asal Tiongkok tidak berkelanjutan dan menyampaikan niatnya untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping pekan ini. Sikap yang lebih lunak tersebut membantu menurunkan tensi perdagangan global dan mendorong aksi ambil untung setelah reli tajam yang terjadi minggu lalu.

Meski demikian, ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Fed berpotensi membatasi penurunan harga perak lebih lanjut. Waller sebelumnya menyatakan dukungan terhadap pemotongan suku bunga tambahan pada pertemuan akhir bulan ini, dengan mempertimbangkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih campuran. Di sisi lain, Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, juga membuka kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga jika risiko terhadap lapangan kerja meningkat dan inflasi tetap terkendali. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah biasanya mengurangi biaya peluang dalam memegang perak, sehingga menjaga minat investor terhadap logam mulia tersebut.

Secara teknikal, harga perak masih tertahan di bawah level US$52,50 per ons, mencerminkan fase konsolidasi setelah reli kuat pada pekan sebelumnya. Sementara tekanan jual tetap ada akibat aksi ambil untung, nada dovish dari pejabat The Fed memberikan dukungan psikologis bagi pasar. Investor kini memusatkan perhatian pada pidato Christopher Waller, yang diperkirakan akan menjadi katalis penting bagi arah harga perak dalam jangka pendek.

Poin-Poin Utama:

  • Harga perak bertahan di bawah US$52,50 seiring meredanya ketegangan perdagangan

  • Nada damai dari Trump menekan minat lindung nilai dan memicu aksi ambil untung

  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menahan tekanan jual

  • Pasar menanti pidato Waller untuk sinyal arah kebijakan moneter berikutnya

Dengan kombinasi faktor geopolitik yang mereda dan prospek kebijakan moneter yang longgar, pergerakan perak berpotensi tetap stabil dalam jangka pendek, meskipun ruang untuk penguatan baru akan terbuka apabila The Fed memberikan sinyal lebih jelas tentang arah pelonggaran suku bunga.

Jumat, 17 Oktober 2025

Trump-Putin di Radar Pasar: Kekhawatiran Pasokan Rusia dan Tekanan Harga Minyak Global

 

Harga minyak dunia kembali melemah dan bersiap mencatat penurunan beruntun untuk ketiga kalinya—rangkaian terpanjang sejak Maret lalu. Minyak Brent bergerak mendekati level USD 61 per barel dengan penurunan sekitar 2,8% secara mingguan, sementara WTI diperdagangkan di atas USD 57 per barel. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi kelebihan pasokan (oversupply) global yang semakin dominan, serta ketegangan dagang AS-Tiongkok yang terus mengancam permintaan dari dua konsumen minyak terbesar di dunia.

Badan Energi Internasional (IEA) minggu ini memperbarui proyeksinya dengan menaikkan estimasi kelebihan pasokan global untuk tahun depan hingga mendekati 20%. Revisi tersebut mempertegas narasi melemahnya keseimbangan pasar energi dunia, menekan harga lebih jauh di tengah lemahnya pertumbuhan ekonomi dan ketidakpastian permintaan industri. Investor kini menghadapi kenyataan bahwa pasokan berlebih bukan lagi ancaman sementara, melainkan risiko struktural yang dapat menekan harga minyak lebih dalam pada kuartal mendatang.

Sementara itu, dinamika geopolitik kembali menjadi pusat perhatian. Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencananya untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin “dalam dua minggu ke depan” guna membahas potensi penyelesaian perang Ukraina. Langkah ini menimbulkan spekulasi bahwa pertemuan tersebut dapat membuka peluang pelonggaran aliran ekspor minyak Rusia ke pasar global. Namun, negara-negara Barat masih memperketat sanksi energi terhadap Moskow. Di sisi lain, para penyuling minyak India melaporkan telah mengurangi pembelian minyak mentah Rusia sembari menunggu arahan resmi dari pemerintah New Delhi.

Dari sisi data makro AS, pasar mendapatkan sinyal campuran. Persediaan minyak mentah AS meningkat untuk minggu ketiga berturut-turut dan kini berada di level tertinggi sejak awal September, menambah tekanan pada harga. Namun, stok minyak di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma, justru turun ke titik terendah sejak Juli. Data ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara produksi dan distribusi, menciptakan ambiguitas arah harga jangka pendek. Pada pukul 08.28 waktu Singapura, kontrak Brent Desember tercatat di USD 60,97 (-0,2%), sedangkan WTI November berada di USD 57,37 (-0,2%).

Secara keseluruhan, pasar minyak saat ini dihadapkan pada tiga tekanan utama: narasi kelebihan pasokan global yang semakin kuat, ketegangan dagang AS-Tiongkok yang menekan permintaan, serta ketidakpastian geopolitik terkait hubungan AS-Rusia. Di sisi fundamental, kenaikan persediaan minyak AS dan penurunan stok di Cushing menambah sinyal campuran bagi pelaku pasar. Tanpa adanya katalis positif baru—seperti pemangkasan produksi OPEC+ atau lonjakan permintaan global—arah harga minyak dalam jangka pendek diperkirakan tetap bearish.

Dalam kondisi ini, para pelaku pasar perlu tetap waspada terhadap potensi volatilitas tinggi, terutama menjelang pertemuan Trump-Putin yang dapat mengubah peta pasokan energi dunia secara tiba-tiba. Untuk saat ini, tren teknikal dan fundamental sama-sama mengindikasikan bahwa tekanan jual akan tetap mendominasi pasar minyak global hingga ada tanda-tanda nyata perbaikan di sisi permintaan atau kebijakan produksi internasional.

Sumber : newsmaker.id