Senin, 08 Desember 2025

Saham Hong Kong Melemah, Investor Berhati-Hati Menjelang Rilis Data Ekonomi Tiongkok

Indeks saham Hong Kong tergelincir pada perdagangan Senin pagi, turun sekitar 165 poin atau 0,6% menuju level 25.915. Koreksi ini menghentikan reli dua sesi sebelumnya dan menandai kembalinya sikap waspada di kalangan investor. Sektor keuangan dan konsumer memimpin pelemahan setelah beberapa hari penguatan beruntun mendorong pelaku pasar memilih menahan diri sambil menunggu petunjuk baru terkait arah ekonomi regional.

Fokus utama pasar kini tertuju pada rilis data perdagangan Tiongkok untuk November. Data Oktober sebelumnya mencatat penurunan ekspor yang tak terduga dan impor yang lebih lemah dari perkiraan, memunculkan kekhawatiran baru mengenai kesehatan ekonomi Tiongkok. Pasar juga menanti data CPI dan PPI yang akan dirilis akhir pekan ini, di tengah kekhawatiran akan risiko deflasi yang terus membayangi. Ketidakpastian ini membuat investor lebih selektif, terutama karena data-data tersebut berpotensi mempengaruhi prospek stimulus dan arah kebijakan ekonomi Beijing.

Di kancah global, futures saham AS bergerak mixed karena pelaku pasar menunggu keputusan kebijakan The Fed. Ekspektasi saat ini dipengaruhi oleh sinyal pelemahan pasar tenaga kerja serta pergantian kepemimpinan di bank sentral AS. Kombinasi faktor-faktor ini menambah kecermasan pasar Asia, termasuk Hong Kong, mengingat keterhubungan ekonomi yang kuat antara kawasan dan Amerika Serikat.

Meskipun tekanan jual cukup terasa, sentimen pasar mendapatkan sedikit penopang dari kabar positif di sisi cadangan devisa. Data terbaru menunjukkan cadangan devisa Tiongkok meningkat pada November, yang menjadi sinyal stabilitas menjelang Central Economic Work Conference. Hong Kong juga mencatat kenaikan cadangan devisa untuk bulan kedua berturut-turut, kini berada di level tertinggi lima bulan. Namun demikian, kehati-hatian tetap mendominasi, tercermin dari penurunan tajam pada sejumlah saham seperti Pop Mart (-5,8%), Innovent Biologics (-5,7%), Cherry Auto (-4,2%), dan China Hongqiao (-3,4%). Pergerakan ini menegaskan bahwa investor memilih menunggu kepastian dari data ekonomi yang akan dirilis, sambil mempertahankan strategi defensif di tengah ketidakpastian regional dan global.

Kamis, 04 Desember 2025

Perak Mendekati Rekor Tertinggi di Tengah Keyakinan Pasar Akan Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Perak stabil mendekati level tertinggi sepanjang masa pada Kamis, bertahan di sekitar $58,50 per ons troy, hanya kurang dari satu dolar dari rekor $58,97 yang tercapai sehari sebelumnya. Kenaikan ini telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut, didorong spekulasi mengenai pasokan yang semakin ketat serta ekspektasi penurunan suku bunga AS—kombinasi yang biasanya menguntungkan logam mulia karena sifatnya yang tidak menawarkan imbal hasil bunga.

Momentum kenaikan perak semakin kuat setelah data ketenagakerjaan ADP menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas jumlah pekerja pada November dalam tingkat terbesar sejak awal 2023. Rilis tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang melemahnya pasar tenaga kerja dan mempertegas keyakinan pasar bahwa Federal Reserve hampir pasti memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 9–10 Desember mendatang. Di saat yang sama, indeks dolar AS juga melemah sekitar 0,4%, membuat harga perak dan logam mulia lainnya lebih terjangkau bagi pembeli internasional.

Sementara itu, emas hanya naik tipis 0,1% ke $4.206,89 per ons troy, menunjukkan pergerakan yang jauh lebih moderat dibanding perak. Di antara logam mulia lainnya, palladium mencatat penguatan, sedangkan platinum bergerak sedikit melemah. Secara keseluruhan, kombinasi pelemahan dolar, ekspektasi pemangkasan suku bunga, serta kekhawatiran pasokan telah menjadikan perak sebagai salah satu komoditas yang paling bersinar di pasar global saat ini.

Sumber : newsmaker.id 

Selasa, 02 Desember 2025

Emas Melemah Tipis: Apakah The Fed Masih Menekan Pasa

Harga emas bergerak melemah di awal perdagangan Selasa setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi enam pekan. Spot gold turun sekitar 0,4% ke kisaran US$4.215 per troy ounce, sementara kontrak berjangka Desember terkoreksi 0,6% ke sekitar US$4.247 per troy ounce. Tekanan terbesar datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati level tertinggi dua pekan, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Aksi ambil untung pascarally sebelumnya turut memperkuat tekanan jual.

