Jumat, 12 Desember 2025

Asia Ikut Reli, Apakah Tren Bullish Bertahan hingga 2026?

 

Pasar saham Asia dibuka menguat pada Jumat pagi (12 Desember) setelah Wall Street dan indeks saham global menorehkan rekor baru. Indeks MSCI Asia naik sekitar 0,5% di awal sesi, mengikuti reli dari bursa Jepang dan Australia yang sama-sama menguat sekitar 1%. Dorongan utama datang dari keputusan The Fed yang kembali memangkas suku bunga untuk ketiga kalinya secara beruntun, sehingga memicu minat investor untuk masuk ke aset berisiko. Dari jajaran saham unggulan, SoftBank Group melonjak lebih dari 5% setelah laporan bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan aksi akuisisi potensial, termasuk operator pusat data Switch Inc.

Di Amerika Serikat, S&P 500 ditutup naik 0,2% pada Kamis malam, membawa Indeks MSCI All Country World ke level penutupan tertinggi sejak 2019. Kinerja ini menempatkan pasar saham global di jalur menuju tahun terbaiknya sejak 2019. Namun, kehati-hatian tetap terlihat di sektor teknologi setelah saham Broadcom melemah di perdagangan after-hours, dipicu oleh proyeksi pendapatan AI yang tidak memenuhi ekspektasi pasar. Indeks berjangka Nasdaq 100 juga sedikit terkoreksi pada awal perdagangan Jumat, menandakan sentimen campuran di sektor teknologi AS. Di Asia, perhatian tambahan tertuju pada Thailand setelah Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memutuskan membubarkan parlemen untuk membuka jalan bagi pemilu awal.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun tipis menyusul data klaim tunjangan pengangguran mingguan yang lebih tinggi dari perkiraan, sementara indeks dolar bergerak dekat posisi terendah dua bulan. Di pasar komoditas, harga tembaga mencetak rekor baru, dengan mayoritas logam industri ikut reli setelah pemangkasan suku bunga oleh The Fed serta revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi AS. Emas dan perak terkoreksi ringan pada sesi Asia setelah reli sebelumnya, minyak kembali menguat, sementara Bitcoin bergerak stabil dalam rentang sempit di sekitar level US$93.000. Dengan dorongan likuiditas global, optimisme pertumbuhan, dan risk appetite yang menguat, pasar Asia tampaknya masih memiliki ruang untuk mempertahankan momentum bullish hingga tahun-tahun mendatang.

Rabu, 10 Desember 2025

Ancaman Kelebihan Pasokan Minyak Tetap Tinggi, Inilah Dinamika yang Mengguncang Harga Minyak Global

Harga minyak mulai menunjukkan tanda stabil setelah dua kali anjlok tajam, namun kestabilan ini masih jauh dari kata aman. WTI kembali berada di atas USD 58 per barel meski sebelumnya merosot sekitar 3% dalam dua sesi terakhir, sementara Brent bertahan di kisaran USD 62 per barel. Penurunan memang tidak berlanjut, tetapi pasar masih dibayangi kecemasan akan risiko kelebihan pasokan global yang terus meningkat.

Perkiraan pemerintah Amerika Serikat menyebutkan bahwa produksi minyak domestik sepanjang tahun ini diprediksi menembus rekor baru, yakni 13,6 juta barel per hari. Angka ini menandakan suplai tambahan dari AS terus membanjiri pasar global, sementara permintaan belum memperlihatkan kenaikan berarti. Ketidakseimbangan ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa harga minyak akan sulit menemukan titik stabil dalam waktu dekat.

Saad Rahim, kepala ekonom di perusahaan perdagangan komoditas Trafigura, bahkan menyebut kondisi saat ini sebagai “glut atau super-glut” yang hampir tak terhindarkan. Meskipun data American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS turun sebesar 4,8 juta barel minggu lalu, penurunan tersebut tertutup oleh lonjakan signifikan pada stok bensin dan distilat seperti solar. Artinya, tekanan dari sisi suplai bahan bakar tetap kuat dan menjadi sinyal bahwa keseimbangan pasokan belum pulih.

Pergerakan harga minyak sejak awal November pun terpantau terjebak dalam rentang sempit di sekitar USD 4 per barel. Hal ini mencerminkan pasar yang serba ragu, terhimpit antara dua kekuatan besar: kekhawatiran oversupply yang terus membayangi dan risiko geopolitik yang masih bereskalasi. Aliran minyak Rusia ke negara-negara seperti India ikut menjadi faktor yang menahan pasar dari perubahan agresif, membuat banyak pelaku menahan diri dari langkah spekulatif.

Dalam beberapa hari ke depan, pasar akan menyoroti laporan terbaru dari International Energy Agency (IEA) dan OPEC yang diperkirakan memberikan gambaran lebih jelas mengenai proyeksi permintaan dan pasokan global. Untuk saat ini, WTI pengiriman Januari naik tipis 0,2% menjadi USD 58,38 per barel pada pukul 08.15 waktu Singapura, sementara Brent untuk pengiriman Februari ditutup turun 0,9% ke USD 61,94 per barel pada perdagangan Selasa. Pergerakan yang minim ini menunjukkan pasar masih menunggu arah yang lebih pasti, di tengah ancaman kelebihan pasokan yang kian menekan dinamika harga minyak dunia.

Sumber : newsmaker.id 

Senin, 08 Desember 2025

Saham Hong Kong Melemah, Investor Berhati-Hati Menjelang Rilis Data Ekonomi Tiongkok

Indeks saham Hong Kong tergelincir pada perdagangan Senin pagi, turun sekitar 165 poin atau 0,6% menuju level 25.915. Koreksi ini menghentikan reli dua sesi sebelumnya dan menandai kembalinya sikap waspada di kalangan investor. Sektor keuangan dan konsumer memimpin pelemahan setelah beberapa hari penguatan beruntun mendorong pelaku pasar memilih menahan diri sambil menunggu petunjuk baru terkait arah ekonomi regional.

