Jumat, 28 November 2025

Dolar Australia Menguat: Akankah RBA Kembali Naikkan Suku Bunga?

Dolar Australia (AUD) terus menguat terhadap dolar AS pada Jumat, menandai reli enam hari berturut-turut. Kenaikan ini tidak hanya terjadi terhadap USD, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Penguatannya dipicu data inflasi Australia yang lebih tinggi dari perkiraan, dengan indeks harga konsumen naik selama empat bulan beruntun pada Oktober dan kini berada di atas target RBA sebesar 2%–3%. Kondisi ini membuat pasar mulai meragukan kemungkinan pelonggaran kebijakan dan justru melihat potensi kenaikan suku bunga lanjutan dari Reserve Bank of Australia (RBA).

Meski begitu, untuk pertemuan Desember, RBA masih diperkirakan mempertahankan Official Cash Rate (OCR) di level 3,6%. Inflasi yang tinggi dianggap belum cukup menjadi alasan untuk perubahan kebijakan cepat, terutama karena pasar tenaga kerja masih relatif stabil meski tingkat pengangguran sedikit meningkat. Di sisi lain, Data Kredit Sektor Swasta yang dirilis Jumat mencatat pertumbuhan pinjaman sebesar 0,7% secara bulanan di Oktober, melampaui ekspektasi 0,6%, sementara pertumbuhan tahunan naik menjadi 7,3%.

Kontrak berjangka suku bunga ASX 30 hari hanya mencerminkan peluang sekitar 6% untuk pemangkasan suku bunga Desember, menandakan pasar lebih condong pada skenario suku bunga tinggi yang berkepanjangan. Ekspektasi ini pada akhirnya memberikan dukungan tambahan bagi kekuatan AUD di pasar global.

Sumber : newsmaker.id

Rabu, 26 November 2025

Reli Efek Hong Kong Berlanjut: Sinyal Pemulihan atau Momentum Sementara?

 

Reli pasar saham Hong Kong kembali berlanjut untuk hari ketiga berturut-turut pada Rabu, mendekati rangkaian kenaikan terpanjang dalam dua minggu terakhir. Indeks Hang Seng menguat 0,6% ke level 26.039,99, dipimpin oleh lonjakan saham-saham teknologi. Meituan mencatat kenaikan mencolok sebesar 6,6% menjelang rilis laporan keuangannya, sementara ZTO Express naik 3,5%, BYD menguat 2,7%, dan JD.com mencatat pertumbuhan 1,8%. Di sisi lain, Alibaba terkoreksi tipis 0,1% meskipun laba kuartal Septembernya anjlok 52% secara tahunan—penurunan yang tetap lebih baik dari ekspektasi pasar. Sentimen positif ini turut menular ke Tiongkok daratan, di mana indeks CSI 300 naik 0,5% dan Shanghai Composite bertambah 0,2%.

Kenaikan ini tidak terlepas dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga. Data terbaru menunjukkan melemahnya kepercayaan konsumen AS dan penjualan ritel yang lesu, mendorong pasar kembali pada pola pikir “bad news is good news”, di mana data ekonomi yang lemah dianggap memberikan ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Dampaknya terasa luas di pasar Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,9%, Kospi Korea Selatan menguat 2%, dan S&P/ASX 200 Australia naik 0,8%. Gelombang penguatan ini menandakan pulihnya selera risiko investor di kawasan.

Secara keseluruhan, kombinasi optimisme terhadap stimulus moneter global, performa kuat saham teknologi, serta pemulihan sentimen regional menjadi motor utama reli bursa Hong Kong. Namun, keberlanjutan momentum ini akan sangat bergantung pada rilis data makroekonomi mendatang, hasil kinerja emiten teknologi besar, serta arah kebijakan bank sentral utama dunia.

Senin, 24 November 2025

Diskon Gila-Gilaan Minyak Rusia: Beranikah India Ambil Risiko?

 

Harga minyak Rusia jenis Urals anjlok ke level terendah dalam setidaknya dua tahun terakhir. Setelah sanksi Amerika Serikat menyasar raksasa energi Rosneft dan Lukoil, aliran minyak murah yang selama ini dinikmati India mendadak terhenti. Namun kini, Rusia kembali menggoda pasar dengan menawarkan diskon besar—hingga US$7 per barel di bawah harga Brent, jauh lebih dalam dibanding diskon sebelumnya yang hanya sekitar US$3.

Refiner India Awalnya Menolak, Risiko Hukum Jadi Kekhawatiran Utama

Ketika sanksi mulai berlaku pekan lalu, banyak perusahaan pengilangan minyak India memilih untuk menolak penawaran pengiriman minyak Rusia. Kekhawatiran bahwa minyak tersebut berasal dari perusahaan yang masuk daftar hitam AS membuat para pelaku industri takut terseret risiko hukum, penyitaan muatan, hingga potensi gangguan rantai pasokan. Untuk mengamankan kebutuhan energi, India pun meningkatkan pembelian dari kawasan Timur Tengah.

Harga Turun Tajam, Sikap India Mulai Berubah

Namun penurunan harga yang agresif telah mengubah dinamika pasar dalam beberapa hari terakhir. Diskon besar membuat beberapa pengilangan India kembali mempertimbangkan pembelian minyak Urals, dengan satu syarat: minyak harus berasal dari pemasok yang tidak masuk dalam daftar sanksi AS. Meski demikian, sumber pasar menyebut bahwa hanya sekitar 20% dari total kargo yang ditawarkan benar-benar “bersih”—artinya berasal dari entitas yang tidak terkena sanksi.

Kondisi ini menempatkan India pada dilema strategis. Di satu sisi, potongan harga yang besar sangat menguntungkan, terutama bagi negara importir minyak terbesar ketiga di dunia. Di sisi lain, risiko hukum dan geopolitik tetap menghantui. Keputusan yang salah dapat berdampak pada pembiayaan, asuransi, hingga pengiriman internasional.

Sanksi AS Mengacaukan Perdagangan Minyak Rusia

Anjloknya harga Urals adalah bukti nyata bahwa sanksi Amerika Serikat mulai mengguncang struktur perdagangan minyak Rusia. Produsen Rusia kini harus memangkas harga lebih dalam agar tetap menarik bagi pembeli, terutama negara-negara yang tidak secara langsung mengikuti kebijakan sanksi Barat. Penurunan harga ini juga membuka peluang bagi India untuk memanfaatkan kondisi pasar—meski penuh risiko.

Jika semakin banyak kilang India kembali membeli Urals, arus perdagangan yang sempat tersendat dapat pulih, meski kemungkinan hanya dalam skala terbatas. Namun langkah ini akan sangat bergantung pada ketatnya pengawasan AS, kesiapan Rusia menyediakan kargo “bersih,” serta seberapa besar India siap menanggung risiko demi mendapatkan minyak diskon.

Kesimpulan: Peluang Besar, Risiko Sama Besarnya

Diskon besar-besaran dari Rusia menawarkan keuntungan ekonomi yang sulit diabaikan oleh India. Namun setiap keputusan pembelian kini berada dalam bayang-bayang sanksi AS. India harus menyeimbangkan antara kebutuhan energi, kepentingan ekonomi, dan kehati-hatian geopolitik. Dalam situasi saat ini, pertanyaannya bukan lagi apakah harga murah itu menarik—tetapi apakah India cukup berani untuk mengambil risiko di baliknya.

Rabu, 19 November 2025

Nikkei Tertekan Sentimen Takut, Aksi Beli Murah Kehilangan Tenaga

Indeks Nikkei ditutup melemah 0,9% ke level 48.281,47, menghapus seluruh kenaikan yang sempat terbentuk di awal sesi. Sentimen risk-off mendominasi pasar, membuat aksi beli murah (bargain hunting) tidak cukup kuat menahan tekanan jual yang semakin intens. Dalam beberapa hari terakhir, pasar saham global memang berada di bawah tekanan signifikan akibat kekhawatiran yang terus meningkat.

Menurut Analis Makro Global FOREX.com, Fawad Razaqzada, pasar global sedang menghadapi tekanan berat yang dipicu oleh kecemasan investor terhadap sektor teknologi. Menjelang rilis laporan keuangan Nvidia pada Rabu waktu setempat, pelaku pasar memilih berhati-hati dan mengurangi eksposur terhadap aset-aset berisiko. Ketidakpastian ini menambah beban pada sentimen pasar Jepang.

Beberapa saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama Nikkei. MODEC Inc. anjlok sekitar 8,0%, Kioxia Holdings terkoreksi 5,6%, dan Ebara jatuh 7,3%. Tekanan ini menunjukkan bahwa aksi jual terfokus pada saham-saham yang dianggap sensitif terhadap prospek pendapatan dan volatilitas global.

Di pasar valuta asing, pasangan USD/JPY bergerak relatif stabil di sekitar 155,43—hampir tidak berubah dari penutupan New York di level 155,52. Stabilnya yen menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menunggu katalis besar berikutnya, baik dari data ekonomi maupun kebijakan bank sentral, sebelum melakukan reposisi lebih agresif.

Senin, 17 November 2025

Pound Melemah, Pasar Semakin Yakin BoE Akan Turunkan Suku Bunga Desember Ini

Pasangan GBP/USD turun ke area 1.3155 pada awal sesi Asia, menandai tekanan baru pada pound sterling di tengah kekhawatiran ekonomi Inggris yang melemah dan meningkatnya beban fiskal. Pelaku pasar juga menantikan pidato anggota eksternal Bank of England (BoE), Catherine Mann, yang berpotensi memberi sinyal arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Keputusan Perdana Menteri Keir Starmer dan Kanselir Rachel Reeves untuk membatalkan rencana kenaikan pajak penghasilan menjelang pengumuman anggaran 26 November menambah tekanan pada pound. Data domestik yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan upah dan penurunan GDP memperkuat pandangan bahwa ekonomi Inggris sedang kehilangan momentum. Kombinasi faktor ini meningkatkan keyakinan pasar bahwa BoE akan memangkas suku bunga sebesar 0,25% pada Desember, dengan probabilitas yang kini mendekati 80%.

Dari sisi Amerika Serikat, pelaku pasar bersiap menghadapi serangkaian rilis data ekonomi yang tertunda akibat penutupan pemerintahan. Banyak analis memperkirakan data tersebut akan mengonfirmasi pelemahan pasar tenaga kerja serta potensi perlambatan ekonomi AS. Jika hasilnya lebih buruk dari ekspektasi, tekanan pada dolar AS dapat meningkat dan memberikan ruang pemulihan bagi GBP/USD.

Meski begitu, peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada Desember masih dianggap tidak pasti. Probabilitas penurunan 25 bps turun menjadi sekitar 54% dari sebelumnya 62,9%, menurut CME FedWatch. Dengan kedua bank sentral berada dalam sorotan, perbedaan kecepatan pemangkasan suku bunga antara BoE dan Fed diperkirakan menjadi pendorong utama pergerakan GBP/USD dalam beberapa minggu mendatang.

