Rabu, 31 Desember 2025

Harga Perak Anjlok Tajam Setelah Menembus Rekor Tertinggi

 

Harga perak mengalami penurunan tajam setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi dalam beberapa sesi terakhir. Setelah reli yang sangat kuat dan cepat, pasar kini menginjak rem mendadak seiring aksi ambil untung yang masif dan perubahan sentimen investor menjadi jauh lebih berhati-hati. Pergerakan ini mencerminkan dinamika klasik pasar komoditas, di mana kenaikan ekstrem sering kali diikuti koreksi agresif dalam waktu singkat.

Penurunan harga terjadi tidak lama setelah perak sempat menembus level USD 80 per ons untuk pertama kalinya. Lonjakan yang terlalu cepat ini membuat banyak pelaku pasar menilai bahwa harga telah bergerak terlalu jauh dari nilai wajarnya. Dalam kondisi seperti ini, koreksi besar menjadi sesuatu yang wajar, terutama ketika sebagian besar posisi beli bersifat spekulatif dan sensitif terhadap perubahan sentimen jangka pendek.

Salah satu pemicu utama reli sebelumnya adalah lonjakan permintaan spekulatif dari Tiongkok. Aliran dana ini sempat menjadi mesin penggerak utama yang mendorong harga perak ke level ekstrem. Namun, ketika momentum tersebut mulai mereda, pasar kehilangan sumber dorongan terbesarnya. Tanpa dukungan lanjutan dari spekulan, tekanan jual pun dengan cepat mengambil alih, memicu penurunan harga yang tajam.

Dari sudut pandang teknikal, berbagai indikator menunjukkan bahwa perak telah memasuki fase overbought. Kondisi ini menandakan bahwa tekanan beli sudah terlalu dominan dan tidak lagi seimbang dengan fundamental jangka pendek. Ketika arus pembelian mulai melemah, pasar menjadi sangat rentan terhadap pembalikan arah, terutama di tengah valuasi yang sudah tinggi dan ekspektasi keuntungan yang menipis.

Situasi ketidakseimbangan pasar juga tercermin dari premi perak di Shanghai yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga acuan di London. Selisih ini bahkan sempat melebar hingga lebih dari USD 8 per ons, sebuah anomali yang jarang terjadi. Kesenjangan ekstrem semacam ini sering menjadi sinyal bahwa pasar berada dalam kondisi tidak sehat dan rawan koreksi. Tidak lama kemudian, harga perak jatuh ke sekitar USD 71,96 per ons, menandai koreksi besar dari puncaknya.

Pergerakan cepat seperti ini secara alami meningkatkan volatilitas pasar. Candle harga menjadi lebih panjang, spread melebar, dan tekanan jual dapat muncul secara beruntun dalam waktu singkat. Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada apakah penurunan ini hanya merupakan fase ambil untung sementara atau awal dari tren penurunan yang lebih dalam. Faktor penentu utamanya adalah kembalinya permintaan fisik serta arah sentimen risiko global, yang akan sangat memengaruhi minat investor terhadap logam mulia, khususnya perak.

Senin, 29 Desember 2025

Harga Emas Terkoreksi Tipis, Aksi Ambil Untung Menahan Laju Kenaikan


Harga emas mengalami penurunan tipis pada perdagangan hari Senin, kembali berada di bawah level USD 4.500 per ons setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi. Koreksi ringan ini dinilai wajar oleh pelaku pasar, mengingat reli panjang yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir mendorong sebagian investor untuk merealisasikan keuntungan. Aksi ambil untung ini menjadi faktor utama yang menahan kelanjutan penguatan emas, tanpa mengubah sentimen bullish jangka menengah hingga panjang.

Selain faktor teknikal tersebut, pasar juga tengah mencerna perkembangan geopolitik terbaru yang memengaruhi persepsi risiko global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan damai dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy telah menunjukkan “banyak kemajuan”, meskipun ia menilai kesepakatan final masih membutuhkan waktu beberapa minggu. Pernyataan ini memberikan sinyal positif, namun belum cukup kuat untuk menghilangkan ketidakpastian yang selama ini menjadi penopang permintaan aset safe haven seperti emas.

