Jumat, 31 Oktober 2025

Nikkei Ditutup Menguat, Dipimpin Saham Teknologi dan Elektronik

 

Indeks Nikkei 225 ditutup menguat pada Kamis (31 Oktober 2025), didorong oleh lonjakan saham-saham teknologi dan elektronik yang memimpin pergerakan pasar. Kenaikan ini terjadi setelah Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya, sementara pelemahan yen memberikan dorongan positif terhadap prospek laba bagi emiten berorientasi ekspor.

Sentimen positif semakin kuat setelah investor merespons kebijakan moneter BoJ yang tetap akomodatif, menandakan bahwa bank sentral Jepang belum melihat urgensi untuk mengetatkan kebijakan di tengah ketidakpastian global. Pelemahan yen terhadap dolar AS menjadi katalis penting bagi saham-saham eksportir, terutama di sektor semikonduktor, elektronik, dan otomotif, yang mendapat manfaat langsung dari peningkatan daya saing produk Jepang di pasar global.

Saham berkapitalisasi besar di sektor chip, perangkat elektronik, dan teknologi internet menjadi motor utama kenaikan indeks. Emiten seperti Tokyo Electron, Sony Group, dan SoftBank Group mencatat penguatan signifikan, mencerminkan optimisme investor terhadap permintaan global yang tetap kuat untuk produk teknologi. Selain itu, sentimen pasar juga mendapat dukungan dari meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok setelah pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping. Kesepakatan yang dihasilkan, meski belum menjamin kestabilan jangka panjang, berhasil memicu peningkatan selera risiko di kalangan investor.

Secara keseluruhan, Nikkei 225 ditutup naik sekitar 1% dan bertahan di level 52,4, menandai performa positif di akhir Oktober. Penguatan ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap potensi pemulihan ekonomi Jepang yang ditopang oleh sektor ekspor dan dukungan kebijakan moneter yang longgar.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati langkah-langkah lanjutan pemerintah Jepang dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, termasuk stimulus fiskal dan kebijakan industri strategis. Pergerakan yen juga akan tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan arah bursa, sementara sinyal kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) berpotensi memengaruhi arus modal global ke aset berisiko seperti saham Jepang. Dalam konteks ini, kombinasi antara stabilitas kebijakan BoJ, prospek ekspor yang solid, dan kondisi eksternal yang lebih kondusif dapat menjadi pendorong utama bagi kelanjutan tren positif Nikkei di bulan-bulan mendatang.

Sumber : newsmaker.id 

Rabu, 29 Oktober 2025

Bursa Eropa Alami Koreksi Tipis di Tengah Aksi Tunggu Investor

 


Bursa saham Eropa mengalami pelemahan tipis pada Rabu, 29 Oktober 2025, setelah mencetak rekor tertinggi selama beberapa hari berturut-turut. Indeks STOXX 600 turun sekitar -0,3% ke level 576 poin, sementara STOXX 50 juga terkoreksi dari puncaknya. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor mulai mengambil sikap hati-hati sambil menunggu rilis data ekonomi penting serta keputusan kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed).

Sektor farmasi menjadi salah satu penekan utama pasar. Saham raksasa farmasi seperti Novartis merosot sekitar -4,3% setelah laporan keuangan yang dirilis mengecewakan ekspektasi pasar. Sebaliknya, sektor keuangan dan teknologi justru memberikan sentimen positif. HSBC naik sekitar 4,4% setelah menaikkan proyeksi laba tahun 2025, sedangkan Nokia melonjak hampir 20% usai mengumumkan investasi strategis dari Nvidia, yang memperkuat optimisme terhadap prospek inovasi dan pertumbuhan digital di Eropa.

Meskipun koreksi yang terjadi tergolong ringan, analis menilai reli sebelumnya telah “memanas,” dan pasar kini memasuki fase konsolidasi alami. Investor cenderung menunggu arah yang lebih jelas sebelum melakukan aksi beli dalam skala besar. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat dan keputusan suku bunga The Fed dipandang sebagai dua katalis utama yang akan menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya.

Dalam jangka menengah, sentimen investor terhadap pasar Eropa masih cenderung optimistis, didukung oleh pemulihan ekonomi regional dan kinerja korporasi yang stabil. Namun dalam jangka pendek, kehati-hatian tetap mendominasi karena potensi tekanan dari faktor eksternal. Jika sinyal dari The Fed mengarah pada kebijakan yang lebih hawkish, bursa Eropa berpotensi mengalami koreksi lanjutan. Sebaliknya, apabila nada yang disampaikan cenderung dovish atau terdapat kejutan positif dari data ekonomi, peluang penguatan masih terbuka lebar.

