Kamis, 13 November 2025

Emas Tetap Kuat, Apa yang Menjaga Harga Tetap Naik?


Harga emas terus menunjukkan ketahanan luar biasa setelah melonjak hampir 2% pada Rabu lalu, meskipun ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat semakin dalam akibat tidak tersedianya data ekonomi resmi selama enam minggu penutupan pemerintahan. Pada Kamis (13 November), emas diperdagangkan di kisaran US$4.200 per ons, menandai konsolidasi dari reli empat hari berturut-turut — periode penguatan terpanjang dalam sebulan terakhir. Di saat yang sama, para pembuat kebijakan AS masih memperdebatkan langkah berikutnya terkait keputusan suku bunga, yang menambah ketidakpastian di pasar.

Persetujuan Rancangan Undang-Undang pendanaan sementara oleh DPR AS untuk mengakhiri penutupan pemerintahan memang memberikan sedikit harapan, namun Gedung Putih telah memperingatkan bahwa data resmi ketenagakerjaan dan inflasi untuk bulan Oktober kemungkinan besar tidak akan dipublikasikan. Kekosongan data ini membuat banyak investor beralih pada sumber data swasta untuk memahami kondisi ekonomi AS. Ketidakpastian tersebut justru mendorong permintaan terhadap emas, karena logam mulia ini dianggap sebagai aset lindung nilai yang aman. Akibatnya, harga emas melonjak hampir 5% dalam sepekan, didorong oleh ekspektasi bahwa suku bunga akan kembali dipangkas setelah pemerintahan AS kembali beroperasi penuh.

Meski demikian, perdebatan di internal Federal Reserve menambah dinamika tersendiri. Sejumlah pejabat, seperti Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic dan Presiden Bank of Boston Susan Collins, menyatakan dukungan untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini guna menekan inflasi. Perbedaan pandangan ini menciptakan ketegangan di pasar keuangan, membuat para pelaku pasar mencari kepastian dengan meningkatkan kepemilikan emas sebagai bentuk perlindungan dari risiko kebijakan moneter yang tidak menentu.

Secara global, kinerja emas sepanjang tahun ini luar biasa, dengan kenaikan hampir 60% — laju pertumbuhan tahunan terbaik sejak 1979. Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara, terutama Tiongkok, sebagai strategi diversifikasi cadangan devisa dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan yang didominasi dolar AS. Meskipun harga emas sempat terkoreksi dari rekor tertingginya bulan lalu, sentimen pasar tetap optimis. Banyak analis memperkirakan bahwa harga emas bisa menembus level US$5.000 per ons pada tahun depan, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan pergeseran strategi investasi menuju aset berwujud yang lebih stabil.

Dengan kombinasi antara ketegangan geopolitik, kebijakan moneter yang belum pasti, dan lonjakan permintaan global, emas terus mempertahankan posisinya sebagai aset pelindung utama di tengah turbulensi ekonomi. Selama faktor-faktor pendukung tersebut bertahan, prospek kenaikan harga emas masih terbuka lebar dalam jangka menengah hingga panjang.

Selasa, 11 November 2025

Harga Perak Naik Tiga Hari Berturut: Awal Reli Besar atau Sekadar Pemanasan?

 

Harga perak (XAG/USD) terus menunjukkan performa impresif dengan kenaikan selama tiga sesi berturut-turut, kini bertengger di sekitar USD 50,90 per ons di sesi perdagangan Asia pagi ini. Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga ini mulai menarik perhatian investor di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat, yang memperkuat ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Pernyataan Gubernur The Fed, Stephen Miran, kepada CNBC menjadi katalis utama bagi penguatan sentimen bullish di pasar perak. Ia menegaskan bahwa inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, membuka peluang bagi pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Desember, atau setidaknya 25 basis poin. Pernyataan ini disambut positif oleh pelaku pasar, mengingat perak sering kali menjadi aset pilihan saat kebijakan moneter mulai melonggar dan nilai dolar AS melemah.