Meskipun pergerakan emas terlihat lesu, sentimen fundamental masih relatif mendukung. Pasar tetap mengantisipasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, dengan probabilitas pemotongan pada Desember mencapai sekitar 88% menurut CME FedWatch. Suku bunga yang lebih rendah biasanya menguntungkan emas karena menurunkan opportunity cost dalam memegang aset non-yielding. Namun, pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang pidato Ketua The Fed Jerome Powell serta rilis data penting seperti laporan ketenagakerjaan ADP dan indeks core PCE yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter.

Arus modal menunjukkan minat terhadap emas masih solid. SPDR Gold Trust—ETF emas terbesar dunia—mencatat kenaikan kepemilikan sebesar 0,44% menjadi 1.050,01 ton. Di sisi lain, logam mulia lain bergerak bervariasi: perak turun 1,9% ke sekitar US$56,88 per troy ounce, sementara platinum dan paladium mencatat kenaikan tipis. Secara keseluruhan, koreksi saat ini tampak sebagai jeda teknikal di tengah sentimen jangka menengah yang tetap ditopang oleh potensi penurunan suku bunga AS.

Jumat, 28 November 2025

Dolar Australia Menguat: Akankah RBA Kembali Naikkan Suku Bunga?

Dolar Australia (AUD) terus menguat terhadap dolar AS pada Jumat, menandai reli enam hari berturut-turut. Kenaikan ini tidak hanya terjadi terhadap USD, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Penguatannya dipicu data inflasi Australia yang lebih tinggi dari perkiraan, dengan indeks harga konsumen naik selama empat bulan beruntun pada Oktober dan kini berada di atas target RBA sebesar 2%–3%. Kondisi ini membuat pasar mulai meragukan kemungkinan pelonggaran kebijakan dan justru melihat potensi kenaikan suku bunga lanjutan dari Reserve Bank of Australia (RBA).

Meski begitu, untuk pertemuan Desember, RBA masih diperkirakan mempertahankan Official Cash Rate (OCR) di level 3,6%. Inflasi yang tinggi dianggap belum cukup menjadi alasan untuk perubahan kebijakan cepat, terutama karena pasar tenaga kerja masih relatif stabil meski tingkat pengangguran sedikit meningkat. Di sisi lain, Data Kredit Sektor Swasta yang dirilis Jumat mencatat pertumbuhan pinjaman sebesar 0,7% secara bulanan di Oktober, melampaui ekspektasi 0,6%, sementara pertumbuhan tahunan naik menjadi 7,3%.

Kontrak berjangka suku bunga ASX 30 hari hanya mencerminkan peluang sekitar 6% untuk pemangkasan suku bunga Desember, menandakan pasar lebih condong pada skenario suku bunga tinggi yang berkepanjangan. Ekspektasi ini pada akhirnya memberikan dukungan tambahan bagi kekuatan AUD di pasar global.

Sumber : newsmaker.id

Rabu, 26 November 2025

Reli Efek Hong Kong Berlanjut: Sinyal Pemulihan atau Momentum Sementara?

 

Reli pasar saham Hong Kong kembali berlanjut untuk hari ketiga berturut-turut pada Rabu, mendekati rangkaian kenaikan terpanjang dalam dua minggu terakhir. Indeks Hang Seng menguat 0,6% ke level 26.039,99, dipimpin oleh lonjakan saham-saham teknologi. Meituan mencatat kenaikan mencolok sebesar 6,6% menjelang rilis laporan keuangannya, sementara ZTO Express naik 3,5%, BYD menguat 2,7%, dan JD.com mencatat pertumbuhan 1,8%. Di sisi lain, Alibaba terkoreksi tipis 0,1% meskipun laba kuartal Septembernya anjlok 52% secara tahunan—penurunan yang tetap lebih baik dari ekspektasi pasar. Sentimen positif ini turut menular ke Tiongkok daratan, di mana indeks CSI 300 naik 0,5% dan Shanghai Composite bertambah 0,2%.

Kenaikan ini tidak terlepas dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga. Data terbaru menunjukkan melemahnya kepercayaan konsumen AS dan penjualan ritel yang lesu, mendorong pasar kembali pada pola pikir “bad news is good news”, di mana data ekonomi yang lemah dianggap memberikan ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Dampaknya terasa luas di pasar Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,9%, Kospi Korea Selatan menguat 2%, dan S&P/ASX 200 Australia naik 0,8%. Gelombang penguatan ini menandakan pulihnya selera risiko investor di kawasan.

Secara keseluruhan, kombinasi optimisme terhadap stimulus moneter global, performa kuat saham teknologi, serta pemulihan sentimen regional menjadi motor utama reli bursa Hong Kong. Namun, keberlanjutan momentum ini akan sangat bergantung pada rilis data makroekonomi mendatang, hasil kinerja emiten teknologi besar, serta arah kebijakan bank sentral utama dunia.