Sumber : newsmaker.id 

Kamis, 13 November 2025

Emas Tetap Kuat, Apa yang Menjaga Harga Tetap Naik?


Harga emas terus menunjukkan ketahanan luar biasa setelah melonjak hampir 2% pada Rabu lalu, meskipun ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat semakin dalam akibat tidak tersedianya data ekonomi resmi selama enam minggu penutupan pemerintahan. Pada Kamis (13 November), emas diperdagangkan di kisaran US$4.200 per ons, menandai konsolidasi dari reli empat hari berturut-turut — periode penguatan terpanjang dalam sebulan terakhir. Di saat yang sama, para pembuat kebijakan AS masih memperdebatkan langkah berikutnya terkait keputusan suku bunga, yang menambah ketidakpastian di pasar.

Persetujuan Rancangan Undang-Undang pendanaan sementara oleh DPR AS untuk mengakhiri penutupan pemerintahan memang memberikan sedikit harapan, namun Gedung Putih telah memperingatkan bahwa data resmi ketenagakerjaan dan inflasi untuk bulan Oktober kemungkinan besar tidak akan dipublikasikan. Kekosongan data ini membuat banyak investor beralih pada sumber data swasta untuk memahami kondisi ekonomi AS. Ketidakpastian tersebut justru mendorong permintaan terhadap emas, karena logam mulia ini dianggap sebagai aset lindung nilai yang aman. Akibatnya, harga emas melonjak hampir 5% dalam sepekan, didorong oleh ekspektasi bahwa suku bunga akan kembali dipangkas setelah pemerintahan AS kembali beroperasi penuh.

Meski demikian, perdebatan di internal Federal Reserve menambah dinamika tersendiri. Sejumlah pejabat, seperti Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic dan Presiden Bank of Boston Susan Collins, menyatakan dukungan untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini guna menekan inflasi. Perbedaan pandangan ini menciptakan ketegangan di pasar keuangan, membuat para pelaku pasar mencari kepastian dengan meningkatkan kepemilikan emas sebagai bentuk perlindungan dari risiko kebijakan moneter yang tidak menentu.

Secara global, kinerja emas sepanjang tahun ini luar biasa, dengan kenaikan hampir 60% — laju pertumbuhan tahunan terbaik sejak 1979. Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara, terutama Tiongkok, sebagai strategi diversifikasi cadangan devisa dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan yang didominasi dolar AS. Meskipun harga emas sempat terkoreksi dari rekor tertingginya bulan lalu, sentimen pasar tetap optimis. Banyak analis memperkirakan bahwa harga emas bisa menembus level US$5.000 per ons pada tahun depan, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan pergeseran strategi investasi menuju aset berwujud yang lebih stabil.

Dengan kombinasi antara ketegangan geopolitik, kebijakan moneter yang belum pasti, dan lonjakan permintaan global, emas terus mempertahankan posisinya sebagai aset pelindung utama di tengah turbulensi ekonomi. Selama faktor-faktor pendukung tersebut bertahan, prospek kenaikan harga emas masih terbuka lebar dalam jangka menengah hingga panjang.

Selasa, 11 November 2025

Harga Perak Naik Tiga Hari Berturut: Awal Reli Besar atau Sekadar Pemanasan?

 

Harga perak (XAG/USD) terus menunjukkan performa impresif dengan kenaikan selama tiga sesi berturut-turut, kini bertengger di sekitar USD 50,90 per ons di sesi perdagangan Asia pagi ini. Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga ini mulai menarik perhatian investor di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat, yang memperkuat ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Pernyataan Gubernur The Fed, Stephen Miran, kepada CNBC menjadi katalis utama bagi penguatan sentimen bullish di pasar perak. Ia menegaskan bahwa inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, membuka peluang bagi pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Desember, atau setidaknya 25 basis poin. Pernyataan ini disambut positif oleh pelaku pasar, mengingat perak sering kali menjadi aset pilihan saat kebijakan moneter mulai melonggar dan nilai dolar AS melemah.

Tekanan tambahan terhadap dolar AS juga datang dari data ekonomi yang kurang menggembirakan. Laporan terbaru menunjukkan penurunan lapangan kerja pada bulan Oktober, terutama di sektor pemerintahan dan ritel, serta sentimen konsumen yang merosot ke level terendah dalam 3,5 tahun terakhir. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin kini mencapai sekitar 62%, memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

Namun, euforia pasar ini tidak sepenuhnya tanpa risiko. Potensi berakhirnya penutupan pemerintahan (government shutdown) di AS dapat menjadi faktor penyeimbang. Senat telah menyetujui RUU pendanaan dengan hasil 60-40, dan kini telah dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat. Presiden Donald Trump juga telah menyatakan dukungannya. Jika pemerintahan AS resmi dibuka kembali, publikasi data ekonomi resmi akan dilanjutkan. Hal ini berpotensi menguatkan dolar AS dan imbal hasil obligasi (yield), yang pada gilirannya bisa menguji ketahanan reli perak yang tengah berlangsung.

Secara keseluruhan, pasar perak saat ini berada di persimpangan penting antara momentum jangka pendek dan kemungkinan pembalikan arah. Jika The Fed benar-benar memberi sinyal pemangkasan suku bunga yang agresif, reli perak berpeluang berlanjut dan menembus level psikologis berikutnya. Namun, jika data ekonomi AS kembali menguat dan dolar pulih, reli ini bisa berubah menjadi sekadar pemanasan sementara sebelum konsolidasi baru. Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, investor disarankan untuk tetap mencermati arah kebijakan moneter dan dinamika pasar logam mulia dengan seksama.

Kamis, 06 November 2025

Minyak Rem, Jeda Sebelum Jatuh?

 

Harga minyak mentah bergerak datar setelah mengalami dua hari penurunan berturut-turut. Minyak Brent bertahan di atas level $63 per barel, sementara WTI masih berada di bawah $60 per barel. Pasar tengah menimbang dua berita utama: keputusan Saudi Aramco memangkas harga jual resmi (Official Selling Price/OSP) ke Asia sesuai ekspektasi, serta laporan EIA yang mencatat lonjakan signifikan pada persediaan minyak mentah AS untuk pekan yang berakhir pada 31 Oktober. Kombinasi kedua faktor ini membuat pelaku pasar berhati-hati dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Secara fundamental, kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan (oversupply) masih menjadi tema dominan yang membebani harga. Peningkatan produksi dari negara-negara anggota OPEC+ dan produsen non-anggota terus menekan pasar, meskipun terdapat risiko pasokan akibat sanksi AS terhadap dua produsen besar Rusia serta serangan terhadap infrastruktur energi di beberapa wilayah. Sejumlah analis memperkirakan bahwa surplus pasokan global akan semakin melebar tahun depan. Sementara itu, pemangkasan harga oleh Saudi Aramco lebih dipandang sebagai langkah strategis untuk mempertahankan pangsa pasar, bukan sebagai sinyal akan pengetatan pasokan.

Namun, tidak semua indikator memberikan sinyal negatif. Persediaan bensin AS turun ke level terendah dalam hampir tiga tahun, menunjukkan bahwa permintaan di sektor hilir masih cukup tangguh. Penurunan stok ini menjadi faktor penyeimbang yang menahan tekanan jual lebih dalam di pasar minyak.

Dalam jangka pendek, harga minyak kemungkinan akan bergerak dalam kisaran terbatas. Pelaku pasar menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai dampak diskon harga Saudi terhadap arus perdagangan Asia, arah pergerakan dolar AS yang masih kuat, serta data permintaan energi global berikutnya. Ketiganya akan menjadi penentu apakah fase stabilisasi harga saat ini merupakan awal dari pemulihan atau sekadar jeda sebelum penurunan lebih lanjut.

Selasa, 04 November 2025

Hang Seng Berbalik Arah dan Ditutup Melemah di Tengah Penurunan Sektor yang Meluas

 

Indeks Hang Seng ditutup melemah 206 poin atau sekitar 0,8% ke level 25.952 pada perdagangan Selasa, setelah sempat mencatatkan kenaikan di awal sesi. Sentimen pasar memburuk secara signifikan, menyeret sebagian besar sektor ke zona merah dan menekan optimisme investor yang sempat muncul di awal perdagangan.

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, dengan indeks teknologi anjlok hingga 1,8%. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang melarang perusahaan Nvidia menjual chip kecerdasan buatan (AI) tercanggihnya ke Tiongkok menjadi pemicu utama pelemahan. Meski beberapa penjualan masih diizinkan untuk Beijing, larangan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan perdagangan teknologi antara kedua negara. Di sisi lain, laporan bahwa pemerintah Tiongkok menaikkan subsidi dan memangkas biaya energi untuk pusat data besar tidak cukup mampu mengangkat sentimen pasar.

Saham sektor konsumer dan properti juga mencatatkan pelemahan, mengikuti tren negatif bursa utama di daratan Tiongkok. Penurunan ini diperparah oleh kejatuhan indeks berjangka AS yang terseret ketidakpastian jalur kebijakan suku bunga The Fed setelah dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, serta kekhawatiran atas potensi penutupan pemerintahan AS yang masih berlanjut.

Dari sisi korporasi, emiten properti Tiongkok yang sedang menghadapi tekanan keuangan kembali menjadi sorotan utama. New World Development mengumumkan rencana pertukaran obligasi senilai USD 1,9 miliar yang mencakup potongan nilai bagi kreditur, sementara obligasi dolar Vanke melemah setelah pemegang saham terbesarnya memperketat persyaratan pinjaman. Langkah ini semakin menambah kekhawatiran terhadap stabilitas sektor properti Tiongkok yang masih rentan terhadap tekanan likuiditas.

Beberapa saham yang mengalami penurunan signifikan di antaranya adalah Li Auto yang turun 3,7%, Innovent Biologics merosot 3,5%, Zijin Mining Group melemah 2,9%, serta Xiaomi Corp. yang terkoreksi 2,7%. Kinerja negatif ini menegaskan masih rapuhnya kepercayaan investor terhadap prospek pasar Hong Kong di tengah ketidakpastian global dan tekanan eksternal dari Amerika Serikat.

Sumber : newsmaker.id

Jumat, 31 Oktober 2025

Nikkei Ditutup Menguat, Dipimpin Saham Teknologi dan Elektronik

 

Indeks Nikkei 225 ditutup menguat pada Kamis (31 Oktober 2025), didorong oleh lonjakan saham-saham teknologi dan elektronik yang memimpin pergerakan pasar. Kenaikan ini terjadi setelah Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya, sementara pelemahan yen memberikan dorongan positif terhadap prospek laba bagi emiten berorientasi ekspor.

Sentimen positif semakin kuat setelah investor merespons kebijakan moneter BoJ yang tetap akomodatif, menandakan bahwa bank sentral Jepang belum melihat urgensi untuk mengetatkan kebijakan di tengah ketidakpastian global. Pelemahan yen terhadap dolar AS menjadi katalis penting bagi saham-saham eksportir, terutama di sektor semikonduktor, elektronik, dan otomotif, yang mendapat manfaat langsung dari peningkatan daya saing produk Jepang di pasar global.