Secara keseluruhan, dinamika pasar saham Eropa saat ini mencerminkan fase penyesuaian sehat setelah reli panjang. Dengan volatilitas yang masih terjaga dan prospek fundamental yang relatif solid, investor disarankan untuk tetap selektif, fokus pada sektor dengan pertumbuhan berkelanjutan, serta menunggu konfirmasi arah pasar sebelum melakukan akumulasi lebih lanjut.

Senin, 27 Oktober 2025

Euro Melemah Tipis, Pasar Cemas Menanti Keputusan The Fed


Pasangan mata uang EUR/USD bergerak melemah dari area 1.1650 ke sekitar 1.1625 pada Senin (27 Oktober), meskipun masih mampu mempertahankan sebagian penguatan yang diraih sebelumnya setelah sempat menyentuh level 1.1580 pekan lalu. Sentimen pasar sedikit membaik seiring meningkatnya harapan akan gencatan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang memicu minat risiko (risk appetite) di kalangan investor.

Negosiator dari kedua negara dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan, dan pasar berharap Presiden AS Donald Trump serta Presiden Tiongkok Xi Jinping dapat secara resmi memperpanjang gencatan dagang ketika mereka bertemu akhir pekan ini. Harapan bahwa perang tarif tidak akan berlanjut telah membantu menahan pelemahan euro lebih dalam, sekaligus mengurangi tekanan terhadap aset berisiko. Dalam konteks ini, perbaikan sentimen global menjadi faktor utama yang membatasi penurunan EUR/USD di tengah ketidakpastian kebijakan moneter.

Namun, pasar kini memasuki fase menunggu keputusan besar dari bank sentral dunia, terutama Federal Reserve (The Fed) yang akan menggelar pertemuan pada Rabu malam waktu setempat. Ekspektasi pelaku pasar saat ini mengarah pada pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan pelemahan yang lebih dalam dari perkiraan. Meski demikian, fokus utama bukan hanya pada keputusan suku bunga itu sendiri, melainkan pada pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang akan memberikan sinyal arah kebijakan berikutnya—apakah pemangkasan suku bunga akan berlanjut pada Desember, atau cukup berhenti di sini.

Dari sisi Eropa, pelaku pasar juga bersiap menghadapi dua peristiwa penting yang berpotensi menambah volatilitas euro, yakni rilis data awal PDB Zona Euro kuartal III dan keputusan suku bunga European Central Bank (ECB) yang dijadwalkan pada Kamis. Data ekonomi Eropa yang masih lemah dapat memperkuat tekanan terhadap euro, terutama jika ECB memberikan nada dovish atau mengindikasikan kebijakan pelonggaran tambahan. Sebaliknya, jika data pertumbuhan menunjukkan stabilisasi, euro berpeluang mendapatkan dorongan jangka pendek.

Secara teknikal, EUR/USD menghadapi area resistance kuat di sekitar 1.1660–1.1680, sementara support terdekat berada di 1.1580, level yang sempat diuji pekan lalu. Penembusan di bawah level tersebut bisa memperdalam koreksi menuju area 1.1550, sedangkan penguatan di atas resistance akan membuka peluang menuju 1.1700.

Bagi investor dan trader, minggu ini menjadi periode krusial yang menuntut kewaspadaan ekstra dan strategi manajemen risiko yang disiplin. Kombinasi faktor fundamental—mulai dari keputusan The Fed, komentar Powell, hingga data ekonomi Eropa—akan menentukan arah pergerakan euro dalam jangka pendek. Pasar tampak berhati-hati, dan setiap pernyataan bernada dovish atau hawkish dari bank sentral dapat memicu reaksi tajam dalam hitungan detik.

Artikel ini dioptimalkan untuk SEO dengan kata kunci utama: EUR/USD, euro melemah, keputusan The Fed, Jerome Powell, ECB, dan ekonomi Zona Euro.