Tekanan tambahan terhadap dolar AS juga datang dari data ekonomi yang kurang menggembirakan. Laporan terbaru menunjukkan penurunan lapangan kerja pada bulan Oktober, terutama di sektor pemerintahan dan ritel, serta sentimen konsumen yang merosot ke level terendah dalam 3,5 tahun terakhir. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin kini mencapai sekitar 62%, memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

Namun, euforia pasar ini tidak sepenuhnya tanpa risiko. Potensi berakhirnya penutupan pemerintahan (government shutdown) di AS dapat menjadi faktor penyeimbang. Senat telah menyetujui RUU pendanaan dengan hasil 60-40, dan kini telah dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat. Presiden Donald Trump juga telah menyatakan dukungannya. Jika pemerintahan AS resmi dibuka kembali, publikasi data ekonomi resmi akan dilanjutkan. Hal ini berpotensi menguatkan dolar AS dan imbal hasil obligasi (yield), yang pada gilirannya bisa menguji ketahanan reli perak yang tengah berlangsung.

Secara keseluruhan, pasar perak saat ini berada di persimpangan penting antara momentum jangka pendek dan kemungkinan pembalikan arah. Jika The Fed benar-benar memberi sinyal pemangkasan suku bunga yang agresif, reli perak berpeluang berlanjut dan menembus level psikologis berikutnya. Namun, jika data ekonomi AS kembali menguat dan dolar pulih, reli ini bisa berubah menjadi sekadar pemanasan sementara sebelum konsolidasi baru. Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, investor disarankan untuk tetap mencermati arah kebijakan moneter dan dinamika pasar logam mulia dengan seksama.

Kamis, 06 November 2025

Minyak Rem, Jeda Sebelum Jatuh?

 

Harga minyak mentah bergerak datar setelah mengalami dua hari penurunan berturut-turut. Minyak Brent bertahan di atas level $63 per barel, sementara WTI masih berada di bawah $60 per barel. Pasar tengah menimbang dua berita utama: keputusan Saudi Aramco memangkas harga jual resmi (Official Selling Price/OSP) ke Asia sesuai ekspektasi, serta laporan EIA yang mencatat lonjakan signifikan pada persediaan minyak mentah AS untuk pekan yang berakhir pada 31 Oktober. Kombinasi kedua faktor ini membuat pelaku pasar berhati-hati dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Secara fundamental, kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan (oversupply) masih menjadi tema dominan yang membebani harga. Peningkatan produksi dari negara-negara anggota OPEC+ dan produsen non-anggota terus menekan pasar, meskipun terdapat risiko pasokan akibat sanksi AS terhadap dua produsen besar Rusia serta serangan terhadap infrastruktur energi di beberapa wilayah. Sejumlah analis memperkirakan bahwa surplus pasokan global akan semakin melebar tahun depan. Sementara itu, pemangkasan harga oleh Saudi Aramco lebih dipandang sebagai langkah strategis untuk mempertahankan pangsa pasar, bukan sebagai sinyal akan pengetatan pasokan.

Namun, tidak semua indikator memberikan sinyal negatif. Persediaan bensin AS turun ke level terendah dalam hampir tiga tahun, menunjukkan bahwa permintaan di sektor hilir masih cukup tangguh. Penurunan stok ini menjadi faktor penyeimbang yang menahan tekanan jual lebih dalam di pasar minyak.

Dalam jangka pendek, harga minyak kemungkinan akan bergerak dalam kisaran terbatas. Pelaku pasar menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai dampak diskon harga Saudi terhadap arus perdagangan Asia, arah pergerakan dolar AS yang masih kuat, serta data permintaan energi global berikutnya. Ketiganya akan menjadi penentu apakah fase stabilisasi harga saat ini merupakan awal dari pemulihan atau sekadar jeda sebelum penurunan lebih lanjut.

Selasa, 04 November 2025

Hang Seng Berbalik Arah dan Ditutup Melemah di Tengah Penurunan Sektor yang Meluas

 

Indeks Hang Seng ditutup melemah 206 poin atau sekitar 0,8% ke level 25.952 pada perdagangan Selasa, setelah sempat mencatatkan kenaikan di awal sesi. Sentimen pasar memburuk secara signifikan, menyeret sebagian besar sektor ke zona merah dan menekan optimisme investor yang sempat muncul di awal perdagangan.

