Kamis, 06 November 2025

Minyak Rem, Jeda Sebelum Jatuh?

 

Harga minyak mentah bergerak datar setelah mengalami dua hari penurunan berturut-turut. Minyak Brent bertahan di atas level $63 per barel, sementara WTI masih berada di bawah $60 per barel. Pasar tengah menimbang dua berita utama: keputusan Saudi Aramco memangkas harga jual resmi (Official Selling Price/OSP) ke Asia sesuai ekspektasi, serta laporan EIA yang mencatat lonjakan signifikan pada persediaan minyak mentah AS untuk pekan yang berakhir pada 31 Oktober. Kombinasi kedua faktor ini membuat pelaku pasar berhati-hati dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Secara fundamental, kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan (oversupply) masih menjadi tema dominan yang membebani harga. Peningkatan produksi dari negara-negara anggota OPEC+ dan produsen non-anggota terus menekan pasar, meskipun terdapat risiko pasokan akibat sanksi AS terhadap dua produsen besar Rusia serta serangan terhadap infrastruktur energi di beberapa wilayah. Sejumlah analis memperkirakan bahwa surplus pasokan global akan semakin melebar tahun depan. Sementara itu, pemangkasan harga oleh Saudi Aramco lebih dipandang sebagai langkah strategis untuk mempertahankan pangsa pasar, bukan sebagai sinyal akan pengetatan pasokan.

Namun, tidak semua indikator memberikan sinyal negatif. Persediaan bensin AS turun ke level terendah dalam hampir tiga tahun, menunjukkan bahwa permintaan di sektor hilir masih cukup tangguh. Penurunan stok ini menjadi faktor penyeimbang yang menahan tekanan jual lebih dalam di pasar minyak.

Dalam jangka pendek, harga minyak kemungkinan akan bergerak dalam kisaran terbatas. Pelaku pasar menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai dampak diskon harga Saudi terhadap arus perdagangan Asia, arah pergerakan dolar AS yang masih kuat, serta data permintaan energi global berikutnya. Ketiganya akan menjadi penentu apakah fase stabilisasi harga saat ini merupakan awal dari pemulihan atau sekadar jeda sebelum penurunan lebih lanjut.

Selasa, 04 November 2025

Hang Seng Berbalik Arah dan Ditutup Melemah di Tengah Penurunan Sektor yang Meluas

 

Indeks Hang Seng ditutup melemah 206 poin atau sekitar 0,8% ke level 25.952 pada perdagangan Selasa, setelah sempat mencatatkan kenaikan di awal sesi. Sentimen pasar memburuk secara signifikan, menyeret sebagian besar sektor ke zona merah dan menekan optimisme investor yang sempat muncul di awal perdagangan.

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, dengan indeks teknologi anjlok hingga 1,8%. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang melarang perusahaan Nvidia menjual chip kecerdasan buatan (AI) tercanggihnya ke Tiongkok menjadi pemicu utama pelemahan. Meski beberapa penjualan masih diizinkan untuk Beijing, larangan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan perdagangan teknologi antara kedua negara. Di sisi lain, laporan bahwa pemerintah Tiongkok menaikkan subsidi dan memangkas biaya energi untuk pusat data besar tidak cukup mampu mengangkat sentimen pasar.

Saham sektor konsumer dan properti juga mencatatkan pelemahan, mengikuti tren negatif bursa utama di daratan Tiongkok. Penurunan ini diperparah oleh kejatuhan indeks berjangka AS yang terseret ketidakpastian jalur kebijakan suku bunga The Fed setelah dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, serta kekhawatiran atas potensi penutupan pemerintahan AS yang masih berlanjut.

Dari sisi korporasi, emiten properti Tiongkok yang sedang menghadapi tekanan keuangan kembali menjadi sorotan utama. New World Development mengumumkan rencana pertukaran obligasi senilai USD 1,9 miliar yang mencakup potongan nilai bagi kreditur, sementara obligasi dolar Vanke melemah setelah pemegang saham terbesarnya memperketat persyaratan pinjaman. Langkah ini semakin menambah kekhawatiran terhadap stabilitas sektor properti Tiongkok yang masih rentan terhadap tekanan likuiditas.