Kamis, 23 Oktober 2025

Harga Emas Melemah, Namun Risiko Global Dapat Memberikan Dukungan Baru

Harga emas turun tipis di bawah $4.100 per ons dalam perdagangan Eropa pada Kamis pagi, setelah para investor melakukan aksi ambil untung menyusul kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Optimisme terhadap meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mendorong pelaku pasar untuk menjual emas guna mengamankan keuntungan. Pada saat yang sama, permintaan terhadap dolar AS kembali meningkat menjelang rilis data inflasi penting AS yang dijadwalkan pada hari Jumat.

Selain itu, berakhirnya perayaan Diwali di India—negara konsumen emas terbesar kedua di dunia—juga diperkirakan akan menekan permintaan fisik terhadap logam mulia ini. Para analis menilai faktor tersebut dapat menjadi salah satu penyebab penurunan harga emas dalam jangka pendek. Namun demikian, sejumlah faktor global masih berpotensi menahan pelemahan lebih lanjut di pasar emas.

Krisis politik yang timbul akibat penutupan sebagian pemerintahan AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia dapat kembali mendorong minat terhadap aset safe haven seperti emas. Spekulasi mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed) turut memberikan dukungan tambahan, karena suku bunga yang lebih rendah biasanya membuat emas lebih menarik dibandingkan aset berbunga seperti obligasi.

Ke depan, para pelaku pasar akan memusatkan perhatian pada data inflasi konsumen AS (CPI) untuk bulan September yang akan dirilis pada hari Jumat. Data ini menjadi sorotan utama di tengah minimnya rilis ekonomi akibat penutupan sebagian pemerintahan AS. Jika angka inflasi lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut dan memberi tekanan pada harga emas dalam waktu dekat. Namun, jika hasilnya lebih lemah dari ekspektasi, peluang bagi emas untuk kembali menguat akan terbuka lebar.

Selasa, 21 Oktober 2025

Perak Melemah Tipis, Pasar Fokus pada Nada Damai dan Sinyal dari The Fed

Harga perak bergerak negatif di kisaran US$52 per ons pada awal perdagangan Asia. Pelemahan ini terjadi seiring berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven setelah ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok mulai mereda. Para pelaku pasar kini menanti arah kebijakan suku bunga melalui pidato Ketua The Fed, Christopher Waller, yang dijadwalkan pada hari Selasa, untuk mencari petunjuk mengenai langkah kebijakan moneter selanjutnya.

Nada yang lebih damai dari Presiden Donald Trump juga turut menekan minat lindung nilai di pasar logam mulia. Dalam pernyataannya, Trump mengakui bahwa rencana penambahan tarif hingga 100 persen terhadap barang-barang asal Tiongkok tidak berkelanjutan dan menyampaikan niatnya untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping pekan ini. Sikap yang lebih lunak tersebut membantu menurunkan tensi perdagangan global dan mendorong aksi ambil untung setelah reli tajam yang terjadi minggu lalu.

Meski demikian, ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Fed berpotensi membatasi penurunan harga perak lebih lanjut. Waller sebelumnya menyatakan dukungan terhadap pemotongan suku bunga tambahan pada pertemuan akhir bulan ini, dengan mempertimbangkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih campuran. Di sisi lain, Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, juga membuka kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga jika risiko terhadap lapangan kerja meningkat dan inflasi tetap terkendali. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah biasanya mengurangi biaya peluang dalam memegang perak, sehingga menjaga minat investor terhadap logam mulia tersebut.

Secara teknikal, harga perak masih tertahan di bawah level US$52,50 per ons, mencerminkan fase konsolidasi setelah reli kuat pada pekan sebelumnya. Sementara tekanan jual tetap ada akibat aksi ambil untung, nada dovish dari pejabat The Fed memberikan dukungan psikologis bagi pasar. Investor kini memusatkan perhatian pada pidato Christopher Waller, yang diperkirakan akan menjadi katalis penting bagi arah harga perak dalam jangka pendek.

Poin-Poin Utama:

  • Harga perak bertahan di bawah US$52,50 seiring meredanya ketegangan perdagangan

  • Nada damai dari Trump menekan minat lindung nilai dan memicu aksi ambil untung

  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menahan tekanan jual

  • Pasar menanti pidato Waller untuk sinyal arah kebijakan moneter berikutnya

Dengan kombinasi faktor geopolitik yang mereda dan prospek kebijakan moneter yang longgar, pergerakan perak berpotensi tetap stabil dalam jangka pendek, meskipun ruang untuk penguatan baru akan terbuka apabila The Fed memberikan sinyal lebih jelas tentang arah pelonggaran suku bunga.

