Jumat, 28 November 2025

Dolar Australia Menguat: Akankah RBA Kembali Naikkan Suku Bunga?

Dolar Australia (AUD) terus menguat terhadap dolar AS pada Jumat, menandai reli enam hari berturut-turut. Kenaikan ini tidak hanya terjadi terhadap USD, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Penguatannya dipicu data inflasi Australia yang lebih tinggi dari perkiraan, dengan indeks harga konsumen naik selama empat bulan beruntun pada Oktober dan kini berada di atas target RBA sebesar 2%–3%. Kondisi ini membuat pasar mulai meragukan kemungkinan pelonggaran kebijakan dan justru melihat potensi kenaikan suku bunga lanjutan dari Reserve Bank of Australia (RBA).

Meski begitu, untuk pertemuan Desember, RBA masih diperkirakan mempertahankan Official Cash Rate (OCR) di level 3,6%. Inflasi yang tinggi dianggap belum cukup menjadi alasan untuk perubahan kebijakan cepat, terutama karena pasar tenaga kerja masih relatif stabil meski tingkat pengangguran sedikit meningkat. Di sisi lain, Data Kredit Sektor Swasta yang dirilis Jumat mencatat pertumbuhan pinjaman sebesar 0,7% secara bulanan di Oktober, melampaui ekspektasi 0,6%, sementara pertumbuhan tahunan naik menjadi 7,3%.

Kontrak berjangka suku bunga ASX 30 hari hanya mencerminkan peluang sekitar 6% untuk pemangkasan suku bunga Desember, menandakan pasar lebih condong pada skenario suku bunga tinggi yang berkepanjangan. Ekspektasi ini pada akhirnya memberikan dukungan tambahan bagi kekuatan AUD di pasar global.

Sumber : newsmaker.id

Rabu, 26 November 2025

Reli Efek Hong Kong Berlanjut: Sinyal Pemulihan atau Momentum Sementara?

 

Reli pasar saham Hong Kong kembali berlanjut untuk hari ketiga berturut-turut pada Rabu, mendekati rangkaian kenaikan terpanjang dalam dua minggu terakhir. Indeks Hang Seng menguat 0,6% ke level 26.039,99, dipimpin oleh lonjakan saham-saham teknologi. Meituan mencatat kenaikan mencolok sebesar 6,6% menjelang rilis laporan keuangannya, sementara ZTO Express naik 3,5%, BYD menguat 2,7%, dan JD.com mencatat pertumbuhan 1,8%. Di sisi lain, Alibaba terkoreksi tipis 0,1% meskipun laba kuartal Septembernya anjlok 52% secara tahunan—penurunan yang tetap lebih baik dari ekspektasi pasar. Sentimen positif ini turut menular ke Tiongkok daratan, di mana indeks CSI 300 naik 0,5% dan Shanghai Composite bertambah 0,2%.

Kenaikan ini tidak terlepas dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga. Data terbaru menunjukkan melemahnya kepercayaan konsumen AS dan penjualan ritel yang lesu, mendorong pasar kembali pada pola pikir “bad news is good news”, di mana data ekonomi yang lemah dianggap memberikan ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Dampaknya terasa luas di pasar Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,9%, Kospi Korea Selatan menguat 2%, dan S&P/ASX 200 Australia naik 0,8%. Gelombang penguatan ini menandakan pulihnya selera risiko investor di kawasan.

Secara keseluruhan, kombinasi optimisme terhadap stimulus moneter global, performa kuat saham teknologi, serta pemulihan sentimen regional menjadi motor utama reli bursa Hong Kong. Namun, keberlanjutan momentum ini akan sangat bergantung pada rilis data makroekonomi mendatang, hasil kinerja emiten teknologi besar, serta arah kebijakan bank sentral utama dunia.

Senin, 24 November 2025

Diskon Gila-Gilaan Minyak Rusia: Beranikah India Ambil Risiko?

 

Harga minyak Rusia jenis Urals anjlok ke level terendah dalam setidaknya dua tahun terakhir. Setelah sanksi Amerika Serikat menyasar raksasa energi Rosneft dan Lukoil, aliran minyak murah yang selama ini dinikmati India mendadak terhenti. Namun kini, Rusia kembali menggoda pasar dengan menawarkan diskon besar—hingga US$7 per barel di bawah harga Brent, jauh lebih dalam dibanding diskon sebelumnya yang hanya sekitar US$3.