Saham berkapitalisasi besar di sektor chip, perangkat elektronik, dan teknologi internet menjadi motor utama kenaikan indeks. Emiten seperti Tokyo Electron, Sony Group, dan SoftBank Group mencatat penguatan signifikan, mencerminkan optimisme investor terhadap permintaan global yang tetap kuat untuk produk teknologi. Selain itu, sentimen pasar juga mendapat dukungan dari meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok setelah pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping. Kesepakatan yang dihasilkan, meski belum menjamin kestabilan jangka panjang, berhasil memicu peningkatan selera risiko di kalangan investor.

Secara keseluruhan, Nikkei 225 ditutup naik sekitar 1% dan bertahan di level 52,4, menandai performa positif di akhir Oktober. Penguatan ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap potensi pemulihan ekonomi Jepang yang ditopang oleh sektor ekspor dan dukungan kebijakan moneter yang longgar.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati langkah-langkah lanjutan pemerintah Jepang dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, termasuk stimulus fiskal dan kebijakan industri strategis. Pergerakan yen juga akan tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan arah bursa, sementara sinyal kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) berpotensi memengaruhi arus modal global ke aset berisiko seperti saham Jepang. Dalam konteks ini, kombinasi antara stabilitas kebijakan BoJ, prospek ekspor yang solid, dan kondisi eksternal yang lebih kondusif dapat menjadi pendorong utama bagi kelanjutan tren positif Nikkei di bulan-bulan mendatang.

Sumber : newsmaker.id 

Rabu, 29 Oktober 2025

Bursa Eropa Alami Koreksi Tipis di Tengah Aksi Tunggu Investor

 


Bursa saham Eropa mengalami pelemahan tipis pada Rabu, 29 Oktober 2025, setelah mencetak rekor tertinggi selama beberapa hari berturut-turut. Indeks STOXX 600 turun sekitar -0,3% ke level 576 poin, sementara STOXX 50 juga terkoreksi dari puncaknya. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor mulai mengambil sikap hati-hati sambil menunggu rilis data ekonomi penting serta keputusan kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed).

Sektor farmasi menjadi salah satu penekan utama pasar. Saham raksasa farmasi seperti Novartis merosot sekitar -4,3% setelah laporan keuangan yang dirilis mengecewakan ekspektasi pasar. Sebaliknya, sektor keuangan dan teknologi justru memberikan sentimen positif. HSBC naik sekitar 4,4% setelah menaikkan proyeksi laba tahun 2025, sedangkan Nokia melonjak hampir 20% usai mengumumkan investasi strategis dari Nvidia, yang memperkuat optimisme terhadap prospek inovasi dan pertumbuhan digital di Eropa.

Meskipun koreksi yang terjadi tergolong ringan, analis menilai reli sebelumnya telah “memanas,” dan pasar kini memasuki fase konsolidasi alami. Investor cenderung menunggu arah yang lebih jelas sebelum melakukan aksi beli dalam skala besar. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat dan keputusan suku bunga The Fed dipandang sebagai dua katalis utama yang akan menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya.

Dalam jangka menengah, sentimen investor terhadap pasar Eropa masih cenderung optimistis, didukung oleh pemulihan ekonomi regional dan kinerja korporasi yang stabil. Namun dalam jangka pendek, kehati-hatian tetap mendominasi karena potensi tekanan dari faktor eksternal. Jika sinyal dari The Fed mengarah pada kebijakan yang lebih hawkish, bursa Eropa berpotensi mengalami koreksi lanjutan. Sebaliknya, apabila nada yang disampaikan cenderung dovish atau terdapat kejutan positif dari data ekonomi, peluang penguatan masih terbuka lebar.

Secara keseluruhan, dinamika pasar saham Eropa saat ini mencerminkan fase penyesuaian sehat setelah reli panjang. Dengan volatilitas yang masih terjaga dan prospek fundamental yang relatif solid, investor disarankan untuk tetap selektif, fokus pada sektor dengan pertumbuhan berkelanjutan, serta menunggu konfirmasi arah pasar sebelum melakukan akumulasi lebih lanjut.

Senin, 27 Oktober 2025

Euro Melemah Tipis, Pasar Cemas Menanti Keputusan The Fed


Pasangan mata uang EUR/USD bergerak melemah dari area 1.1650 ke sekitar 1.1625 pada Senin (27 Oktober), meskipun masih mampu mempertahankan sebagian penguatan yang diraih sebelumnya setelah sempat menyentuh level 1.1580 pekan lalu. Sentimen pasar sedikit membaik seiring meningkatnya harapan akan gencatan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang memicu minat risiko (risk appetite) di kalangan investor.

Negosiator dari kedua negara dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan, dan pasar berharap Presiden AS Donald Trump serta Presiden Tiongkok Xi Jinping dapat secara resmi memperpanjang gencatan dagang ketika mereka bertemu akhir pekan ini. Harapan bahwa perang tarif tidak akan berlanjut telah membantu menahan pelemahan euro lebih dalam, sekaligus mengurangi tekanan terhadap aset berisiko. Dalam konteks ini, perbaikan sentimen global menjadi faktor utama yang membatasi penurunan EUR/USD di tengah ketidakpastian kebijakan moneter.

Namun, pasar kini memasuki fase menunggu keputusan besar dari bank sentral dunia, terutama Federal Reserve (The Fed) yang akan menggelar pertemuan pada Rabu malam waktu setempat. Ekspektasi pelaku pasar saat ini mengarah pada pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan pelemahan yang lebih dalam dari perkiraan. Meski demikian, fokus utama bukan hanya pada keputusan suku bunga itu sendiri, melainkan pada pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang akan memberikan sinyal arah kebijakan berikutnya—apakah pemangkasan suku bunga akan berlanjut pada Desember, atau cukup berhenti di sini.

Dari sisi Eropa, pelaku pasar juga bersiap menghadapi dua peristiwa penting yang berpotensi menambah volatilitas euro, yakni rilis data awal PDB Zona Euro kuartal III dan keputusan suku bunga European Central Bank (ECB) yang dijadwalkan pada Kamis. Data ekonomi Eropa yang masih lemah dapat memperkuat tekanan terhadap euro, terutama jika ECB memberikan nada dovish atau mengindikasikan kebijakan pelonggaran tambahan. Sebaliknya, jika data pertumbuhan menunjukkan stabilisasi, euro berpeluang mendapatkan dorongan jangka pendek.

Secara teknikal, EUR/USD menghadapi area resistance kuat di sekitar 1.1660–1.1680, sementara support terdekat berada di 1.1580, level yang sempat diuji pekan lalu. Penembusan di bawah level tersebut bisa memperdalam koreksi menuju area 1.1550, sedangkan penguatan di atas resistance akan membuka peluang menuju 1.1700.

Bagi investor dan trader, minggu ini menjadi periode krusial yang menuntut kewaspadaan ekstra dan strategi manajemen risiko yang disiplin. Kombinasi faktor fundamental—mulai dari keputusan The Fed, komentar Powell, hingga data ekonomi Eropa—akan menentukan arah pergerakan euro dalam jangka pendek. Pasar tampak berhati-hati, dan setiap pernyataan bernada dovish atau hawkish dari bank sentral dapat memicu reaksi tajam dalam hitungan detik.

Artikel ini dioptimalkan untuk SEO dengan kata kunci utama: EUR/USD, euro melemah, keputusan The Fed, Jerome Powell, ECB, dan ekonomi Zona Euro.

Kamis, 23 Oktober 2025

Harga Emas Melemah, Namun Risiko Global Dapat Memberikan Dukungan Baru

Harga emas turun tipis di bawah $4.100 per ons dalam perdagangan Eropa pada Kamis pagi, setelah para investor melakukan aksi ambil untung menyusul kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Optimisme terhadap meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mendorong pelaku pasar untuk menjual emas guna mengamankan keuntungan. Pada saat yang sama, permintaan terhadap dolar AS kembali meningkat menjelang rilis data inflasi penting AS yang dijadwalkan pada hari Jumat.

Selain itu, berakhirnya perayaan Diwali di India—negara konsumen emas terbesar kedua di dunia—juga diperkirakan akan menekan permintaan fisik terhadap logam mulia ini. Para analis menilai faktor tersebut dapat menjadi salah satu penyebab penurunan harga emas dalam jangka pendek. Namun demikian, sejumlah faktor global masih berpotensi menahan pelemahan lebih lanjut di pasar emas.

Krisis politik yang timbul akibat penutupan sebagian pemerintahan AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia dapat kembali mendorong minat terhadap aset safe haven seperti emas. Spekulasi mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed) turut memberikan dukungan tambahan, karena suku bunga yang lebih rendah biasanya membuat emas lebih menarik dibandingkan aset berbunga seperti obligasi.

Ke depan, para pelaku pasar akan memusatkan perhatian pada data inflasi konsumen AS (CPI) untuk bulan September yang akan dirilis pada hari Jumat. Data ini menjadi sorotan utama di tengah minimnya rilis ekonomi akibat penutupan sebagian pemerintahan AS. Jika angka inflasi lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut dan memberi tekanan pada harga emas dalam waktu dekat. Namun, jika hasilnya lebih lemah dari ekspektasi, peluang bagi emas untuk kembali menguat akan terbuka lebar.

Selasa, 21 Oktober 2025

Perak Melemah Tipis, Pasar Fokus pada Nada Damai dan Sinyal dari The Fed

Harga perak bergerak negatif di kisaran US$52 per ons pada awal perdagangan Asia. Pelemahan ini terjadi seiring berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven setelah ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok mulai mereda. Para pelaku pasar kini menanti arah kebijakan suku bunga melalui pidato Ketua The Fed, Christopher Waller, yang dijadwalkan pada hari Selasa, untuk mencari petunjuk mengenai langkah kebijakan moneter selanjutnya.

Nada yang lebih damai dari Presiden Donald Trump juga turut menekan minat lindung nilai di pasar logam mulia. Dalam pernyataannya, Trump mengakui bahwa rencana penambahan tarif hingga 100 persen terhadap barang-barang asal Tiongkok tidak berkelanjutan dan menyampaikan niatnya untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping pekan ini. Sikap yang lebih lunak tersebut membantu menurunkan tensi perdagangan global dan mendorong aksi ambil untung setelah reli tajam yang terjadi minggu lalu.

Meski demikian, ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Fed berpotensi membatasi penurunan harga perak lebih lanjut. Waller sebelumnya menyatakan dukungan terhadap pemotongan suku bunga tambahan pada pertemuan akhir bulan ini, dengan mempertimbangkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih campuran. Di sisi lain, Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, juga membuka kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga jika risiko terhadap lapangan kerja meningkat dan inflasi tetap terkendali. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah biasanya mengurangi biaya peluang dalam memegang perak, sehingga menjaga minat investor terhadap logam mulia tersebut.