Trump juga mengungkapkan keterbukaannya untuk berbicara di parlemen Ukraina jika diperlukan, mempertimbangkan kemungkinan perundingan tiga pihak dengan Zelenskiy dan Presiden Rusia Vladimir Putin, serta merencanakan pertemuan dengan para pemimpin Eropa pada Januari mendatang. Rangkaian pernyataan tersebut membentuk ekspektasi pasar terhadap arah konflik dan risiko geopolitik global, yang secara langsung memengaruhi pergerakan harga emas.

Dari sisi Ukraina, Presiden Zelenskiy menyampaikan bahwa kerangka perdamaian telah disepakati sekitar 90% dan jaminan keamanan antara Amerika Serikat dan Ukraina telah sepenuhnya siap, meski masih terdapat sejumlah isu penting yang belum terselesaikan. Kondisi ini menegaskan bahwa ketidakpastian tetap ada, meskipun nada diplomasi terdengar lebih konstruktif dibandingkan sebelumnya.

Secara kinerja tahunan, emas masih menunjukkan performa yang luar biasa. Sejak awal tahun, harga emas telah melonjak lebih dari 70% dan berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan tahunan terkuat sejak 1979. Reli ini ditopang oleh pembelian agresif bank sentral, arus masuk dana ETF yang berkelanjutan, risiko geopolitik yang persisten, serta kebijakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter lanjutan pada tahun depan, yang semakin memperkuat daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan inflasi.

Sumber : newsmaker.id 

Kamis, 18 Desember 2025

Harga Emas Bergetar Menjelang Rilis CPI: Bangkit Kembali atau Justru Terkoreksi?

 

Harga emas dunia (XAU/USD) melemah tipis pada sesi Asia hari Kamis, turun ke kisaran USD 4.324 per ons. Pelemahan ini terutama dipicu oleh aksi ambil untung setelah emas sempat menyentuh level tertinggi dalam sekitar tujuh minggu terakhir. Pergerakan tersebut tergolong wajar, mengingat reli emas sebelumnya berlangsung cukup cepat dan mendorong sebagian pelaku pasar untuk mengamankan keuntungan jangka pendek.

Tekanan tambahan datang dari penguatan dolar AS. Ketika dolar menguat, emas cenderung kehilangan daya tarik dalam jangka pendek karena menjadi lebih mahal bagi investor non-dolar. Hubungan terbalik antara dolar dan emas ini kembali terlihat jelas, terutama menjelang rilis data ekonomi penting Amerika Serikat yang meningkatkan kehati-hatian pasar.

Meski demikian, potensi penurunan harga emas dinilai terbatas. Data ketenagakerjaan terbaru dari AS masih mengindikasikan pasar tenaga kerja yang mulai mendingin. Kondisi ini menjaga ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve tetap hidup. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah secara historis menguntungkan emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih kecil.

Dari sisi geopolitik, ketegangan global juga berperan sebagai penyangga harga emas. Situasi memanas setelah Venezuela mengerahkan angkatan lautnya untuk mengawal kapal-kapal minyak di tengah ancaman blokade dari Amerika Serikat. Eskalasi semacam ini biasanya mendorong arus modal ke aset lindung nilai, termasuk emas, karena investor mencari perlindungan dari ketidakpastian politik dan risiko global.

Fokus pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat bulan November (CPI) yang akan diumumkan Kamis malam, bersamaan dengan data Initial Jobless Claims. Konsensus memperkirakan CPI utama sebesar 3,1% secara tahunan dan CPI inti di level 3,0% YoY. Angka-angka ini berpotensi memicu pergerakan besar dalam hitungan menit pada dolar AS, imbal hasil obligasi, dan harga emas.

Jika data CPI dirilis lebih rendah dari perkiraan, pasar kemungkinan semakin yakin bahwa The Fed memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Dalam skenario ini, dolar AS berpeluang melemah dan emas dapat bangkit dengan cepat, bahkan berpotensi menembus area USD 4.350 dan menguji kembali zona puncak sebelumnya di sekitar USD 4.380-an.

Sebaliknya, jika CPI lebih tinggi dari ekspektasi, peluang penurunan suku bunga dapat dianggap mundur. Dolar AS cenderung menguat dalam kondisi tersebut, sehingga emas menjadi rentan terhadap koreksi. Area penurunan awal biasanya berada di sekitar USD 4.330, dan jika tekanan cukup kuat, koreksi dapat melebar hingga mendekati USD 4.300. Perlu dicatat bahwa rilis CPI sering kali memicu pergerakan cepat naik-turun atau whipsaw, sehingga reaksi awal pasar belum tentu mencerminkan arah akhir pergerakan harga emas pada sesi tersebut.

