Rabu, 15 Oktober 2025

Saham Global Menguat Didukung Laporan Laba dan Spekulasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Pasar saham global mengalami reli signifikan pada perdagangan terbaru, dipicu oleh laporan laba perusahaan yang solid serta meningkatnya optimisme terhadap potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Sentimen positif ini mendorong minat risiko kembali menguat di berbagai bursa dunia, menandai perubahan tajam dari kehati-hatian investor beberapa pekan sebelumnya.

Di Eropa, indeks Stoxx 600 melonjak setelah LVMH mencatat kenaikan harga saham hingga 13% berkat kembalinya pertumbuhan yang tak terduga. Performa impresif tersebut mengangkat seluruh sektor barang mewah, memperkuat keyakinan bahwa daya beli kelas menengah atas tetap kuat meskipun tekanan ekonomi global meningkat. Sementara itu, di Asia, indeks utama mencatat kenaikan intraday terbesar dalam dua bulan terakhir setelah Ketua The Fed, Jerome Powell, memberikan sinyal dovish terkait kondisi pasar tenaga kerja yang melemah, memperbesar peluang terjadinya pemangkasan suku bunga pada Oktober. Futures S&P 500 pun naik 0,4%, memperkuat tren bullish di Wall Street.

Di sisi valuta asing, yuan offshore menguat setelah Tiongkok meningkatkan langkah-langkah pertahanan mata uangnya di tengah ketegangan perdagangan dengan AS. Kebijakan ini membantu menstabilkan mata uang regional lainnya dan menekan dolar AS. Penguatan yuan juga dipandang sebagai upaya Beijing untuk mempercepat internasionalisasi mata uangnya. Seiring itu, harga emas mencetak rekor baru, menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset lindung nilai masih tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sejak aksi jual besar yang dipicu oleh tarif impor pada April lalu, pasar saham global telah bangkit tajam, didorong oleh ekspektasi pelonggaran moneter lanjutan setelah pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada September, serta optimisme terhadap kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, reli ini mulai menghadapi tantangan baru seiring munculnya kembali ketegangan antara AS dan Tiongkok, di mana kedua negara meningkatkan retorika dan mengisyaratkan pembatasan baru terhadap teknologi strategis.

Menurut Dilin Wu, analis strategi di Pepperstone Group, ketidakpastian makro tetap menjadi hambatan utama bagi aset berisiko. “Dengan dukungan dari ekspektasi pemangkasan suku bunga dan kinerja laba yang kuat, saya menilai potensi penurunan saham AS masih terbatas,” tulisnya dalam laporan riset terbaru.

Dalam pernyataannya pada Selasa, Powell menegaskan bahwa The Fed berada di jalur untuk menurunkan suku bunga sebesar 0,25 poin pada akhir bulan ini, meski penutupan sebagian pemerintahan AS telah mengganggu pembacaan data ekonomi. Kontrak swap memperkirakan pemangkasan total sekitar 1,25 poin persentase hingga akhir tahun depan, dari kisaran suku bunga saat ini di 4%–4,25%. Powell juga mengisyaratkan kemungkinan penghentian penyusutan neraca The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

Dari Tiongkok, bank sentral negara itu menetapkan nilai patokan yuan di 7,0995 per dolar AS, lebih kuat dari level psikologis 7,1 per dolar, untuk pertama kalinya sejak November. Langkah ini menandakan tekad Beijing menjaga stabilitas mata uangnya di tengah tekanan eksternal. “Patokan di bawah 7,10 menunjukkan sinyal kekuatan yang jelas,” ujar Fiona Lim, analis valas senior di Malayan Banking Bhd, Singapura. “Yuan yang kuat menunjukkan posisi Tiongkok yang percaya diri dalam menghadapi negosiasi atau potensi eskalasi balasan.”

Sementara itu, di Washington, Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer menyatakan keyakinan bahwa ketegangan ekspor dengan Tiongkok akan mereda setelah pertemuan antara pejabat kedua negara. Presiden Donald Trump juga menampilkan sikap hati-hati namun optimistis, menyebut bahwa hubungan dengan Beijing tetap baik dan negosiasi masih terbuka. “Kami memiliki hubungan yang baik dengan Tiongkok, dan saya pikir semuanya akan berjalan baik. Jika tidak, itu juga tidak masalah,” ujarnya di Gedung Putih.