Secara teknikal, harga perak masih tertahan di bawah level US$52,50 per ons, mencerminkan fase konsolidasi setelah reli kuat pada pekan sebelumnya. Sementara tekanan jual tetap ada akibat aksi ambil untung, nada dovish dari pejabat The Fed memberikan dukungan psikologis bagi pasar. Investor kini memusatkan perhatian pada pidato Christopher Waller, yang diperkirakan akan menjadi katalis penting bagi arah harga perak dalam jangka pendek.

Poin-Poin Utama:

  • Harga perak bertahan di bawah US$52,50 seiring meredanya ketegangan perdagangan

  • Nada damai dari Trump menekan minat lindung nilai dan memicu aksi ambil untung

  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menahan tekanan jual

  • Pasar menanti pidato Waller untuk sinyal arah kebijakan moneter berikutnya

Dengan kombinasi faktor geopolitik yang mereda dan prospek kebijakan moneter yang longgar, pergerakan perak berpotensi tetap stabil dalam jangka pendek, meskipun ruang untuk penguatan baru akan terbuka apabila The Fed memberikan sinyal lebih jelas tentang arah pelonggaran suku bunga.

Jumat, 17 Oktober 2025

Trump-Putin di Radar Pasar: Kekhawatiran Pasokan Rusia dan Tekanan Harga Minyak Global

 

Harga minyak dunia kembali melemah dan bersiap mencatat penurunan beruntun untuk ketiga kalinya—rangkaian terpanjang sejak Maret lalu. Minyak Brent bergerak mendekati level USD 61 per barel dengan penurunan sekitar 2,8% secara mingguan, sementara WTI diperdagangkan di atas USD 57 per barel. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi kelebihan pasokan (oversupply) global yang semakin dominan, serta ketegangan dagang AS-Tiongkok yang terus mengancam permintaan dari dua konsumen minyak terbesar di dunia.

Badan Energi Internasional (IEA) minggu ini memperbarui proyeksinya dengan menaikkan estimasi kelebihan pasokan global untuk tahun depan hingga mendekati 20%. Revisi tersebut mempertegas narasi melemahnya keseimbangan pasar energi dunia, menekan harga lebih jauh di tengah lemahnya pertumbuhan ekonomi dan ketidakpastian permintaan industri. Investor kini menghadapi kenyataan bahwa pasokan berlebih bukan lagi ancaman sementara, melainkan risiko struktural yang dapat menekan harga minyak lebih dalam pada kuartal mendatang.

Sementara itu, dinamika geopolitik kembali menjadi pusat perhatian. Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencananya untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin “dalam dua minggu ke depan” guna membahas potensi penyelesaian perang Ukraina. Langkah ini menimbulkan spekulasi bahwa pertemuan tersebut dapat membuka peluang pelonggaran aliran ekspor minyak Rusia ke pasar global. Namun, negara-negara Barat masih memperketat sanksi energi terhadap Moskow. Di sisi lain, para penyuling minyak India melaporkan telah mengurangi pembelian minyak mentah Rusia sembari menunggu arahan resmi dari pemerintah New Delhi.

Dari sisi data makro AS, pasar mendapatkan sinyal campuran. Persediaan minyak mentah AS meningkat untuk minggu ketiga berturut-turut dan kini berada di level tertinggi sejak awal September, menambah tekanan pada harga. Namun, stok minyak di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma, justru turun ke titik terendah sejak Juli. Data ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara produksi dan distribusi, menciptakan ambiguitas arah harga jangka pendek. Pada pukul 08.28 waktu Singapura, kontrak Brent Desember tercatat di USD 60,97 (-0,2%), sedangkan WTI November berada di USD 57,37 (-0,2%).

Secara keseluruhan, pasar minyak saat ini dihadapkan pada tiga tekanan utama: narasi kelebihan pasokan global yang semakin kuat, ketegangan dagang AS-Tiongkok yang menekan permintaan, serta ketidakpastian geopolitik terkait hubungan AS-Rusia. Di sisi fundamental, kenaikan persediaan minyak AS dan penurunan stok di Cushing menambah sinyal campuran bagi pelaku pasar. Tanpa adanya katalis positif baru—seperti pemangkasan produksi OPEC+ atau lonjakan permintaan global—arah harga minyak dalam jangka pendek diperkirakan tetap bearish.

Dalam kondisi ini, para pelaku pasar perlu tetap waspada terhadap potensi volatilitas tinggi, terutama menjelang pertemuan Trump-Putin yang dapat mengubah peta pasokan energi dunia secara tiba-tiba. Untuk saat ini, tren teknikal dan fundamental sama-sama mengindikasikan bahwa tekanan jual akan tetap mendominasi pasar minyak global hingga ada tanda-tanda nyata perbaikan di sisi permintaan atau kebijakan produksi internasional.

Sumber : newsmaker.id 

Rabu, 15 Oktober 2025

Saham Global Menguat Didukung Laporan Laba dan Spekulasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Pasar saham global mengalami reli signifikan pada perdagangan terbaru, dipicu oleh laporan laba perusahaan yang solid serta meningkatnya optimisme terhadap potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Sentimen positif ini mendorong minat risiko kembali menguat di berbagai bursa dunia, menandai perubahan tajam dari kehati-hatian investor beberapa pekan sebelumnya.

Di Eropa, indeks Stoxx 600 melonjak setelah LVMH mencatat kenaikan harga saham hingga 13% berkat kembalinya pertumbuhan yang tak terduga. Performa impresif tersebut mengangkat seluruh sektor barang mewah, memperkuat keyakinan bahwa daya beli kelas menengah atas tetap kuat meskipun tekanan ekonomi global meningkat. Sementara itu, di Asia, indeks utama mencatat kenaikan intraday terbesar dalam dua bulan terakhir setelah Ketua The Fed, Jerome Powell, memberikan sinyal dovish terkait kondisi pasar tenaga kerja yang melemah, memperbesar peluang terjadinya pemangkasan suku bunga pada Oktober. Futures S&P 500 pun naik 0,4%, memperkuat tren bullish di Wall Street.

Di sisi valuta asing, yuan offshore menguat setelah Tiongkok meningkatkan langkah-langkah pertahanan mata uangnya di tengah ketegangan perdagangan dengan AS. Kebijakan ini membantu menstabilkan mata uang regional lainnya dan menekan dolar AS. Penguatan yuan juga dipandang sebagai upaya Beijing untuk mempercepat internasionalisasi mata uangnya. Seiring itu, harga emas mencetak rekor baru, menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset lindung nilai masih tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sejak aksi jual besar yang dipicu oleh tarif impor pada April lalu, pasar saham global telah bangkit tajam, didorong oleh ekspektasi pelonggaran moneter lanjutan setelah pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada September, serta optimisme terhadap kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, reli ini mulai menghadapi tantangan baru seiring munculnya kembali ketegangan antara AS dan Tiongkok, di mana kedua negara meningkatkan retorika dan mengisyaratkan pembatasan baru terhadap teknologi strategis.

Menurut Dilin Wu, analis strategi di Pepperstone Group, ketidakpastian makro tetap menjadi hambatan utama bagi aset berisiko. “Dengan dukungan dari ekspektasi pemangkasan suku bunga dan kinerja laba yang kuat, saya menilai potensi penurunan saham AS masih terbatas,” tulisnya dalam laporan riset terbaru.

Dalam pernyataannya pada Selasa, Powell menegaskan bahwa The Fed berada di jalur untuk menurunkan suku bunga sebesar 0,25 poin pada akhir bulan ini, meski penutupan sebagian pemerintahan AS telah mengganggu pembacaan data ekonomi. Kontrak swap memperkirakan pemangkasan total sekitar 1,25 poin persentase hingga akhir tahun depan, dari kisaran suku bunga saat ini di 4%–4,25%. Powell juga mengisyaratkan kemungkinan penghentian penyusutan neraca The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

Dari Tiongkok, bank sentral negara itu menetapkan nilai patokan yuan di 7,0995 per dolar AS, lebih kuat dari level psikologis 7,1 per dolar, untuk pertama kalinya sejak November. Langkah ini menandakan tekad Beijing menjaga stabilitas mata uangnya di tengah tekanan eksternal. “Patokan di bawah 7,10 menunjukkan sinyal kekuatan yang jelas,” ujar Fiona Lim, analis valas senior di Malayan Banking Bhd, Singapura. “Yuan yang kuat menunjukkan posisi Tiongkok yang percaya diri dalam menghadapi negosiasi atau potensi eskalasi balasan.”

Sementara itu, di Washington, Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer menyatakan keyakinan bahwa ketegangan ekspor dengan Tiongkok akan mereda setelah pertemuan antara pejabat kedua negara. Presiden Donald Trump juga menampilkan sikap hati-hati namun optimistis, menyebut bahwa hubungan dengan Beijing tetap baik dan negosiasi masih terbuka. “Kami memiliki hubungan yang baik dengan Tiongkok, dan saya pikir semuanya akan berjalan baik. Jika tidak, itu juga tidak masalah,” ujarnya di Gedung Putih.

Di Eropa, Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu berhasil mengamankan dukungan penting dari Partai Sosialis di Majelis Nasional, memperbesar peluang pemerintahannya untuk bertahan dari dua mosi tidak percaya yang dijadwalkan pada Kamis mendatang.

Sementara di Jepang, penjualan obligasi pemerintah pertama sejak koalisi penguasa runtuh mencatat permintaan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata 12 bulan terakhir, karena imbal hasil yang lebih tinggi menarik minat investor. Di tengah ketidakpastian politik, para pemimpin partai oposisi utama Jepang dijadwalkan bertemu pada Rabu untuk membahas kemungkinan menyatukan kebijakan dan menentukan kandidat perdana menteri baru.

Secara keseluruhan, kombinasi laba korporasi yang solid, prospek pelonggaran kebijakan moneter, dan stabilitas mata uang Asia telah menciptakan suasana optimistis di pasar global. Namun, dengan ketegangan geopolitik yang belum mereda, pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan koreksi mendadak di tengah volatilitas yang meningkat.

Senin, 13 Oktober 2025

Harga Perak Tembus Rekor Baru di Atas $51, Didorong Ketegangan Global dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

 

Harga perak dunia melonjak lebih dari 2% hingga menembus level $51 per ons pada perdagangan Senin, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta meningkatnya kekhawatiran geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset lindung nilai (safe haven).

Ketegangan AS–Tiongkok Picu Lonjakan Permintaan Aset Aman
Pendorong utama kenaikan harga perak kali ini berasal dari pernyataan Presiden Donald Trump, yang mengancam akan memberlakukan tarif impor 100% terhadap barang-barang asal Tiongkok mulai 1 November mendatang. Meski demikian, Trump kemudian menyatakan kesediaannya untuk bernegosiasi dengan Presiden Xi Jinping menjelang pertemuan APEC akhir bulan ini.
Ketidakpastian arah hubungan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut membuat investor global mencari perlindungan pada komoditas bernilai seperti perak dan emas. Langkah ini menjadi cerminan meningkatnya sentimen aversi risiko di pasar global.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Fed Menambah Daya Dorong
Selain faktor geopolitik, ekspektasi terhadap kebijakan moneter longgar dari Federal Reserve (The Fed) turut mendukung reli harga perak. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini, dan kemungkinan kembali menurunkannya pada Desember mendatang.
Secara historis, penurunan suku bunga memperlemah imbal hasil aset berisiko seperti obligasi dan saham, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai penyimpan nilai. Dalam konteks ini, perak tidak hanya dipandang sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai indikator ketegangan ekonomi global.