Selasa, 16 Desember 2025

Dolar Melemah Menjelang Rilis Data Tenaga Kerja AS, Yen Semakin Menguat

Nilai tukar dolar Amerika Serikat melemah pada awal sesi perdagangan Asia, tertekan hingga mendekati level terendah dalam dua bulan terakhir seiring pelaku pasar menanti rilis sejumlah data ekonomi penting, terutama laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat periode November yang tertunda. Indeks dolar turun sekitar 0,2% ke level 98,261, mendekati posisi terendah sejak 17 Oktober. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor yang menunggu kejelasan kondisi pasar tenaga kerja AS setelah penundaan publikasi data akibat penutupan sebagian pemerintahan federal.

Analis HSBC menilai data ketenagakerjaan tersebut sangat krusial untuk “menutup cerita” mengenai kondisi pasar tenaga kerja selama masa shutdown pemerintah. Ketidakpastian ini membuat arah kebijakan moneter Federal Reserve menjadi sorotan utama. Berdasarkan kontrak Fed funds, pasar saat ini memproyeksikan peluang sebesar 75,6% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 28 Januari. Ekspektasi suku bunga yang relatif stabil menekan daya tarik dolar, terutama ketika investor mulai membandingkannya dengan prospek kebijakan bank sentral utama lainnya.

Pergerakan pasar global minggu ini semakin dinamis karena sejumlah bank sentral besar dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan. Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,75%, sebuah langkah yang mendorong penguatan yen Jepang. Sebaliknya, Bank of England diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 3,75%, sementara Bank Sentral Eropa dan beberapa bank sentral Eropa lainnya diproyeksikan mempertahankan kebijakan moneternya. Perbedaan arah kebijakan ini menciptakan pergeseran arus modal dan volatilitas di pasar valuta asing.

Terhadap yen, dolar AS melemah tipis ke level 155,07 menjelang keputusan Bank of Japan pada Jumat. Penguatan yen mencerminkan meningkatnya ekspektasi pengetatan moneter di Jepang. Sementara itu, euro bertahan stabil di sekitar USD 1,17535, didukung sentimen positif dari kabar kemajuan dalam perundingan damai Ukraina. Pound sterling bergerak datar di kisaran USD 1,3376, mencerminkan sikap wait and see pasar terhadap kebijakan Bank of England.

Dolar juga melemah terhadap yuan offshore, turun ke level 7,0371, sementara mata uang negara-negara Antipodean seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru mencatatkan penguatan tipis seiring meningkatnya selera risiko global. Di sisi lain, pasar aset digital bergerak relatif tenang. Bitcoin naik tipis sekitar 0,2% ke level USD 86.420, sementara Ether menguat sekitar 0,6% ke kisaran USD 2.963. Kondisi ini menunjukkan bahwa fokus utama investor saat ini tetap tertuju pada arah kebijakan moneter global dan data ekonomi utama yang berpotensi menggerakkan pasar dalam waktu dekat.

Sumber : newsmaker.id 

Jumat, 12 Desember 2025

Asia Ikut Reli, Apakah Tren Bullish Bertahan hingga 2026?

 

Pasar saham Asia dibuka menguat pada Jumat pagi (12 Desember) setelah Wall Street dan indeks saham global menorehkan rekor baru. Indeks MSCI Asia naik sekitar 0,5% di awal sesi, mengikuti reli dari bursa Jepang dan Australia yang sama-sama menguat sekitar 1%. Dorongan utama datang dari keputusan The Fed yang kembali memangkas suku bunga untuk ketiga kalinya secara beruntun, sehingga memicu minat investor untuk masuk ke aset berisiko. Dari jajaran saham unggulan, SoftBank Group melonjak lebih dari 5% setelah laporan bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan aksi akuisisi potensial, termasuk operator pusat data Switch Inc.

