Rabu, 26 November 2025

Reli Efek Hong Kong Berlanjut: Sinyal Pemulihan atau Momentum Sementara?

 

Reli pasar saham Hong Kong kembali berlanjut untuk hari ketiga berturut-turut pada Rabu, mendekati rangkaian kenaikan terpanjang dalam dua minggu terakhir. Indeks Hang Seng menguat 0,6% ke level 26.039,99, dipimpin oleh lonjakan saham-saham teknologi. Meituan mencatat kenaikan mencolok sebesar 6,6% menjelang rilis laporan keuangannya, sementara ZTO Express naik 3,5%, BYD menguat 2,7%, dan JD.com mencatat pertumbuhan 1,8%. Di sisi lain, Alibaba terkoreksi tipis 0,1% meskipun laba kuartal Septembernya anjlok 52% secara tahunan—penurunan yang tetap lebih baik dari ekspektasi pasar. Sentimen positif ini turut menular ke Tiongkok daratan, di mana indeks CSI 300 naik 0,5% dan Shanghai Composite bertambah 0,2%.

Kenaikan ini tidak terlepas dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga. Data terbaru menunjukkan melemahnya kepercayaan konsumen AS dan penjualan ritel yang lesu, mendorong pasar kembali pada pola pikir “bad news is good news”, di mana data ekonomi yang lemah dianggap memberikan ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Dampaknya terasa luas di pasar Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,9%, Kospi Korea Selatan menguat 2%, dan S&P/ASX 200 Australia naik 0,8%. Gelombang penguatan ini menandakan pulihnya selera risiko investor di kawasan.

Secara keseluruhan, kombinasi optimisme terhadap stimulus moneter global, performa kuat saham teknologi, serta pemulihan sentimen regional menjadi motor utama reli bursa Hong Kong. Namun, keberlanjutan momentum ini akan sangat bergantung pada rilis data makroekonomi mendatang, hasil kinerja emiten teknologi besar, serta arah kebijakan bank sentral utama dunia.

Senin, 24 November 2025

Diskon Gila-Gilaan Minyak Rusia: Beranikah India Ambil Risiko?

 

Harga minyak Rusia jenis Urals anjlok ke level terendah dalam setidaknya dua tahun terakhir. Setelah sanksi Amerika Serikat menyasar raksasa energi Rosneft dan Lukoil, aliran minyak murah yang selama ini dinikmati India mendadak terhenti. Namun kini, Rusia kembali menggoda pasar dengan menawarkan diskon besar—hingga US$7 per barel di bawah harga Brent, jauh lebih dalam dibanding diskon sebelumnya yang hanya sekitar US$3.

Refiner India Awalnya Menolak, Risiko Hukum Jadi Kekhawatiran Utama

Ketika sanksi mulai berlaku pekan lalu, banyak perusahaan pengilangan minyak India memilih untuk menolak penawaran pengiriman minyak Rusia. Kekhawatiran bahwa minyak tersebut berasal dari perusahaan yang masuk daftar hitam AS membuat para pelaku industri takut terseret risiko hukum, penyitaan muatan, hingga potensi gangguan rantai pasokan. Untuk mengamankan kebutuhan energi, India pun meningkatkan pembelian dari kawasan Timur Tengah.

Harga Turun Tajam, Sikap India Mulai Berubah

Namun penurunan harga yang agresif telah mengubah dinamika pasar dalam beberapa hari terakhir. Diskon besar membuat beberapa pengilangan India kembali mempertimbangkan pembelian minyak Urals, dengan satu syarat: minyak harus berasal dari pemasok yang tidak masuk dalam daftar sanksi AS. Meski demikian, sumber pasar menyebut bahwa hanya sekitar 20% dari total kargo yang ditawarkan benar-benar “bersih”—artinya berasal dari entitas yang tidak terkena sanksi.

Kondisi ini menempatkan India pada dilema strategis. Di satu sisi, potongan harga yang besar sangat menguntungkan, terutama bagi negara importir minyak terbesar ketiga di dunia. Di sisi lain, risiko hukum dan geopolitik tetap menghantui. Keputusan yang salah dapat berdampak pada pembiayaan, asuransi, hingga pengiriman internasional.

