Kamis, 18 Desember 2025

Harga Emas Bergetar Menjelang Rilis CPI: Bangkit Kembali atau Justru Terkoreksi?

 

Harga emas dunia (XAU/USD) melemah tipis pada sesi Asia hari Kamis, turun ke kisaran USD 4.324 per ons. Pelemahan ini terutama dipicu oleh aksi ambil untung setelah emas sempat menyentuh level tertinggi dalam sekitar tujuh minggu terakhir. Pergerakan tersebut tergolong wajar, mengingat reli emas sebelumnya berlangsung cukup cepat dan mendorong sebagian pelaku pasar untuk mengamankan keuntungan jangka pendek.

Tekanan tambahan datang dari penguatan dolar AS. Ketika dolar menguat, emas cenderung kehilangan daya tarik dalam jangka pendek karena menjadi lebih mahal bagi investor non-dolar. Hubungan terbalik antara dolar dan emas ini kembali terlihat jelas, terutama menjelang rilis data ekonomi penting Amerika Serikat yang meningkatkan kehati-hatian pasar.

Meski demikian, potensi penurunan harga emas dinilai terbatas. Data ketenagakerjaan terbaru dari AS masih mengindikasikan pasar tenaga kerja yang mulai mendingin. Kondisi ini menjaga ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve tetap hidup. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah secara historis menguntungkan emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih kecil.

Dari sisi geopolitik, ketegangan global juga berperan sebagai penyangga harga emas. Situasi memanas setelah Venezuela mengerahkan angkatan lautnya untuk mengawal kapal-kapal minyak di tengah ancaman blokade dari Amerika Serikat. Eskalasi semacam ini biasanya mendorong arus modal ke aset lindung nilai, termasuk emas, karena investor mencari perlindungan dari ketidakpastian politik dan risiko global.

Fokus pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat bulan November (CPI) yang akan diumumkan Kamis malam, bersamaan dengan data Initial Jobless Claims. Konsensus memperkirakan CPI utama sebesar 3,1% secara tahunan dan CPI inti di level 3,0% YoY. Angka-angka ini berpotensi memicu pergerakan besar dalam hitungan menit pada dolar AS, imbal hasil obligasi, dan harga emas.

Jika data CPI dirilis lebih rendah dari perkiraan, pasar kemungkinan semakin yakin bahwa The Fed memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Dalam skenario ini, dolar AS berpeluang melemah dan emas dapat bangkit dengan cepat, bahkan berpotensi menembus area USD 4.350 dan menguji kembali zona puncak sebelumnya di sekitar USD 4.380-an.

Sebaliknya, jika CPI lebih tinggi dari ekspektasi, peluang penurunan suku bunga dapat dianggap mundur. Dolar AS cenderung menguat dalam kondisi tersebut, sehingga emas menjadi rentan terhadap koreksi. Area penurunan awal biasanya berada di sekitar USD 4.330, dan jika tekanan cukup kuat, koreksi dapat melebar hingga mendekati USD 4.300. Perlu dicatat bahwa rilis CPI sering kali memicu pergerakan cepat naik-turun atau whipsaw, sehingga reaksi awal pasar belum tentu mencerminkan arah akhir pergerakan harga emas pada sesi tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar