Harga emas terus menunjukkan ketahanan luar biasa setelah melonjak hampir 2% pada Rabu lalu, meskipun ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat semakin dalam akibat tidak tersedianya data ekonomi resmi selama enam minggu penutupan pemerintahan. Pada Kamis (13 November), emas diperdagangkan di kisaran US$4.200 per ons, menandai konsolidasi dari reli empat hari berturut-turut — periode penguatan terpanjang dalam sebulan terakhir. Di saat yang sama, para pembuat kebijakan AS masih memperdebatkan langkah berikutnya terkait keputusan suku bunga, yang menambah ketidakpastian di pasar.
Persetujuan Rancangan Undang-Undang pendanaan sementara oleh DPR AS untuk mengakhiri penutupan pemerintahan memang memberikan sedikit harapan, namun Gedung Putih telah memperingatkan bahwa data resmi ketenagakerjaan dan inflasi untuk bulan Oktober kemungkinan besar tidak akan dipublikasikan. Kekosongan data ini membuat banyak investor beralih pada sumber data swasta untuk memahami kondisi ekonomi AS. Ketidakpastian tersebut justru mendorong permintaan terhadap emas, karena logam mulia ini dianggap sebagai aset lindung nilai yang aman. Akibatnya, harga emas melonjak hampir 5% dalam sepekan, didorong oleh ekspektasi bahwa suku bunga akan kembali dipangkas setelah pemerintahan AS kembali beroperasi penuh.
Meski demikian, perdebatan di internal Federal Reserve menambah dinamika tersendiri. Sejumlah pejabat, seperti Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic dan Presiden Bank of Boston Susan Collins, menyatakan dukungan untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini guna menekan inflasi. Perbedaan pandangan ini menciptakan ketegangan di pasar keuangan, membuat para pelaku pasar mencari kepastian dengan meningkatkan kepemilikan emas sebagai bentuk perlindungan dari risiko kebijakan moneter yang tidak menentu.
Secara global, kinerja emas sepanjang tahun ini luar biasa, dengan kenaikan hampir 60% — laju pertumbuhan tahunan terbaik sejak 1979. Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara, terutama Tiongkok, sebagai strategi diversifikasi cadangan devisa dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan yang didominasi dolar AS. Meskipun harga emas sempat terkoreksi dari rekor tertingginya bulan lalu, sentimen pasar tetap optimis. Banyak analis memperkirakan bahwa harga emas bisa menembus level US$5.000 per ons pada tahun depan, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan pergeseran strategi investasi menuju aset berwujud yang lebih stabil.
Dengan kombinasi antara ketegangan geopolitik, kebijakan moneter yang belum pasti, dan lonjakan permintaan global, emas terus mempertahankan posisinya sebagai aset pelindung utama di tengah turbulensi ekonomi. Selama faktor-faktor pendukung tersebut bertahan, prospek kenaikan harga emas masih terbuka lebar dalam jangka menengah hingga panjang.




