
Indeks saham Hong Kong tergelincir pada perdagangan Senin pagi, turun sekitar 165 poin atau 0,6% menuju level 25.915. Koreksi ini menghentikan reli dua sesi sebelumnya dan menandai kembalinya sikap waspada di kalangan investor. Sektor keuangan dan konsumer memimpin pelemahan setelah beberapa hari penguatan beruntun mendorong pelaku pasar memilih menahan diri sambil menunggu petunjuk baru terkait arah ekonomi regional.
Fokus utama pasar kini tertuju pada rilis data perdagangan Tiongkok untuk November. Data Oktober sebelumnya mencatat penurunan ekspor yang tak terduga dan impor yang lebih lemah dari perkiraan, memunculkan kekhawatiran baru mengenai kesehatan ekonomi Tiongkok. Pasar juga menanti data CPI dan PPI yang akan dirilis akhir pekan ini, di tengah kekhawatiran akan risiko deflasi yang terus membayangi. Ketidakpastian ini membuat investor lebih selektif, terutama karena data-data tersebut berpotensi mempengaruhi prospek stimulus dan arah kebijakan ekonomi Beijing.
Di kancah global, futures saham AS bergerak mixed karena pelaku pasar menunggu keputusan kebijakan The Fed. Ekspektasi saat ini dipengaruhi oleh sinyal pelemahan pasar tenaga kerja serta pergantian kepemimpinan di bank sentral AS. Kombinasi faktor-faktor ini menambah kecermasan pasar Asia, termasuk Hong Kong, mengingat keterhubungan ekonomi yang kuat antara kawasan dan Amerika Serikat.
Meskipun tekanan jual cukup terasa, sentimen pasar mendapatkan sedikit penopang dari kabar positif di sisi cadangan devisa. Data terbaru menunjukkan cadangan devisa Tiongkok meningkat pada November, yang menjadi sinyal stabilitas menjelang Central Economic Work Conference. Hong Kong juga mencatat kenaikan cadangan devisa untuk bulan kedua berturut-turut, kini berada di level tertinggi lima bulan. Namun demikian, kehati-hatian tetap mendominasi, tercermin dari penurunan tajam pada sejumlah saham seperti Pop Mart (-5,8%), Innovent Biologics (-5,7%), Cherry Auto (-4,2%), dan China Hongqiao (-3,4%). Pergerakan ini menegaskan bahwa investor memilih menunggu kepastian dari data ekonomi yang akan dirilis, sambil mempertahankan strategi defensif di tengah ketidakpastian regional dan global.