Pasokan Fisik di London Menyusut, Dorong Reli Lebih Lanjut
Kenaikan harga juga dipicu oleh pengetatan pasokan fisik perak di pasar London, salah satu pusat perdagangan logam mulia terbesar di dunia. Menurut laporan pasar, pasokan perak batangan di gudang utama mulai menurun akibat meningkatnya permintaan industri dan pembelian besar-besaran dari investor institusional.
Kondisi pasokan yang terbatas ini memperkuat momentum harga, terutama di tengah meningkatnya permintaan dari sektor energi hijau—di mana perak digunakan secara luas dalam panel surya dan perangkat elektronik berteknologi tinggi.

Kekacauan Politik Global Menambah Tekanan Ketidakpastian
Di luar faktor ekonomi, berbagai krisis politik internasional turut memperkuat posisi perak sebagai instrumen lindung nilai utama. Penutupan pemerintahan di AS, gejolak politik di Prancis, dan ketidakpastian kepemimpinan di Jepang semuanya berkontribusi pada meningkatnya volatilitas pasar.
Kombinasi antara tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan fiskal membuat investor global menilai bahwa aset berisiko kini terlalu rapuh untuk dijadikan pegangan utama. Dalam situasi seperti ini, perak kembali mengambil peran penting sebagai penyimpan nilai yang stabil di tengah turbulensi global.

Kesimpulan: Momentum Bullish Perak Belum Menunjukkan Tanda Pelemahan
Dengan meningkatnya risiko politik, ekspektasi pelonggaran moneter, dan ketatnya pasokan fisik, harga perak berpotensi melanjutkan tren bullish dalam jangka menengah. Para analis menilai bahwa jika The Fed benar-benar menurunkan suku bunga dua kali lagi hingga akhir tahun, perak dapat memperkuat posisinya di atas level psikologis $50 dan bahkan menuju $55 per ons.
Dalam iklim global yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, perak semakin dipandang bukan hanya sebagai komoditas industri, melainkan simbol stabilitas dan perlindungan nilai kekayaan di tengah badai ekonomi dunia.

Selasa, 07 Oktober 2025

EUR/USD Melemah di Tengah Krisis Politik Prancis dan Data Ekonomi Eropa yang Suram

Pasangan mata uang EUR/USD kembali bergerak turun untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa, diperdagangkan di kisaran 1,1675. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap krisis politik dan fiskal di Prancis, ditambah dengan data ekonomi Jerman yang mengecewakan, menandakan lemahnya momentum ekonomi di kawasan Eropa.

Keputusan mengejutkan Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu untuk mengundurkan diri pada Senin setelah hanya 27 hari menjabat memicu guncangan di pasar keuangan. Pengunduran diri tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah ia mengumumkan susunan kabinet barunya, sehingga memperdalam ketidakpastian politik di Paris. Presiden Emmanuel Macron segera meminta Lecornu untuk menegosiasikan jalan keluar dari krisis dengan para pemimpin koalisi pemerintahan. Namun, oposisi dari kubu kiri dan kanan menyerukan pemilu kilat, memperburuk tekanan terhadap kredibilitas Macron yang kini berada di titik terendah.

Krisis politik ini datang di saat ekonomi zona euro sedang menghadapi tekanan berat. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde pada Senin menyatakan bahwa proses disinflasi di kawasan Eropa telah berakhir, menandakan potensi berakhirnya tren penurunan inflasi yang selama ini menjadi alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Namun, Wakil Presiden ECB Luis de Guindos memperingatkan adanya risiko geopolitik dan pertumbuhan domestik yang lemah, membuka peluang bahwa pemangkasan suku bunga masih mungkin dilakukan jika kondisi ekonomi memburuk.

Menambah tekanan, data pesanan pabrik Jerman (German Factory Orders) yang dirilis pada Selasa menunjukkan kontraksi tak terduga pada Agustus. Penurunan ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi Jerman—sebagai motor utama Eropa—sedang kehilangan tenaga, terutama di tengah lemahnya permintaan global dan tekanan dari sektor industri otomotif.

Sementara itu, di Amerika Serikat, penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown) telah memasuki hari ketujuh, menyebabkan penundaan publikasi data neraca perdagangan (Trade Balance). Namun, fokus investor kini tertuju pada serangkaian pidato pejabat Federal Reserve (The Fed), termasuk Michelle Bowman, Wakil Ketua Pengawasan, serta Stephen Miran, pejabat baru yang ditunjuk oleh Presiden Donald Trump. Pernyataan mereka diperkirakan akan memberikan arah baru bagi pergerakan dolar AS dalam beberapa hari mendatang.

Secara keseluruhan, kombinasi antara krisis politik Prancis, pelemahan data ekonomi Jerman, dan ketidakpastian global membuat euro terus berada di bawah tekanan. Dengan sentimen pasar yang masih negatif terhadap prospek Eropa, pasangan EUR/USD berpotensi melanjutkan tren pelemahannya dalam waktu dekat, terutama jika dolar AS tetap menjadi aset lindung nilai di tengah turbulensi politik dan ekonomi dunia.

Rabu, 01 Oktober 2025

Harga Perak Tembus US$47, Dapat Angin Segar dari Data AS


Harga perak (XAG/USD) mencatatkan lonjakan lebih dari 1% dan sempat menyentuh level tertinggi baru di US$47,57 per troy ounce pada sesi Asia, Rabu pagi. Hingga saat artikel ini ditulis, perak masih stabil di sekitar US$47,15, didorong oleh melemahnya dolar AS serta meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Katalis utama pergerakan perak kali ini datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Meski jumlah job openings naik tipis dari 7,21 juta menjadi 7,23 juta, tingkat perekrutan justru jatuh ke level terendah sejak Juni 2024, yakni di 3,2%. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan segera menurunkan suku bunga guna menopang pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat.

Dolar AS yang semakin melemah memperkuat posisi perak sebagai salah satu aset alternatif yang menarik. Berdasarkan proyeksi alat prediksi CME FedWatch, pasar kini memperkirakan kemungkinan 97% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada Oktober mendatang, serta peluang 76% pemangkasan lanjutan di bulan Desember. Dalam skenario seperti ini, perak yang tidak memberikan imbal hasil bunga kembali menjadi primadona di kalangan investor global.

Momentum kenaikan harga perak juga semakin mempertegas statusnya sebagai aset pelindung nilai selain emas. Dengan tingkat ketidakpastian ekonomi yang tinggi, serta kebijakan moneter yang cenderung lebih longgar, potensi reli perak masih terbuka lebar. Para analis menilai, jika tekanan terhadap dolar AS terus berlanjut dan pemangkasan suku bunga benar-benar terwujud, harga perak berpotensi menembus level psikologis baru di atas US$48 per troy ounce dalam waktu dekat.

Senin, 29 September 2025

Saham Jepang Melemah untuk Sesi Kedua, Investor Waspada Menjelang Rangkaian Data Ekonomi

 

Pasar saham Jepang kembali ditutup melemah pada awal pekan ini. Indeks Nikkei 225 turun 0,69% ke level 45.044, sementara Topix Index merosot lebih dalam sebesar 1,74% ke 3.132 pada perdagangan Senin. Pelemahan ini menandai penurunan selama dua sesi berturut-turut, seiring banyak saham Jepang yang diperdagangkan tanpa hak dividen (ex-dividend) serta meningkatnya kehati-hatian investor menjelang serangkaian rilis data ekonomi penting.

Rangkaian data yang ditunggu pasar antara lain survei sentimen bisnis Tankan, tingkat kepercayaan konsumen, produksi industri, penjualan ritel, hingga ringkasan opini terbaru dari Bank of Japan (BOJ). Hasil data tersebut dinilai akan menjadi penentu arah ekonomi Jepang di tengah ketidakpastian global, sekaligus memberi gambaran lebih jelas mengenai langkah kebijakan moneter bank sentral ke depan.

Notulen rapat BOJ bulan Juli menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan tetap membuka opsi untuk pengetatan lebih lanjut, terutama jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi bergerak sesuai perkiraan. Ekspektasi ini menambah tekanan pada saham sektor keuangan dan konsumsi, yang menjadi kelompok paling tertekan di bursa.

Di antara saham unggulan, penurunan signifikan terlihat pada Mitsubishi UFJ (-2,8%), Sumitomo Mitsui (-3,3%), Mizuho Financial (-3,2%), Sony Group (-3,1%), serta Toyota Motor (-3,4%). Tekanan jual pada saham-saham besar tersebut memperkuat tren bearish di pasar, mencerminkan sentimen investor yang cenderung menahan diri sambil menunggu kejelasan data.

Namun, tidak semua saham bergerak negatif. Sony Financial Group justru melonjak 16% setelah resmi dipisahkan (spin-off) dari induknya, Sony Group. Kenaikan tajam ini menjadi sorotan, menunjukkan adanya peluang positif bagi perusahaan keuangan Jepang di tengah dinamika pasar yang penuh tantangan.

Secara keseluruhan, pasar saham Jepang diperkirakan akan tetap berfluktuasi dalam jangka pendek. Investor kini berfokus pada hasil rilis data ekonomi utama yang akan memberikan gambaran lebih jelas terkait arah kebijakan Bank of Japan, inflasi domestik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Negeri Sakura ke depan.

Sumber : newsmaker.id 

Kamis, 25 September 2025

Emas Stabil di Sesi Eropa Menanti Data Ekonomi AS


Harga emas bergerak stabil pada Kamis, sedikit terdorong oleh pelemahan dolar AS sebesar 0,1% yang membuat emas berbasis dolar lebih terjangkau bagi pembeli internasional. Pada pukul 03:47 GMT, harga spot emas tercatat di $3.737,01 per ons, sementara kontrak berjangka Desember tidak berubah di $3.767,90. Dari sisi kebijakan, Mary Daly dari The Fed San Francisco menyatakan dukungannya terhadap pemangkasan suku bunga pekan lalu dan menegaskan masih ada ruang untuk penurunan lebih lanjut.

Secara teknikal, analis Ilya Spivak menilai reli emas mencerminkan ekspektasi bahwa The Fed bersedia membiarkan ekonomi AS “panas” sambil kembali memfokuskan perhatian pada pasar tenaga kerja. Level support awal diperkirakan berada di $3.700, kemudian $3.600. Jika harga berhasil menembus resistensi di sekitar $3.790, target berikutnya berada pada kisaran $3.870–$3.875, bahkan berpotensi menuju $4.000.