Jumat, 17 Oktober 2025

Trump-Putin di Radar Pasar: Kekhawatiran Pasokan Rusia dan Tekanan Harga Minyak Global

 

Harga minyak dunia kembali melemah dan bersiap mencatat penurunan beruntun untuk ketiga kalinya—rangkaian terpanjang sejak Maret lalu. Minyak Brent bergerak mendekati level USD 61 per barel dengan penurunan sekitar 2,8% secara mingguan, sementara WTI diperdagangkan di atas USD 57 per barel. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi kelebihan pasokan (oversupply) global yang semakin dominan, serta ketegangan dagang AS-Tiongkok yang terus mengancam permintaan dari dua konsumen minyak terbesar di dunia.

Badan Energi Internasional (IEA) minggu ini memperbarui proyeksinya dengan menaikkan estimasi kelebihan pasokan global untuk tahun depan hingga mendekati 20%. Revisi tersebut mempertegas narasi melemahnya keseimbangan pasar energi dunia, menekan harga lebih jauh di tengah lemahnya pertumbuhan ekonomi dan ketidakpastian permintaan industri. Investor kini menghadapi kenyataan bahwa pasokan berlebih bukan lagi ancaman sementara, melainkan risiko struktural yang dapat menekan harga minyak lebih dalam pada kuartal mendatang.

Sementara itu, dinamika geopolitik kembali menjadi pusat perhatian. Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencananya untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin “dalam dua minggu ke depan” guna membahas potensi penyelesaian perang Ukraina. Langkah ini menimbulkan spekulasi bahwa pertemuan tersebut dapat membuka peluang pelonggaran aliran ekspor minyak Rusia ke pasar global. Namun, negara-negara Barat masih memperketat sanksi energi terhadap Moskow. Di sisi lain, para penyuling minyak India melaporkan telah mengurangi pembelian minyak mentah Rusia sembari menunggu arahan resmi dari pemerintah New Delhi.

Dari sisi data makro AS, pasar mendapatkan sinyal campuran. Persediaan minyak mentah AS meningkat untuk minggu ketiga berturut-turut dan kini berada di level tertinggi sejak awal September, menambah tekanan pada harga. Namun, stok minyak di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma, justru turun ke titik terendah sejak Juli. Data ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara produksi dan distribusi, menciptakan ambiguitas arah harga jangka pendek. Pada pukul 08.28 waktu Singapura, kontrak Brent Desember tercatat di USD 60,97 (-0,2%), sedangkan WTI November berada di USD 57,37 (-0,2%).

Secara keseluruhan, pasar minyak saat ini dihadapkan pada tiga tekanan utama: narasi kelebihan pasokan global yang semakin kuat, ketegangan dagang AS-Tiongkok yang menekan permintaan, serta ketidakpastian geopolitik terkait hubungan AS-Rusia. Di sisi fundamental, kenaikan persediaan minyak AS dan penurunan stok di Cushing menambah sinyal campuran bagi pelaku pasar. Tanpa adanya katalis positif baru—seperti pemangkasan produksi OPEC+ atau lonjakan permintaan global—arah harga minyak dalam jangka pendek diperkirakan tetap bearish.

Dalam kondisi ini, para pelaku pasar perlu tetap waspada terhadap potensi volatilitas tinggi, terutama menjelang pertemuan Trump-Putin yang dapat mengubah peta pasokan energi dunia secara tiba-tiba. Untuk saat ini, tren teknikal dan fundamental sama-sama mengindikasikan bahwa tekanan jual akan tetap mendominasi pasar minyak global hingga ada tanda-tanda nyata perbaikan di sisi permintaan atau kebijakan produksi internasional.

Sumber : newsmaker.id 

Rabu, 15 Oktober 2025

Saham Global Menguat Didukung Laporan Laba dan Spekulasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Pasar saham global mengalami reli signifikan pada perdagangan terbaru, dipicu oleh laporan laba perusahaan yang solid serta meningkatnya optimisme terhadap potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Sentimen positif ini mendorong minat risiko kembali menguat di berbagai bursa dunia, menandai perubahan tajam dari kehati-hatian investor beberapa pekan sebelumnya.