Sanksi AS Mengacaukan Perdagangan Minyak Rusia

Anjloknya harga Urals adalah bukti nyata bahwa sanksi Amerika Serikat mulai mengguncang struktur perdagangan minyak Rusia. Produsen Rusia kini harus memangkas harga lebih dalam agar tetap menarik bagi pembeli, terutama negara-negara yang tidak secara langsung mengikuti kebijakan sanksi Barat. Penurunan harga ini juga membuka peluang bagi India untuk memanfaatkan kondisi pasar—meski penuh risiko.

Jika semakin banyak kilang India kembali membeli Urals, arus perdagangan yang sempat tersendat dapat pulih, meski kemungkinan hanya dalam skala terbatas. Namun langkah ini akan sangat bergantung pada ketatnya pengawasan AS, kesiapan Rusia menyediakan kargo “bersih,” serta seberapa besar India siap menanggung risiko demi mendapatkan minyak diskon.

Kesimpulan: Peluang Besar, Risiko Sama Besarnya

Diskon besar-besaran dari Rusia menawarkan keuntungan ekonomi yang sulit diabaikan oleh India. Namun setiap keputusan pembelian kini berada dalam bayang-bayang sanksi AS. India harus menyeimbangkan antara kebutuhan energi, kepentingan ekonomi, dan kehati-hatian geopolitik. Dalam situasi saat ini, pertanyaannya bukan lagi apakah harga murah itu menarik—tetapi apakah India cukup berani untuk mengambil risiko di baliknya.

Rabu, 19 November 2025

Nikkei Tertekan Sentimen Takut, Aksi Beli Murah Kehilangan Tenaga

Indeks Nikkei ditutup melemah 0,9% ke level 48.281,47, menghapus seluruh kenaikan yang sempat terbentuk di awal sesi. Sentimen risk-off mendominasi pasar, membuat aksi beli murah (bargain hunting) tidak cukup kuat menahan tekanan jual yang semakin intens. Dalam beberapa hari terakhir, pasar saham global memang berada di bawah tekanan signifikan akibat kekhawatiran yang terus meningkat.

Menurut Analis Makro Global FOREX.com, Fawad Razaqzada, pasar global sedang menghadapi tekanan berat yang dipicu oleh kecemasan investor terhadap sektor teknologi. Menjelang rilis laporan keuangan Nvidia pada Rabu waktu setempat, pelaku pasar memilih berhati-hati dan mengurangi eksposur terhadap aset-aset berisiko. Ketidakpastian ini menambah beban pada sentimen pasar Jepang.

Beberapa saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama Nikkei. MODEC Inc. anjlok sekitar 8,0%, Kioxia Holdings terkoreksi 5,6%, dan Ebara jatuh 7,3%. Tekanan ini menunjukkan bahwa aksi jual terfokus pada saham-saham yang dianggap sensitif terhadap prospek pendapatan dan volatilitas global.

Di pasar valuta asing, pasangan USD/JPY bergerak relatif stabil di sekitar 155,43—hampir tidak berubah dari penutupan New York di level 155,52. Stabilnya yen menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menunggu katalis besar berikutnya, baik dari data ekonomi maupun kebijakan bank sentral, sebelum melakukan reposisi lebih agresif.

Senin, 17 November 2025

Pound Melemah, Pasar Semakin Yakin BoE Akan Turunkan Suku Bunga Desember Ini

Pasangan GBP/USD turun ke area 1.3155 pada awal sesi Asia, menandai tekanan baru pada pound sterling di tengah kekhawatiran ekonomi Inggris yang melemah dan meningkatnya beban fiskal. Pelaku pasar juga menantikan pidato anggota eksternal Bank of England (BoE), Catherine Mann, yang berpotensi memberi sinyal arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Keputusan Perdana Menteri Keir Starmer dan Kanselir Rachel Reeves untuk membatalkan rencana kenaikan pajak penghasilan menjelang pengumuman anggaran 26 November menambah tekanan pada pound. Data domestik yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan upah dan penurunan GDP memperkuat pandangan bahwa ekonomi Inggris sedang kehilangan momentum. Kombinasi faktor ini meningkatkan keyakinan pasar bahwa BoE akan memangkas suku bunga sebesar 0,25% pada Desember, dengan probabilitas yang kini mendekati 80%.