Fokus pasar kini tertuju pada rilis PCE (Personal Consumption Expenditure Price Index) pada Jumat, indikator inflasi favorit The Fed, yang diperkirakan tumbuh +0,3% bulanan dan +2,7% tahunan. Beberapa pelaku pasar meyakini dampaknya terhadap emas akan terbatas kecuali angka inflasi jauh melampaui perkiraan. Sementara itu, klaim pengangguran mingguan AS yang akan diumumkan Kamis malam WIB dipandang sebagai sinyal terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja.

Secara makroekonomi, pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, masing-masing pada Oktober dan Desember. Emas, sebagai aset safe haven yang sensitif terhadap suku bunga, sempat mencatat rekor baru di $3.790,82 pada Selasa.

Di antara logam mulia lainnya, perak naik 0,1% menjadi $43,97 per ons, platinum menguat 0,4% menjadi $1.477,94, dan palladium bertambah 0,2% menjadi $1.211,84.

Poin Penting:

  • Emas stabil: spot $3.737, kontrak Desember $3.768, indeks dolar melemah 0,1%.

  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap ada; PCE dan klaim pengangguran menjadi katalis utama.

  • Level teknikal: support $3.700/$3.600; resistensi $3.790 – $3.870–$3.875 – $4.000.

     

Selasa, 23 September 2025

Wall Street Cetak Rekor, Apa Dampaknya bagi Asia?

 


Bursa Asia diperkirakan dibuka dengan kenaikan tipis pada Selasa, mengikuti reli di Wall Street yang kembali menguat berkat optimisme terhadap saham teknologi raksasa. Indeks berjangka Australia dan Korea Selatan menunjukkan potensi penguatan, sementara Hong Kong diperkirakan bergerak datar akibat dampak topan terkuat sejak 2018. Aktivitas perdagangan di Asia juga relatif tenang karena pasar obligasi AS tutup seiring hari libur nasional di Jepang.

Rekor Baru di Wall Street Berkat Saham Teknologi
Indeks S&P 500 mencatat rekor ke-28 tahun ini setelah saham Nvidia melonjak sekitar 4%. Kenaikan tersebut dipicu oleh komitmen Nvidia untuk menggelontorkan investasi hingga USD 100 miliar ke OpenAI, langkah yang semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin industri kecerdasan buatan. Reli saham teknologi mendorong indeks saham AS menguat selama tiga pekan berturut-turut, didukung oleh sentimen positif dari pemangkasan suku bunga pertama The Fed pada tahun ini. Meski demikian, sebagian analis mengingatkan bahwa euforia ini perlu diimbangi dengan kewaspadaan, mengingat kapitalisasi pasar telah bertambah sekitar USD 15 triliun sejak April.

Pasar Obligasi dan Inflasi AS Jadi Sorotan
Di sisi obligasi, pergerakan relatif tenang dengan imbal hasil AS sedikit lebih tinggi menjelang lelang Treasury serta rilis data inflasi penting. Indeks PCE inti—ukuran inflasi favorit The Fed—diperkirakan tumbuh lebih lambat pada Agustus. Jika benar, kondisi ini memberi ruang lebih bagi bank sentral untuk mengalihkan fokus ke pelemahan pasar tenaga kerja. Sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan memberikan pandangan minggu ini, termasuk Ketua Jerome Powell, sementara Gubernur Stephen Miran menyerukan pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.

Dampak ke Asia-Pasifik
Perhatian di Asia-Pasifik juga tertuju pada Selandia Baru yang akan menunjuk gubernur bank sentral baru, seorang perempuan sekaligus warga asing pertama yang menduduki posisi tersebut. Keputusan ini menandai langkah bersejarah bagi kebijakan moneter negara tersebut. Di sisi lain, Hong Kong bersiap menghadapi super topan Ragasa yang berpotensi menunda debut perdagangan IPO Zijin Gold International, salah satu penawaran umum perdana terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Kesimpulan
Kenaikan di Wall Street memberi sentimen positif bagi pasar Asia, terutama bagi indeks berjangka di Australia dan Korea Selatan. Namun, faktor eksternal seperti cuaca ekstrem di Hong Kong, arah kebijakan The Fed, serta pergantian kepemimpinan bank sentral Selandia Baru menjadi variabel penting yang memengaruhi dinamika perdagangan kawasan. Investor Asia dihadapkan pada kombinasi peluang dari reli global sekaligus tantangan dari faktor domestik dan geopolitik.

Jumat, 19 September 2025

Poundsterling Tertekan Defisit yang Membengkak

 

Poundsterling Inggris melemah ke level US$1,35, terendah dalam dua pekan terakhir, setelah data pinjaman pemerintah menunjukkan hasil yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Public sector net borrowing pada Agustus mencapai £18 miliar, tertinggi untuk periode bulan yang sama dalam lima tahun terakhir dan jauh melampaui perkiraan konsensus sebesar £12,7 miliar.

Tekanan semakin besar karena sejak awal tahun fiskal, total pinjaman pemerintah telah mencapai £83,8 miliar, atau £11,4 miliar lebih tinggi dibanding proyeksi Office for Budget Responsibility (OBR) pada Maret. Angka ini diperburuk oleh revisi naik sebesar £5,9 miliar untuk bulan-bulan sebelumnya. Data tersebut menambah beban menjelang penyusunan anggaran musim gugur, di tengah kekhawatiran global mengenai lonjakan utang yang baru-baru ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun ke rekor tertinggi.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga di level 4% dengan hasil voting 7–2, serta memperlambat laju quantitative tightening (QT) menjadi £70 miliar. Nada hati-hati tetap dipertahankan, meski pasar mulai sedikit meningkatkan ekspektasi pelonggaran jangka panjang. Namun, mayoritas investor memilih menunggu kepastian fiskal sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.

Sementara itu, dari Amerika Serikat, Federal Reserve memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dan memberi sinyal tambahan pemangkasan sebesar 50 basis poin hingga akhir tahun. Meski demikian, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan langkah tersebut bukan awal dari siklus pelonggaran besar. Pernyataan ini memperkuat dolar AS, yang pada gilirannya menambah tekanan terhadap poundsterling.

Kombinasi defisit fiskal yang membengkak, kebijakan moneter BoE yang penuh kehati-hatian, serta penguatan dolar AS membuat poundsterling berada dalam posisi rapuh. Arah pergerakan GBP/USD ke depan akan sangat ditentukan oleh kebijakan fiskal pemerintah Inggris pada musim gugur dan sinyal lanjutan dari The Fed.

Rabu, 17 September 2025

Indeks Hang Seng Menguat Dipimpin Saham Teknologi Alibaba


Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka lebih tinggi pada 17 September, menguat 115 poin atau 0,43% hingga mencapai level 26.554. Kenaikan ini turut diikuti oleh China Enterprises Index yang menambah 48 poin (0,51%) menjadi 9.434, sementara Hang Seng Tech Index melompat 55 poin (0,91%) dan ditutup di 6.133. Pergerakan positif ini menegaskan dominasi saham teknologi sebagai pendorong utama pasar pada awal perdagangan.

Sektor teknologi menjadi pusat perhatian dengan reli yang dipimpin oleh Alibaba Group yang melonjak 2,7%. Lonjakan ini memperlihatkan kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan e-commerce Tiongkok yang semakin solid. JD.com juga mencatat kenaikan kuat sebesar 3%, diikuti Meituan yang naik 0,8% dan Xiaomi Group sebesar 0,7%. Tencent Holdings turut bergerak naik meski terbatas di 0,2%, sedangkan Kuaishou Technology justru terkoreksi tipis 0,1%, menjadi pengecualian di sektor ini.

Di sisi lain, kinerja saham keuangan menunjukkan hasil yang beragam. HSBC Holdings turun 0,6%, berbeda arah dengan AIA Group yang naik 0,4%. Sementara itu, Ping An Insurance dan Hong Kong Exchanges and Clearing masing-masing menguat 0,2%, mencerminkan adanya ketidakseragaman pandangan investor terhadap stabilitas keuangan dan prospek makroekonomi.

Kuatnya pergerakan saham teknologi menjadi sinyal penting mengenai keyakinan pasar pada sektor digital sebagai motor pertumbuhan baru. Optimisme ini terutama tertuju pada pemain besar seperti Alibaba dan JD.com yang dianggap mampu menghadapi tekanan ekonomi global. Sebaliknya, sektor keuangan yang bergerak campuran menunjukkan adanya kehati-hatian investor dalam menyikapi ketidakpastian ekonomi dunia dan kondisi domestik Hong Kong.

Secara keseluruhan, penguatan Indeks Hang Seng mencerminkan sentimen positif yang masih terjaga di pasar modal Asia. Namun, dinamika global serta faktor lokal tetap menjadi penentu arah indeks ke depan. Investor akan terus memantau perkembangan ekonomi internasional serta kebijakan regional untuk membaca tren lanjutan pergerakan pasar.

Senin, 15 September 2025

Dolar Melemah Menjelang Pekan Penentu Bank Sentral, Fokus pada The Fed


Dolar Amerika Serikat melemah pada Senin di awal pekan yang penuh keputusan penting dari bank-bank sentral global, dengan sorotan utama tertuju pada Federal Reserve (The Fed). Sementara itu, euro nyaris tak terpengaruh meski Fitch memangkas peringkat kredit Prancis ke level terendah sepanjang sejarah.

Perdagangan di kawasan Asia relatif sepi karena pasar Jepang libur, membuat pergerakan mata uang cenderung terbatas. Euro tercatat melemah tipis 0,04% ke posisi $1,1729. Penurunan ini muncul setelah pengumuman Fitch pada Jumat lalu yang menurunkan peringkat kredit negara terbesar kedua di zona euro itu dari AA- di tengah krisis politik dan lonjakan utang. Namun, investor sebagian besar tampak mengabaikan dampak downgrade tersebut.

Pekan ini, perhatian pasar global akan tertuju pada serangkaian keputusan suku bunga dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Kanada, hingga Norwegia. The Fed menjadi pusat perhatian karena diprediksi akan memangkas suku bunga pada Rabu, sebuah langkah yang menekan dolar dalam beberapa waktu terakhir. Indeks dolar terhadap sekeranjang mata uang utama turun 0,08% ke level 97,58 pada Senin.

Poundsterling menguat 0,11% menjadi $1,3565, sedangkan dolar Australia naik 0,23% ke $0,6663, mendekati level tertinggi 10 bulan yang disentuh pada Jumat lalu. Pasar juga menantikan proyeksi "dot plot" dari anggota The Fed serta panduan dari Ketua Jerome Powell terkait arah kebijakan moneter ke depan, termasuk kecepatan dan besarnya potensi pelonggaran lanjutan.

Yen Jepang turut menguat lebih dari 0,1% ke 147,44 per dolar menjelang pertemuan kebijakan Bank of Japan (BOJ) pekan ini. Meskipun BOJ diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga, komentar Gubernur Kazuo Ueda mengenai prospek kebijakan moneter akan menjadi sorotan investor.