Fokus utama pasar kini tertuju pada rilis data perdagangan Tiongkok untuk November. Data Oktober sebelumnya mencatat penurunan ekspor yang tak terduga dan impor yang lebih lemah dari perkiraan, memunculkan kekhawatiran baru mengenai kesehatan ekonomi Tiongkok. Pasar juga menanti data CPI dan PPI yang akan dirilis akhir pekan ini, di tengah kekhawatiran akan risiko deflasi yang terus membayangi. Ketidakpastian ini membuat investor lebih selektif, terutama karena data-data tersebut berpotensi mempengaruhi prospek stimulus dan arah kebijakan ekonomi Beijing.

Di kancah global, futures saham AS bergerak mixed karena pelaku pasar menunggu keputusan kebijakan The Fed. Ekspektasi saat ini dipengaruhi oleh sinyal pelemahan pasar tenaga kerja serta pergantian kepemimpinan di bank sentral AS. Kombinasi faktor-faktor ini menambah kecermasan pasar Asia, termasuk Hong Kong, mengingat keterhubungan ekonomi yang kuat antara kawasan dan Amerika Serikat.

Meskipun tekanan jual cukup terasa, sentimen pasar mendapatkan sedikit penopang dari kabar positif di sisi cadangan devisa. Data terbaru menunjukkan cadangan devisa Tiongkok meningkat pada November, yang menjadi sinyal stabilitas menjelang Central Economic Work Conference. Hong Kong juga mencatat kenaikan cadangan devisa untuk bulan kedua berturut-turut, kini berada di level tertinggi lima bulan. Namun demikian, kehati-hatian tetap mendominasi, tercermin dari penurunan tajam pada sejumlah saham seperti Pop Mart (-5,8%), Innovent Biologics (-5,7%), Cherry Auto (-4,2%), dan China Hongqiao (-3,4%). Pergerakan ini menegaskan bahwa investor memilih menunggu kepastian dari data ekonomi yang akan dirilis, sambil mempertahankan strategi defensif di tengah ketidakpastian regional dan global.

Kamis, 04 Desember 2025

Perak Mendekati Rekor Tertinggi di Tengah Keyakinan Pasar Akan Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Perak stabil mendekati level tertinggi sepanjang masa pada Kamis, bertahan di sekitar $58,50 per ons troy, hanya kurang dari satu dolar dari rekor $58,97 yang tercapai sehari sebelumnya. Kenaikan ini telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut, didorong spekulasi mengenai pasokan yang semakin ketat serta ekspektasi penurunan suku bunga AS—kombinasi yang biasanya menguntungkan logam mulia karena sifatnya yang tidak menawarkan imbal hasil bunga.

Momentum kenaikan perak semakin kuat setelah data ketenagakerjaan ADP menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas jumlah pekerja pada November dalam tingkat terbesar sejak awal 2023. Rilis tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang melemahnya pasar tenaga kerja dan mempertegas keyakinan pasar bahwa Federal Reserve hampir pasti memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 9–10 Desember mendatang. Di saat yang sama, indeks dolar AS juga melemah sekitar 0,4%, membuat harga perak dan logam mulia lainnya lebih terjangkau bagi pembeli internasional.

Sementara itu, emas hanya naik tipis 0,1% ke $4.206,89 per ons troy, menunjukkan pergerakan yang jauh lebih moderat dibanding perak. Di antara logam mulia lainnya, palladium mencatat penguatan, sedangkan platinum bergerak sedikit melemah. Secara keseluruhan, kombinasi pelemahan dolar, ekspektasi pemangkasan suku bunga, serta kekhawatiran pasokan telah menjadikan perak sebagai salah satu komoditas yang paling bersinar di pasar global saat ini.

Sumber : newsmaker.id 

Selasa, 02 Desember 2025

Emas Melemah Tipis: Apakah The Fed Masih Menekan Pasa

Harga emas bergerak melemah di awal perdagangan Selasa setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi enam pekan. Spot gold turun sekitar 0,4% ke kisaran US$4.215 per troy ounce, sementara kontrak berjangka Desember terkoreksi 0,6% ke sekitar US$4.247 per troy ounce. Tekanan terbesar datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati level tertinggi dua pekan, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Aksi ambil untung pascarally sebelumnya turut memperkuat tekanan jual.

Meskipun pergerakan emas terlihat lesu, sentimen fundamental masih relatif mendukung. Pasar tetap mengantisipasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, dengan probabilitas pemotongan pada Desember mencapai sekitar 88% menurut CME FedWatch. Suku bunga yang lebih rendah biasanya menguntungkan emas karena menurunkan opportunity cost dalam memegang aset non-yielding. Namun, pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang pidato Ketua The Fed Jerome Powell serta rilis data penting seperti laporan ketenagakerjaan ADP dan indeks core PCE yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter.

Arus modal menunjukkan minat terhadap emas masih solid. SPDR Gold Trust—ETF emas terbesar dunia—mencatat kenaikan kepemilikan sebesar 0,44% menjadi 1.050,01 ton. Di sisi lain, logam mulia lain bergerak bervariasi: perak turun 1,9% ke sekitar US$56,88 per troy ounce, sementara platinum dan paladium mencatat kenaikan tipis. Secara keseluruhan, koreksi saat ini tampak sebagai jeda teknikal di tengah sentimen jangka menengah yang tetap ditopang oleh potensi penurunan suku bunga AS.