Di Eropa, indeks Stoxx 600 melonjak setelah LVMH mencatat kenaikan harga saham hingga 13% berkat kembalinya pertumbuhan yang tak terduga. Performa impresif tersebut mengangkat seluruh sektor barang mewah, memperkuat keyakinan bahwa daya beli kelas menengah atas tetap kuat meskipun tekanan ekonomi global meningkat. Sementara itu, di Asia, indeks utama mencatat kenaikan intraday terbesar dalam dua bulan terakhir setelah Ketua The Fed, Jerome Powell, memberikan sinyal dovish terkait kondisi pasar tenaga kerja yang melemah, memperbesar peluang terjadinya pemangkasan suku bunga pada Oktober. Futures S&P 500 pun naik 0,4%, memperkuat tren bullish di Wall Street.

Di sisi valuta asing, yuan offshore menguat setelah Tiongkok meningkatkan langkah-langkah pertahanan mata uangnya di tengah ketegangan perdagangan dengan AS. Kebijakan ini membantu menstabilkan mata uang regional lainnya dan menekan dolar AS. Penguatan yuan juga dipandang sebagai upaya Beijing untuk mempercepat internasionalisasi mata uangnya. Seiring itu, harga emas mencetak rekor baru, menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset lindung nilai masih tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sejak aksi jual besar yang dipicu oleh tarif impor pada April lalu, pasar saham global telah bangkit tajam, didorong oleh ekspektasi pelonggaran moneter lanjutan setelah pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada September, serta optimisme terhadap kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, reli ini mulai menghadapi tantangan baru seiring munculnya kembali ketegangan antara AS dan Tiongkok, di mana kedua negara meningkatkan retorika dan mengisyaratkan pembatasan baru terhadap teknologi strategis.

Menurut Dilin Wu, analis strategi di Pepperstone Group, ketidakpastian makro tetap menjadi hambatan utama bagi aset berisiko. “Dengan dukungan dari ekspektasi pemangkasan suku bunga dan kinerja laba yang kuat, saya menilai potensi penurunan saham AS masih terbatas,” tulisnya dalam laporan riset terbaru.

Dalam pernyataannya pada Selasa, Powell menegaskan bahwa The Fed berada di jalur untuk menurunkan suku bunga sebesar 0,25 poin pada akhir bulan ini, meski penutupan sebagian pemerintahan AS telah mengganggu pembacaan data ekonomi. Kontrak swap memperkirakan pemangkasan total sekitar 1,25 poin persentase hingga akhir tahun depan, dari kisaran suku bunga saat ini di 4%–4,25%. Powell juga mengisyaratkan kemungkinan penghentian penyusutan neraca The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

Dari Tiongkok, bank sentral negara itu menetapkan nilai patokan yuan di 7,0995 per dolar AS, lebih kuat dari level psikologis 7,1 per dolar, untuk pertama kalinya sejak November. Langkah ini menandakan tekad Beijing menjaga stabilitas mata uangnya di tengah tekanan eksternal. “Patokan di bawah 7,10 menunjukkan sinyal kekuatan yang jelas,” ujar Fiona Lim, analis valas senior di Malayan Banking Bhd, Singapura. “Yuan yang kuat menunjukkan posisi Tiongkok yang percaya diri dalam menghadapi negosiasi atau potensi eskalasi balasan.”

Sementara itu, di Washington, Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer menyatakan keyakinan bahwa ketegangan ekspor dengan Tiongkok akan mereda setelah pertemuan antara pejabat kedua negara. Presiden Donald Trump juga menampilkan sikap hati-hati namun optimistis, menyebut bahwa hubungan dengan Beijing tetap baik dan negosiasi masih terbuka. “Kami memiliki hubungan yang baik dengan Tiongkok, dan saya pikir semuanya akan berjalan baik. Jika tidak, itu juga tidak masalah,” ujarnya di Gedung Putih.

Di Eropa, Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu berhasil mengamankan dukungan penting dari Partai Sosialis di Majelis Nasional, memperbesar peluang pemerintahannya untuk bertahan dari dua mosi tidak percaya yang dijadwalkan pada Kamis mendatang.

Sementara di Jepang, penjualan obligasi pemerintah pertama sejak koalisi penguasa runtuh mencatat permintaan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata 12 bulan terakhir, karena imbal hasil yang lebih tinggi menarik minat investor. Di tengah ketidakpastian politik, para pemimpin partai oposisi utama Jepang dijadwalkan bertemu pada Rabu untuk membahas kemungkinan menyatukan kebijakan dan menentukan kandidat perdana menteri baru.