Di sisi lain, dolar Selandia Baru naik 0,15% menjadi $0,5964, sementara yuan daratan menguat tipis ke 7,1213 per dolar, terbantu pelemahan greenback. Hal ini terjadi meskipun data ekonomi Tiongkok pada Senin menunjukkan pertumbuhan output pabrik dan penjualan ritel Agustus paling lemah sejak tahun lalu.

Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada pembicaraan perdagangan antara pejabat Amerika Serikat dan Tiongkok di Madrid pada Minggu. Diskusi ini berlangsung di tengah ketegangan dagang, tenggat waktu divestasi untuk aplikasi video pendek TikTok, serta desakan Washington agar sekutunya mengenakan tarif pada impor dari Tiongkok terkait pembelian minyak Rusia.

Pergerakan pasar valuta asing pekan ini diperkirakan akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan bank sentral global, dengan The Fed sebagai penentu utama sentimen investor.

Sumber : newsmaker.id 

Kamis, 11 September 2025

Harga Minyak Melemah Akibat Oversupply dan Permintaan AS yang Lesu

 


Harga minyak dunia pada Kamis pagi bergerak stabil dengan kecenderungan melemah, dipengaruhi oleh kombinasi kekhawatiran terhadap lemahnya permintaan di Amerika Serikat dan meningkatnya risiko kelebihan pasokan global. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina menahan penurunan harga agar tidak lebih dalam.

Pergerakan Harga Minyak Global
Brent crude futures tercatat turun 13 sen atau 0,2% menjadi USD 67,36 per barel pada pukul 07.29 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) crude futures AS melemah 17 sen atau 0,3% ke posisi USD 63,50 per barel. Angka ini terjadi setelah pada sesi sebelumnya harga sempat naik lebih dari USD 1 per kontrak, dipicu oleh serangan Israel terhadap pimpinan Hamas di Qatar dan penguatan pertahanan udara Polandia serta NATO untuk menanggapi dugaan drone Rusia yang memasuki wilayah udara Polandia saat menyerang Ukraina barat.

Faktor Permintaan: Ekonomi AS yang Melemah
Data terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat 3,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 5 September, berbanding terbalik dengan perkiraan pasar yang justru memproyeksikan penurunan sekitar 1 juta barel. Lonjakan stok ini menandakan konsumsi yang lebih lemah dari perkiraan. Selain itu, melambatnya ekonomi AS meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pekan depan, yang mencerminkan tekanan pada sektor energi akibat berkurangnya aktivitas industri dan konsumsi bahan bakar.

Faktor Pasokan: Kebijakan OPEC+ Menambah Tekanan
Di sisi penawaran, OPEC+ memutuskan untuk menaikkan produksi mulai Oktober. Walaupun peningkatan ini lebih kecil dibandingkan bulan-bulan sebelumnya dan tidak sebesar prediksi sebagian analis, keputusan tersebut tetap menambah tekanan pada pasar minyak yang sudah cenderung rapuh. Menurut laporan EIA, tambahan produksi tersebut berpotensi memperbesar persediaan global secara signifikan dan mendorong harga minyak turun dalam beberapa bulan mendatang.

Prospek Pasar Minyak ke Depan
Kombinasi antara pertumbuhan produksi, meningkatnya stok minyak AS, serta lemahnya permintaan domestik menjadi sinyal negatif bagi harga minyak di kuartal mendatang. Namun, faktor geopolitik—terutama konflik di Timur Tengah dan eskalasi perang Rusia-Ukraina—tetap menjadi variabel penting yang bisa menahan penurunan lebih tajam. Secara keseluruhan, harga minyak diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas tinggi seiring tarik-menarik antara sentimen bearish dari sisi fundamental dan sentimen bullish dari risiko geopolitik.

Senin, 08 September 2025

Perak Sedikit Melemah, Masih Bertahan di Zona Tinggi

Pergerakan harga perak (XAG/USD) pada hari ini diperdagangkan di kisaran $40,855, melemah sekitar 0,36%. Koreksi tipis ini terjadi setelah reli kuat pada pekan sebelumnya, sehingga pasar cenderung melakukan konsolidasi sambil menantikan katalis baru. Selama harga tetap bertahan di area $40, sentimen jangka pendek masih dianggap konstruktif.

Dari sisi sentimen, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap menjadi penopang utama dalam jangka menengah. Namun, penguatan sementara dolar AS serta aksi ambil untung menekan pergerakan intraday. Permintaan industri, khususnya dari sektor panel surya dan kendaraan listrik (EV), ikut membatasi penurunan. Sementara itu, arus safe-haven yang mengikuti emas dan imbal hasil obligasi AS juga memberi peran dalam menjaga kestabilan harga.

Secara teknikal, level resistance terdekat terlihat pada rentang $41,20 – $41,50. Jika mampu ditembus dengan jelas, peluang terbuka menuju uji area $42,00. Sebaliknya, support awal berada di $40,50 dan kemudian $40,00. Penurunan di bawah level tersebut meningkatkan risiko koreksi lebih dalam menuju $39,50.

Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada rilis data inflasi AS, komentar pejabat bank sentral, serta data aktivitas manufaktur dan permintaan logam. Dalam konteks strategi, trader dapat mempertimbangkan pendekatan buy on dip di area support, atau buy on breakout di atas $41,50, dengan disiplin menggunakan stop-loss ketat untuk mengelola risiko.

Sumber : newsmaker.id 

 

Rabu, 03 September 2025

Dolar Australia Melemah Tipis Meski Didukung Data PDB yang Lebih Kuat

 


Dolar Australia terpantau stabil di kisaran USD 0,652 pada Rabu, setelah turun 0,5% di sesi sebelumnya. Penguatan dolar AS yang didorong oleh permintaan aset safe haven menahan dampak positif dari rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Australia yang lebih baik dari perkiraan. Dolar AS tetap kokoh seiring ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya ketegangan perdagangan, serta risiko geopolitik yang membuat investor lebih memilih aset berisiko rendah. Kekhawatiran mengenai beban utang yang terus meningkat di berbagai ekonomi besar juga menambah daya tarik terhadap mata uang AS tersebut.

Di sisi domestik, perekonomian Australia mencatat pertumbuhan 0,6% pada kuartal II 2025, melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,5% dan mempercepat laju dari revisi pertumbuhan 0,3% pada kuartal sebelumnya. Hasil ini menandai pertumbuhan selama 15 kuartal berturut-turut, sebuah sinyal bahwa ekonomi tetap tangguh meski menghadapi tantangan eksternal. Secara tahunan, PDB naik 1,8%, menjadi laju tercepat sejak kuartal III 2023. Namun demikian, investor tetap berhati-hati karena pasar memperkirakan lebih dari 80% peluang bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini.

Dari sisi eksternal, dolar Australia yang sering dianggap sebagai mata uang proksi China juga mendapatkan dukungan dari data sektor jasa China yang lebih kuat. Aktivitas jasa di Negeri Tirai Bambu melonjak ke level tertinggi dalam 15 bulan terakhir, menunjukkan permintaan yang tetap tangguh di kawasan Asia-Pasifik. Faktor ini membantu menopang sentimen terhadap Aussie, meskipun pengaruh dominan dolar AS masih membatasi penguatan lebih lanjut.

Secara keseluruhan, pergerakan dolar Australia masih dibayangi tarik-menarik antara fundamental domestik yang positif dengan dominasi dolar AS sebagai aset lindung nilai global. Prospek jangka pendek akan banyak ditentukan oleh arah kebijakan moneter RBA, dinamika ekonomi China, serta sentimen pasar global terhadap risiko geopolitik dan perdagangan.

Senin, 01 September 2025

Saham Hong Kong Menguat, Indeks Hang Seng Naik Lebih dari 400 Poin


Pasar saham Hong Kong memulai bulan September dengan tren positif setelah membukukan kenaikan beruntun selama empat bulan terakhir. Indeks Hang Seng dibuka menguat signifikan, melonjak 430 poin atau sekitar 1,71% hingga mencapai level 25.508 poin. Tidak hanya itu, Hang Seng China Enterprises Index juga naik 136 poin atau 1,52% menjadi 9.084 poin, sementara Indeks Teknologi menambah 117 poin atau 2,07% ke posisi 5.792 poin.

Lonjakan Saham Teknologi Dorong Kinerja Pasar
Sektor teknologi menjadi motor penggerak utama dalam penguatan bursa Hong Kong. Alibaba mencatat lonjakan spektakuler sebesar 14,9% setelah laporan laba perusahaan melampaui ekspektasi pasar, memberikan sentimen positif terhadap sektor teknologi secara keseluruhan. Tencent turut menguat 1,4%, Xiaomi naik 1,6%, JD Group bertambah 2,2%, dan Kuaishou meningkat 1,3%. Namun, tidak semua saham teknologi bergerak positif; Meituan justru melemah 1,1%, menjadi pengecualian di tengah euforia kenaikan.

Sektor Keuangan Relatif Stabil
Di sisi lain, saham sektor keuangan menunjukkan pergerakan yang relatif tenang. HSBC Holdings tidak mengalami perubahan berarti, tetapi AIA Group berhasil naik 1,5%. Saham China Ping An juga mencatat kenaikan 1,2%, sementara Bursa Efek Hong Kong (HKEX) menguat 0,8%. Kestabilan sektor ini memberikan pondasi solid bagi pergerakan indeks secara keseluruhan, meski tidak setajam lonjakan saham teknologi.

Sektor Otomotif Catat Performa Campuran
Saham otomotif Hong Kong memperlihatkan hasil yang beragam. BYD anjlok tajam hingga 8% setelah laporan laba perusahaan tidak sesuai dengan ekspektasi investor. Sebaliknya, Geely Automobile justru mampu bertahan dengan kenaikan 1,4%. Sementara itu, Xpeng Motors harus menanggung pelemahan sebesar 1,4%. Perbedaan kinerja ini menunjukkan bahwa sektor otomotif masih menghadapi tantangan, khususnya terkait persaingan ketat dan fluktuasi permintaan pasar.

Prospek Pasar Saham Hong Kong
Dengan dorongan kuat dari sektor teknologi dan stabilitas di sektor keuangan, pasar saham Hong Kong memiliki potensi untuk melanjutkan momentum positif dalam jangka pendek. Namun, investor tetap perlu mewaspadai fluktuasi pada sektor otomotif serta perkembangan eksternal, termasuk kondisi ekonomi global dan kebijakan moneter Tiongkok, yang sangat memengaruhi arah pasar Hong Kong.

Sumber : newsmaker.id 

Jumat, 22 Agustus 2025

Saham Jepang Bergerak Hati-Hati Menjelang Pidato Powell di Jackson Hole

 


Pasar saham Jepang ditutup sedikit menguat pada perdagangan Jumat, setelah bergerak fluktuatif di antara zona positif dan negatif. Investor terlihat menahan diri sambil menunggu arahan kebijakan dari para bankir sentral global, terutama pidato Ketua Federal Reserve (Fed) Jerome Powell dalam Simposium Jackson Hole yang menjadi sorotan utama.