Di Amerika Serikat, S&P 500 ditutup naik 0,2% pada Kamis malam, membawa Indeks MSCI All Country World ke level penutupan tertinggi sejak 2019. Kinerja ini menempatkan pasar saham global di jalur menuju tahun terbaiknya sejak 2019. Namun, kehati-hatian tetap terlihat di sektor teknologi setelah saham Broadcom melemah di perdagangan after-hours, dipicu oleh proyeksi pendapatan AI yang tidak memenuhi ekspektasi pasar. Indeks berjangka Nasdaq 100 juga sedikit terkoreksi pada awal perdagangan Jumat, menandakan sentimen campuran di sektor teknologi AS. Di Asia, perhatian tambahan tertuju pada Thailand setelah Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memutuskan membubarkan parlemen untuk membuka jalan bagi pemilu awal.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun tipis menyusul data klaim tunjangan pengangguran mingguan yang lebih tinggi dari perkiraan, sementara indeks dolar bergerak dekat posisi terendah dua bulan. Di pasar komoditas, harga tembaga mencetak rekor baru, dengan mayoritas logam industri ikut reli setelah pemangkasan suku bunga oleh The Fed serta revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi AS. Emas dan perak terkoreksi ringan pada sesi Asia setelah reli sebelumnya, minyak kembali menguat, sementara Bitcoin bergerak stabil dalam rentang sempit di sekitar level US$93.000. Dengan dorongan likuiditas global, optimisme pertumbuhan, dan risk appetite yang menguat, pasar Asia tampaknya masih memiliki ruang untuk mempertahankan momentum bullish hingga tahun-tahun mendatang.

Rabu, 10 Desember 2025

Ancaman Kelebihan Pasokan Minyak Tetap Tinggi, Inilah Dinamika yang Mengguncang Harga Minyak Global

Harga minyak mulai menunjukkan tanda stabil setelah dua kali anjlok tajam, namun kestabilan ini masih jauh dari kata aman. WTI kembali berada di atas USD 58 per barel meski sebelumnya merosot sekitar 3% dalam dua sesi terakhir, sementara Brent bertahan di kisaran USD 62 per barel. Penurunan memang tidak berlanjut, tetapi pasar masih dibayangi kecemasan akan risiko kelebihan pasokan global yang terus meningkat.

Perkiraan pemerintah Amerika Serikat menyebutkan bahwa produksi minyak domestik sepanjang tahun ini diprediksi menembus rekor baru, yakni 13,6 juta barel per hari. Angka ini menandakan suplai tambahan dari AS terus membanjiri pasar global, sementara permintaan belum memperlihatkan kenaikan berarti. Ketidakseimbangan ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa harga minyak akan sulit menemukan titik stabil dalam waktu dekat.

Saad Rahim, kepala ekonom di perusahaan perdagangan komoditas Trafigura, bahkan menyebut kondisi saat ini sebagai “glut atau super-glut” yang hampir tak terhindarkan. Meskipun data American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS turun sebesar 4,8 juta barel minggu lalu, penurunan tersebut tertutup oleh lonjakan signifikan pada stok bensin dan distilat seperti solar. Artinya, tekanan dari sisi suplai bahan bakar tetap kuat dan menjadi sinyal bahwa keseimbangan pasokan belum pulih.

Pergerakan harga minyak sejak awal November pun terpantau terjebak dalam rentang sempit di sekitar USD 4 per barel. Hal ini mencerminkan pasar yang serba ragu, terhimpit antara dua kekuatan besar: kekhawatiran oversupply yang terus membayangi dan risiko geopolitik yang masih bereskalasi. Aliran minyak Rusia ke negara-negara seperti India ikut menjadi faktor yang menahan pasar dari perubahan agresif, membuat banyak pelaku menahan diri dari langkah spekulatif.

Dalam beberapa hari ke depan, pasar akan menyoroti laporan terbaru dari International Energy Agency (IEA) dan OPEC yang diperkirakan memberikan gambaran lebih jelas mengenai proyeksi permintaan dan pasokan global. Untuk saat ini, WTI pengiriman Januari naik tipis 0,2% menjadi USD 58,38 per barel pada pukul 08.15 waktu Singapura, sementara Brent untuk pengiriman Februari ditutup turun 0,9% ke USD 61,94 per barel pada perdagangan Selasa. Pergerakan yang minim ini menunjukkan pasar masih menunggu arah yang lebih pasti, di tengah ancaman kelebihan pasokan yang kian menekan dinamika harga minyak dunia.

Sumber : newsmaker.id