Di Eropa, Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu berhasil mengamankan dukungan penting dari Partai Sosialis di Majelis Nasional, memperbesar peluang pemerintahannya untuk bertahan dari dua mosi tidak percaya yang dijadwalkan pada Kamis mendatang.

Sementara di Jepang, penjualan obligasi pemerintah pertama sejak koalisi penguasa runtuh mencatat permintaan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata 12 bulan terakhir, karena imbal hasil yang lebih tinggi menarik minat investor. Di tengah ketidakpastian politik, para pemimpin partai oposisi utama Jepang dijadwalkan bertemu pada Rabu untuk membahas kemungkinan menyatukan kebijakan dan menentukan kandidat perdana menteri baru.

Secara keseluruhan, kombinasi laba korporasi yang solid, prospek pelonggaran kebijakan moneter, dan stabilitas mata uang Asia telah menciptakan suasana optimistis di pasar global. Namun, dengan ketegangan geopolitik yang belum mereda, pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan koreksi mendadak di tengah volatilitas yang meningkat.

Senin, 13 Oktober 2025

Harga Perak Tembus Rekor Baru di Atas $51, Didorong Ketegangan Global dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

 

Harga perak dunia melonjak lebih dari 2% hingga menembus level $51 per ons pada perdagangan Senin, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta meningkatnya kekhawatiran geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset lindung nilai (safe haven).

Ketegangan AS–Tiongkok Picu Lonjakan Permintaan Aset Aman
Pendorong utama kenaikan harga perak kali ini berasal dari pernyataan Presiden Donald Trump, yang mengancam akan memberlakukan tarif impor 100% terhadap barang-barang asal Tiongkok mulai 1 November mendatang. Meski demikian, Trump kemudian menyatakan kesediaannya untuk bernegosiasi dengan Presiden Xi Jinping menjelang pertemuan APEC akhir bulan ini.
Ketidakpastian arah hubungan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut membuat investor global mencari perlindungan pada komoditas bernilai seperti perak dan emas. Langkah ini menjadi cerminan meningkatnya sentimen aversi risiko di pasar global.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Fed Menambah Daya Dorong
Selain faktor geopolitik, ekspektasi terhadap kebijakan moneter longgar dari Federal Reserve (The Fed) turut mendukung reli harga perak. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini, dan kemungkinan kembali menurunkannya pada Desember mendatang.
Secara historis, penurunan suku bunga memperlemah imbal hasil aset berisiko seperti obligasi dan saham, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai penyimpan nilai. Dalam konteks ini, perak tidak hanya dipandang sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai indikator ketegangan ekonomi global.

Pasokan Fisik di London Menyusut, Dorong Reli Lebih Lanjut
Kenaikan harga juga dipicu oleh pengetatan pasokan fisik perak di pasar London, salah satu pusat perdagangan logam mulia terbesar di dunia. Menurut laporan pasar, pasokan perak batangan di gudang utama mulai menurun akibat meningkatnya permintaan industri dan pembelian besar-besaran dari investor institusional.
Kondisi pasokan yang terbatas ini memperkuat momentum harga, terutama di tengah meningkatnya permintaan dari sektor energi hijau—di mana perak digunakan secara luas dalam panel surya dan perangkat elektronik berteknologi tinggi.

Kekacauan Politik Global Menambah Tekanan Ketidakpastian
Di luar faktor ekonomi, berbagai krisis politik internasional turut memperkuat posisi perak sebagai instrumen lindung nilai utama. Penutupan pemerintahan di AS, gejolak politik di Prancis, dan ketidakpastian kepemimpinan di Jepang semuanya berkontribusi pada meningkatnya volatilitas pasar.
Kombinasi antara tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan fiskal membuat investor global menilai bahwa aset berisiko kini terlalu rapuh untuk dijadikan pegangan utama. Dalam situasi seperti ini, perak kembali mengambil peran penting sebagai penyimpan nilai yang stabil di tengah turbulensi global.