Refiner India Awalnya Menolak, Risiko Hukum Jadi Kekhawatiran Utama

Ketika sanksi mulai berlaku pekan lalu, banyak perusahaan pengilangan minyak India memilih untuk menolak penawaran pengiriman minyak Rusia. Kekhawatiran bahwa minyak tersebut berasal dari perusahaan yang masuk daftar hitam AS membuat para pelaku industri takut terseret risiko hukum, penyitaan muatan, hingga potensi gangguan rantai pasokan. Untuk mengamankan kebutuhan energi, India pun meningkatkan pembelian dari kawasan Timur Tengah.

Harga Turun Tajam, Sikap India Mulai Berubah

Namun penurunan harga yang agresif telah mengubah dinamika pasar dalam beberapa hari terakhir. Diskon besar membuat beberapa pengilangan India kembali mempertimbangkan pembelian minyak Urals, dengan satu syarat: minyak harus berasal dari pemasok yang tidak masuk dalam daftar sanksi AS. Meski demikian, sumber pasar menyebut bahwa hanya sekitar 20% dari total kargo yang ditawarkan benar-benar “bersih”—artinya berasal dari entitas yang tidak terkena sanksi.

Kondisi ini menempatkan India pada dilema strategis. Di satu sisi, potongan harga yang besar sangat menguntungkan, terutama bagi negara importir minyak terbesar ketiga di dunia. Di sisi lain, risiko hukum dan geopolitik tetap menghantui. Keputusan yang salah dapat berdampak pada pembiayaan, asuransi, hingga pengiriman internasional.

Sanksi AS Mengacaukan Perdagangan Minyak Rusia

Anjloknya harga Urals adalah bukti nyata bahwa sanksi Amerika Serikat mulai mengguncang struktur perdagangan minyak Rusia. Produsen Rusia kini harus memangkas harga lebih dalam agar tetap menarik bagi pembeli, terutama negara-negara yang tidak secara langsung mengikuti kebijakan sanksi Barat. Penurunan harga ini juga membuka peluang bagi India untuk memanfaatkan kondisi pasar—meski penuh risiko.

Jika semakin banyak kilang India kembali membeli Urals, arus perdagangan yang sempat tersendat dapat pulih, meski kemungkinan hanya dalam skala terbatas. Namun langkah ini akan sangat bergantung pada ketatnya pengawasan AS, kesiapan Rusia menyediakan kargo “bersih,” serta seberapa besar India siap menanggung risiko demi mendapatkan minyak diskon.

Kesimpulan: Peluang Besar, Risiko Sama Besarnya

Diskon besar-besaran dari Rusia menawarkan keuntungan ekonomi yang sulit diabaikan oleh India. Namun setiap keputusan pembelian kini berada dalam bayang-bayang sanksi AS. India harus menyeimbangkan antara kebutuhan energi, kepentingan ekonomi, dan kehati-hatian geopolitik. Dalam situasi saat ini, pertanyaannya bukan lagi apakah harga murah itu menarik—tetapi apakah India cukup berani untuk mengambil risiko di baliknya.

Rabu, 19 November 2025

Nikkei Tertekan Sentimen Takut, Aksi Beli Murah Kehilangan Tenaga

Indeks Nikkei ditutup melemah 0,9% ke level 48.281,47, menghapus seluruh kenaikan yang sempat terbentuk di awal sesi. Sentimen risk-off mendominasi pasar, membuat aksi beli murah (bargain hunting) tidak cukup kuat menahan tekanan jual yang semakin intens. Dalam beberapa hari terakhir, pasar saham global memang berada di bawah tekanan signifikan akibat kekhawatiran yang terus meningkat.

Menurut Analis Makro Global FOREX.com, Fawad Razaqzada, pasar global sedang menghadapi tekanan berat yang dipicu oleh kecemasan investor terhadap sektor teknologi. Menjelang rilis laporan keuangan Nvidia pada Rabu waktu setempat, pelaku pasar memilih berhati-hati dan mengurangi eksposur terhadap aset-aset berisiko. Ketidakpastian ini menambah beban pada sentimen pasar Jepang.