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, dengan indeks teknologi anjlok hingga 1,8%. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang melarang perusahaan Nvidia menjual chip kecerdasan buatan (AI) tercanggihnya ke Tiongkok menjadi pemicu utama pelemahan. Meski beberapa penjualan masih diizinkan untuk Beijing, larangan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan perdagangan teknologi antara kedua negara. Di sisi lain, laporan bahwa pemerintah Tiongkok menaikkan subsidi dan memangkas biaya energi untuk pusat data besar tidak cukup mampu mengangkat sentimen pasar.

Saham sektor konsumer dan properti juga mencatatkan pelemahan, mengikuti tren negatif bursa utama di daratan Tiongkok. Penurunan ini diperparah oleh kejatuhan indeks berjangka AS yang terseret ketidakpastian jalur kebijakan suku bunga The Fed setelah dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, serta kekhawatiran atas potensi penutupan pemerintahan AS yang masih berlanjut.

Dari sisi korporasi, emiten properti Tiongkok yang sedang menghadapi tekanan keuangan kembali menjadi sorotan utama. New World Development mengumumkan rencana pertukaran obligasi senilai USD 1,9 miliar yang mencakup potongan nilai bagi kreditur, sementara obligasi dolar Vanke melemah setelah pemegang saham terbesarnya memperketat persyaratan pinjaman. Langkah ini semakin menambah kekhawatiran terhadap stabilitas sektor properti Tiongkok yang masih rentan terhadap tekanan likuiditas.

Beberapa saham yang mengalami penurunan signifikan di antaranya adalah Li Auto yang turun 3,7%, Innovent Biologics merosot 3,5%, Zijin Mining Group melemah 2,9%, serta Xiaomi Corp. yang terkoreksi 2,7%. Kinerja negatif ini menegaskan masih rapuhnya kepercayaan investor terhadap prospek pasar Hong Kong di tengah ketidakpastian global dan tekanan eksternal dari Amerika Serikat.

Sumber : newsmaker.id

Jumat, 31 Oktober 2025

Nikkei Ditutup Menguat, Dipimpin Saham Teknologi dan Elektronik

 

Indeks Nikkei 225 ditutup menguat pada Kamis (31 Oktober 2025), didorong oleh lonjakan saham-saham teknologi dan elektronik yang memimpin pergerakan pasar. Kenaikan ini terjadi setelah Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya, sementara pelemahan yen memberikan dorongan positif terhadap prospek laba bagi emiten berorientasi ekspor.

Sentimen positif semakin kuat setelah investor merespons kebijakan moneter BoJ yang tetap akomodatif, menandakan bahwa bank sentral Jepang belum melihat urgensi untuk mengetatkan kebijakan di tengah ketidakpastian global. Pelemahan yen terhadap dolar AS menjadi katalis penting bagi saham-saham eksportir, terutama di sektor semikonduktor, elektronik, dan otomotif, yang mendapat manfaat langsung dari peningkatan daya saing produk Jepang di pasar global.

Saham berkapitalisasi besar di sektor chip, perangkat elektronik, dan teknologi internet menjadi motor utama kenaikan indeks. Emiten seperti Tokyo Electron, Sony Group, dan SoftBank Group mencatat penguatan signifikan, mencerminkan optimisme investor terhadap permintaan global yang tetap kuat untuk produk teknologi. Selain itu, sentimen pasar juga mendapat dukungan dari meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok setelah pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping. Kesepakatan yang dihasilkan, meski belum menjamin kestabilan jangka panjang, berhasil memicu peningkatan selera risiko di kalangan investor.

Secara keseluruhan, Nikkei 225 ditutup naik sekitar 1% dan bertahan di level 52,4, menandai performa positif di akhir Oktober. Penguatan ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap potensi pemulihan ekonomi Jepang yang ditopang oleh sektor ekspor dan dukungan kebijakan moneter yang longgar.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati langkah-langkah lanjutan pemerintah Jepang dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, termasuk stimulus fiskal dan kebijakan industri strategis. Pergerakan yen juga akan tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan arah bursa, sementara sinyal kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) berpotensi memengaruhi arus modal global ke aset berisiko seperti saham Jepang. Dalam konteks ini, kombinasi antara stabilitas kebijakan BoJ, prospek ekspor yang solid, dan kondisi eksternal yang lebih kondusif dapat menjadi pendorong utama bagi kelanjutan tren positif Nikkei di bulan-bulan mendatang.

Sumber : newsmaker.id