Kesimpulan: Momentum Bullish Perak Belum Menunjukkan Tanda Pelemahan
Dengan meningkatnya risiko politik, ekspektasi pelonggaran moneter, dan ketatnya pasokan fisik, harga perak berpotensi melanjutkan tren bullish dalam jangka menengah. Para analis menilai bahwa jika The Fed benar-benar menurunkan suku bunga dua kali lagi hingga akhir tahun, perak dapat memperkuat posisinya di atas level psikologis $50 dan bahkan menuju $55 per ons.
Dalam iklim global yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, perak semakin dipandang bukan hanya sebagai komoditas industri, melainkan simbol stabilitas dan perlindungan nilai kekayaan di tengah badai ekonomi dunia.

Selasa, 07 Oktober 2025

EUR/USD Melemah di Tengah Krisis Politik Prancis dan Data Ekonomi Eropa yang Suram

Pasangan mata uang EUR/USD kembali bergerak turun untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa, diperdagangkan di kisaran 1,1675. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap krisis politik dan fiskal di Prancis, ditambah dengan data ekonomi Jerman yang mengecewakan, menandakan lemahnya momentum ekonomi di kawasan Eropa.

Keputusan mengejutkan Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu untuk mengundurkan diri pada Senin setelah hanya 27 hari menjabat memicu guncangan di pasar keuangan. Pengunduran diri tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah ia mengumumkan susunan kabinet barunya, sehingga memperdalam ketidakpastian politik di Paris. Presiden Emmanuel Macron segera meminta Lecornu untuk menegosiasikan jalan keluar dari krisis dengan para pemimpin koalisi pemerintahan. Namun, oposisi dari kubu kiri dan kanan menyerukan pemilu kilat, memperburuk tekanan terhadap kredibilitas Macron yang kini berada di titik terendah.

Krisis politik ini datang di saat ekonomi zona euro sedang menghadapi tekanan berat. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde pada Senin menyatakan bahwa proses disinflasi di kawasan Eropa telah berakhir, menandakan potensi berakhirnya tren penurunan inflasi yang selama ini menjadi alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Namun, Wakil Presiden ECB Luis de Guindos memperingatkan adanya risiko geopolitik dan pertumbuhan domestik yang lemah, membuka peluang bahwa pemangkasan suku bunga masih mungkin dilakukan jika kondisi ekonomi memburuk.

Menambah tekanan, data pesanan pabrik Jerman (German Factory Orders) yang dirilis pada Selasa menunjukkan kontraksi tak terduga pada Agustus. Penurunan ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi Jerman—sebagai motor utama Eropa—sedang kehilangan tenaga, terutama di tengah lemahnya permintaan global dan tekanan dari sektor industri otomotif.

Sementara itu, di Amerika Serikat, penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown) telah memasuki hari ketujuh, menyebabkan penundaan publikasi data neraca perdagangan (Trade Balance). Namun, fokus investor kini tertuju pada serangkaian pidato pejabat Federal Reserve (The Fed), termasuk Michelle Bowman, Wakil Ketua Pengawasan, serta Stephen Miran, pejabat baru yang ditunjuk oleh Presiden Donald Trump. Pernyataan mereka diperkirakan akan memberikan arah baru bagi pergerakan dolar AS dalam beberapa hari mendatang.

Secara keseluruhan, kombinasi antara krisis politik Prancis, pelemahan data ekonomi Jerman, dan ketidakpastian global membuat euro terus berada di bawah tekanan. Dengan sentimen pasar yang masih negatif terhadap prospek Eropa, pasangan EUR/USD berpotensi melanjutkan tren pelemahannya dalam waktu dekat, terutama jika dolar AS tetap menjadi aset lindung nilai di tengah turbulensi politik dan ekonomi dunia.