Beberapa saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama Nikkei. MODEC Inc. anjlok sekitar 8,0%, Kioxia Holdings terkoreksi 5,6%, dan Ebara jatuh 7,3%. Tekanan ini menunjukkan bahwa aksi jual terfokus pada saham-saham yang dianggap sensitif terhadap prospek pendapatan dan volatilitas global.

Di pasar valuta asing, pasangan USD/JPY bergerak relatif stabil di sekitar 155,43—hampir tidak berubah dari penutupan New York di level 155,52. Stabilnya yen menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menunggu katalis besar berikutnya, baik dari data ekonomi maupun kebijakan bank sentral, sebelum melakukan reposisi lebih agresif.

Senin, 17 November 2025

Pound Melemah, Pasar Semakin Yakin BoE Akan Turunkan Suku Bunga Desember Ini

Pasangan GBP/USD turun ke area 1.3155 pada awal sesi Asia, menandai tekanan baru pada pound sterling di tengah kekhawatiran ekonomi Inggris yang melemah dan meningkatnya beban fiskal. Pelaku pasar juga menantikan pidato anggota eksternal Bank of England (BoE), Catherine Mann, yang berpotensi memberi sinyal arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Keputusan Perdana Menteri Keir Starmer dan Kanselir Rachel Reeves untuk membatalkan rencana kenaikan pajak penghasilan menjelang pengumuman anggaran 26 November menambah tekanan pada pound. Data domestik yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan upah dan penurunan GDP memperkuat pandangan bahwa ekonomi Inggris sedang kehilangan momentum. Kombinasi faktor ini meningkatkan keyakinan pasar bahwa BoE akan memangkas suku bunga sebesar 0,25% pada Desember, dengan probabilitas yang kini mendekati 80%.

Dari sisi Amerika Serikat, pelaku pasar bersiap menghadapi serangkaian rilis data ekonomi yang tertunda akibat penutupan pemerintahan. Banyak analis memperkirakan data tersebut akan mengonfirmasi pelemahan pasar tenaga kerja serta potensi perlambatan ekonomi AS. Jika hasilnya lebih buruk dari ekspektasi, tekanan pada dolar AS dapat meningkat dan memberikan ruang pemulihan bagi GBP/USD.

Meski begitu, peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada Desember masih dianggap tidak pasti. Probabilitas penurunan 25 bps turun menjadi sekitar 54% dari sebelumnya 62,9%, menurut CME FedWatch. Dengan kedua bank sentral berada dalam sorotan, perbedaan kecepatan pemangkasan suku bunga antara BoE dan Fed diperkirakan menjadi pendorong utama pergerakan GBP/USD dalam beberapa minggu mendatang.

Sumber : newsmaker.id 

Kamis, 13 November 2025

Emas Tetap Kuat, Apa yang Menjaga Harga Tetap Naik?


Harga emas terus menunjukkan ketahanan luar biasa setelah melonjak hampir 2% pada Rabu lalu, meskipun ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat semakin dalam akibat tidak tersedianya data ekonomi resmi selama enam minggu penutupan pemerintahan. Pada Kamis (13 November), emas diperdagangkan di kisaran US$4.200 per ons, menandai konsolidasi dari reli empat hari berturut-turut — periode penguatan terpanjang dalam sebulan terakhir. Di saat yang sama, para pembuat kebijakan AS masih memperdebatkan langkah berikutnya terkait keputusan suku bunga, yang menambah ketidakpastian di pasar.

Persetujuan Rancangan Undang-Undang pendanaan sementara oleh DPR AS untuk mengakhiri penutupan pemerintahan memang memberikan sedikit harapan, namun Gedung Putih telah memperingatkan bahwa data resmi ketenagakerjaan dan inflasi untuk bulan Oktober kemungkinan besar tidak akan dipublikasikan. Kekosongan data ini membuat banyak investor beralih pada sumber data swasta untuk memahami kondisi ekonomi AS. Ketidakpastian tersebut justru mendorong permintaan terhadap emas, karena logam mulia ini dianggap sebagai aset lindung nilai yang aman. Akibatnya, harga emas melonjak hampir 5% dalam sepekan, didorong oleh ekspektasi bahwa suku bunga akan kembali dipangkas setelah pemerintahan AS kembali beroperasi penuh.