Secara keseluruhan, kombinasi laba korporasi yang solid, prospek pelonggaran kebijakan moneter, dan stabilitas mata uang Asia telah menciptakan suasana optimistis di pasar global. Namun, dengan ketegangan geopolitik yang belum mereda, pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan koreksi mendadak di tengah volatilitas yang meningkat.

Senin, 13 Oktober 2025

Harga Perak Tembus Rekor Baru di Atas $51, Didorong Ketegangan Global dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

 

Harga perak dunia melonjak lebih dari 2% hingga menembus level $51 per ons pada perdagangan Senin, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta meningkatnya kekhawatiran geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset lindung nilai (safe haven).

Ketegangan AS–Tiongkok Picu Lonjakan Permintaan Aset Aman
Pendorong utama kenaikan harga perak kali ini berasal dari pernyataan Presiden Donald Trump, yang mengancam akan memberlakukan tarif impor 100% terhadap barang-barang asal Tiongkok mulai 1 November mendatang. Meski demikian, Trump kemudian menyatakan kesediaannya untuk bernegosiasi dengan Presiden Xi Jinping menjelang pertemuan APEC akhir bulan ini.
Ketidakpastian arah hubungan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut membuat investor global mencari perlindungan pada komoditas bernilai seperti perak dan emas. Langkah ini menjadi cerminan meningkatnya sentimen aversi risiko di pasar global.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Fed Menambah Daya Dorong
Selain faktor geopolitik, ekspektasi terhadap kebijakan moneter longgar dari Federal Reserve (The Fed) turut mendukung reli harga perak. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini, dan kemungkinan kembali menurunkannya pada Desember mendatang.
Secara historis, penurunan suku bunga memperlemah imbal hasil aset berisiko seperti obligasi dan saham, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai penyimpan nilai. Dalam konteks ini, perak tidak hanya dipandang sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai indikator ketegangan ekonomi global.

Pasokan Fisik di London Menyusut, Dorong Reli Lebih Lanjut
Kenaikan harga juga dipicu oleh pengetatan pasokan fisik perak di pasar London, salah satu pusat perdagangan logam mulia terbesar di dunia. Menurut laporan pasar, pasokan perak batangan di gudang utama mulai menurun akibat meningkatnya permintaan industri dan pembelian besar-besaran dari investor institusional.
Kondisi pasokan yang terbatas ini memperkuat momentum harga, terutama di tengah meningkatnya permintaan dari sektor energi hijau—di mana perak digunakan secara luas dalam panel surya dan perangkat elektronik berteknologi tinggi.

Kekacauan Politik Global Menambah Tekanan Ketidakpastian
Di luar faktor ekonomi, berbagai krisis politik internasional turut memperkuat posisi perak sebagai instrumen lindung nilai utama. Penutupan pemerintahan di AS, gejolak politik di Prancis, dan ketidakpastian kepemimpinan di Jepang semuanya berkontribusi pada meningkatnya volatilitas pasar.
Kombinasi antara tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan fiskal membuat investor global menilai bahwa aset berisiko kini terlalu rapuh untuk dijadikan pegangan utama. Dalam situasi seperti ini, perak kembali mengambil peran penting sebagai penyimpan nilai yang stabil di tengah turbulensi global.

Kesimpulan: Momentum Bullish Perak Belum Menunjukkan Tanda Pelemahan
Dengan meningkatnya risiko politik, ekspektasi pelonggaran moneter, dan ketatnya pasokan fisik, harga perak berpotensi melanjutkan tren bullish dalam jangka menengah. Para analis menilai bahwa jika The Fed benar-benar menurunkan suku bunga dua kali lagi hingga akhir tahun, perak dapat memperkuat posisinya di atas level psikologis $50 dan bahkan menuju $55 per ons.
Dalam iklim global yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, perak semakin dipandang bukan hanya sebagai komoditas industri, melainkan simbol stabilitas dan perlindungan nilai kekayaan di tengah badai ekonomi dunia.

Selasa, 07 Oktober 2025

EUR/USD Melemah di Tengah Krisis Politik Prancis dan Data Ekonomi Eropa yang Suram

Pasangan mata uang EUR/USD kembali bergerak turun untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa, diperdagangkan di kisaran 1,1675. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap krisis politik dan fiskal di Prancis, ditambah dengan data ekonomi Jerman yang mengecewakan, menandakan lemahnya momentum ekonomi di kawasan Eropa.