Beberapa saham yang mengalami penurunan signifikan di antaranya adalah Li Auto yang turun 3,7%, Innovent Biologics merosot 3,5%, Zijin Mining Group melemah 2,9%, serta Xiaomi Corp. yang terkoreksi 2,7%. Kinerja negatif ini menegaskan masih rapuhnya kepercayaan investor terhadap prospek pasar Hong Kong di tengah ketidakpastian global dan tekanan eksternal dari Amerika Serikat.

Sumber : newsmaker.id

Jumat, 31 Oktober 2025

Nikkei Ditutup Menguat, Dipimpin Saham Teknologi dan Elektronik

 

Indeks Nikkei 225 ditutup menguat pada Kamis (31 Oktober 2025), didorong oleh lonjakan saham-saham teknologi dan elektronik yang memimpin pergerakan pasar. Kenaikan ini terjadi setelah Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya, sementara pelemahan yen memberikan dorongan positif terhadap prospek laba bagi emiten berorientasi ekspor.

Sentimen positif semakin kuat setelah investor merespons kebijakan moneter BoJ yang tetap akomodatif, menandakan bahwa bank sentral Jepang belum melihat urgensi untuk mengetatkan kebijakan di tengah ketidakpastian global. Pelemahan yen terhadap dolar AS menjadi katalis penting bagi saham-saham eksportir, terutama di sektor semikonduktor, elektronik, dan otomotif, yang mendapat manfaat langsung dari peningkatan daya saing produk Jepang di pasar global.

Saham berkapitalisasi besar di sektor chip, perangkat elektronik, dan teknologi internet menjadi motor utama kenaikan indeks. Emiten seperti Tokyo Electron, Sony Group, dan SoftBank Group mencatat penguatan signifikan, mencerminkan optimisme investor terhadap permintaan global yang tetap kuat untuk produk teknologi. Selain itu, sentimen pasar juga mendapat dukungan dari meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok setelah pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping. Kesepakatan yang dihasilkan, meski belum menjamin kestabilan jangka panjang, berhasil memicu peningkatan selera risiko di kalangan investor.

Secara keseluruhan, Nikkei 225 ditutup naik sekitar 1% dan bertahan di level 52,4, menandai performa positif di akhir Oktober. Penguatan ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap potensi pemulihan ekonomi Jepang yang ditopang oleh sektor ekspor dan dukungan kebijakan moneter yang longgar.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati langkah-langkah lanjutan pemerintah Jepang dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, termasuk stimulus fiskal dan kebijakan industri strategis. Pergerakan yen juga akan tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan arah bursa, sementara sinyal kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) berpotensi memengaruhi arus modal global ke aset berisiko seperti saham Jepang. Dalam konteks ini, kombinasi antara stabilitas kebijakan BoJ, prospek ekspor yang solid, dan kondisi eksternal yang lebih kondusif dapat menjadi pendorong utama bagi kelanjutan tren positif Nikkei di bulan-bulan mendatang.

Sumber : newsmaker.id 

Rabu, 29 Oktober 2025

Bursa Eropa Alami Koreksi Tipis di Tengah Aksi Tunggu Investor

 


Bursa saham Eropa mengalami pelemahan tipis pada Rabu, 29 Oktober 2025, setelah mencetak rekor tertinggi selama beberapa hari berturut-turut. Indeks STOXX 600 turun sekitar -0,3% ke level 576 poin, sementara STOXX 50 juga terkoreksi dari puncaknya. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor mulai mengambil sikap hati-hati sambil menunggu rilis data ekonomi penting serta keputusan kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed).

Sektor farmasi menjadi salah satu penekan utama pasar. Saham raksasa farmasi seperti Novartis merosot sekitar -4,3% setelah laporan keuangan yang dirilis mengecewakan ekspektasi pasar. Sebaliknya, sektor keuangan dan teknologi justru memberikan sentimen positif. HSBC naik sekitar 4,4% setelah menaikkan proyeksi laba tahun 2025, sedangkan Nokia melonjak hampir 20% usai mengumumkan investasi strategis dari Nvidia, yang memperkuat optimisme terhadap prospek inovasi dan pertumbuhan digital di Eropa.

Meskipun koreksi yang terjadi tergolong ringan, analis menilai reli sebelumnya telah “memanas,” dan pasar kini memasuki fase konsolidasi alami. Investor cenderung menunggu arah yang lebih jelas sebelum melakukan aksi beli dalam skala besar. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat dan keputusan suku bunga The Fed dipandang sebagai dua katalis utama yang akan menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya.