Meski demikian, perdebatan di internal Federal Reserve menambah dinamika tersendiri. Sejumlah pejabat, seperti Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic dan Presiden Bank of Boston Susan Collins, menyatakan dukungan untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini guna menekan inflasi. Perbedaan pandangan ini menciptakan ketegangan di pasar keuangan, membuat para pelaku pasar mencari kepastian dengan meningkatkan kepemilikan emas sebagai bentuk perlindungan dari risiko kebijakan moneter yang tidak menentu.

Secara global, kinerja emas sepanjang tahun ini luar biasa, dengan kenaikan hampir 60% — laju pertumbuhan tahunan terbaik sejak 1979. Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara, terutama Tiongkok, sebagai strategi diversifikasi cadangan devisa dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan yang didominasi dolar AS. Meskipun harga emas sempat terkoreksi dari rekor tertingginya bulan lalu, sentimen pasar tetap optimis. Banyak analis memperkirakan bahwa harga emas bisa menembus level US$5.000 per ons pada tahun depan, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan pergeseran strategi investasi menuju aset berwujud yang lebih stabil.

Dengan kombinasi antara ketegangan geopolitik, kebijakan moneter yang belum pasti, dan lonjakan permintaan global, emas terus mempertahankan posisinya sebagai aset pelindung utama di tengah turbulensi ekonomi. Selama faktor-faktor pendukung tersebut bertahan, prospek kenaikan harga emas masih terbuka lebar dalam jangka menengah hingga panjang.

Selasa, 11 November 2025

Harga Perak Naik Tiga Hari Berturut: Awal Reli Besar atau Sekadar Pemanasan?

 

Harga perak (XAG/USD) terus menunjukkan performa impresif dengan kenaikan selama tiga sesi berturut-turut, kini bertengger di sekitar USD 50,90 per ons di sesi perdagangan Asia pagi ini. Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga ini mulai menarik perhatian investor di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat, yang memperkuat ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Pernyataan Gubernur The Fed, Stephen Miran, kepada CNBC menjadi katalis utama bagi penguatan sentimen bullish di pasar perak. Ia menegaskan bahwa inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, membuka peluang bagi pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Desember, atau setidaknya 25 basis poin. Pernyataan ini disambut positif oleh pelaku pasar, mengingat perak sering kali menjadi aset pilihan saat kebijakan moneter mulai melonggar dan nilai dolar AS melemah.

Tekanan tambahan terhadap dolar AS juga datang dari data ekonomi yang kurang menggembirakan. Laporan terbaru menunjukkan penurunan lapangan kerja pada bulan Oktober, terutama di sektor pemerintahan dan ritel, serta sentimen konsumen yang merosot ke level terendah dalam 3,5 tahun terakhir. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin kini mencapai sekitar 62%, memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

Namun, euforia pasar ini tidak sepenuhnya tanpa risiko. Potensi berakhirnya penutupan pemerintahan (government shutdown) di AS dapat menjadi faktor penyeimbang. Senat telah menyetujui RUU pendanaan dengan hasil 60-40, dan kini telah dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat. Presiden Donald Trump juga telah menyatakan dukungannya. Jika pemerintahan AS resmi dibuka kembali, publikasi data ekonomi resmi akan dilanjutkan. Hal ini berpotensi menguatkan dolar AS dan imbal hasil obligasi (yield), yang pada gilirannya bisa menguji ketahanan reli perak yang tengah berlangsung.

Secara keseluruhan, pasar perak saat ini berada di persimpangan penting antara momentum jangka pendek dan kemungkinan pembalikan arah. Jika The Fed benar-benar memberi sinyal pemangkasan suku bunga yang agresif, reli perak berpeluang berlanjut dan menembus level psikologis berikutnya. Namun, jika data ekonomi AS kembali menguat dan dolar pulih, reli ini bisa berubah menjadi sekadar pemanasan sementara sebelum konsolidasi baru. Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, investor disarankan untuk tetap mencermati arah kebijakan moneter dan dinamika pasar logam mulia dengan seksama.

Kamis, 06 November 2025

Minyak Rem, Jeda Sebelum Jatuh?