Keputusan mengejutkan Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu untuk mengundurkan diri pada Senin setelah hanya 27 hari menjabat memicu guncangan di pasar keuangan. Pengunduran diri tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah ia mengumumkan susunan kabinet barunya, sehingga memperdalam ketidakpastian politik di Paris. Presiden Emmanuel Macron segera meminta Lecornu untuk menegosiasikan jalan keluar dari krisis dengan para pemimpin koalisi pemerintahan. Namun, oposisi dari kubu kiri dan kanan menyerukan pemilu kilat, memperburuk tekanan terhadap kredibilitas Macron yang kini berada di titik terendah.

Krisis politik ini datang di saat ekonomi zona euro sedang menghadapi tekanan berat. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde pada Senin menyatakan bahwa proses disinflasi di kawasan Eropa telah berakhir, menandakan potensi berakhirnya tren penurunan inflasi yang selama ini menjadi alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Namun, Wakil Presiden ECB Luis de Guindos memperingatkan adanya risiko geopolitik dan pertumbuhan domestik yang lemah, membuka peluang bahwa pemangkasan suku bunga masih mungkin dilakukan jika kondisi ekonomi memburuk.

Menambah tekanan, data pesanan pabrik Jerman (German Factory Orders) yang dirilis pada Selasa menunjukkan kontraksi tak terduga pada Agustus. Penurunan ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi Jerman—sebagai motor utama Eropa—sedang kehilangan tenaga, terutama di tengah lemahnya permintaan global dan tekanan dari sektor industri otomotif.

Sementara itu, di Amerika Serikat, penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown) telah memasuki hari ketujuh, menyebabkan penundaan publikasi data neraca perdagangan (Trade Balance). Namun, fokus investor kini tertuju pada serangkaian pidato pejabat Federal Reserve (The Fed), termasuk Michelle Bowman, Wakil Ketua Pengawasan, serta Stephen Miran, pejabat baru yang ditunjuk oleh Presiden Donald Trump. Pernyataan mereka diperkirakan akan memberikan arah baru bagi pergerakan dolar AS dalam beberapa hari mendatang.

Secara keseluruhan, kombinasi antara krisis politik Prancis, pelemahan data ekonomi Jerman, dan ketidakpastian global membuat euro terus berada di bawah tekanan. Dengan sentimen pasar yang masih negatif terhadap prospek Eropa, pasangan EUR/USD berpotensi melanjutkan tren pelemahannya dalam waktu dekat, terutama jika dolar AS tetap menjadi aset lindung nilai di tengah turbulensi politik dan ekonomi dunia.

Rabu, 01 Oktober 2025

Harga Perak Tembus US$47, Dapat Angin Segar dari Data AS


Harga perak (XAG/USD) mencatatkan lonjakan lebih dari 1% dan sempat menyentuh level tertinggi baru di US$47,57 per troy ounce pada sesi Asia, Rabu pagi. Hingga saat artikel ini ditulis, perak masih stabil di sekitar US$47,15, didorong oleh melemahnya dolar AS serta meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Katalis utama pergerakan perak kali ini datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Meski jumlah job openings naik tipis dari 7,21 juta menjadi 7,23 juta, tingkat perekrutan justru jatuh ke level terendah sejak Juni 2024, yakni di 3,2%. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan segera menurunkan suku bunga guna menopang pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat.

Dolar AS yang semakin melemah memperkuat posisi perak sebagai salah satu aset alternatif yang menarik. Berdasarkan proyeksi alat prediksi CME FedWatch, pasar kini memperkirakan kemungkinan 97% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada Oktober mendatang, serta peluang 76% pemangkasan lanjutan di bulan Desember. Dalam skenario seperti ini, perak yang tidak memberikan imbal hasil bunga kembali menjadi primadona di kalangan investor global.

Momentum kenaikan harga perak juga semakin mempertegas statusnya sebagai aset pelindung nilai selain emas. Dengan tingkat ketidakpastian ekonomi yang tinggi, serta kebijakan moneter yang cenderung lebih longgar, potensi reli perak masih terbuka lebar. Para analis menilai, jika tekanan terhadap dolar AS terus berlanjut dan pemangkasan suku bunga benar-benar terwujud, harga perak berpotensi menembus level psikologis baru di atas US$48 per troy ounce dalam waktu dekat.