Dari sisi Amerika Serikat, pelaku pasar bersiap menghadapi serangkaian rilis data ekonomi yang tertunda akibat penutupan pemerintahan. Banyak analis memperkirakan data tersebut akan mengonfirmasi pelemahan pasar tenaga kerja serta potensi perlambatan ekonomi AS. Jika hasilnya lebih buruk dari ekspektasi, tekanan pada dolar AS dapat meningkat dan memberikan ruang pemulihan bagi GBP/USD.

Meski begitu, peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada Desember masih dianggap tidak pasti. Probabilitas penurunan 25 bps turun menjadi sekitar 54% dari sebelumnya 62,9%, menurut CME FedWatch. Dengan kedua bank sentral berada dalam sorotan, perbedaan kecepatan pemangkasan suku bunga antara BoE dan Fed diperkirakan menjadi pendorong utama pergerakan GBP/USD dalam beberapa minggu mendatang.

Sumber : newsmaker.id 

Kamis, 13 November 2025

Emas Tetap Kuat, Apa yang Menjaga Harga Tetap Naik?


Harga emas terus menunjukkan ketahanan luar biasa setelah melonjak hampir 2% pada Rabu lalu, meskipun ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat semakin dalam akibat tidak tersedianya data ekonomi resmi selama enam minggu penutupan pemerintahan. Pada Kamis (13 November), emas diperdagangkan di kisaran US$4.200 per ons, menandai konsolidasi dari reli empat hari berturut-turut — periode penguatan terpanjang dalam sebulan terakhir. Di saat yang sama, para pembuat kebijakan AS masih memperdebatkan langkah berikutnya terkait keputusan suku bunga, yang menambah ketidakpastian di pasar.

Persetujuan Rancangan Undang-Undang pendanaan sementara oleh DPR AS untuk mengakhiri penutupan pemerintahan memang memberikan sedikit harapan, namun Gedung Putih telah memperingatkan bahwa data resmi ketenagakerjaan dan inflasi untuk bulan Oktober kemungkinan besar tidak akan dipublikasikan. Kekosongan data ini membuat banyak investor beralih pada sumber data swasta untuk memahami kondisi ekonomi AS. Ketidakpastian tersebut justru mendorong permintaan terhadap emas, karena logam mulia ini dianggap sebagai aset lindung nilai yang aman. Akibatnya, harga emas melonjak hampir 5% dalam sepekan, didorong oleh ekspektasi bahwa suku bunga akan kembali dipangkas setelah pemerintahan AS kembali beroperasi penuh.

Meski demikian, perdebatan di internal Federal Reserve menambah dinamika tersendiri. Sejumlah pejabat, seperti Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic dan Presiden Bank of Boston Susan Collins, menyatakan dukungan untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini guna menekan inflasi. Perbedaan pandangan ini menciptakan ketegangan di pasar keuangan, membuat para pelaku pasar mencari kepastian dengan meningkatkan kepemilikan emas sebagai bentuk perlindungan dari risiko kebijakan moneter yang tidak menentu.

Secara global, kinerja emas sepanjang tahun ini luar biasa, dengan kenaikan hampir 60% — laju pertumbuhan tahunan terbaik sejak 1979. Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara, terutama Tiongkok, sebagai strategi diversifikasi cadangan devisa dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan yang didominasi dolar AS. Meskipun harga emas sempat terkoreksi dari rekor tertingginya bulan lalu, sentimen pasar tetap optimis. Banyak analis memperkirakan bahwa harga emas bisa menembus level US$5.000 per ons pada tahun depan, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan pergeseran strategi investasi menuju aset berwujud yang lebih stabil.

Dengan kombinasi antara ketegangan geopolitik, kebijakan moneter yang belum pasti, dan lonjakan permintaan global, emas terus mempertahankan posisinya sebagai aset pelindung utama di tengah turbulensi ekonomi. Selama faktor-faktor pendukung tersebut bertahan, prospek kenaikan harga emas masih terbuka lebar dalam jangka menengah hingga panjang.