 

Harga minyak mentah bergerak datar setelah mengalami dua hari penurunan berturut-turut. Minyak Brent bertahan di atas level $63 per barel, sementara WTI masih berada di bawah $60 per barel. Pasar tengah menimbang dua berita utama: keputusan Saudi Aramco memangkas harga jual resmi (Official Selling Price/OSP) ke Asia sesuai ekspektasi, serta laporan EIA yang mencatat lonjakan signifikan pada persediaan minyak mentah AS untuk pekan yang berakhir pada 31 Oktober. Kombinasi kedua faktor ini membuat pelaku pasar berhati-hati dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Secara fundamental, kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan (oversupply) masih menjadi tema dominan yang membebani harga. Peningkatan produksi dari negara-negara anggota OPEC+ dan produsen non-anggota terus menekan pasar, meskipun terdapat risiko pasokan akibat sanksi AS terhadap dua produsen besar Rusia serta serangan terhadap infrastruktur energi di beberapa wilayah. Sejumlah analis memperkirakan bahwa surplus pasokan global akan semakin melebar tahun depan. Sementara itu, pemangkasan harga oleh Saudi Aramco lebih dipandang sebagai langkah strategis untuk mempertahankan pangsa pasar, bukan sebagai sinyal akan pengetatan pasokan.

Namun, tidak semua indikator memberikan sinyal negatif. Persediaan bensin AS turun ke level terendah dalam hampir tiga tahun, menunjukkan bahwa permintaan di sektor hilir masih cukup tangguh. Penurunan stok ini menjadi faktor penyeimbang yang menahan tekanan jual lebih dalam di pasar minyak.

Dalam jangka pendek, harga minyak kemungkinan akan bergerak dalam kisaran terbatas. Pelaku pasar menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai dampak diskon harga Saudi terhadap arus perdagangan Asia, arah pergerakan dolar AS yang masih kuat, serta data permintaan energi global berikutnya. Ketiganya akan menjadi penentu apakah fase stabilisasi harga saat ini merupakan awal dari pemulihan atau sekadar jeda sebelum penurunan lebih lanjut.

Selasa, 04 November 2025

Hang Seng Berbalik Arah dan Ditutup Melemah di Tengah Penurunan Sektor yang Meluas

 

Indeks Hang Seng ditutup melemah 206 poin atau sekitar 0,8% ke level 25.952 pada perdagangan Selasa, setelah sempat mencatatkan kenaikan di awal sesi. Sentimen pasar memburuk secara signifikan, menyeret sebagian besar sektor ke zona merah dan menekan optimisme investor yang sempat muncul di awal perdagangan.

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, dengan indeks teknologi anjlok hingga 1,8%. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang melarang perusahaan Nvidia menjual chip kecerdasan buatan (AI) tercanggihnya ke Tiongkok menjadi pemicu utama pelemahan. Meski beberapa penjualan masih diizinkan untuk Beijing, larangan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan perdagangan teknologi antara kedua negara. Di sisi lain, laporan bahwa pemerintah Tiongkok menaikkan subsidi dan memangkas biaya energi untuk pusat data besar tidak cukup mampu mengangkat sentimen pasar.

Saham sektor konsumer dan properti juga mencatatkan pelemahan, mengikuti tren negatif bursa utama di daratan Tiongkok. Penurunan ini diperparah oleh kejatuhan indeks berjangka AS yang terseret ketidakpastian jalur kebijakan suku bunga The Fed setelah dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, serta kekhawatiran atas potensi penutupan pemerintahan AS yang masih berlanjut.

Dari sisi korporasi, emiten properti Tiongkok yang sedang menghadapi tekanan keuangan kembali menjadi sorotan utama. New World Development mengumumkan rencana pertukaran obligasi senilai USD 1,9 miliar yang mencakup potongan nilai bagi kreditur, sementara obligasi dolar Vanke melemah setelah pemegang saham terbesarnya memperketat persyaratan pinjaman. Langkah ini semakin menambah kekhawatiran terhadap stabilitas sektor properti Tiongkok yang masih rentan terhadap tekanan likuiditas.

Beberapa saham yang mengalami penurunan signifikan di antaranya adalah Li Auto yang turun 3,7%, Innovent Biologics merosot 3,5%, Zijin Mining Group melemah 2,9%, serta Xiaomi Corp. yang terkoreksi 2,7%. Kinerja negatif ini menegaskan masih rapuhnya kepercayaan investor terhadap prospek pasar Hong Kong di tengah ketidakpastian global dan tekanan eksternal dari Amerika Serikat.

Sumber : newsmaker.id