Rabu, 01 Oktober 2025

Harga Perak Tembus US$47, Dapat Angin Segar dari Data AS


Harga perak (XAG/USD) mencatatkan lonjakan lebih dari 1% dan sempat menyentuh level tertinggi baru di US$47,57 per troy ounce pada sesi Asia, Rabu pagi. Hingga saat artikel ini ditulis, perak masih stabil di sekitar US$47,15, didorong oleh melemahnya dolar AS serta meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Katalis utama pergerakan perak kali ini datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Meski jumlah job openings naik tipis dari 7,21 juta menjadi 7,23 juta, tingkat perekrutan justru jatuh ke level terendah sejak Juni 2024, yakni di 3,2%. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan segera menurunkan suku bunga guna menopang pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat.

Dolar AS yang semakin melemah memperkuat posisi perak sebagai salah satu aset alternatif yang menarik. Berdasarkan proyeksi alat prediksi CME FedWatch, pasar kini memperkirakan kemungkinan 97% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada Oktober mendatang, serta peluang 76% pemangkasan lanjutan di bulan Desember. Dalam skenario seperti ini, perak yang tidak memberikan imbal hasil bunga kembali menjadi primadona di kalangan investor global.

Momentum kenaikan harga perak juga semakin mempertegas statusnya sebagai aset pelindung nilai selain emas. Dengan tingkat ketidakpastian ekonomi yang tinggi, serta kebijakan moneter yang cenderung lebih longgar, potensi reli perak masih terbuka lebar. Para analis menilai, jika tekanan terhadap dolar AS terus berlanjut dan pemangkasan suku bunga benar-benar terwujud, harga perak berpotensi menembus level psikologis baru di atas US$48 per troy ounce dalam waktu dekat.

Senin, 29 September 2025

Saham Jepang Melemah untuk Sesi Kedua, Investor Waspada Menjelang Rangkaian Data Ekonomi

 

Pasar saham Jepang kembali ditutup melemah pada awal pekan ini. Indeks Nikkei 225 turun 0,69% ke level 45.044, sementara Topix Index merosot lebih dalam sebesar 1,74% ke 3.132 pada perdagangan Senin. Pelemahan ini menandai penurunan selama dua sesi berturut-turut, seiring banyak saham Jepang yang diperdagangkan tanpa hak dividen (ex-dividend) serta meningkatnya kehati-hatian investor menjelang serangkaian rilis data ekonomi penting.

Rangkaian data yang ditunggu pasar antara lain survei sentimen bisnis Tankan, tingkat kepercayaan konsumen, produksi industri, penjualan ritel, hingga ringkasan opini terbaru dari Bank of Japan (BOJ). Hasil data tersebut dinilai akan menjadi penentu arah ekonomi Jepang di tengah ketidakpastian global, sekaligus memberi gambaran lebih jelas mengenai langkah kebijakan moneter bank sentral ke depan.

Notulen rapat BOJ bulan Juli menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan tetap membuka opsi untuk pengetatan lebih lanjut, terutama jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi bergerak sesuai perkiraan. Ekspektasi ini menambah tekanan pada saham sektor keuangan dan konsumsi, yang menjadi kelompok paling tertekan di bursa.

Di antara saham unggulan, penurunan signifikan terlihat pada Mitsubishi UFJ (-2,8%), Sumitomo Mitsui (-3,3%), Mizuho Financial (-3,2%), Sony Group (-3,1%), serta Toyota Motor (-3,4%). Tekanan jual pada saham-saham besar tersebut memperkuat tren bearish di pasar, mencerminkan sentimen investor yang cenderung menahan diri sambil menunggu kejelasan data.

Namun, tidak semua saham bergerak negatif. Sony Financial Group justru melonjak 16% setelah resmi dipisahkan (spin-off) dari induknya, Sony Group. Kenaikan tajam ini menjadi sorotan, menunjukkan adanya peluang positif bagi perusahaan keuangan Jepang di tengah dinamika pasar yang penuh tantangan.

Secara keseluruhan, pasar saham Jepang diperkirakan akan tetap berfluktuasi dalam jangka pendek. Investor kini berfokus pada hasil rilis data ekonomi utama yang akan memberikan gambaran lebih jelas terkait arah kebijakan Bank of Japan, inflasi domestik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Negeri Sakura ke depan.

Sumber : newsmaker.id