Indeks Topix naik 0,6% ke level 3.100,87 pada penutupan perdagangan di Tokyo, sementara Nikkei 225 hanya menguat tipis 0,1% ke posisi 42.633,29. Dari total 1.679 saham yang terdaftar di Topix, sebanyak 1.047 saham menguat, 570 saham melemah, dan 62 tidak mengalami perubahan. Salah satu pendorong utama kenaikan indeks adalah Sony Group Corp., yang melonjak 3,1% dan memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan Topix.

Menurut Frederic Neumann, Kepala Ekonom Asia HSBC, semua perhatian investor tertuju pada pidato Powell, yang kemungkinan akan memberikan sinyal kapan Fed berencana mulai memangkas suku bunga. Setiap isyarat yang muncul dari pernyataan Powell diyakini akan menjadi katalis penting bagi arah pergerakan pasar global, termasuk saham Jepang.

Selain itu, Gubernur Bank of Japan (BoJ), Kazuo Ueda, juga dijadwalkan berbicara di Jackson Hole. Investor global menantikan apakah Ueda akan memberikan indikasi lebih jelas terkait jalur kebijakan moneter Jepang. Data dari pasar derivatif menunjukkan trader kini memperkirakan peluang 57% kenaikan suku bunga BoJ pada Oktober, setelah inflasi konsumen Jepang masih bertahan di atas target meski laju pertumbuhan harga sedikit melambat.

Namun, sentimen pasar sempat terguncang di awal perdagangan. Topix sempat melemah dan indeks Nikkei 225 turun hingga 0,7%, setelah muncul laporan bahwa Nvidia meminta pemasok komponen untuk menghentikan produksi terkait chip AI H20. Berita tersebut memicu kekhawatiran terhadap prospek sektor teknologi, yang memiliki bobot besar di pasar saham Jepang.

Secara keseluruhan, pergerakan saham Jepang masih bersifat hati-hati dan penuh antisipasi, dengan investor menunggu kepastian arah kebijakan dari dua bank sentral terbesar di dunia: Federal Reserve dan Bank of Japan. Hasil pernyataan dari kedua pihak ini diperkirakan akan menentukan tren jangka pendek pasar Asia, khususnya Jepang, dalam beberapa pekan mendatang.

Sumber : newsmaker.id 

Rabu, 20 Agustus 2025

Saham Eropa Melemah, Sektor Pertahanan Tertekan oleh Optimisme Perdamaian Ukraina

 


Pasar saham Eropa ditutup melemah pada Rabu, dipimpin oleh sektor pertahanan yang mengalami penurunan tajam. Indeks Stoxx 50 terkoreksi 0,4%, sementara Stoxx 600 turun 0,3%. Tekanan terbesar datang dari Stoxx Europe Aerospace & Defense yang jatuh 0,9% setelah sehari sebelumnya anjlok 2,6%.

Sektor Pertahanan Merosot di Tengah Harapan Gencatan Senjata Ukraina
Optimisme atas kemungkinan gencatan senjata di Ukraina menekan saham-saham pertahanan. Investor mulai mempertimbangkan potensi meredanya permintaan peralatan militer jika diplomasi berjalan lancar. Saham perusahaan besar seperti Rheinmetall dan Hensoldt di Jerman anjlok hampir 2% masing-masing, sementara Rolls-Royce dan Qinetiq di Inggris juga melemah sekitar 2%.
Kondisi ini menandakan rotasi sektor, di mana ekspektasi perdamaian justru membuat saham-saham yang sebelumnya diuntungkan oleh konflik kehilangan daya tarik di mata investor.

Dampak Politik Global: Seruan AS untuk Diplomasi
Pelemahan sektor pertahanan dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mendorong Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk menunjukkan fleksibilitas dan mengadakan pertemuan bilateral. Langkah ini memicu spekulasi pasar akan adanya terobosan dalam pembicaraan damai.
Jika tercapai kesepakatan, pasar pertahanan berpotensi menghadapi tekanan lebih dalam karena kontrak baru dan pengeluaran militer bisa tertahan. Sebaliknya, sektor lain yang lebih sensitif terhadap stabilitas geopolitik dapat memperoleh dorongan positif.

Inflasi Inggris dan Tekanan Pasar Global
Selain faktor geopolitik, data inflasi Inggris yang lebih tinggi dari perkiraan juga menarik perhatian. Inflasi Juli tercatat 3,8%, memicu kekhawatiran bahwa Bank of England mungkin harus mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Situasi ini menambah beban bagi konsumen dan pelaku bisnis, terutama di tengah melemahnya daya beli rumah tangga.
Secara global, pasar saham tampak berhati-hati setelah reli besar sejak April. Aksi jual tajam di saham teknologi berkapitalisasi besar di AS memunculkan kekhawatiran bahwa reli tersebut telah bergerak terlalu jauh dan rawan koreksi.

Fokus Investor Bergeser ke Simposium Jackson Hole
Kini perhatian investor beralih ke Simposium Jackson Hole yang akan digelar pekan ini. Pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Jumat sangat dinanti untuk mendapatkan arah kebijakan moneter AS berikutnya. Ekspektasi pasar terpecah antara potensi pemangkasan suku bunga lebih lanjut atau sikap hati-hati Fed terhadap inflasi yang masih bertahan.
Ketidakpastian global ini membuat investor cenderung mengambil sikap defensif, sehingga volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang.


Sumber : newsmaker.id

Jumat, 15 Agustus 2025

Pasokan Melimpah Tekan Harga Minyak, Pasar Cermati Data Ekonomi AS dan China

 


Harga minyak melemah pada perdagangan Jumat, tertekan oleh kekhawatiran terhadap permintaan bahan bakar setelah rilis data ekonomi yang mengecewakan dari Amerika Serikat dan China—dua konsumen minyak terbesar dunia. Investor juga menunggu pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dijadwalkan berlangsung di Alaska, dengan isu gencatan senjata di Ukraina menjadi salah satu agenda utama.

Kontrak berjangka Brent turun 39 sen atau 0,58% menjadi USD 66,45 per barel pada pukul 07.50 GMT. Sementara itu, WTI AS melemah 42 sen atau 0,66% ke USD 63,54 per barel. Secara mingguan, WTI diperkirakan mengalami penurunan 0,5%, sedangkan Brent menuju pelemahan 0,2%.

Dari China, data resmi menunjukkan pertumbuhan produksi pabrik merosot ke level terendah dalam delapan bulan, sementara pertumbuhan penjualan ritel melambat ke titik terlemah sejak Desember. Kondisi ini memperlemah sentimen pasar, meskipun throughput kilang minyak China naik 8,9% year-on-year pada Juli. Namun, angka tersebut masih di bawah level tertinggi Juni, yang merupakan rekor sejak September 2023. Peningkatan throughput ini diiringi lonjakan ekspor produk minyak, mengindikasikan melemahnya permintaan domestik.

Ekspektasi surplus pasokan yang lebih besar juga membebani harga. Bank of America, dalam catatan analisis Kamis, merevisi proyeksi surplus pasar minyak akibat peningkatan suplai dari OPEC+ (OPEC, Rusia, dan sekutunya). Mereka kini memproyeksikan rata-rata surplus sebesar 890.000 barel per hari (bph) dari Juli 2025 hingga Juni 2026. Perkiraan ini sejalan dengan laporan Badan Energi Internasional (IEA) awal pekan ini yang menilai pasar minyak saat ini “terlalu jenuh” setelah peningkatan produksi OPEC+.

Dari sisi AS, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan ditambah data tenaga kerja yang lemah menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga bulan depan. Padahal, penurunan suku bunga biasanya mendorong aktivitas ekonomi dan permintaan minyak. Sementara itu, pertemuan Trump-Putin dinilai berpotensi memengaruhi pasar, terutama jika tercapai kesepakatan gencatan senjata yang dapat membuka peluang pelonggaran sanksi terhadap pasokan minyak Rusia.

Rabu, 13 Agustus 2025

Harga Emas Naik Didukung Pelemahan Dolar AS dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

 


Harga emas bergerak menguat pada perdagangan Rabu, didorong oleh melemahnya Dolar AS setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan memperkuat keyakinan pasar akan adanya pemangkasan suku bunga pada September. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh antisipasi pertemuan antara Amerika Serikat dan Rusia pekan ini terkait perang di Ukraina.

Per pukul 06.51 GMT, harga emas spot naik 0,3% menjadi $3.355,30 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember menguat 0,2% ke $3.405,50. Menurut Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM Trade, pelemahan USD memberikan ruang bagi kenaikan moderat harga emas, dengan logam mulia ini berfluktuasi di sekitar level $3.350 menjelang pertemuan Trump–Putin pada Jumat mendatang. Ia menambahkan, jika pertemuan di Alaska tidak menghasilkan kesepakatan dan perang Ukraina terus berlanjut, harga emas berpotensi kembali menguji level $3.400.

Pertemuan Trump–Putin dan Dampaknya ke Emas

Gedung Putih menyebut pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin hanyalah “sesi mendengarkan” bagi presiden, sehingga menurunkan ekspektasi tercapainya kesepakatan gencatan senjata cepat. Ketidakpastian geopolitik ini menjadi faktor pendukung harga emas, yang kerap dianggap aset lindung nilai di tengah ketegangan global.

Data Inflasi AS Tekan Dolar, Dongkrak Daya Tarik Emas

Data yang dirilis Selasa menunjukkan Consumer Price Index (CPI) AS naik 0,2% pada Juli, lebih rendah dari kenaikan 0,3% pada Juni. Secara tahunan, CPI naik 2,7%. Angka ini memicu pelemahan lebih lanjut pada Indeks Dolar, membuat emas yang dihargai dalam USD menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

Pasar kini memperkirakan sekitar 90% peluang The Fed memangkas suku bunga pada September, dengan setidaknya satu pemangkasan tambahan sebelum akhir tahun. Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung lebih diminati karena biaya peluang memegangnya menjadi lebih rendah.

Faktor Tambahan yang Mendukung Sentimen Pasar

Selain ekspektasi pemangkasan suku bunga, pasar juga mendapat sentimen positif dari perpanjangan gencatan tarif antara Amerika Serikat dan China selama 90 hari, yang mencegah penerapan bea masuk tiga digit pada barang masing-masing. Meski demikian, fokus investor minggu ini masih tertuju pada rilis data ekonomi AS berikutnya, termasuk Producer Price Index (PPI), klaim pengangguran mingguan, dan penjualan ritel.

Dengan kombinasi pelemahan Dolar, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, dan risiko geopolitik yang belum mereda, prospek harga emas jangka pendek tetap bullish. Jika ketidakpastian global berlanjut, emas berpotensi mempertahankan posisinya di atas $3.350 dan menguji kembali area resistance kunci di $3.400.

Sumber : newsmaker.id