Dalam jangka menengah, sentimen investor terhadap pasar Eropa masih cenderung optimistis, didukung oleh pemulihan ekonomi regional dan kinerja korporasi yang stabil. Namun dalam jangka pendek, kehati-hatian tetap mendominasi karena potensi tekanan dari faktor eksternal. Jika sinyal dari The Fed mengarah pada kebijakan yang lebih hawkish, bursa Eropa berpotensi mengalami koreksi lanjutan. Sebaliknya, apabila nada yang disampaikan cenderung dovish atau terdapat kejutan positif dari data ekonomi, peluang penguatan masih terbuka lebar.

Secara keseluruhan, dinamika pasar saham Eropa saat ini mencerminkan fase penyesuaian sehat setelah reli panjang. Dengan volatilitas yang masih terjaga dan prospek fundamental yang relatif solid, investor disarankan untuk tetap selektif, fokus pada sektor dengan pertumbuhan berkelanjutan, serta menunggu konfirmasi arah pasar sebelum melakukan akumulasi lebih lanjut.

Senin, 27 Oktober 2025

Euro Melemah Tipis, Pasar Cemas Menanti Keputusan The Fed


Pasangan mata uang EUR/USD bergerak melemah dari area 1.1650 ke sekitar 1.1625 pada Senin (27 Oktober), meskipun masih mampu mempertahankan sebagian penguatan yang diraih sebelumnya setelah sempat menyentuh level 1.1580 pekan lalu. Sentimen pasar sedikit membaik seiring meningkatnya harapan akan gencatan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang memicu minat risiko (risk appetite) di kalangan investor.

Negosiator dari kedua negara dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan, dan pasar berharap Presiden AS Donald Trump serta Presiden Tiongkok Xi Jinping dapat secara resmi memperpanjang gencatan dagang ketika mereka bertemu akhir pekan ini. Harapan bahwa perang tarif tidak akan berlanjut telah membantu menahan pelemahan euro lebih dalam, sekaligus mengurangi tekanan terhadap aset berisiko. Dalam konteks ini, perbaikan sentimen global menjadi faktor utama yang membatasi penurunan EUR/USD di tengah ketidakpastian kebijakan moneter.

Namun, pasar kini memasuki fase menunggu keputusan besar dari bank sentral dunia, terutama Federal Reserve (The Fed) yang akan menggelar pertemuan pada Rabu malam waktu setempat. Ekspektasi pelaku pasar saat ini mengarah pada pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan pelemahan yang lebih dalam dari perkiraan. Meski demikian, fokus utama bukan hanya pada keputusan suku bunga itu sendiri, melainkan pada pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang akan memberikan sinyal arah kebijakan berikutnya—apakah pemangkasan suku bunga akan berlanjut pada Desember, atau cukup berhenti di sini.

Dari sisi Eropa, pelaku pasar juga bersiap menghadapi dua peristiwa penting yang berpotensi menambah volatilitas euro, yakni rilis data awal PDB Zona Euro kuartal III dan keputusan suku bunga European Central Bank (ECB) yang dijadwalkan pada Kamis. Data ekonomi Eropa yang masih lemah dapat memperkuat tekanan terhadap euro, terutama jika ECB memberikan nada dovish atau mengindikasikan kebijakan pelonggaran tambahan. Sebaliknya, jika data pertumbuhan menunjukkan stabilisasi, euro berpeluang mendapatkan dorongan jangka pendek.

Secara teknikal, EUR/USD menghadapi area resistance kuat di sekitar 1.1660–1.1680, sementara support terdekat berada di 1.1580, level yang sempat diuji pekan lalu. Penembusan di bawah level tersebut bisa memperdalam koreksi menuju area 1.1550, sedangkan penguatan di atas resistance akan membuka peluang menuju 1.1700.

Bagi investor dan trader, minggu ini menjadi periode krusial yang menuntut kewaspadaan ekstra dan strategi manajemen risiko yang disiplin. Kombinasi faktor fundamental—mulai dari keputusan The Fed, komentar Powell, hingga data ekonomi Eropa—akan menentukan arah pergerakan euro dalam jangka pendek. Pasar tampak berhati-hati, dan setiap pernyataan bernada dovish atau hawkish dari bank sentral dapat memicu reaksi tajam dalam hitungan detik.

Artikel ini dioptimalkan untuk SEO dengan kata kunci utama: EUR/USD, euro melemah, keputusan The Fed, Jerome Powell, ECB, dan ekonomi Zona Euro.